andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
“Dika.” Suaraku meninggi tanpa bisa kutahan. “Kamu sudah terlalu jauh melangkah.”
Ia menatapku lurus, tanpa gentar. Wajahnya tenang, tetapi matanya tajam.
“Justru Ayah dan lembaga Ayah yang terlalu lamban,” katanya datar. “Korban sudah tiga, Yah. Tapi sampai sekarang belum ada langkah serius. Ini sudah jelas teror.”
Aku menarik napas, berusaha menahan emosi.
“Semua masih diselidiki. Kita tidak bisa asal menyimpulkan,” kataku.
“Angka 172 itu bisa jadi jumlah target korban,” lanjutnya tanpa memedulikan ucapanku.
“Sekarang kodenya berubah jadi 171,” sahutku refleks.
Begitu kata-kata itu keluar, aku menyesal. Aku baru saja membuka celah.
Dika langsung menajamkan analisisnya.
“Itu justru lebih mengerikan, Yah. Kalau 172 itu jumlah hari, berarti selama 172 hari ke depan akan terjadi pembunuhan terus-menerus. Hari pertama saja sudah ada tiga korban. Kalau ini terus dianggap sepele, coba Ayah bayangkan berapa nyawa yang melayang.”
Aku terdiam. Ia melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.
“Seratus hari saja, kalau rata-rata tiga korban, itu sudah tiga ratus orang. Dan itu belum termasuk kemungkinan jumlahnya bertambah.”
Kata-katanya membuat tengkukku dingin. Ia berpikir jauh melampaui kami yang masih sibuk dengan prosedur dan laporan.
“Orang yang menyebar ancaman ini bukan orang sembarangan, Yah,” katanya. “Dia bisa menyabotase listrik, televisi, bahkan internet. Coba Ayah pikirkan. Apa itu tidak mengerikan?”
Aku menelan ludah. Dika berbicara seolah-olah ia sudah menyusun peta besar, sementara kami masih berkutat di potongan kecil. Kami terlalu fokus menjaga nama baik, terlalu cepat menutup kasus, sampai lupa melihat pola.
“Seratus tujuh puluh dua hari itu setara hampir setengah tahun,” lanjutnya. “Artinya, selama enam bulan kota ini bisa hidup dalam teror. Dan hari ini, semua orang masih sibuk menutup-nutupi.”
Aku mengusap wajah. Kepalaku berdenyut.
“Yah, laporkan ini ke atasan Ayah,” katanya lagi. “Umumkan kondisi darurat. Kalau dibiarkan, kota ini bisa lumpuh. Ekonomi bisa hancur seperti saat pandemi.”
Aku terdiam lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Dika, sebaiknya Ayah antar kamu ke Oma Nina.”
Ia tertegun. Wajahnya berubah.
“Aku kecewa, Yah,” ucapnya lirih. “Ayah yang selalu aku banggakan, yang katanya membela kebenaran, malah menganggap aku ancaman. Kalau Ayah saja tidak percaya, siapa lagi?”
Dadaku terasa sesak. Dalam hati aku berteriak, Nak, Ayah percaya padamu. Tapi kamu tidak seharusnya terlibat sejauh ini.
“Ayah lebih mengenal aku daripada siapa pun,” katanya lagi. “Ayah bisa saja membuangku ke mana saja, tapi Ayah juga tahu aku selalu bisa kembali.”
Aku benar-benar bimbang. Entah aku harus bangga atau justru takut. Bagaimana jika pelakunya jaringan berbahaya? Bagaimana jika anakku sudah melangkah terlalu dalam?
Namun satu hal aku tahu, Dika bukan anak yang mudah dihentikan. Ia cerdas dan selalu menemukan cara untuk mewujudkan keinginannya.
Akhirnya aku menghela napas panjang.
“Baik,” kataku. “Kamu ikut Ayah. Tapi jangan bertindak sembarangan lagi.”
..
Rani datang menghampiriku dengan langkah cepat.
“Pak, ada Pak Haris di kantor,” ucapnya pelan.
Aku melirik jam tangan. Pukul 19.30. Aku mengangguk singkat.
“Tolong jangan lepaskan garis pembatas. Bilang ke petugas keamanan, jangan ada siapa pun yang mendekat,” kataku.
“Siap, Pak,” jawab Rani, lalu bergegas pergi.
Aku menoleh ke arah Andika. Tangannya masih kugenggam. Wajahnya terlihat ragu, tetapi matanya menyala penuh rasa ingin tahu.
“Kalau kamu mau ikut Ayah, kamu harus nurut,” kataku tegas.
Dika terdiam sejenak, lalu mengangguk. Aku tahu ini bukan karena ia takut, melainkan karena ia ingin tetap terlibat. Dika anak yang keras kepala. Kali ini ia mengalah hanya demi satu tujuan, ikut mengungkap kasus ini.
