NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"

Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.

Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.

Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Hidangan Kenangan di Bawah Rembulan

Pagi harinya, Amora benar-benar menjalankan ancamannya. Ia duduk di ruang tengah, sengaja berbicara di ponsel dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh Hamdan yang sedang bersiap berangkat ke kantor.

"Tentu, Farr. Museum kemarin memang belum selesai kita jelajahi. Mungkin akhir pekan ini?" ucap Amora sambil melirik ke arah tangga.

Langkah kaki Hamdan terhenti di anak tangga terakhir. Rahangnya mengeras, dan tangannya yang memegang tas kerja mengepal kuat. Namun, alih-alih meledak, ia justru menarik napas panjang dan berjalan lurus keluar tanpa sepatah kata pun.

Amora merasa menang, namun hatinya justru terasa hampa.

Sepertinya dia tidak peduli. Amora menatap lantai dalam keadaan tidak karuan.

Malam Hari – Taman Belakang Mansion

Pukul delapan malam, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Amora. "Nona, Tuan Hamdan menunggu Anda di taman belakang. Dia bilang, ini adalah bagian dari 'perjanjian' kalian."

Amora mengernyit bingung. Ia melangkah menuju taman yang biasanya gelap, namun malam ini jalan setapaknya dihiasi lentera-lentera kecil yang temaram. Di tengah taman, di bawah pohon beringin besar yang rindang, sebuah meja kecil telah ditata dengan sangat indah. Tidak ada perak atau porselen mahal, melainkan alas anyaman bambu yang sederhana.

Hamdan berdiri di sana, tanpa jas, kemeja putihnya digulung hingga siku. Ia nampak jauh lebih "manusiawi" daripada Tuan Tarkan yang biasanya.

"Kau memanggilku untuk apa? Ingin melarangku pergi dengan Farr lagi?" sindir Amora saat mendekat.

Hamdan menarik sebuah kursi untuk Amora. "Duduklah. Aku tidak ingin berdebat malam ini. Aku hanya ingin kita makan."

Saat Hamdan membuka tudung saji di atas meja, mata Amora membelalak. Di sana bukan tersedia steak mewah, melainkan jagung bakar mentega dan ubi cilembu yang masih mengepul panas—makanan yang dulu sering mereka curi dari kebun warga saat masih kecil di desa.

"Kau... kau masih ingat?" bisik Amora, suaranya tercekat.

Hamdan tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus tanpa beban skandal. "Aku ingat kau selalu menangis jika jagungmu sedikit gosong. Jadi, aku membakar ini sendiri tadi. Tanganku bahkan terkena jelaga hanya untuk memastikan kematangannya sempurna."

Hamdan menunjukkan telapak tangannya yang sedikit hitam terkena arang. Amora tertawa kecil di tengah matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia mengambil satu jagung dan menggigitnya. Rasanya persis seperti masa lalu—manis, hangat, dan penuh kenangan.

"Amora," Hamdan memegang tangan Amora di atas meja. "Dunia mungkin sedang mencoba mengatakan bahwa kita adalah kesalahan. Tapi jagung ini, kenangan ini... ini adalah kebenaran yang tidak bisa mereka hapus dengan tinta berita apa pun."

Malam itu, di tengah kemewahan mansion yang terasa seperti penjara, mereka berdua kembali menjadi anak kecil dari desa Sukawangi. Es di hati Hamdan mencair, dan dendam Amora menguap.

Amora mengunyah jagung bakar itu perlahan, membiarkan rasa manis dan aroma mentega yang gurih memenuhi indranya. Setiap gigitan terasa seperti kunci yang membuka pintu-pintu memori yang selama ini terkunci rapat.

Ia menatap Hamdan, pria yang selama beberapa hari terakhir bersikap seperti orang asing, kini duduk di hadapannya dengan sisa arang di jari-jarinya.

"Abang..." suara Amora lembut, tidak lagi ketus. "Kenapa kau harus menyiksa diri dengan menjadi 'kulkas dua pintu' itu? Kenapa tidak menjadi pria yang membakar jagung ini saja setiap hari?"

Hamdan meletakkan jagungnya, tatapannya menjadi sendu di bawah cahaya lentera. "Karena pria yang membakar jagung ini tidak akan bisa melawan hiu-hiu di luar sana, Amora. Untuk melindungimu, aku harus menjadi monster yang lebih besar dari musuh-musuhmu."

Amora beranjak dari kursinya, berjalan mendekati Hamdan. Tanpa ragu, ia mengambil serbet bersih dan mulai menyeka sisa jelaga di jemari Hamdan. "Aku tidak butuh monster. Aku butuh Abang-ku yang dulu berjanji akan selalu ada."

Hamdan tertegun. Sentuhan jari Amora yang lembut pada tangannya yang kasar membuat seluruh pertahanan mentalnya runtuh. Ia menarik tangan Amora, menggenggamnya erat, lalu menarik gadis itu hingga berdiri di antara kedua kakinya.

"Amora, ingatlah satu hal," bisik Hamdan, wajahnya kini sejajar dengan Amora. "Apapun yang mereka tulis di koran, apapun yang mereka siarkan di televisi tentang hubungan darah itu... itu semua sampah. Aku tahu siapa kau, dan aku tahu apa yang kurasakan setiap kali kau berada di dekatku."

Ingatan Amora berputar hebat. Bayangan anak laki-laki yang memberinya gelang rumput kini tumpang tindih dengan pria dewasa di depannya. Kepalanya sedikit pening, namun hatinya terasa penuh. Ia mulai mengingat momen terakhir sebelum mereka berpisah—momen di mana Hamdan kecil mencium keningnya dan berjanji akan menjemputnya.

"Aku mengingatnya," bisik Amora dengan air mata mengalir. "Aku ingat janji itu, Abang."

Momen romantis itu terasa begitu nyata, hingga wajah mereka perlahan mendekat, hampir menghapus jarak yang tersisa. Namun, sebelum bibir mereka bersentuhan, suara langkah kaki Farid yang terburu-buru dari kejauhan memecah keheningan.

"Tuan Hamdan! Maaf mengganggu, tapi ada kiriman darurat dari laboratorium!" seru Farid dengan nada panik.

Hamdan segera melepaskan Amora, kembali ke mode waspada. "Ada apa, Farid?"

"Hasil tes DNA awal yang kita coba ambil secara rahasia... seseorang telah merusak datanya di pusat sistem. Seseorang di dalam rumah ini telah membocorkan rencana kita kepada pihak lawan," lapor Farid sambil menyerahkan tablet yang menunjukkan pesan 'Data Corrupted'.

Wajah Hamdan menggelap. Kelembutan yang baru saja muncul hilang seketika, digantikan oleh aura pemangsa. Ia melirik ke arah jendela lantai atas, ke arah kamar ibunya, Layla Tarkan.

"Sepertinya ada yang tidak ingin kebenaran ini terungkap, bahkan jika itu harus mengorbankan namaku," gumam Hamdan dingin. Ia kembali menatap Amora, kali ini dengan tatapan dewasa yang penuh janji. "Masuklah. Masalah baru saja dimulai, dan kali ini aku akan memastikannya selesai sebelum fajar."

To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!