SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Panggung Para Naga dan Mawar Hitam
Langit di atas Ibu Kota Phoenix pagi ini tampak begitu jernih, seolah-olah semesta pun sedang menahan napas menyaksikan dimulainya kompetisi paling bergengsi di seluruh kekaisaran.
Turnamen Bintang Phoenix bukan sekadar ajang unjuk kekuatan bagi murid akademi; ini adalah panggung politik di mana masa depan kekuasaan ditentukan. Di sinilah talenta-talenta baru direkrut ke dalam faksi-faksi besar, dan di sinilah dendam-dendam lama sering kali diselesaikan di bawah legalitas hukum arena.
Alun-alun utama Akademi Phoenix Langit telah diubah menjadi koloseum raksasa yang mampu menampung puluhan ribu penonton.
Bendera-bendera kekaisaran berwarna merah dan emas berkibar gagah di setiap sudut tribun, menciptakan pemandangan yang menyilaukan mata. Di balkon utama yang paling tinggi, duduk para petinggi kekaisaran, termasuk para menteri dan jenderal besar. Namun, semua perhatian tertuju pada satu titik: Singgasana emas di tengah balkon kehormatan tempat Long Tian duduk dengan keanggunan seorang penguasa sejati. Di sampingnya, Feng Meili duduk dengan dagu terangkat, mencoba menutupi kegelisahannya dengan riasan tebal yang sangat mewah.
Lin Xiao berdiri di tengah barisan murid Kelas Emas. Ia mengenakan pakaian tempur ringannya yang berwarna hitam dengan aksen perak, rambutnya diikat tinggi memberikan kesan praktis sekaligus tegas. Di antara ratusan murid yang mengenakan warna putih-emas akademi, sosoknya yang gelap tampak mencolok—seperti setitik tinta hitam di atas kain sutra putih yang bersih.
"Lihatlah gadis itu," bisik salah seorang penonton di tribun VIP. "Dia Xiao Lan, orang yang menghancurkan Paviliun klan Feng semalam. Kecantikannya memang tiada banding, tapi keberaniannya... mungkinkah itu hanya kebodohan?"
Lin Xiao mengabaikan semua suara itu. Matanya terpaku ke atas, langsung menuju ke arah balkon kehormatan. Dari jarak ratusan meter, ia bisa merasakan tatapan Long Tian yang tajam menyapu kerumunan murid, dan akhirnya berhenti tepat di dirinya. Lin Xiao tidak menunduk; ia membalas tatapan itu dengan dingin, sebuah tantangan bisu yang membuat udara di sekitar barisannya seolah-olah membeku.
DONG! DONG! DONG!
Suara gong raksasa berbunyi tiga kali, menandakan dimulainya upacara pembukaan. Tetua Agung Mo maju ke tepi panggung utama, suaranya yang dialiri energi spiritual menggema ke seluruh penjuru koloseum.
"Hari ini, kita akan menyaksikan lahirnya bintang-bintang baru! Turnamen Bintang Phoenix resmi dibuka! Aturannya sederhana: Tidak ada serangan mematikan yang disengaja, namun di arena ini, luka adalah medali kehormatan. Pemenang adalah mereka yang bertahan hingga akhir!"
Sistem turnamen ini menggunakan sistem gugur. Ribuan peserta akan disaring melalui serangkaian pertarungan singkat di sepuluh arena kecil, hingga akhirnya menyisakan delapan peserta terbaik yang akan bertarung di arena utama di depan Kaisar dan Putra Mahkota.
"Pertarungan pertama Arena Ketujuh: Xiao Lan melawan Wei Kang dari klan Wei!" teriak penguji.
Lin Xiao melompat dengan ringan ke atas panggung arena ketujuh. Lawannya, Wei Kang, adalah seorang pemuda bertubuh kekar yang memegang sepasang kapak besar. Ia berasal dari klan militer pendukung klan Feng. Begitu melihat Lin Xiao, Wei Kang menyeringai merendahkan.
"Nona kecil, kudengar kau sangat sombong di perjamuan semalam. Tapi ketahuilah, di arena ini, kecantikan tidak bisa menyelamatkanmu dari kapakku!" Wei Kang menghentakkan kakinya, melepaskan aura Tahap Pembentukan Inti tingkat satu yang cukup solid.
Lin Xiao bahkan tidak mencabut pedang Nightshade di pinggangnya. Ia hanya berdiri dengan tangan di belakang punggung. "Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang sebentar lagi akan mencium lantai."
"Berani sekali kau!" Wei Kang meraung, melesat maju dengan kecepatan yang mengagumkan bagi pria bertubuh besar. Kapak kembarnya terayun membentuk salib, memancarkan energi bumi yang kuning kecokelatan yang mampu menghancurkan batu karang.
Lin Xiao tidak bergerak hingga kapak itu hanya berjarak beberapa inci dari lehernya. Di saat penonton menjerit ketakutan, tubuh Lin Xiao tiba-tiba bergeser dengan gerakan yang sangat halus—Langkah Bayangan Kematian. Ia seolah-olah berubah menjadi asap hitam yang melewati celah serangan Wei Kang.
