SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.
Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Raka
Debu tanah kering masih beterbangan tertiup angin sore yang kencang di halaman belakang gedung olahraga. Suasana di sana kini berubah drastis dari yang tadinya penuh teriakan dan benturan, menjadi hening yang mencekam, hanya diselingi suara napas terengah-engah dari puluhan pemuda yang kini berdiri kaku, terpaku pada sosok pemuda bertubuh tegap yang baru saja muncul dari balik semak-semak.
Raka berdiri di sana dengan aura yang begitu kuat hingga rasanya seluruh udara di tempat itu ikut berhenti bergerak. Tingginya menjulang di antara anak buahnya, bahunya lebar dan kekar, wajahnya yang tampan namun dingin kini terpatri ekspresi jijik dan kemarahan yang tertahan. Di belakangnya, berbaris rapi sekitar dua puluh orang anggota inti Naga Hitam, semuanya berbadan besar, mengenakan seragam yang sengaja tidak rapi, dengan tatapan mata yang tajam dan tangan yang sudah bersiap mencengkeram tongkat kayu dan besi pendek yang mereka sembunyikan di balik punggung.
Rio masih berdiri di posisinya, napasnya sedikit memburu namun tubuhnya tetap tegak lurus, tidak menunduk, tidak mundur, dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meski kini ia benar-benar terkepung sepenuhnya. Di sekeliling kakinya, tergeletak Kevin, Rian, Anto, dan anak buah lainnya yang masih meringis kesakitan akibat pertarungan singkat tadi. Bagi Rio, pertarungan itu hanyalah usaha bertahan diri. Ia tidak bermaksud melukai mereka parah, ia hanya ingin membuktikan bahwa ia tidak bisa ditindas sembarangan. Namun bagi Raka dan seluruh pengikutnya, kejadian itu adalah penghinaan terbesar. Seorang pemimpin tertinggi tidak akan pernah menerima kenyataan bahwa anak buahnya yang berjumlah belasan orang dikalahkan oleh satu siswa baru yang datang sendiri.
Raka melangkah maju perlahan, langkahnya berat dan berirama, seolah setiap langkahnya membuat tanah di bawahnya bergetar. Ia berhenti tepat tiga meter di depan Rio, menatap tajam ke arah mata Rio yang menatap balik tanpa gentar. Ada kilatan kebencian, rasa ingin tahu, dan juga sedikit kekaguman yang tersembunyi di balik sorot mata Raka.
"Gila banget sih lo..." suara Raka terdengar rendah, serak, namun jelas menembus keheningan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, bibirnya menyeringai tipis, senyum yang sama sekali tidak menyenangkan. "Gue kira lo cuma anak baru yang sok jago gara-gara dikasihani sama Bang Bara tadi pagi. Ternyata... lo emang punya nyali, sekaligus punya kemampuan. Ngalahin Anto, ngalahin Kevin, ngalahin sepuluh orang anak buah gue sendirian... itu bukan hal yang bisa dilakuin sembarang anak SMA, Rio."
Raka berhenti bicara sejenak, matanya meneliti setiap inci wajah Rio, berusaha membaca apa yang tersembunyi di balik ketenangan itu.
"Tapi dengerin ya, anak baru..." lanjutnya, nada bicaranya berubah tajam dan dingin, telunjuknya menunjuk tepat ke dada Rio. "Di sekolah ini, aturannya gak berubah cuma gara-gara lo jago ngelawan. Di sini, kekuatan fisik itu cuma bonus. Yang paling penting itu kekuasaan. Jumlah pasukan. Jangkauan tangan lo. Dan pengaruh lo. Lo hebat? Iya, gue akui. Tapi lo cuma sendirian. Gue punya ratusan orang di sekolah ini, punya koneksi sampe ke luar gerbang sekolah, punya guru yang ditanganin, punya polisi yang kenalan. Lo punya apa? Cuma modal berani doang? Itu gak ada apa-apanya di depan gue."
Rio menghela napas panjang, menegakkan punggungnya semakin tegak. Ia tahu posisinya sangat kritis. Ia bisa saja melawan Raka dan orang-orang ini sekarang juga, ia mungkin bisa lolos atau bahkan melukai Raka, tapi konsekuensinya akan sangat fatal. Jika ia melukai Raka, seluruh jaringan Naga Hitam akan memburunya tanpa henti, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Ia akan menjadi musuh publik nomor satu, dan janjinya pada ibunya untuk tidak mencari masalah akan hancur sepenuhnya. Tapi ia juga tidak bisa menyerah begitu saja, tidak bisa membiarkan dirinya dipermalukan dan diperbudak.
"Gue gak mau ngelawan lo, Raka," jawab Rio dengan suara tenang dan tegas, suaranya terdengar jelas meski lebih pelan dibandingkan suara Raka. "Gue udah ngomong dari awal. Gue cuma mau sekolah, belajar, terus pulang. Gue gak minta dilindungin, gue gak minta diistimewain. Tapi gue juga gak bakal diem aja kalau ada yang nyerang, nindas, atau minta uang paksa sama gue. Itu prinsip gue. Kalau lo ngerti, kasih gue jalan lewat. Biarin gue tenang, gue bakal biarin lo sama kelompok lo tenang."
