NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan Air Jernih

Di pinggir sungai yang mengalir tenang, Ratu Layla tertawa renyah, sebuah suara yang terdengar sangat asing bagi siapa pun yang baru saja menyaksikan pembantaian di lapangan istana. Ia memercikkan air ke arah Delta yang berdiri kaku. Saat ia hendak menyeka wajahnya yang basah, seekor peri kecil dengan sayap transparan yang indah hinggap di jemari lenturnya. Untuk sesaat, Layla tampak terpesona oleh makhluk kecil itu. Namun, keindahan itu hanya tipuan. Dengan gerakan secepat kilat, peri itu menancapkan taring halusnya ke punggung tangan sang Ratu.

Layla menjerit kesakitan, namun sebelum ia sempat menghempaskan peri itu, permukaan sungai yang tenang meledak. Sepasang tangan bersisik dengan kuku-kuku tajam muncul dari kedalaman, mencengkeram pinggang Layla dan menyeretnya masuk ke dalam air yang dalam dan dingin. Itu adalah seekor Putri Duyung dengan mata gelap penuh kebencian.

"Ratu!" Delta berteriak. Tanpa ragu, sang Panglima melompat ke dalam sungai, menghunus pedangnya di bawah air. Di saat yang sama, Penyihir Petir mengangkat tongkatnya tinggi-hidup. Ia tahu ia tidak bisa membedakan target di dalam air yang keruh karena pergulatan, namun keselamatan Ratu adalah prioritas utama.

"Terimalah murka langit!" teriak sang Penasehat. Ia mengalirkan ribuan volt listrik ke dalam aliran sungai. Air sungai seketika berpijar biru terang. Layla dan Putri Duyung itu tersentak hebat, tubuh mereka kejang-kejang di bawah permukaan air akibat konduksi listrik yang mematikan. Dalam keadaan kritis itu, Delta berhasil meraih kerah gaun Layla dan menarik tubuhnya yang kaku ke permukaan.

Di tepian, Penyihir Petir tidak berhenti. Ia mengarahkan ujung tongkatnya tepat ke arah Putri Duyung yang masih berusaha menggapai kaki Layla. "Mati kau, makhluk rendahan!" Sebuah kilatan petir murni menyambar, memotong tubuh Putri Duyung itu menjadi dua bagian yang hangus. Setelah ancaman sirna, sang Penasehat segera meletakkan tangannya di atas dada Layla, merapal mantra penyembuhan untuk memulihkan detak jantung sang Ratu yang sempat terhenti akibat sengatan listrik tadi.

Layla dibawa kembali ke istana dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang biasanya tegap kini tampak rapuh di atas tandu. Saat mereka memasuki gerbang, seorang Centaur berlari kencang menghampiri Delta dengan raut wajah panik.

"Panglima! Penduduk desa memanfaatkan kekacauan di sungai. Mereka melarikan diri secara massal menuju perbatasan!" lapor Centaur itu.

Mata Delta berkilat marah. Ia memerintahkan pasukan Centaur untuk segera mengejar. Delta sendiri melompat ke punggung salah satu Centaur tercepat. Di tengah jalan setapak yang penuh debu, mereka menemukan gerombolan penduduk yang mencoba merangkak pergi. Tanpa sepatah kata pun, Delta melompat turun dari punggung Centaur, pedangnya menebas udara dan langsung memisahkan kepala beberapa penduduk dari bahunya. Darah membasahi tanah, dan teriakan histeris pecah.

"Kembali ke lubang kalian, atau setiap jengkal tanah ini akan ditutupi oleh mayat kalian!" ancam Delta. Para penduduk yang ketakutan merangkak kembali ke rumah-rumah mereka yang hancur. Untuk memastikan tidak ada lagi yang berani mencoba, Delta memanggil Naga Api. Makhluk raksasa itu mendarat di atas bukit-bukit yang mengelilingi pemukiman, menyemburkan api ke langit sebagai peringatan bahwa setiap sudut desa kini dijaga oleh predator haus darah.

Setelah situasi terkendali, Delta kembali ke istana. Di dalam kamar utama, kondisi Layla semakin kritis. Wajahnya pucat pasi, dan sihir penyembuhan biasa tidak bekerja. Penyihir Petir menghela napas panjang, ia melakukan ritual terlarang dengan menyayat telapak tangannya sendiri dan meletakkannya di atas dahi Layla, menyalurkan sebagian jiwanya ke dalam tubuh sang Ratu. Cahaya redup berpindah, dan warna merah perlahan kembali ke pipi Layla. Delta kemudian mengangkat tubuh Ratu yang mulai stabil itu dan membaringkannya di ranjang kebesarannya

Malam itu, Kerajaan Atlas tidak tenang. Suara lolongan panjang memecah keheningan, disusul oleh suara geraman ribuan makhluk dari kegelapan. Sekelompok besar Manusia Serigala melakukan serangan mendadak ke jantung istana. Pasukan besar Atlas—gabungan Minotaur dan Centaur—segera membentuk barisan pertahanan di aula luar. Pertempuran pecah dengan sangat liar; cakrawala malam dihiasi oleh api dari Naga dan kilatan petir dari para penyihir.

