Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 18_Tiket Keberuntungan
"Ini luar biasa, tapi... bagaimana dengan Mas?" Arumi menggigit bibir bawahnya.
"Panitia hanya menanggung akomodasi untukku, aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini sendirian apalagi kondisi Ibu dan Siska sedang tidak stabil di gudang belakang. Tapi kalau Mas ikut, biaya tiket dan hotel di Singapura sangat mahal. Gaji pertamaku dari Profesor sudah habis untuk membayar tunggakan listrik rumah lama dan membeli beberapa alat gambar." serunya dengan kekhawatiran tersendiri.
Adrian meletakkan obengnya, inilah saat yang sudah ia rancang bersama Hendra sejak dua jam yang lalu.
Ia berjalan mendekat dan duduk di samping Arumi, lalu merogoh saku celana kainnya yang agak kusam.
"Sebenarnya, aku baru saja ingin memberitahumu sesuatu yang gila," ucap Adrian dengan nada bicara yang dibuat seolah-olah ia sendiri tidak percaya.
Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil yang sudah agak lecek di bagian pinggirnya.
"Apa ini, Mas?" tanya Adrian.
"Kemarin saat aku pulang dari gudang, aku mampir ke minimarket untuk membeli sabun. Di sana ada undian belanja berhadiah 'Liburan Hemat ke Singapura' untuk dua orang, aku hanya iseng mengisi kuponnya, dan tadi siang... manajer toko meneleponku. Katanya aku menang Arumi." ucap Adrian dengan kebohongannya itu.
Arumi membelalakkan matanya, menyambar amplop itu dengan tangan gemetar.
Di dalamnya terdapat dua tiket pesawat kelas ekonomi (yang sebenarnya dipesan Adrian di kelas bisnis namun ia minta Hendra mencetak ulang boarding pass palsu dengan keterangan kelas ekonomi) dan satu voucher menginap di sebuah hotel yang namanya terdengar biasa namun sebenarnya adalah properti milik grup Arkadia.
"Ini... ini tidak mungkin! Mas, kau benar-benar beruntung!" Arumi memeluk suaminya dengan erat, air mata haru mulai menggenang.
Adrian membalas pelukan itu, menyembunyikan senyum liciknya di bahu Arumi.
'Keberuntungan ini harganya beberapa juta dolar dalam bentuk operasional perusahaan, Sayang.' batinnya.
"Tuhan tahu kita butuh istirahat Arumi, dan Dia ingin aku menemanimu saat kau menerima penghargaan itu nanti."
Sementara di apartemen penuh dengan suasana hangat, suasana di gudang belakang rumah lama justru semakin mendingin.
Siska tidak bisa lagi menahan penderitaannya, nyamuk, bau apek dan suara gerutu Bu Ratna yang terus menyalahkan keadaan membuatnya merasa gila.
Sore tadi, saat Bu Ratna sedang tertidur karena kelelahan menangis, Siska mengambil sisa uang simpanan ibunya yang disembunyikan di bawah tikar yaitu uang terakhir sebesar lima ratus ribu rupiah.
Ia merias wajahnya sekuat tenaga dengan sisa-sisa alat rias yang tidak disita petugas, mengenakan gaun paling minim yang berhasil ia selundupkan, dan pergi menuju sebuah klub malam elit bernama The Velvet Room.
Siska berpikir, dengan kecantikannya, ia hanya perlu menemukan satu pria kaya yang sedang mabuk untuk menjadi "penyelamatnya".
Di dalam klub yang remang-remang dan penuh asap rokok elektrik itu, Siska duduk di bar dan mencoba menarik perhatian.
Ia tidak sadar bahwa di setiap sudut ruangan itu, kamera CCTV dengan teknologi pengenalan wajah milik Arkadia Security sedang mengawasinya.
"Tuan Muda, target sedang berada di The Velvet Room. Dia mencoba menggoda seorang pengusaha tekstil kelas menengah," lapor Hendra melalui pesan suara ke ponsel rahasia Adrian.
Adrian yang sedang menonton TV bersama Arumi, melirik ponsel di pangkuannya.
Ia mengetik balasan singkat yaitu "Biarkan dia merasa berhasil sebentar. Lalu perkenalkan dia pada 'Pak Surya'. Biarkan pria itu memberinya pelajaran tentang dunia malam yang sesungguhnya."
