"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Pilihan yang Menghancurkan
Lampu neon koridor rumah sakit yang berkedip terasa seperti mengejek detak jantung Tian yang tak beraturan. Di tangannya, secarik kertas yang terbakar di pinggirnya itu terasa lebih berat daripada beban dunia. Satu nyawa untuk satu nyawa. Kalimat itu terus terngiang, menciptakan simfoni kegilaan di kepala Tian.
Ia menoleh ke arah ruang perawatan Mega melalui kaca kecil di pintu. Istrinya baru saja kembali dari ambang maut, sedang tertidur dengan bantuan mesin yang menderu halus. Dan kini, di belahan bumi lain di desa kelahirannya ibu yang telah melahirkannya sedang berada di tangan iblis yang sama.
"Tian, kau tidak bisa pergi sendirian. Ini bunuh diri," suara Komisaris Jenderal Yudha terdengar tegas namun ada nada kecemasan di sana.
Tian berbalik, matanya yang merah dan cekung menatap Yudha dengan kekosongan yang mengerikan. "Lalu apa yang harus saya lakukan, Pak? Menunggu prosedur kalian? Menunggu surat izin penggeledahan sementara ibu saya mungkin sedang dipukuli atau dibakar hidup-hidup?"
"Kami sedang melacak sinyal GPS dari kendaraan yang membawa ibumu," Yudha mencoba menenangkan.
"Adrian tidak menggunakan GPS untuk menculik orang, Pak! Dia menggunakan bayangan!" raung Tian. Ia mencengkeram kerah baju Yudha, mengabaikan pangkat jenderal yang ada di depannya. "Dia ingin saya hancur. Dia ingin saya memilih antara istri yang baru saja hidup kembali, atau ibu yang telah memberikan hidupnya untuk saya!"
Tian melepaskan cengkeramannya, lalu jatuh terduduk dengan punggung bersandar pada dinding yang dingin. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat. Inilah titik terendah dari seorang pria; ketika kekuatan fisik tak lagi berguna dan cinta menjadi senjata yang digunakan musuh untuk menikam jantungnya.
Tiba-tiba, pintu kamar Mega terbuka sedikit. Paman Hasan keluar dengan kursi roda, kakinya dibalut perban. Ia mendekati Tian dan meletakkan tangan kasarnya di kepala keponakannya.
"Macan," bisik Hasan. "Ingat apa yang kukatakan? Di dunia ini, predator yang paling berbahaya adalah yang tidak lagi memiliki rasa takut akan kehilangan. Kau sudah kehilangan segalanya. Sekarang, jadilah hantu bagi mereka."
Tian mendongak. Di dalam matanya, air mata itu berhenti mengalir, digantikan oleh kilat dingin yang begitu pekat. Ia berdiri, menghapus darah di wajahnya dengan kasar.
"Berikan saya akses ke gudang senjata barang bukti, Pak Yudha," ucap Tian datar. "Bukan sebagai warga negara yang meminta perlindungan, tapi sebagai seorang anak yang akan menjemput ibunya."
Yudha terdiam lama. Ia tahu ini melanggar protokol, tapi ia juga tahu bahwa di bawah komandonya, hukum seringkali terlalu lambat untuk menyelamatkan nyawa yang tak berdosa. Yudha mengangguk pelan kepada ajudannya.
Tian masuk kembali ke kamar Mega untuk terakhir kalinya sebelum pergi ke "neraka". Ia membungkuk, membisikkan janji di telinga istrinya yang masih belum sadar sepenuhnya. "Mega... tunggu aku. Aku akan membawa Ibu pulang. Kita akan menjadi keluarga lagi, atau aku akan memastikan tidak ada lagi fajar untuk Adrian."
Mega seolah mendengar. Jari manisnya bergerak sedikit, menyentuh lengan Tian. Sebuah perpisahan yang tak terucap, sebuah restu untuk sang pejuang yang akan berangkat menuju pertempuran terakhir di Arka ini.
Tian melangkah keluar dari rumah sakit melalui jalur evakuasi bawah tanah, dipandu oleh Paman Hasan. Di sebuah jip hitam yang terparkir di kegelapan, sudah tersedia tas taktis berisi peralatan yang ia butuhkan. Tidak ada senapan laras panjang yang rumit; Tian hanya mengambil beberapa pisau lempar, sebuah pistol Glock dengan dua magasin penuh, dan yang paling penting: keberanian yang sudah mati rasa.