Aku menyeberang jalan menuju halaman polsek. Langit sudah gelap. Lampu-lampu kendaraan menyala, dan beberapa orang masih berkerumun di sekitar gedung. Aku yakin, cepat atau lambat, kejadian ini akan viral dan tidak bisa lagi dibendung.
“Kamu tunggu di sini sama Pak Maman dulu,” ucapku sambil menepuk pundak Dika.
Ia mengangguk patuh.
Pak Maman adalah penjaga musala polsek, orang sederhana yang setiap hari membersihkan kantor.
“Pak Maman, saya titip Dika. Tolong jangan sampai dia keluar dari musala,” pintaku.
Pak Maman mengangguk mantap. Aku pun melangkah menuju ruang Reskrim.
Di dalam ruangan sudah ada Pak Haris, Lukman, Budi, Rina, dan Joni. Kami duduk mengelilingi meja bundar. Udara terasa berat. Aku berharap rapat ini akhirnya membahas kasus dengan serius. Korban sudah tiga orang. Terlalu aneh jika semua ini masih dianggap kejadian biasa.
Pak Haris menatap kami satu per satu. Dari raut wajahnya, jelas mereka semua menungguku.
“Kasus ini melibatkan orang-orang penting,” katanya akhirnya. “Kita tidak boleh sembarangan menanganinya.”
Sekilas aku merasa ada harapan. Mungkin kali ini akan ada tindakan nyata, bukan sekadar laporan di atas kertas. Namun harapan itu langsung runtuh.
“Sebisa mungkin kejadian ini jangan dibesar-besarkan,” lanjut Pak Haris. “Bunuh diri adalah hal memalukan bagi keluarga pengusaha dan pejabat. Kita harus ikut menutupi.”
Aku spontan berdiri.
“Tidak bisa, Pak,” ucapku dengan nada meninggi. “Korban sudah tiga. Polanya jelas. Mereka pernah sekolah di SMP Nusantara Global, berasal dari keluarga kaya, dan tidak punya alasan psikologis untuk bunuh diri. Ini pembunuhan yang direncanakan.”
Ruangan mendadak hening.
“Andi,” suara Pak Haris mengeras. “Jangan berkata sembarangan. Hari ini sudah ada dua bank dibobol. Besok kabarnya akan terjadi penarikan uang besar-besaran. Masyarakat mulai panik. Jangan menambah masalah dengan istilah pembunuhan berantai.”
Aku menarik napas, berusaha menahan emosi.
“Kalau ini bukan pembunuhan berantai, lalu apa, Pak? Di korban pertama ada kode 1721200, kejadian pukul 12.00. Di korban kedua ada kode 17212001800, dan kejadian berikutnya muncul pukul 18.00. Semua terhubung.”
Semua tertegun. Aku tahu, analisis itu sebenarnya milik Dika. Dan jujur saja, aku merasa malu harus mengakuinya.
“Omong kosong, Andi,” potong Pak Haris. “Jangan pernah ungkapkan ini ke publik. Kita sendiri bisa dianggap penyebar teror.”
“Pak, pelaku ini bukan orang sembarangan,” bantahku. “Dia mampu memicu mati listrik, gangguan internet, lalu muncul kode 172 di berbagai tempat. Ini ancaman nyata. Kita harus serius.”
“Omong kosong,” ulang Pak Haris. “Sabotase itu cuma sebentar. Paling lima menit. Ini kerjaan anak iseng.”
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Tiga nyawa melayang, tetapi masih disebut permainan.
“Pak, tiga korban itu alumni sekolah yang sama. Perkiraan saya, korban berikutnya juga dari SMP Nusantara Global,” kataku mantap.
“Andi,” bentak Pak Haris. “Hentikan ocehanmu. Aku mengumpulkan kalian di sini untuk satu sikap. Korban ketiga jatuh terpeleset. Kalian harus menenangkan masyarakat. Situasi ekonomi sedang sulit. Jangan sebarkan berita tanpa dasar.”
Aku berdiri dari kursi. “Saya tidak menolak pernyataan ini. Dua kali saya sudah membuat laporan palsu. Untuk yang ketiga, saya tidak mau.”
“Andi,” bentak Pak Haris.
“Apa, Pak?” jawabku, kali ini tanpa menunduk.
“Kamu diskors satu bulan. Bulan ini kamu tidak mendapat operasional,” katanya dingin.
“Baik,” ucapku tegas. “Tapi ingat, besok pukul sembilan pagi akan ada pembunuhan. Jika perkataan saya tidak terbukti, saya akan mengundurkan diri.”
Aku keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi. Dadaku sesak. Aku muak melihat nyawa manusia dipermainkan demi kepentingan dan ketakutan mereka sendiri.