Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes DNA
Lorong rumah sakit itu hening. Hanya suara beep monitor pasien dan langkah suster yang terdengar sesekali di kejauhan.
Andrew duduk di ruang tunggu dengan wajah tegang. Jas kerjanya masih rapi, namun dasinya sudah longgar dan rambutnya sedikit acak-acakan. Matanya sembab—bukan kurang tidur, tapi karena menahan tangis sejak semalam.
Seorang dokter keluar dari ruang perawatan. Andrew langsung berdiri.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?"
Dokter itu menarik napas pelan. "Alvandra mengalami benturan sangat keras di kepala dan memar di beberapa bagian tubuh. Kami sudah lakukan CT-Scan. Syukurnya tidak ada pendarahan dalam, tapi dia masih belum sadar. Kami akan pantau terus 24 jam ke depan."
Andrew mengangguk lemah. "Terima kasih, Dok."
Dokter itu pamit, dan Andrew hanya berdiri terpaku di depan pintu kamar VIP itu. Wajah Alvandra yang terbaring lemah dan penuh perban terus terbayang di kepalanya.
"Ada yang janggal," gumam Andrew.
Anak tangga rumahnya pendek-pendek, dengan pegangan besi di samping. Mustahil Alvandra bisa jatuh begitu parah kecuali didorong—atau disengaja. Atau kepalanya sempat dibenturkan.
Andrew menghela napas dalam dan segera mengeluarkan ponsel. Jarinya menekan nomor yang sudah lama tidak dihubungi.
"Halo? Pak Santoso? Saya Andrew. Bisa datang ke rumah saya sekarang? Anak saya jatuh. Saya curiga ada yang tidak beres."
---
Sore harinya — Rumah Andrew
Pak Santoso—pria paruh baya berseragam sipil—menyodorkan tangan dan langsung mengangguk. "Kami langsung ke TKP?"
Andrew membawa mereka masuk, langsung menuju tangga tempat Alvandra ditemukan.
"Anak saya jatuh dari sini. Kata istri saya, dia menemukan Alvandra sudah tergeletak."
Polisi memeriksa pegangan tangga, karpet alas, dan sudut-sudut lantai bawah. Beberapa bercak darah masih terlihat samar di pinggir lantai marmer.
"Pak Andrew, bisa tunjukkan rekaman CCTV rumah?"
Andrew mengangguk dan membawa mereka ke ruang monitor.
Beberapa layar menyala. Ia membuka folder rekaman dari malam kejadian. Namun ketika video diputar, layar hanya menampilkan error. Beberapa bagian memperlihatkan gambar rusak. Ada rekaman siang hari, ada rekaman tengah malam.
Tapi bagian antara pukul 21.00 hingga 23.30—saat Alvandra jatuh—kosong.
Andrew mengerutkan dahi. "Ini biasanya nggak pernah rusak. CCTV rumah kami diservis rutin."
Salah satu polisi mulai memeriksa sistem penyimpanan.
"Pak, file-nya sepertinya dihapus manual. Dan jejak akses terakhir berasal dari akun administrator—atas nama Nadia."
Andrew langsung menoleh. "Nadia? Jadi ada kemungkinan istri saya yang melakukannya? Gimana mungkin? Alvandra adalah anak kandungnya."
Pak Santoso berbicara hati-hati. "Pak Andrew, kami akan membawa rekaman ini untuk analisa lanjutan. Dan kalau boleh, kami akan minta izin untuk memeriksa barang-barang pribadi Ibu Nadia. Demi penyelidikan."
Andrew mengangguk tegas. "Lakukan. Saya juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu."
---
Siang itu — Ruang Guru SMA Nusa Cendekia
Ruang guru tampak biasa saja. Beberapa guru duduk mengoreksi ujian, beberapa sibuk berdiskusi pelatihan. Tapi di sudut ruangan—Andrew duduk bersama Bu Martha, guru Biologi yang juga kepala lab.
"Saya butuh bantuan," katanya pelan. "Tentang siswi bernama Aelira Arcella Valenzia."
Bu Martha mengerutkan dahi. "Aelira? Ada apa, Pak?"
