Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Kita Perlu Bodyguard
...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...
Aku terhuyung menabrak dinding, untungnya aku berhasil menemukan saklar lampu, lalu langsung saja aku nyalakan.
Mataku menyapu seluruh kamar mandi, dan saat itu aku sadar, aku sendirian. Aku tarik napas panjang dengan putus asa.
Ya Tuhan.
Tanganku naik ke sisi leher, tempat aku masih bisa merasakan bekas sentuhan bibirnya. Pikiranku pun kacau, tubuhku gemetaran.
Aku hampir terkena serangan jantung saat tanganku menyentuh dia, dan waktu dia mencekikku dari belakang, napasku langsung berhenti. Sumpah, itu benar-benar mengerikan.
Sambil menekan satu tangan ke perut, aku pun memaksa diri buat fokus, pelan-pelan mengatur napas. Jelas, aku harus bilang ke Papa. Semua ini sudah kelewatan.
Begitu pikiranku agak terkendali, aku buru-buru buka pintu. Aku berlari keluar kamar mandi dan langsung ke meja tempat Papa sedang memotong steak Sirloin-nya.
Aku langsung duduk, lalu menyapu pandangan ke sekeliling restoran, tapi enggak ada tanda-tanda cowok itu.
“Ada apa, Quinn?” tanya Papa.
Aku menengok ke dia. “Emmm ... Tadi ada cowok buntutin aku di kamar mandi.”
Matanya langsung membelalak, dan alat makannya pun terjatuh ke meja. “Apa?!”
“Kita bisa minta makanannya ditake away aja enggak, Pa? Aku cuma pingin pulang.”
“Ceritain apa yang terjadi, Sayang!” perintah Papa dengan nada tegas.
“Nanti aku ceritain begitu kita keluar dari sini, Pa.” Dengan tangan gemetar, aku pun menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Sekarang aku cuma pingin pergi.”
Papa langsung memanggil pelayan dan membayar tagihannya.
Dengan makanan di kantong take away, kami pun buru-buru keluar dari restoran. Begitu kami masuk ke Mercedes, dia bilang, “Sekarang ayo ceritain!”
Aku mengencangkan sabuk pengaman, lalu kata-kata itu keluar begitu saja. “Hemm ... Aku lihat cowok yang sama di mana-mana. Awalnya aku kira cuma perasaan aku aja, tapi kemarin di toko dia dekatin aku, dan pas aku selesai belanja, dia juga nyender di mobil.”
Aku menemukan tatapan khawatir di wajah Papa. “Malam ini dia juga masuk ke kamar mandi dan megang aku dari belakang, nanya apakah aku takut. Dia kayak mau nyekik aku, Pa. Tapi ... Ahhh, entah lah! ”
Papa langsung menyalakan mesin, ban pun berdecit nyaring, dan mobil melaju menjauh dari tepi jalan.
“Kayak apa penampilannya?” tanyanya.
“Rambut hitam, rapi, agak runcing. Matanya cokelat muda. Dia dua kepala lebih tinggi dari aku dan dia selalu pakai setelan mahal.” Lalu aku bertanya, “Apa enggak sebaiknya kita lapor ke kantor polisi?”
Papa menggeleng. “Nanti, kita bakal nyewa Bodyguard!"
“Kenapa enggak langsung ke polisi?” tanyaku. “Bukannya itu yang harus kita lakuin?”
Papa ragu sebentar sebelum menjawab, “Kita belum punya cukup detail buat mereka nemuin cowok itu.”
Aku mengernyit. “Tapi kan mereka bisa nyari begitu tahu aku diikuti.”
Papa menengok ke aku, nadanya jadi keras. “Biar Papa yang urus ini, Quinn.” Ada penyesalan di wajahnya waktu dia mengulur tangan ke seberang perseneling dan memegang tanganku. “Maaf, sayang. Papa cuma khawatir. Papa bakal suruh orang buat nemuin cowok itu, habis itu kita ke polisi. Oke?”
“Oke,” bisikku sambil melihat ke luar jendela.
Perasaan enggak enak makin mengendap di perutku, dan aku sampai enggak sadar kalau gigiku sudah menggigit bibir kuat-kuat.