*Sinopsis*
Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.
Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*
Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.
Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Di Puncak
Malam itu dingin.
Angin Puncak masuk lewat celah jendela vila, bawa bau pinus dan hujan yang baru reda.
Matthias bawa Evelyn ke sini 2 jam setelah lamaran kedua.
Nggak ada pemberitahuan. Nggak ada itinerary.
Cuma satu kalimat di mobil:
“Malam ini lo cuma jadi istri gue. Bukan CEO, bukan Evelyn Virel yang harus kuat.”
Evelyn nggak nolak.
Dia capek jadi kuat terus.
Vila itu kecil. 2 kamar, 1 ruang tamu, perapian, balkon ngadep ke lembah.
Nggak mewah kayak penthouse mereka. Tapi hangat.
Nyonya Alina yang udah nyiapin semuanya. Bahkan bawa sup ayam favorit Matthias.
Makan malam selesai jam 9.
Nggak ada laptop. Nggak ada telepon.
Matthias matiin ponselnya sendiri di depan Evelyn.
“Kamu serius nggak kerja 2 hari?”
Tanya Evelyn sambil duduk di karpet depan perapian, kaki dilipat.
Matthias duduk di belakangnya, peluk dari belakang.
“Demi lo, gue bisa matiin Virel Group 2 hari.”
Evelyn ketawa kecil.
“Lebay.”
“Tapi bener.”
Api unggun kecil menyala.
Cahayanya bikin wajah Matthias jadi lebih lembut.
Nggak ada tatapan CEO yang ngitung untung rugi.
Yang ada cuma laki-laki yang takut kehilangan orang di depannya.
“Evelyn,” panggil Matthias pelan.
“Hmm?”
“Kamu nggak nyesel bilang iya tadi siang?”
Evelyn balik badan, ngadep dia.
Duduk di pangkuannya sekarang.
“Nyesel? Gue nunggu lo ngomong gitu dari hari lo bangun di ICU.”
Matthias diem.
Tangannya naik, nyentuh pipi Evelyn pelan.
Jempolnya ngusap bekas luka kecil di pelipis Evelyn. Sisa dari 3 tahun yang nggak gampang.
“Gue takut,” bisik Matthias.
“Takut apa?”
“Takut lo berubah pikiran. Takut besok lo bangun dan sadar gue bukan orang yang pantas buat lo.”
Evelyn pegang tangan itu, taruh di dadanya.
“Kalau gue nggak pantas, lo juga nggak pantas. Jadi kita impas.”
Matthias ketawa pelan.
Nggak ada jawaban.
Cuma ciuman.
Pelan.
Hati-hati.
Kayak dia takut Evelyn bakal mundur kalau dia terlalu buru-buru.
Tapi Evelyn nggak mundur.
Dia balas.
Tangannya naik ke leher Matthias, narik dia lebih dekat.
Perapian berderak.
Di luar hujan mulai rintik lagi.
Di dalam, dunia mereka menyempit jadi satu sofa, satu selimut, dan dua orang yang akhirnya berhenti pura-pura kuat.
“Matthias,” bisik Evelyn di antara ciuman.
“Iya?”
“Kalau lo nyakitin gue lagi… gue nggak janji gue bakal maafin lo.”
Matthias berhenti.
Dia tatap mata Evelyn dalam.
“Gue nggak akan. Sumpah.”
Nggak ada lagi kata.
Yang ada cuma tangan yang mulai berani, napas yang makin nggak teratur, dan keputusan yang diambil tanpa kontrak, tanpa syarat.
Malam itu mereka tidur di kamar utama.
Nggak di kamar tamu. Nggak di sofa.
Satu ranjang. Satu selimut.
Evelyn tidur di dada Matthias, dengerin detak jantungnya yang akhirnya tenang.
“Lo tidur nggak?” tanya Evelyn jam 2 pagi.
“Gue takut kalau gue tidur, ini cuma mimpi.”
Evelyn cubit pelan pinggangnya.
“Sakit nggak?”
“Sakit.”
“Berarti nyata.”
Matthias ketawa pelan, peluk dia lebih erat.
“Selamat datang di hidup gue yang beneran, Evelyn.”
tanpa disadari Matthias dan Evelyn terbawa suasana yang membuat mereka berdua semakin dekat tanpa jarak.
"hmmmmhhhppp " lenguhan Evelyn karna ulah Matthias dengan brutal menci+um bibir Evelyn, begitupun tangan Matthias yang semakin lincah menjelajahi setiap inci tubuh Evelyn..
Akhirnya...
---
Pagi harinya mereka bangun telat.
Jam 10.
Evelyn bangun duluan, ngerasa aneh.
Leher sakit, punggung pegel, tapi ada senyum nggak jelas di bibirnya.
Matthias masih tidur.
Wajahnya tenang. Nggak ada kerutan.
Evelyn diem-diem ngambil foto dia pakai ponsel.
Captionnya nggak pernah di-post: _“Ini suamiku. Beneran.”_
Jam 11 mereka sarapan di balkon.
Nasi goreng buatan koki vila, teh jahe, dan pemandangan kabut.
Nggak ada yang ngomongin semalam.
Tapi cara Matthias ngambilin nasi buat Evelyn, cara dia ngelap bibir Evelyn pakai tisu, itu udah jawab semuanya.
“Lo nggak nyesel kan?” tanya Matthias tiba-tiba.
Evelyn ngangkat alis.
“Nyesel apanya?”
“Semalam.”
Evelyn senyum.
“Kalau gue nyesel, gue nggak bakal minta lo anter gue jalan-jalan ke kebun teh.”
Matthias ketawa lega.
“Deal.”
Mereka jalan-jalan 2 jam.
Nggak ada bodyguard. Nggak ada wartawan.
Cuma dua orang biasa yang gandengan tangan di tengah kebun teh, beli jagung bakar, dan ketawa kayak remaja.
Di mobil pulang, Evelyn ketiduran di bahu Matthias.
Matthias nggak gerak.
Takut bangunin dia.
Sopir ngeliat lewat spion, senyum kecil.
“Pak Matthias, keliatan beda ya.”
Matthias ngangguk pelan.
“Iya. Karena sekarang gue pulang punya rumah.”
---
Malam itu mereka balik ke Jakarta.
Nggak ada yang berubah di luar.
Tapi di dalam, ada sesuatu yang udah beda.
Nggak ada lagi kata “istri kontrak”.
Nggak ada lagi batas 1 meter.
Nggak ada lagi takut.
Yang ada cuma mereka berdua.
Dan janji yang diucap tanpa saksi, kecuali api unggun dan hujan Puncak.
---