Tentu saja Martha mengenal nama itu. Murid terpintar di sekolah mereka.
Andrew membuka map kecil. Di dalamnya terdapat dua lembar dokumen hasil pelacakan asal-usul Aelira dari panti, dan foto kalung liontin biru.
"Aelira kemungkinan besar adalah putri dari adik kandung saya," kata Andrew perlahan. "Adik saya—Jevanna—hilang lima belas tahun lalu bersama suaminya. Saat itu dia sedang hamil. Saya yakin Aelira adalah keponakan kandung saya."
Bu Martha membulatkan mata. "Pak, ini berat. Kalau mau tes DNA antara paman dan keponakan, hasilnya tidak akan seakurat tes orang tua-anak. Tapi secara genetik, paman dan keponakan memiliki kecocokan sekitar 25%—karena mereka berbagi kakek-nenek yang sama."
Andrew mengangguk. "Saya tahu. Tapi itu cukup untuk memastikan, kan?"
Bu Martha terdiam cukup lama. "Bisa. Tapi butuh persetujuan Aelira sendiri."
"Saya tahu. Itu sebabnya saya minta bantuan Ibu." Andrew menunduk. "Bisa bantu ambil sampel rambut Aelira tanpa dia sadar? Satu atau dua helai saja. Atau bisa suruh murid lain mengambil sisirnya."
Bu Martha menghela napas. Tapi kemudian, wanita itu mengangguk.
"Saya akan bantu, Pak. Karena saya juga pernah lihat kalung itu di leher Aelira. Bentuknya terlalu langka untuk kebetulan."
---
Dua hari kemudian — Laboratorium Rumah Sakit
Ruangan itu sunyi. Hanya denting jam dinding dan suara printer yang terdengar.
Andrew duduk di kursi tunggu dengan tangan terkepal. Satu jam terasa seperti sehari.
Akhirnya, teknisi lab muncul—menyodorkan map tertutup.
"Hasil tes DNA sudah keluar, Pak."
Andrew meraihnya dengan tangan gemetar. Dia membuka lembar hasilnya.
Nama Subjek: Aelira S Valenzia
Nama Pembanding: Andrew Teddy Raharja
Hubungan Diduga: Paman dengan Keponakan
Hasil Analisa:
· Ditemukan kecocokan alel pada 7 dari 14 lokus yang diuji (50%)
· Indeks probabilitas hubungan: 94.7%
KESIMPULAN: Subjek memiliki hubungan genetik yang signifikan sebagai keponakan dari pembanding. Tidak menutup kemungkinan adanya hubungan keluarga dari garis keturunan yang sama.
---
Andrew menatap huruf-huruf di atas kertas itu. Pandangannya mulai kabur. Matanya memerah. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara. Tangan kirinya menutupi mulut, menahan isak.
94.7%
Bukan kepastian seratus persen. Tapi cukup. Lebih dari cukup untuk meyakinkannya.
"Jadi kamu beneran anak adik Papa, Nak?" Air matanya mulai tumpah.
Andrew mencengkeram kertas hasil DNA itu erat-erat ke dadanya. Bahunya bergetar.
"Maafin saya —maafin Om karena telat nemuin kamu."
Tapi rasanya sama. Karena semenjak Jevanna pergi, Andrew menganggap dirinya bertanggung jawab menjaga apapun yang ditinggalkan adiknya.
"Di mana kamu, Jev? kakak gagal jaga kamu," bisiknya lirih.
Jika Aelira ada di Panti Asuhan, lalu kemana perginya Jevanna? Mengapa Jevanna meninggalkan putri mereka sendirian di sana?
Sebenarnya kamu kemana, Jev? Apa kamu masih hidup?
Dia tidak tahu siapa suami adiknya. Yang ia tahu—Jevanna kawin lari lima belas tahun lalu karena suatu alasan yang tidak pernah ia ceritakan. Mungkin karena keluarga tidak merestui. Mungkin karena sesuatu yang lebih gelap.
Dan sekarang, Aelira ada di sini.
"Om janji," bisik Andrew pada kertas hasil tes itu. "Om nggak akan biarin ada apa-apa sama kamu lagi."