NovelToon NovelToon
Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Single Mom / Anak Genius / Duda / Cintapertama
Popularitas:757
Nilai: 5
Nama Author: Ega Sanjana

Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Setelah insiden dengan Dina, seminggu sudah lewat. Lila mulai merasa lebih nyaman di sekolah—siswa klab sastra selalu mengajaknya berdiri bersama, dan beberapa siswa yang dulu menjauhkannya pun mulai menyapa lagi. Tapi yang paling membuatnya bahagia adalah Siti, yang setiap hari datang ke kelas nya, dan langsung masuk begitu saja untuk menunggu dia pulang, membawa camilan yang dia buat sendiri.

"Siti, kamu gak capek ya pulang pergi kelas 10 dan kelas 11 bareng? Jaraknya kan agak jauh," tanya Lila sembari memakan kue talas yang dibawa Siti di bangku taman sekolah.

"Tidak capek kok, Kak! Sebab kita bisa bikin cerita bareng sambil jalan pulang," jawab Siti dengan mata bercahaya. Sejak janji mereka di di bab sebelumnya, mereka sudah mulai menulis di buku catatan baru—setiap hari menambahkan beberapa kalimat tentang pengalaman mereka melawan Dina.

Satu hari, ketika mereka sedang menulis di taman, Bu Rina—guru bahasa Indonesia Lila yang juga pembimbing klab sastra—datang mendekati. "Lila, Siti, apa yang kamu tulis itu? Kelihatannya menarik banget ya."

Lila merasa malu, tapi Siti dengan percaya diri membuka buku catatannya. "Ini cerita tentang Kakak yang dianiaya, tapi adiknya yang berani melindunginya, Bu. Kita mau terbitkan jadi buku!"

Bu Rina membaca beberapa bagian dan tersenyum. "Wah, ini cerita yang sangat indah dan menguatkan loh. Kalau begitu, bagaimana kalau klab sastra bantu kamu menyempurnakannya? Dan sekolah bisa membantu menerbitkan sebagai majalah khusus untuk hari pendidikan nasional yang akan datang?"

Lila dan Siti terkejut dan senang sekaligus. "Beneran, Bu? Terima kasih banyak!" seru keduanya bersamaan.

Mulai dari hari itu, Lila membawa Siti ke ruang klab sastra setiap hari setelah sekolah. Siswa klab senang membantu—beberapa membantu menyusun alur, yang lain membaca dan memberi saran. Siti yang adik kelas di antara mereka tidak malu menyampaikan pendapatnya. "Kak, ini bagiannya terlalu sedih ya. Tambahin aja ceritanya tentang kita main layang-layang waktu libur dulu, biar ada kebahagiaan juga!"

Selama seminggu, mereka sibuk menyempurnakan cerita. Pada hari Jumat, ketika mereka sedang berdiskusi, Dina tiba-tiba muncul di pintu ruang klab. Semua diam, dan Lila merasa jantungnya berdebar kencang. Tapi Dina tidak marah—wajahnya terlihat muram dan sedih.

"Maaf...," ucapnya dengan suara lemah, tidak berani melihat Lila. "Aku sudah mendapatkan sanksi—harus mengikuti bimbingan konseling selama sebulan dan meminta maaf ke kamu secara langsung. Yang aku lakukan itu salah. Aku iri karena kamu pintar dan punya teman yang baik, sedangkan aku selalu sendirian."

Lila terdiam sejenak, lalu berdiri dan mendekati Dina. "Aku mau maafkan kamu, Dina. Tapi harap jangan pernah lagi menyakitkan orang lain dengan kata-katamu. Kata-kata bisa jadi senjata, tapi juga bisa jadi obat."

Siti juga mendekati Dina dan memegang tangannya. "Kalau kamu mau, kamu bisa bantu kita bikin cerita juga loh. Kita butuh banyak ide!"

Dina terkejut dan menangis sedikit. "Benarkah? Kamu mau menerima aku?"

"Ya dong! Semua orang berhak punya kesempatan untuk berubah," jawab Lila dengan senyum.

