Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Pangeran Pilihan, Pangeran Pajangan?
Pangeran Havren baru berusia enam belas tahun.
Lagi-lagi seolah pikiran kami terhubung, itu adalah kalimat pertama yang Jovienne katakan sewaktu memasuki kamar yang disediakan khusus untuknya. Kamar itu terletak di sisi selatan. Untuk mencapainya, kami melewati koridor yang panjang dan memusingkan, lalu melintasi jembatan kecil yang menghubungkan bangunan dengan pemandangan ke arah danau. Bunga teratai mulai mekar di atas permukaan danau itu, senada dengan warna semak bunga hydrangea di tepinya.
Informasi dari Jovienne tidak lagi membuatku terkejut. Dari perawakannya, sudah kuduga Havren masih bocah. Aku yakin sekali karakter-karakter di game itu sudah berusia akhir dua puluhan.
Apa ada kesalahan desain?
Atau… aku masuk ke masa lalu?
Tapi, Caelian dan Raien tidak terlihat jauh berbeda dengan di game—mungkin dua atau tiga tahun lebih muda.
Aah, memusingkan.
Sedikit perbedaan ini seharusnya tidak akan terlalu berpengaruh.
...*...
...*...
...*...
Setelah penyambutan di aula utama, kami diberitahu beberapa hari kemudian akan diadakan pesta perjamuan, yang agenda utamanya adalah memperkenalkan Jovienne sebagai calon pengantin Havren.
Menjelang pesta itu, banyak yang harus dipersiapkan. Selama beberapa hari Jovienne sangat sibuk karena perlu diajari macam-macam (sebagian besar isinya adalah etiket dasar dan aturan juga protokol dalam pesta-pesta di Kaelros; mendengarnya saja aku sudah lelah duluan). Dia juga perlu memilih baju, deret gaun-gaun cantik disodorkan di hadapan gadis itu. Seorang staf kerajaan (mungkin penjahit istana) menjelaskan material, jahitan, sampai arti sulaman juga hiasan permata di tiap gaun itu. Jovienne juga perlu mencicip berbagai macam makanan, karena kabarnya di pesta itu mereka ingin menyuguhkan bukan saja makanan Kaelros tapi juga makanan khas Solmara. Entah berapa banyak koki dari seluruh negeri yang diundang untuk menyiapkan berbagai menu yang bisa mewakili dua negeri ini.
Selama gadis itu sibuk dengan urusannya, aku mulai mengeksplor istana.
Tapi. Sungguh. Tempat itu terlalu luas!!
Tidak tahu sudah berapa kali aku tersesat. Seharusnya sebagai kucing aku bisa menemukan jalan dengan mudah. Tapi, entahlah. Mungkin karena aku bukan kucing sungguhan. Atau karena tempat ini memang sulit dinavigasi. Seringkali aku hanya bisa berpasrah, menghampiri pelayan istana Kaelros, mengeong penuh iba, sampai mereka paham dan berbaik hati mengantarku kembali ke kamar Jovienne.
Lalu, dalam tiga hari itu juga tidak sekalipun aku bertemu pangeran! Satu pun tidak!!
Haah…
Beginikah hidup rakyat jelata?
Seperti penggemar yang cuma punya kesempatan langka untuk bertemu idolanya.
Tapi, bukan berarti hari-hari kebelakang ini sepenuhnya sia-sia. Aku mendapat banyak informasi tentang para pangeran, terutama Havren.
Sayangnya...informasi yang kudapatkan tidak bisa dibilang baik.
Bukan, bukan karena Havren adalah pangeran problematik! Sosok bak malaikat itu—mana mungkin!
Pangeran Havren tersohor akan kecantikannya. Cantiknya mengalahkan para wanita. Kulit yang pucat, halus seputih susu, mata yang besar selalu berkilau seperti air sungai yang jernih, bibir kemerahan yang selalu mengukir senyum. Tidak lupa rambut keperakan yang membingkai wajahnya sangat unik, bersinar seperti cahaya purnama.