DEZIG!
Tanpa menggunakan senjata, Lin Xiao menghantamkan telapak tangannya ke punggung Wei Kang. Ia menyisipkan setetes kecil Energi Nirwana Hitam ke dalam serangan itu.
Wei Kang terbelalak. Ia merasa seolah-olah sebuah gunung baru saja menghantam punggungnya. Energi dingin yang sangat agresif mulai menjalar ke tulang belakangnya, melumpuhkan seluruh sistem sarafnya dalam seketika. Tubuh kekar itu terlempar keluar arena, menghantam dinding pelindung hingga retak, dan jatuh tak sadarkan diri dengan mulut berbusa.
Seluruh penonton di sekitar Arena Ketujuh terdiam. Pertarungan itu berakhir dalam satu detik. Satu serangan, satu kemenangan mutlak.
Lin Xiao melangkah turun dari arena dengan tenang, tanpa ada sebutir pun keringat di wajahnya. Ia bisa merasakan tatapan Long Tian semakin intens. Di balkon, Feng Meili tampak meremas pegangan kursinya hingga kayu berukir itu hancur menjadi serpihan.
"Selanjutnya!" Lin Xiao bersuara dingin ke arah penguji, membuat sang penguji tersentak dari lamunannya.
Babak demi babak terlewati. Lin Xiao menghancurkan setiap lawannya dengan efisiensi yang mengerikan. Tidak ada yang mampu bertahan lebih dari tiga jurus melawannya. Nama "Xiao Lan" kini bukan lagi sekadar desas-desus; ia menjadi mimpi buruk bagi setiap murid akademi yang harus berhadapan dengannya.
Hingga akhirnya, matahari mulai condong ke barat, dan turnamen telah mencapai puncaknya. Delapan besar telah ditentukan. Lin Xiao berdiri di tengah arena utama, dikelilingi oleh tujuh peserta terbaik lainnya. Di antara mereka, ada sosok yang sangat ia kenali: Feng Jian, yang entah bagaimana telah pulih dan menggunakan obat-obatan penambah energi untuk ikut serta, dan Putri Long Yan yang menatapnya dengan kebencian murni.
Namun, pengumuman berikutnya dari Tetua Mo membuat seluruh stadion gempar.
"Untuk babak perempat final, atas permintaan khusus dari Yang Mulia Putra Mahkota Long Tian, format pertarungan akan diubah. Ini bukan lagi satu lawan satu. Delapan peserta terbaik akan dimasukkan ke dalam 'Formasi Hutan Kematian' yang diciptakan oleh energi Putra Mahkota sendiri. Siapa pun yang keluar terakhir, atau yang berhasil mengalahkan semua peserta lain di dalam, adalah juara sejatinya!"
Lin Xiao menyipitkan matanya. Ini adalah jebakan terang-terangan. Long Tian ingin mengurungnya di dalam formasi di mana ia bisa memanipulasi keadaan untuk membunuh Lin Xiao tanpa terlihat oleh publik secara langsung.
Long Tian berdiri dari singgasananya, jubah emasnya berkilauan tertiup angin. Ia mengangkat tangannya, dan sebuah energi emas yang luar biasa besar meledak dari tubuhnya, menutupi seluruh area arena utama dan menciptakan dimensi ruang yang terisolasi.
"Xiao Lan," suara Long Tian bergema di dalam pikiran Lin Xiao, sebuah transmisi suara yang hanya bisa didengar olehnya. "Jika kau benar-benar mawar yang kembali dari kematian, mari kita lihat apakah kau bisa bertahan di dalam hutanku. Di sana, tidak ada hukum akademi yang bisa melindungimu."
Lin Xiao menatap balik ke arah Long Tian, sebuah seringai tipis muncul di bibirnya yang kemerahan. "Long Tian, kau masih saja suka bermain pengecut. Tapi baiklah, aku akan menghancurkan hutanmu, beserta semua bidak yang kau tempatkan di dalamnya."
Lampu koloseum meredup saat Formasi Hutan Kematian mulai aktif. Lin Xiao merasakan tubuhnya ditarik ke dalam dimensi lain. Begitu ia membuka mata, ia sudah berada di tengah hutan yang gelap dengan pohon-pohon yang terbuat dari energi emas yang tajam. Di sekelilingnya, aura niat membunuh dari tujuh peserta lain mulai terasa, termasuk beberapa pembunuh bayaran klan Long yang menyamar sebagai murid.
Lin Xiao mencabut pedang Nightshade. Bilah hitam itu bergetar hebat, seolah-olah ia bisa merasakan haus darah tuannya yang sudah mencapai puncak.
"Malam ini... darah klan Long dan klan Feng akan menyirami hutan ini," bisik Lin Xiao.
Mawar Hitam telah masuk ke dalam sarang naga, dan kali ini, ia tidak datang untuk menyerah, melainkan untuk membakar sarang itu hingga menjadi abu.