NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka di Balik Kata-kata

Matahari sore menyelinap masuk melalui jendela besar paviliun di Bogor, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Di tengah ruangan itu, Alexander Eduardo berdiri dengan napas yang memburu. Keringat membasahi dahi dan punggungnya, membuat kemeja linen yang ia kenakan melekat erat pada tubuhnya yang kini jauh lebih kurus dibandingkan beberapa bulan lalu.

Di depannya, Almira berdiri dengan tangan terbuka, hanya berjarak tiga langkah. Wajahnya menunjukkan campuran antara kecemasan yang mendalam dan harapan yang membuncah.

"Ayo, Alex. Sedikit lagi. Lepaskan tumpuanmu pada meja itu," suara Almira lembut, hampir seperti bisikan, namun di telinga Alex, suara itu terdengar seperti perintah yang menggema.

Alex mencengkeram pinggiran meja jati di sampingnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit yang tajam seperti sengatan listrik merambat dari tulang ekornya menuju ujung-ujung saraf di kakinya. Ia benci perasaan ini. Ia benci ketergantungan ini. Ia adalah pria yang dulu mengguncang bursa saham hanya dengan satu panggilan telepon, dan kini, berjalan tiga langkah tanpa tongkat terasa seperti mendaki puncak Everest.

"Aku bisa melakukannya sendiri, Almira. Mundurlah," desis Alex, suaranya parau karena menahan sakit dan emosi.

"Aku tahu kau bisa, tapi biarkan aku menjagamu. Sedikit saja," Almira melangkah satu tindak lebih dekat, jemarinya nyaris menyentuh lengan Alex.

Alex menarik napas dalam, memejamkan mata, dan mencoba melepaskan cengkeramannya pada meja. Untuk sesaat, ia merasa tubuhnya melayang. Dunianya bergoyang. Kaki kirinya, yang selama ini terasa seperti balok kayu yang mati rasa, mulai gemetar hebat.

Satu langkah.

Terdengar suara gesekan kaki di atas lantai. Napas Alex semakin pendek. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.

"Bagus, Alex! Satu lagi!" seru Almira dengan binar mata yang cerah.

Namun, tepat saat kaki kanannya hendak menyusul, keseimbangan Alex runtuh. Gravitasi seolah menariknya dengan paksa ke bawah. Sebelum lututnya menyentuh lantai, tangan Almira yang mungil namun kuat sudah melingkar di bawah ketiaknya, menahan beban tubuhnya agar tidak jatuh tersungkur.

"Lepaskan!" bentak Alex tiba-tiba. Ia menyentakkan tubuhnya, menjauh dari pelukan Almira, dan akhirnya jatuh terduduk di kursi roda yang berada tepat di belakangnya.

Suasana ruangan itu seketika menjadi beku. Almira terengah-engah, tangannya masih menggantung di udara, terkejut dengan reaksi kasar suaminya.

"Aku hanya ingin membantu agar kau tidak jatuh, Alex," ucap Almira lirih, matanya mulai berkaca-kaca.

"Membantu?" Alex tertawa sinis, tawa yang penuh dengan kepahitan. Ia menatap Almira dengan pandangan tajam yang mematikan. "Kau tidak membantuku, Almira. Kau sedang memamerkan kekuasaanmu atas diriku. Kau menikmati ini, bukan? Melihat singa yang kau agung-agungkan kini harus merangkak dan bergantung pada belas kasihan seorang wanita yang dulu hanya seorang pelayan?"

Kata-kata Alex seperti sembilu yang menyayat hati Almira. Selama berbulan-bulan, ia tidak tidur hanya untuk memijat kaki pria itu. Ia mempelajari teknik fisioterapi, ia mengurus setiap kebutuhan Alex tanpa keluh kesah, bahkan saat pria itu memandangnya dengan kebencian.

"Bagaimana bisa kau berpikir begitu? Aku istrimu, Alex. Aku mencintaimu," suara Almira bergetar hebat.

"Cinta?" Alex memutar kursi rodanya, membelakangi Almira, menatap kosong ke arah taman yang rimbun di luar. "Cinta adalah saat kau menatapku sebagai pria yang utuh. Tapi yang kulihat di matamu hanyalah rasa kasihan. Kau menatapku seolah aku adalah burung sayap patah yang harus kau rawat agar kau merasa menjadi pahlawan."

Alex mencengkeram pegangan kursi rodanya dengan kuat. "Kau merasa hebat, bukan? Karena sekarang aku butuh tanganmu untuk sekadar berdiri tegak? Kau merasa lebih tinggi dariku karena kau bisa berjalan dengan kaki yang kuat sementara aku terjebak di kursi terkutuk ini?"