Pak Surya adalah mitra bisnis Adrian yang dikenal memiliki reputasi buruk terhadap wanita yang hanya mengejar hartanya.
Adrian ingin Siska tahu bahwa mencari jalan pintas hanya akan membawanya ke lubang yang lebih dalam.
Keesokan harinya Arumi sibuk mengepak barang, ia hanya membawa beberapa potong baju sederhana.
Namun, Adrian secara diam-diam meminta seorang desainer ternama untuk mengirimkan sebuah paket ke apartemen mereka.
"Mas, ada paket lagi untukku?" tanya Arumi saat kurir datang membawa kotak hitam besar yang elegan.
"Dari siapa?" Adrian pura-pura bertanya balik.
Arumi membaca kartu ucapannya untuknya. "Untuk finalis berbakat, pakailah ini saat presentasi nanti agar karyamu semakin bersinar. Dari pengagum rahasia karyamu."
Di dalam kotak itu terdapat sebuah gaun simple chic berwarna putih gading yang terbuat dari sutra berkualitas tinggi.
Potongannya sangat anggun, tidak mencolok namun memancarkan kelas yang berbeda.
"Mas, ini pasti sangat mahal. Kenapa pengagum rahasia ini terus memberiku barang bagus?" Arumi merasa gelisah.
"Mungkin itu dari Profesor Wijaya, atau mungkin dari sponsor kompetisinya," hibur Adrian.
"Jangan dipikirkan, mereka ingin kau terlihat profesional. Pakailah, kau akan terlihat sangat cantik dengan gaun ini."
Sebenarnya, gaun itu adalah rancangan khusus yang harganya setara dengan gaji kuli gudang selama tiga tahun.
Adrian ingin istrinya tidak dipandang sebelah mata oleh juri-juri internasional di Singapura nanti.
Hari keberangkatan tiba, sebelum menuju bandara, Arumi bersikeras ingin mampir ke rumah lama untuk memberikan sedikit uang saku dan makanan bagi ibunya.
Adrian sempat menolak, namun melihat ketulusan di mata Arumi, ia akhirnya luluh.
Sesampainya di sana, mereka mendapati rumah utama sudah digembok total dan dipasangi papan pengumuman lelang.
Di gudang belakang, Bu Ratna sedang menangis sendirian.
"Ibu... ini ada sedikit makanan dan uang untuk seminggu kedepan," ucap Arumi sambil menyerahkan bungkusan.
"Arumi harus ke Singapura dulu untuk urusan pekerjaan." ucap Arumi.
Bu Ratna bukannya berterima kasih, malah menjerit. "Singapura?! Kau enak-enakan jalan-jalan ke luar negeri sementara Ibu di sini makan nasi garam?! Dan mana Siska? Dia belum pulang sejak kemarin! Kau pasti menyembunyikannya agar dia tidak sukses, kan?!"
Arumi tersentak. "Siska belum pulang? Aku tidak tahu, Bu." seru Arumi.
Adrian melangkah maju, menghalangi pandangan Bu Ratna dari Arumi.
"Siska sudah dewasa, dia memilih jalannya sendiri. Jika dia tidak pulang, mungkin dia sedang menikmati hasil dari pilihan-pilihannya. Kami harus pergi sekarang." ucap Adrian.
Adrian menarik tangan Arumi keluar, di dalam hatinya, ia tahu persis di mana Siska berada.
Siska sedang berada di salah satu kamar hotel milik Pak Surya, menangis karena seluruh perhiasan imitasinya diambil dan ia dipaksa mencuci piring di dapur hotel untuk membayar tagihan minuman keras yang ia pesan semalam.
Pak Surya atas perintah Hendra memperlakukan Siska seperti pelayan paling rendah.
Saat mereka sampai di Bandara Soekarno-Hatta, Arumi tampak sangat gugup. Ini adalah penerbangan internasional pertamanya.
"Tenanglah, aku bersamamu," bisik Adrian sambil menggenggam tangan Arumi.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
JANGAN LUPA FAVORIT KAN CERITANYA, ULASAN DAN BINTANGNYA, VOTE, LIKE DAN HADIAHNYA YAAAAA,, DITUNGGU MAWARNYA BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT NULISNYA
KOMEN GIMANA YA SAMA CERITANYA
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