"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kegelapan dan Gema Masa Lalu
Malam itu, London seolah sedang murka. Badai besar menghantam kota dengan curah hujan yang begitu ekstrem, disertai kilatan petir yang membelah langit Canary Wharf. Di dalam unit penthouse yang mewah, Achell sedang sendirian. Sophie dan Julian? Mereka terpaksa terjebak di luar.
Sophie harus menghadiri acara gala dinner darurat dengan investor galerinya, sementara Julian sedang berada di kantor firma hukumnya di pusat kota, tertahan karena banjir yang menutup akses jalan menuju apartemen. Keduanya sudah menelepon Achell, meminta maaf berkali-kali karena tidak bisa pulang tepat waktu.
Achell meyakinkan mereka bahwa dia baik-baik saja. Namun, itu bohong.
Sejak kecelakaan lima tahun lalu—saat pandangannya menggelap di atas aspal dingin sebelum akhirnya koma Achell memiliki trauma mendalam terhadap kegelapan total. Baginya, kegelapan bukan sekadar tidak adanya cahaya, melainkan pengingat akan kematian yang hampir menjemputnya.
BUMMM!
Suara petir yang menggelegar diikuti dengan padamnya seluruh aliran listrik di gedung itu. Sistem generator cadangan nampaknya mengalami kerusakan akibat sambaran petir. Seketika, apartemen itu menjadi hitam pekat.
"Tidak... tidak sekarang," bisik Achell. Napasnya mulai memburu. Ia mencoba meraba-raba meja untuk mencari ponselnya, namun tangannya bergetar hebat.
Kilatan petir masuk melalui jendela besar, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Achell merasa sesak. Ia merasa kembali berada di aspal malam itu, sendirian, dingin, dan tak berdaya.
"AAAKKKH!" Achell menjerit saat suara petir kembali meledak. Ia berjongkok di sudut ruangan, menutup telinganya rapat-rapat, dan mulai terisak. Rasa takut yang primitif menguasai dirinya.
Tiba-tiba, pintu apartemennya digedor dengan keras.
"ACHELL! GABRIELLA!"
Itu suara bariton yang sangat ia kenali. Suara yang dalam, berat, dan penuh kepanikan. Hanya dalam hitungan detik, pintu apartemen yang sudah diretas sistemnya oleh Victor terbuka lebar.
Victor masuk dengan senter besar di tangannya. Cahaya lampu itu menyapu ruangan dan menemukan sosok kecil yang meringkuk di sudut. Victor tidak membuang waktu. Ia berlari menghampiri Achell, menjatuhkan senternya ke lantai, dan langsung menarik Achell ke dalam pelukannya yang luas.
"Aku di sini, Princess. Aku di sini," bisik Victor parau.
Achell tidak menolak. Ia justru mencengkeram kemeja hitam yang dikenakan Victor dengan sangat kuat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Tubuh Achell bergetar hebat. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau hujan dari tubuh Victor seolah menjadi satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap sadar.
Victor mendekap kepala Achell, membiarkan rambut curly wanita itu menutupi lengannya. Tinggi badan Victor yang 190 cm membuat Achell benar-benar tenggelam dalam pelukannya. Victor bisa merasakan detak jantung Achell yang liar—sebuah detak jantung yang nyata, bukan buatan seperti yang ia lakukan tadi pagi.
"Jangan tinggalkan aku... gelap, Uncle. Gelap sekali," isak Achell.
Victor memejamkan mata, merasakan nyeri yang luar biasa di dadanya. Inilah sanksi yang paling menyakitkan bagi Victor: melihat wanita yang sangat kuat dan hebat seperti Dokter Gabriella, bisa hancur kembali menjadi gadis kecil yang rapuh hanya karena ketakutan yang ironisnya bermula dari perbuatannya di masa lalu.
"Aku tidak akan pergi, Achell. Demi nyawaku, aku tidak akan membiarkan kegelapan ini menyentuhmu lagi," ucap Victor dengan nada yang begitu protektif dan penuh otoritas.
Ia mengangkat tubuh Achell dengan mudah, membawanya ke sofa besar dan duduk di sana dengan Achell tetap berada di pangkuannya. Victor menyelimuti tubuh Achell dengan mantel hangat yang ia bawa. Ia membiarkan Achell mendengarkan detak jantungnya yang stabil, berusaha memberikan ketenangan.
"Maafkan aku, Achell," bisik Victor di puncak kepala Achell. "Maafkan aku karena membuatmu harus memiliki ketakutan seperti ini. Harusnya aku yang melindungimu malam itu, bukan malah menjadi alasanmu berlari ke jalan."
Achell tidak menjawab. Ia hanya terus menangis dalam diam, namun pelukannya pada leher Victor perlahan melonggar seiring dengan rasa aman yang mulai merayap. Dalam kegelapan badai London itu, tembok kebencian yang dibangun Achell selama empat tahun nampak sedikit retak. Bukan karena ia memaafkan Victor, tapi karena dalam titik terendahnya, hanya pelukan pria "monster" inilah yang bisa mengusir hantu-hantu masa lalunya.
Victor terus membisikkan kata-kata penenang, tangannya yang besar mengusap punggung Achell dengan gerakan ritmis. Di saat itu, Victor sadar; ia tidak butuh harta atau kekuasaan untuk merasa seperti pria sejati. Ia hanya butuh Achell yang bersandar padanya seperti ini.