Almira berjalan memutar, berlutut di depan kursi roda Alex, mencoba mencari celah di balik topeng kemarahan pria itu. Ia meraih tangan Alex, meskipun pria itu mencoba menariknya kembali.

"Dengar, Alexander Eduardo. Aku tidak pernah meremehkanmu. Aku melihat pria yang paling kuat yang pernah kukenal sedang berjuang. Perjuanganmu bukan tanda kelemahan, itu tanda keberanian. Kenapa kau harus begitu keras pada dirimu sendiri?"

"Karena aku bukan apa-apa tanpa kekuatan itu!" Alex meledak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Seorang Eduardo tidak pernah meminta bantuan. Seorang Eduardo tidak pernah jatuh! Jika aku tidak bisa berdiri di atas kakiku sendiri tanpa kau yang menopangku, maka aku lebih baik mati di kursi ini daripada hidup sebagai bayang-bayang pria yang dulu kukenal!"

Almira menunduk, air matanya jatuh membasahi punggung tangan Alex. "Kau begitu sombong, Alex. Kau begitu sombong hingga kau menolak cinta yang tulus hanya karena harga dirimu yang terluka. Kau pikir aku bahagia melihatmu menderita? Kau pikir aku menikmati setiap malam saat aku mendengar kau merintih kesakitan karena sarafmu yang kembali berfungsi?"

Almira berdiri, menghapus air matanya dengan kasar. "Jika keberadaanku hanya membuatmu merasa terhina, maka baiklah. Aku akan berhenti membantumu. Mulai besok, biarkan Rendy atau perawat lain yang menanganimu. Tapi ketahuilah satu hal, mereka membantumu karena mereka dibayar. Aku membantumu karena aku memberikan seluruh jiwaku."

Almira berbalik, hendak meninggalkan ruangan, namun suara kursi roda yang bergeser membuatnya berhenti.

"Almira..." suara Alex melembut, namun masih ada nada getir di dalamnya.

Almira tidak menoleh. Ia menunggu.

"Bawakan tongkatku," perintah Alex. "Aku ingin mencoba lagi. Sendiri."

Almira mengambil tongkat perak yang bersandar di dinding. Ia menyerahkannya pada Alex tanpa sepatah kata pun. Ia melihat pria itu berusaha sekuat tenaga untuk berdiri sendiri, wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol. Alex berhasil berdiri, namun ia gemetar hebat.

Setiap kali Alex nyaris goyah, Almira secara refleks memajukan tangannya, namun ia segera menariknya kembali. Ia teringat kata-kata Alex. Ia tidak ingin dianggap meremehkan.

Alex berhasil melangkah satu kali dengan tongkatnya. Lalu dua kali. Tapi pada langkah ketiga, ujung tongkatnya tergelincir di lantai marmer yang licin.

"Alex!" Almira menjerit.

Tubuh Alex terjerembab ke depan. Ia tidak jatuh sepenuhnya ke lantai karena tangannya sempat menahan di sofa, namun posisinya sangat menghinakan. Ia berlutut di lantai, tongkatnya terlempar jauh.

Keheningan yang menyakitkan kembali melanda. Almira diam, ia takut mendekat. Ia melihat bahu Alex berguncang. Untuk pertama kalinya, sang Majikan yang Arogan itu tidak berteriak. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik lengannya yang besar.

Alex tidak marah. Alex hancur.

Almira mendekat perlahan, kali ini tanpa suara. Ia duduk di lantai di samping suaminya. Ia tidak menyentuhnya, ia hanya ada di sana, di samping puing-puing ego yang paling besar di dunia.

"Jangan benci aku karena aku kuat, Alex," bisik Almira. "Gunakan kekuatanku sampai kau mendapatkan kembali kekuatanmu. Itu gunanya sebuah pernikahan, bukan?"

Alex perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan hanya karena amarah, tapi karena keputusasaan yang murni. Ia menatap Almira lama, mencari tanda-tanda ejekan atau rasa kasihan yang ia takutkan, namun ia hanya menemukan ketulusan yang murni.

"Aku tidak suka menjadi lemah, Almira," suara Alex sangat rendah, nyaris hilang.

"Aku tahu. Dan kau tidak lemah. Kau hanya sedang dalam perjalanan pulang," Almira akhirnya memberanikan diri menyentuh bahu Alex, dan kali ini, Alex tidak menepisnya. Ia justru menyandarkan dahinya di bahu Almira, membiarkan wanita itu menopang seluruh bebannya—bukan hanya beban tubuhnya, tapi beban jiwanya yang terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!