Dia begitu lihai dalam dansa dan memainkan alat musik. Sore hari menjelang matahari terbenam, akan terdengar alunan harpa di dekat paviliun taman utama. Nada-nada lagu itu dibawa oleh angin melintasi taman, terdengar lembut dan menenangkan. Di malam hari, ketika istana mulai sunyi, kadang terdengar pula suara seruling. Samar, namun jernih. Dengan melodi yang lebih sendu.
Kabarnya sejak kecil Pangeran Havren memiliki tubuh yang lemah. Tidak boleh kepanasan, tidak bisa melakukan aktivitas yang berat. Aktivitas berbahaya seperti jousting terlarang untuk ia ikuti. Latihan pedang, panahan, lempar tombak; tidak ada yang ia kuasai. Hobinya adalah merawat bunga atau melukis. Tidak pernah sekalipun dia hadir di Rapat Pertemuan Istana.
Seringkali dia menghilang tiba-tiba dari pagi, lalu pulang saat matahari mulai bergerak ke barat sambil membawa hewan kecil yang tidak tahu dia dapat dari mana. Mulai dari burung kecil yang sayapnya patah, sampai kodok hijau besar yang kabur dan mengacau di dapur istana. Dia juga sering ditemukan tertidur di taman bunga.
Ia begitu ceroboh dan naif. Sangat manis. Terlalu polos. Sangat membuat khawatir.
‘Syukurlah dia hanya pangeran ketiga.’
Pernyataan itu tidak hanya sekali dua kali aku dengar. Dan tiap kalinya membuatku tertegun.
Dalam game, Havren memang dijuluki the Flower Prince. Aku tidak menaruh banyak perhatian soal itu, karena visualnya memang sangat rupawan seperti selalu ada bunga-bunga bermekaran kemanapun dia pergi.
Tapi, mendengarnya secara langsung seperti ini….
Aku tidak mengira julukan itu rupanya diujar sebagai ejekan.
“Pangeran yang tidak bisa diharapkan.”
“Hanya menghabiskan waktu bermalas-malasan, sama sekali tidak peduli dengan urusan kerajaan.”
“Untung saja masa depan Kaelros tidak ada di tangannya.”
“Aku mengasihani Putri Solmara karena harus mengurus pangeran cantik yang hanya bagus untuk jadi hiasan.”
Aku mendengar bisik-bisik cemooh itu di tengah pesta. Pesta itu megah. Seluruh bangsawan di penjuru Kaelros menghadirinya. Juga beberapa delegasi dari negeri tetangga termasuk perwakilan Raja Solmara yang datang menyusul.
Prosesi formal telah dilaksanakan, jamuan utama juga sudah dihidangkan. Pesta berpindah dari aula utama ke ruang dansa, di mana tamu undangan bisa menikmati penganan ditemani alunan musik dari rombongan musisi yang sengaja dipanggil. Sebagian dari mereka mulai berdansa, sebagian yang lain bergerombol dan mengobrol di berbagai sudut dan balkon.
Ini bukan kali pertama aku mendengar orang-orang membicarakan Havren, dengan nada serupa, di pesta ini. Tapi, gerombolan ini tampak tidak berusaha memperhalus ejekan mereka. Seolah yakin tidak ada yang akan mendengar karena mereka ada di balkon terjauh.
Dari balik kipas yang terbentang dan gelas berisi anggur, mereka tertawa-tawa.
“Tapi, kita memang tidak membutuhkan dia untuk melakukan apa-apa, kan?”
“Tentu saja, sebaiknya tidak.”
“Dia hanya perlu duduk manis sebagai pajangan dan pencuci mata.”
“Hey, bukankah Kaelros selalu menghargai barang cantik! Harta terindah tentu saja harus dipamerkan.”
“Permata Kaelros, eh?”
“Bunga yang sedang mekar harus dipertontonkan. Mungkin dia bisa mengambil selendang dan menari seperti ibunya.”
