"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Melodi Sumbang dan Kehadiran Tak Diundang
Pagi di kantin Universitas Zurich selalu dipenuhi dengan aroma kopi yang kuat dan tumpukan buku yang seolah tak habis dibaca. Di pojok favorit mereka, Achell, Sophie, dan Julian sedang menikmati istirahat singkat di tengah jadwal kuliah yang mencekik leher. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika Sophie mulai mengeluarkan keluh kesah terbarunya.
"Kalian tahu tidak?" Sophie meletakkan dagunya di atas meja dengan wajah cemberut. "Orang tuaku itu memang mendukungku jadi desainer. Mereka bilang, 'Silakan, Sophie, buatlah baju-baju indah'. Tapi begitu aku bilang aku ingin jadi penyanyi profesional... mereka langsung pura-pura tuli! Tidak adil sekali!"
Achell yang sedang membaca jurnal medis hanya tersenyum tipis. "Mungkin mereka hanya ingin melindungimu, Soph. Dunia hiburan itu berat."
"Atau mungkin mereka hanya ingin melindungi telinga orang-orang di seluruh dunia," celetuk Julian tanpa mengalihkan pandangan dari buku hukum internasionalnya yang tebal.
Sophie mendengus keras. "Oh, jadi kau pikir suaraku jelek, hah? Dengar ya, aku ini punya bakat terpendam! Aku akan buktikan pada kalian!"
Tanpa aba-aba, di tengah kantin yang sedang ramai itu, Sophie berdiri di atas kursi. Ia menarik napas dalam-dalam, membusungkan dada, dan mulai bernyanyi dengan volume maksimal.
"AND IIIIIII WILL ALWAYS LOVE YOUUUUUU!!!"
Bukannya melodi indah layaknya diva, suara yang keluar dari tenggorokan Sophie justru terdengar sangat cempreng, pecah, dan bernada tinggi yang tidak tepat sasaran. Suaranya melengking menyakitkan telinga, seperti gesekan logam di atas kaca.
Seketika, seluruh kantin terdiam. Achell dan Julian secara refleks menutup telinga mereka dengan rapat menggunakan kedua tangan. Wajah mereka memerah menahan tawa sekaligus malu.
"Sophie, turun! Ya Tuhan, hentikan!" bisik Julian sambil menarik ujung baju Sophie, namun gadis itu malah semakin bersemangat mengeluarkan nada-nada sumbangnya.
Setelah mencapai nada tinggi yang paling kacau, Sophie akhirnya duduk kembali dengan wajah bangga. Tawa Achell meledak seketika. Ia memegang perutnya yang terasa kaku karena tidak tahan tertawa melihat ekspresi para mahasiswa lain yang tampak shock.
"Hahaha! Soph, astaga! Aku baru tahu kau bisa mengeluarkan frekuensi yang bisa memecahkan gelas!" seru Achell di sela tawanya yang terpingkal-pingkal.
Julian ikut terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Jika kau jadi penyanyi, Soph, penontonmu bukan bertepuk tangan, tapi menelepon ambulans karena gendang telinga mereka berdarah. Kau benar-benar luar biasa menyedihkan."
"Kalian jahat sekali!" protes Sophie, meski akhirnya ia ikut tertawa bersama mereka.
Namun, di tengah keriuhan tawa itu, suasana tiba-tiba menjadi hening secara perlahan. Seorang pria muda bertubuh jangkung dengan jas lab tersampir di lengannya berjalan mendekati meja mereka. Wajahnya sangat tampan dengan garis wajah yang tegas namun ramah, khas pria Eropa Utara.
Ia adalah Liam Vanderwaal, mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang merupakan kakak tingkat Achell. Liam dikenal sebagai salah satu mahasiswa paling berprestasi dan juga idola di fakultas kedokteran.
"Maaf mengganggu momen menyenangkan kalian," ucap Liam dengan suara bariton yang lembut. Ia menatap mereka bertiga bergantian, lalu pandangannya berhenti cukup lama pada Achell. "Aku Liam, dari fakultas kedokteran. Aku sering melihat kalian bertiga di sini, tapi belum sempat menyapa."
Julian hanya melirik sekilas, lalu kembali pada bukunya dengan sikap cuek yang khas. Baginya, setiap pria yang mencoba mendekati Achell harus melalui seleksi ketat di kepalanya.
Sophie, di sisi lain, langsung berubah menjadi mode detektif. Ia memicingkan mata, menatap Liam dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan mengintimidasi. "Ada perlu apa, Kakak Tingkat? Mau minta tanda tangan penyanyi berbakat ini?"
Liam terkekeh ringan, tidak merasa terganggu dengan sikap Sophie. "Bukan, aku hanya ingin berkenalan dengan sesama calon dokter yang prestasinya sedang jadi pembicaraan di departemen bedah."
Liam mengulurkan tangannya ke arah Achell. "Hai, Gabriella Rachel, kan? Aku banyak mendengar tentang hasil riset anatomi-mu yang luar biasa."
Achell tertegun sejenak. Ia tidak menyangka mahasiswa populer seperti Liam akan mengenalnya. Berbeda dengan hatinya yang dulu selalu berdebar hanya untuk Victor, kali ini Achell merasa tenang. Ia menatap uluran tangan Liam dengan ramah.
"Iya, aku Achell. Senang bertemu denganmu, Liam," jawab Achell dengan senyum lembut yang manis, menyambut uluran tangan pria itu.
Ada kilatan kekaguman di mata Liam saat menatap senyum Achell. Sesuatu yang sangat kontras dengan suasana di London, di mana Victor Edward mungkin sedang duduk di kantornya yang gelap, tidak menyadari bahwa di belahan dunia lain, ada pria muda hebat yang mulai menatap "miliknya" dengan penuh minat.
"Mungkin kita bisa mendiskusikan beberapa kasus medis kapan-kapan di perpustakaan?" tawar Liam lembut.
"Tentu, aku akan sangat senang belajar dari senior," jawab Achell ramah.
Julian mendengus pelan, sementara Sophie melipat tangan di dada dengan wajah penuh curiga. Mereka berdua tahu, masa depan Achell baru saja dimulai, dan nampaknya... Victor Edward benar-benar telah menjadi sejarah yang semakin usang.