Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.
Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?
Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 – Hal yang Dijaga, Hal yang Disimpan
POV Haruto
Jam dinding di studio musik kampus menunjukkan 17.03.
Jarum menit bergerak pelan, seolah waktu sengaja memperlambat langkahnya sore itu. Sinar matahari menyusup melalui jendela kecil di atas pintu studio, membelah ruangan menjadi dua warna—jingga hangat yang nyaris lembut, dan abu-abu kusam yang dingin. Debu-debu halus menari di udara, terlihat jelas setiap kali cahaya menyentuhnya.
Studio musik itu rapi. Terlalu rapi untuk ukuran ruang latihan mahasiswa.
Kabel-kabel audio digulung dengan presisi. Drum set milik Yukito sudah tertutup kain hitam. Keyboard Mei terlipat dan bersandar di dinding. Di tengah ruangan, mikrofon utama—mikrofon yang biasa dipakai Airi—masih berdiri tegak, sunyi.
Sunyi yang terasa ganjil.
Haruto berdiri di tengah ruangan, tablet di tangannya menampilkan rundown latihan. Ia membaca ulang dengan seksama, memperhatikan detail-detail kecil yang mungkin tak akan disadari orang lain.
Sebagai leader Silent Echo, Haruto selalu seperti ini.
Datang paling awal.
Pulang paling akhir.
Bukan karena ingin terlihat dominan, melainkan karena ia percaya satu hal—jika ia lengah sedikit saja, semuanya bisa runtuh. Band ini terlalu rapuh untuk dibiarkan berjalan tanpa arah.
Band ini bukan main-main baginya.
Bukan sekadar kegiatan kampus.
Bukan sekadar pelarian dari rutinitas.
Ini adalah alasan ia bertahan.
Pintu studio terbuka dengan bunyi pelan.
Haruto menoleh refleks.
Ren masuk sendirian.
Tas gitar menggantung di punggungnya. Rambutnya sedikit berantakan—bukan seperti orang yang terburu-buru, tapi juga bukan orang yang benar-benar santai. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, datar dan terkendali. Namun Haruto cukup lama mengenalnya untuk tahu: ada sesuatu yang sedang ia tahan.
Haruto mengangkat alis.
“Ren.”
Ren mengangguk singkat. “Haruto.”
Pandangan Haruto refleks menyapu ke belakang Ren, menunggu sosok lain yang biasanya datang bersamanya.
Tidak ada.
“Sendirian?” tanya Haruto. “Airi ke mana?”
Ren melangkah masuk, menutup pintu studio, lalu meletakkan tasnya di sudut ruangan. Gerakannya rapi, seolah tempat ini sudah akrab baginya—padahal ia bukan anggota tetap band.
“Pulang duluan,” jawab Ren singkat.
Haruto berhenti membaca rundown.
“Pulang?” alisnya sedikit berkerut. “Kenapa?”
“Dia yang minta,” kata Ren. “Aku mau latihan. Airi juga… nggak boleh pulang malam.”
Nada itu terdengar biasa. Namun Haruto menangkap sesuatu di baliknya—ketegasan yang bukan sekadar aturan tanpa makna.
Haruto menyilangkan tangan di dada.
“Ibunya?”
Ren mengangguk. “Ibunya khawatir.”
Hening singkat menyela mereka.
Haruto menghembuskan napas kecil, lalu bersandar ke meja mixer. Tangannya menopang tubuh, matanya menatap lampu-lampu kecil di panel audio yang menyala samar, seperti titik-titik cahaya yang bertahan di kegelapan.
“Jadi…” katanya, nadanya terdengar santai, tapi ada tekanan halus di ujung kalimatnya,
“kau ini bodyguard-nya Airi, ya?”
Ren menoleh pelan.
“Kurang lebih,” jawabnya.
Haruto terkekeh pendek. Bukan tawa sungguhan—lebih seperti hembusan napas yang sengaja dikeluarkan.
“Pantesan.”
Ren tidak langsung merespons.
Haruto melanjutkan, matanya kini menatap lantai studio.
“Aku tahu kalian teman masa kecil. Di SMA juga selalu bareng. Pulang naik bus yang sama. Rumah kalian nggak jauh.”
Kalimat itu keluar dengan nada netral, tapi Ren tetap menegang tipis.
“Aku menjaga Airi,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan terkendali,
“atas permintaan ibunya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun berat.
Seberat amanah yang tidak bisa ditolak.
Haruto terdiam beberapa detik. Kata-kata itu berputar di kepalanya—permintaan ibunya.
Bukan sekadar janji antar teman. Bukan pula kebiasaan yang lahir begitu saja.
Ia menatap Ren.
“Dan kamu setuju.”
“Iya.”
“Tanpa ragu?”
Ren menghela napas pelan. “Aku nggak pernah ragu soal itu.”
Studio kembali sunyi.
Bukan sunyi yang canggung, melainkan sunyi yang penuh dengan hal-hal yang tidak diucapkan.
Haruto akhirnya melangkah ke papan tulis kecil di dinding. Ia mengambil spidol dan menulis dengan huruf besar.
HALLOWEEN PERFORMANCE – SILENT ECHO
“Dua bulan lagi,” katanya, sengaja mengalihkan arah pembicaraan. “Event Halloween.”
Ren mengikuti arah pandangannya.
“Kita nggak bisa tampil biasa-biasa aja,” lanjut Haruto. “Ini momen buat ngenalin band kita ke publik kampus. Bahkan ke luar kampus.”
Ren menyilangkan tangan. “Konsep?”