Raka tertawa keras, tawanya bergema di antara dinding gedung dan pepohonan rimbun, terdengar sangat mengejek dan meremehkan. Anak buah di belakangnya pun ikut tertawa renyah, menertawakan keberanian Rio yang dianggap bodoh dan naif.
"Prinsip?" ulang Raka sambil memotong tawanya secara tiba-tiba, menatap Rio dengan pandangan membunuh. "Di sini gak ada yang namanya prinsip, Rio. Yang ada cuma aturan siapa yang paling kuat. Dan sekarang, gue yang paling kuat. Jadi aturan gue yang berlaku. Dan aturan gue itu: siapa aja yang masuk ke wilayah gue, harus ikut gue. Siapa aja yang berani ngelawan anak buah gue, berarti ngelawan gue. Dan siapa aja yang ngelawan gue... bakal gue musnahin sampai ke akar-akarnya."
Raka mengangkat tangannya ke udara, memberi isyarat kepada pasukannya yang ada di belakang. Dua puluh pemuda itu serentak melangkah maju selangkah, mengeratkan lingkaran kepungan hingga jarak mereka dengan Rio hanya tinggal satu setengah meter. Tongkat kayu dan besi di tangan mereka diketuk-ketukkan ke telapak tangan atau ke tanah, menciptakan suara ritmis yang menakutkan.
"Gue kasih lo dua pilihan aja, Rio," ucap Raka dingin, matanya tidak berkedip menatap mata Rio. "Pertama: lo berlutut sekarang juga, minta maaf sama Kevin, sama Anto, sama semua anak buah gue yang udah lo sakitin, terus lo sumpah setia jadi anggota Naga Hitam, nurut apa aja kata gue sampe lo lulus. Kalau lo ambil jalan ini, gue jamin hidup lo aman, lo malah bakal jadi orang penting, dan gue bakal lupain semua kelakuan lo hari ini."
Raka berhenti sejenak, menikmati ketegangan yang memuncak. Ia tahu Rio tidak akan memilih opsi pertama, tapi ia tetap mengatakannya untuk membangun gengsinya.
"Pilihan kedua..." Raka tersenyum miring, matanya menyala penuh amarah dan ancaman. "...lo tetep keras kepala kayak gini, lo tetep ngaku netral, lo tetep berlagak jagoan. Kalau lo pilih ini... hari ini di sini juga, kita bakal kasih lo pelajaran terbesar dalam hidup lo. Kita bakal pukul lo sampe lo gak bisa bangun lagi, sampe tulang-tulang lo ancur, sampe lo sadar kalau kekuatan fisik lo gak ada artinya. Dan setelah itu... gue bakal pastiin gak ada satu orang pun di sekolah ini yang berani ngomong sama lo, gak ada satu guru pun yang mau ngebela lo, dan setiap hari lo sekolah bakal jadi neraka hidup buat lo. Lo mau pilih yang mana?"
Suasana hening total. Debu berterbangan pelan. Matahari mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang yang mengerikan dari tubuh-tubuh raksasa di sekeliling Rio. Di dalam hati Rio, perang batin berkecamuk hebat. Pilihan pertama berarti mengkhianati dirinya sendiri, menjadi bagian dari kejahatan yang ia benci, dan mengecewakan ibunya yang ingin ia menjadi anak yang baik. Pilihan kedua berarti sakit, penderitaan, dan perang tanpa akhir melawan kekuatan yang jauh lebih besar darinya.
Namun di detik-detik kritis itu, ingatan Rio kembali melayang ke pertemuannya dengan Bara di lorong pagi tadi. Kata-kata Bara terngiang kembali: "Di sini, kalau lo lemah, lo bakal dimakan hidup-hidup. Kalau lo pinter nyembunyiin kekuatan lo... bagus. Tapi inget satu hal, kalau lo udah masuk ke sini, susah banget buat tetep netral."
Rio menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara yang berdebu dan berbau keringat itu. Ia menatap Raka tepat di mata, tatapannya sama tajamnya, sama dinginnya, dan sama tak tergoyahkannya.
"Gue gak mau milih dua-duanya," jawab Rio tegas, suaranya tenang namun penuh penekanan, membuat seluruh orang di sana tertegun. "Gue gak bakal berlutut, dan gue gak bakal biarin kalian mukul gue sembarangan. Kalau emang kalian mau nyerang gue... ayo. Gue bakal ngelawan sekuat tenaga gue, sampe gue gak sanggup lagi. Tapi inget satu hal... hari ini lo ngeremehin gue. Besok atau lusa, lo bakal nyesel banget udah nganggap enteng orang yang gak mau ngelawan lo."
Wajah Raka memerah padam karena marah luar biasa. Ia tidak pernah membayangkan ada siswa yang berani menjawab tantangannya dengan cara seberani dan setenang itu. Baginya, ketenangan Rio adalah penghinaan paling parah.
"KURANG AJAR!" teriak Raka meledak, kehilangan kendali emosinya sepenuhnya. Matanya melotot penuh pembunuhan. "LO EMANG MAU DICACAH SAMPE MATI SIH! OKE, KALAU ITU MAU LO... BAGUS! ANAK BUAH! SERANG DAN AJARIN DIA ARTI SAKIT! JANGAN KASIH AMPUN! PATAHKAN TANGAN DAN KAKINYA KALAU PERLU, BIAR DIA TAU SAKTI!"