"Pelabuhan tua itu adalah labirin kontainer," Hasan memperingatkan. "Adrian tidak akan di sana. Dia pengecut. Dia hanya akan mengirim algojo-algojonya. Jangan terpancing emosi, Tian. Gunakan telingamu lebih dari matamu."
Tian mengangguk, lalu memacu jip itu membelah sunyinya malam Jakarta menuju arah utara. Pikirannya melayang pada masa kecilnya di desa. Bagaimana ibunya selalu memasak nasi liwet meski mereka hanya punya garam, bagaimana ibunya tetap tersenyum meski ayahnya pergi tanpa kabar. Dan sekarang, wanita suci itu harus menderita karena dosa-dosa yang tidak ia perbuat.
"Aku datang, Bu," bisik Tian di balik kemudi.
Sesampainya di pelabuhan tua, suasana mencekam menyambutnya. Kabut laut menyelimuti tumpukan kontainer yang berkarat, menciptakan lorong-lorong gelap yang tampak seperti mulut monster yang siap menerkam. Bau garam dan karat begitu menyengat.
Tian keluar dari mobil, membiarkan mesin tetap menyala dan lampu sorot mengarah ke tengah lapangan terbuka. Ia berdiri di sana, sendirian, menjadi umpan di tengah sarang serigala.
"AKU SUDAH DI SINI! LEPASKAN IBUKU!" teriak Tian, suaranya menggema memantul di antara besi-besi tua.
Hening sejenak. Lalu, dari atas salah satu kontainer, lampu sorot kuning menyala, menyilaukan mata Tian. Di bawah lampu itu, seorang pria dengan jaket kulit hitam berdiri memegang sebuah kursi. Di atas kursi itu, seorang wanita tua dengan mulut dilakban dan tangan terikat meronta-ronta lemah.
"Ibu!" teriak Tian.
Seorang pria lain sang algojo utama Adrian yang dikenal dengan nama 'Si Kapak' melangkah maju ke cahaya. "Dokumen asuransi itu, Tian. Letakkan di atas kotak kayu itu dan mundur sepuluh langkah. Atau ibumu akan merasakan bagaimana dinginnya air laut di bawah sana."
Si Kapak menendang kaki kursi, membuat ibunda Tian hampir jatuh ke bibir dermaga yang langsung menuju laut dalam.
Tian merogoh saku jaketnya, mengeluarkan map berisi bukti asuransi dan rekaman medis ilegal Adrian. Inilah kartu as terakhirnya. Jika ia menyerahkannya, Adrian bebas secara hukum. Jika tidak, ibunya mati.
"Jangan lakukan itu, Tian!" Sebuah suara terdengar dari earpiece-nya. Itu Yudha. "Tim penembak jitu kami sedang mengambil posisi, tapi kabut terlalu tebal! Jangan serahkan dokumen itu!"
Tian mengabaikan peringatan Yudha. Baginya, keadilan hanyalah konsep abstrak, sementara nyawa ibunya adalah realitas yang tak bisa ditawar. Ia melangkah maju, meletakkan map itu di atas kotak kayu.
"Lepaskan dia dulu," ucap Tian dengan suara yang bergetar namun penuh ancaman.
Si Kapak tersenyum licik. Ia memberi kode pada anak buahnya untuk menarik kembali kursi ibunda Tian. Namun, saat Tian baru saja meletakkan map tersebut, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari bawah kotak kayu itu. Boom! Kotak itu meledak, menghanguskan dokumen asuransi tersebut menjadi abu dalam sekejap. "Adrian tidak butuh dokumen itu kembali, Tian," tawa Si Kapak pecah. "Dia hanya ingin dokumen itu musnah, dan dia ingin kau melihat ibumu mati dengan perasaan gagal." Bersamaan dengan itu, Si Kapak mendorong kursi ibunda Tian terjun bebas ke arah laut yang gelap dan ganas. Tian melompat tanpa berpikir, terjun ke dalam air yang dingin demi mengejar bayangan ibunya yang tenggelam.
Lanjut bab 10...