“Bukan cuma kostum,” jawab Haruto. “Tapi atmosfer. Gelap, emosional, tapi tetap elegan.”
Ren berpikir sejenak. “Musiknya?”
“Aku mau eksplor dark-pop,” kata Haruto. “Sedikit rock. Beat-nya hidup, tapi… tetap ada ruang.”
“Ruang?” tanya Ren.
“Buat vokal Airi.”
Ren meliriknya sekilas. “Kamu selalu mikirin ruang buat Airi.”
Haruto tidak menyangkal.
“Dia pusat band ini.”
Ren terdiam, seolah menimbang sesuatu.
“Kalau mau,” lanjut Haruto, “kita bikin intro instrumental. Build-up sebelum Airi masuk. Biar semua fokus ke satu titik.”
Ren mengangguk pelan. “Bisa. Aku coba komposisi.”
“Bagus.” Haruto menulis catatan tambahan. “Latihan intens mulai minggu depan. Minimal tiga kali seminggu.”
Ia berhenti menulis dan menoleh ke Ren.
“Ren.”
“Ya?”
“Boleh aku tanya sesuatu?”
Ren menatapnya. “Tergantung.”
Haruto tersenyum tipis—senyum seseorang yang terbiasa mengambil keputusan sulit.
“Kamu suka Airi, ya?”
Pertanyaan itu keluar tanpa aba-aba.
Ren tidak langsung menjawab.
Namun ia juga tidak tampak terkejut.
Ia menatap Haruto cukup lama sebelum berkata pelan,
“Kenapa kamu tanya?”
Haruto mengangkat bahu. “Insting.”
Ren menghela napas. “Aku mengenalnya sejak kecil.”
“Itu bukan jawaban,” balas Haruto, nadanya tetap tenang.
Ren terdiam cukup lama.
Lalu ia berkata, “Kalau aku bilang iya… apa bedanya?”
Haruto tersenyum kecil—pahit.
“Berarti aku nggak salah.”
Ren menatapnya tajam. “Maksudmu?”
Haruto berbalik, bersandar ke meja.
“Kalau begitu… aku juga harus jujur.”
Ren merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
“Kamu suka Airi,” kata Ren tiba-tiba.
Bukan bertanya.
Mengatakan.
Haruto membeku.
Beberapa detik berlalu sebelum ia tertawa kecil, lirih.
“Kamu peka juga.”
“Iya?” Ren menatapnya serius.
“Iya,” jawab Haruto akhirnya. “Aku suka Airi.”
Studio terasa semakin sempit.
“Sejak kapan?” tanya Ren.
Haruto menatap jendela kecil di atas pintu. Cahaya sore mulai memudar.
“Sejak SMA.”
Ren jelas terkejut. “SMA?”
“Rooftop,” kata Haruto. “Suatu sore.”
Ia menarik napas.
“Aku dengar dia nyanyi. Sendirian. Seolah dunia nggak ada.”
Tangannya mengepal pelan.
“Suaranya jujur. Dan waktu dia sadar aku ada… dia nggak marah.”
Ia tersenyum samar.
“Kami ngobrol sebentar. Nggak penting. Tapi sejak hari itu… aku tahu.”
Ren menelan ludah.
“Dia alasan kenapa aku bikin band,” lanjut Haruto. “Kenapa aku serius soal musik. Kenapa aku membuat band ini—supaya suaranya nggak hilang.”
Ia menoleh ke Ren.
“Aku nunggu Airi di universitas ini.”
Kata-kata itu jatuh berat di antara mereka.
Ren menutup mata sejenak.
Ia tahu momen ini akan datang. Ia hanya tidak menyangka Haruto akan mengatakannya seterang ini.
“Kamu tahu kondisinya?” tanya Ren akhirnya.
“Apa?” Haruto mengernyit.
Ren berhenti sejenak, lalu berkata, “Nggak apa-apa.”
Haruto tidak menyadari celah itu.
“Aku nggak pernah maksain apa pun,” kata Haruto. “Aku cuma… ada.”
Ren membuka mata. “Tapi kamu tetap mendekat.”
Haruto tersenyum getir.
“Dan kamu tetap menjaga.”
Hening.
Dua laki-laki berdiri di ruangan yang sama, mencintai orang yang sama—dengan cara yang berbeda.
“Aku nggak akan ganggu,” kata Haruto akhirnya. “Aku tahu posisiku.”
Ren menatapnya. “Kamu leader band ini.”
“Dan Airi vokalisnya,” balas Haruto. “Itu cukup.”
Ren menghela napas panjang.
“Selama kamu nggak bikin dia terluka.”
Haruto menatap Ren lurus.
“Aku lebih takut itu terjadi daripada kamu.”
Jam dinding berbunyi pelan. 17.47.
Ren meraih tas gitarnya.
“Aku sepertinya akan pulang saja.”
Haruto mengangguk. “Baiklah. Aku nanti dulu.”
Ren berhenti di pintu.
“Haruto.”
“Ya?”
“Terima kasih… sudah jujur.”
Pintu tertutup.
Haruto berdiri sendiri di studio yang kembali sunyi.
Ia menatap papan tulis—nama Airi tertulis di tengah rencana, jadwal, dan musik.
Ia sadar satu hal dengan jelas.
Ia bisa memimpin band.
Ia bisa menunggu.
Ia bisa menyimpan perasaan.
Namun untuk pertama kalinya, ia mengerti—
mencintai Airi berarti juga siap kalah.
Dan sore itu, di jam lima lewat, Haruto menerima kenyataan itu dengan tenang.
---