Seminggu lagi, hari pendidikan nasional tiba. Seluruh sekolah SMA dan sekolah di sekitarnya diundang untuk datang ke SMA Lila. Tujuan utamanya adalah peluncuran majalah khusus yang berisi cerita Lila dan Siti, beserta tulisan-tulisan lain dari siswa klab sastra.

Pagi itu, Siti bangun lebih awal dari biasanya. Dia memakai baju sekolah yang rapi dan memakai ikat rambut yang dibeli Lila. "Ibu Rara, apakah aku cantik? Nanti aku harus bicara di depan banyak orang loh!" tanya dia dengan ragu.

Rara memeluknya. "Kamu paling cantik dan berani di dunia, sayang. Semua orang pasti suka cerita kamu."

Ketika mereka tiba di SMA, halaman sekolah sudah dipenuhi orang. Ada papan tulis yang dipenuhi poster tentang majalah, dan meja yang dipersiapkan untuk membagikannya. Lila sedang berdiri di panggung, mempersiapkan pidatonya. Ketika dia melihat Siti, dia mengangkat tangan dan menyentuh.

Waktu peluncuran tiba. Bu Rina naik ke panggung dan menyampaikan pidato. "Hari ini, kita akan meluncurkan majalah yang sangat spesial—karena ceritanya bukan cuma tulisan, tapi kisah nyata tentang keberanian, cinta keluarga, dan kesempatan untuk berubah."

Kemudian, Lila naik ke panggung bersama Siti dan Dina. Semua orang memberi tepuk tangan. Lila mulai berbicara: "Saya ingin berterima kasih kepada semua yang telah membantu—klab sastra, Bu Rina, dan terutama Siti, yang tidak pernah meninggalkan saya ketika semua orang menjauh. Cerita ini menceritakan bagaimana kata-kata bisa menyakitkan, tapi juga bagaimana cinta dan kepercayaan bisa mengubah segalanya."

Kemudian giliran Siti. Dia berdiri tegak, meskipun kakinya sedikit gemetar. "Saya adalah adik dari Kak Lila. Kadang saya kecil, tapi saya tahu bahwa keluarga itu harus saling melindungi. Saya juga ingin berterima kasih kepada Kak Dina yang mau berubah—karena tidak ada orang yang selalu jahat."

Semua orang memberi tepuk tangan yang lebih keras. Dina pun naik ke depan dan berkata: "Saya minta maaf kepada semua yang pernah saya sakiti, terutama Kak Lila. Cerita ini mengajari saya bahwa iri hanya akan membuat kita sendirian, sedangkan kebaikan akan membawa kita ke teman-teman yang baik."

Setelah pidato, majalah mulai dibagikan. Banyak orang membaca cerita Lila dan Siti dengan penuh perhatian—beberapa bahkan menangis karena tersentuh. Seorang guru yang datang berkata: "Cerita ini sangat bagus untuk diajarkan ke murid-murid saya. Mereka akan belajar tentang keberanian dan rasa hormat terhadap orang lain."

Sore hari, ketika acara selesai, Lila, Siti, Dina, dan teman-teman klab sastra duduk di taman sekolah. Mereka meminum jus jeruk dan membicarakan rencana mendatang. "Kalau majalah ini laris, bagaimana kalau kita bikin buku yang lebih lengkap? Dengan cerita-cerita lain tentang keluarga dan persahabatan," usulkan salah satu anggota klab.

"Baik deh! Dan kita akan bikin bersama—semua orang bisa ikut menulis!" seru Siti dengan senang hati.

Lila memegang tangan Siti dan Dina. Dia menyadari bahwa masa sekolah yang dulunya penuh kesulitan telah membawa dia ke tempat yang indah—dengan teman-teman yang baik, keluarga yang mencintainya, dan harapan untuk masa depan yang lebih cerah. Semua itu karena mereka memilih untuk menggunakan kata-kata sebagai jembatan, bukan senjata.

"Terima kasih, semuanya. Tanpa kalian, saya tidak akan sampai di sini," ujar Lila dengan suara penuh emosi.

"Kita selalu bersama, Kak. Selalu!" jawab Siti sambil memeluknya erat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!