“Ooh? Apa anda berniat menambah simpanan, Tuan Bizton? Koleksi di rumah bordil sudah membuatmu bosan, huh?”
“Siapa yang menjamin tidak ada dari kalian yang sudah lebih dulu melakukannya?”
Bajingan!
Gelak tawa mereka terdengar nyaring di antara alunan lagu di penjuru aula.
Darahku mendidih.
Sebelum aku sadar apa yang kulakukan, aku sudah melompat dan mencakar wajah bangsawan kurang ajar itu.
Teriakan marah bercampur seruan kesakitan pun memecah udara malam.
Ada banyak tangan yang berusaha menangkapku. Aku berkelit, melompat ke pagar balkon, dan berusaha menyelinap di antara gaun dan tungkai yang nyaris beradu.
“Keparat! Makhluk berbulu siapa yang kurang ajar—”
Tangan kotor bajingan itu sempat menyentuh ujung ekorku, nyaris sekali aku tertangkap.
Aku bergerak cepat, berusaha kabur.
Tapi, tiba-tiba ada sepasang tangan yang mengangkat tubuhku dari lantai.
“Lumi, di sini kau rupanya.”
Tubuhku membeku.
Sejenak kukira itu adalah Jovienne. Gadis itu akan mengomel panjang lebar kalau tahu apa yang kulakukan.
Akan tetapi, bukan gaun merah Jovienne yang memeluk tubuhku, melainkan sutra biru muda dengan bros berhias batu safir tersemat di kerahnya.
“P-pangeran Havren!"
Tampak jelas orang-orang itu juga tidak menduga siapa yang datang.
"Apakah itu kucing milik anda?”
“Benar, Tuan. Apa dia membuat onar?” Havren menyahut dengan kesopanan dan keingintahuan murni. Mata biru pucat itu membulat, menyorot sedikit khawatir.
“A-aah…”
Pria jelek itu terlihat ragu, matanya melirik ke kanan dan kiri. “Ahahaha, t-tidak, Yang Mulia. Aku hanya berusaha memeluknya dan tanganku tergelincir.”
“Astaga! Anda harus segera diobati, Tuan. Aku akan memberitahu Tuan Tristan untuk memberikan ganti rugi biaya pengobatan.”
Pria busuk itu tertawa canggung.
“Terima kasih atas kebaikan Anda, Yang Mulia. Ini...hanya luka kecil. Tidak perlu dirisaukan." Tampak jelas dia ingin segera pergi dari sana.
"U-uh... sekali lagi selamat atas pertunangan Anda. Saya yakin ini akan membawa kemakmuran untuk Kaelros dan Solmara.”
Bleh.
Aku ingin muntah melihat kelakuan muka dua khas penjilat dari orang-orang ini.
Seperti tikus yang tertangkap basah, mereka bergegas menyingkir. Tidak lupa membungkuk sebelum ngibrit tidak tahu ke mana.
“Kau beruntung karena peliharaan anggota keluarga kerajaan di Kaelros dianggap sebagai suatu yang sakral."
Aku sedikit terlonjak, agak lupa kalau Havren masih menggendongku dan ia tiba-tiba berbicara.
"Apa jadinya kalau bukan aku yang menemukanmu, hm, kucing kecil?”
Uwaaaah, wajahnya begitu dekat!!
Dilihat dari jarak ini dia sungguh sungguh sangat sempurna. Bagaimana bisa ada yang membenci anak semanis ini??
Ah.
Apa Havren mendengar omongan kurang ajar sampah-sampah tadi?
Aku mengeong pelan, mengulurkan satu tangan dan menyentuh sisi wajahnya.
“Hm?” Havren menunduk dan tersenyum manis. “Malam ini bulannya sangat indah, bukan begitu, Lumi?”
Entah bagaimana aku yakin Havren mendengar semua itu. Dan dadaku nyeri memikirkannya.