Namun, satu Manusia Serigala yang bertubuh ramping dan sangat cepat berhasil menyelinap melewati celah pertahanan dan memanjat dinding menara menuju kamar sang Ratu. Layla, yang masih dalam masa pemulihan, terbangun saat mendengar suara kaca pecah. Sebelum ia sempat meraih pedangnya, makhluk itu menerjang dan menancapkan taringnya ke bahu sang Ratu.

"AAAGH!" Jeritan Layla mengguncang seluruh lorong istana.

Pintu kamar hancur berkeping-keping saat Delta dan Penyihir Petir mendobrak masuk. Delta tidak menunggu sedetik pun; ia menarik busur besarnya dan melepaskan anak panah perak yang langsung menembus jantung Manusia Serigala itu hingga terpaku ke dinding. Makhluk itu tewas seketika. Sementara itu, Penyihir Petir langsung bersimpuh di samping Layla, menggunakan seluruh kekuatan sihirnya untuk menyedot racun dari luka gigitan tersebut agar sang Ratu tidak berubah menjadi monster yang sama.

Keesokan harinya, meski bahunya masih dibalut perban, Layla sudah berdiri dengan amarah yang meluap. Kabar dari Centaur bahwa penduduk masih merencanakan pelarian membuat kesabarannya habis. Dengan menunggangi punggung Centaur, ia memimpin Delta dan Penyihir Petir menuju pemukiman.

Sesampainya di sana, Layla menunjuk tiga pria secara acak yang terlihat paling lemas. "Panglima, beri mereka pelajaran tentang kesetiaan," perintahnya dingin.

Delta melaksanakan perintah itu dengan metode yang mengerikan. Ia menyuruh pasukannya menancapkan tiang-tiang kayu runcing di tengah lapangan, lalu melakukan eksekusi penusukan tubuh dari bawah hingga menembus bahu di hadapan seluruh penduduk yang gemetar. Setelah pemandangan mengerikan itu selesai, Layla kembali ke istana.

"Aku butuh sesuatu yang lebih megah dari istana ini. Sesuatu yang membuktikan bahwa Atlas adalah milikku selamanya," ujar Layla kepada Penyihir Petir. Sang Penasehat segera merapal mantra, menciptakan proyeksi cahaya di udara yang memperlihatkan sketsa monumen raksasa berbentuk wajah Layla yang menopang langit. Layla tersenyum puas. "Bagus. Panglima, kumpulkan semua orang besok. Pembangunan dimulai saat matahari terbit."

Pembangunan monumen baru dimulai tanpa ampun. Layla tidak memberikan satu keping koin pun sebagai upah, bahkan tidak ada jatah air bagi mereka yang bekerja di bawah terik matahari. Dari atas Menara Petir yang tinggi, Layla mengawasi ribuan rakyatnya yang merayap seperti semut di bawah sana. Satu per satu penduduk tewas karena kelelahan, mayat mereka dibiarkan begitu saja menjadi pijakan bagi pekerja lain.

Delta berkeliling dengan cambuk di tangannya, memacu setiap orang yang gerakannya melambat. Sementara itu, Penyihir Petir sibuk di laboratoriumnya, meracik ramuan penguat otot yang menyakitkan agar para pekerja bisa bekerja melampaui batas manusia normal sebelum akhirnya jantung mereka meledak.

Menjelang siang, Layla turun dengan wajah murka. Ia melihat proyek itu berjalan lambat; hanya fondasi batu yang baru terlihat. "Hanya ini?!" teriaknya. Ia menghampiri barisan pekerja yang tengah memikul balok granit besar, wajahnya merah padam karena merasa dihina oleh lambatnya pekerjaan tersebut.

Para pekerja tetap tidak bergerak meski Layla mencambuk punggung mereka hingga berdarah. Mereka sudah terlalu mati rasa oleh rasa lapar dan haus. Layla mendengus jijik. Ia sedang memegang sepotong daging panggang sisa sarapannya yang dibawa oleh pelayan. Dengan senyum meremehkan, ia melemparkan sisa daging yang setengah digigit itu ke tengah-tengah kerumunan pekerja yang kurus kering.

Tindakan itu memicu kekacauan luar biasa. Insting hewani mengambil alih. Para pekerja yang tadinya kawan, kini saling cakar dan saling pukul demi sepotong daging kecil itu. Mereka saling bunuh di depan kaki Layla, menggunakan alat gali untuk menghantam kepala satu sama lain hanya agar bisa merasakan sedikit sisa makanan sang Ratu. Layla menonton pemandangan itu dengan tawa yang menghina, menikmati bagaimana martabat manusia hancur dalam sekejap.

Malam harinya, lapangan itu sunyi. Hanya tersisa segelintir penduduk yang masih bernapas di antara tumpukan kawan mereka sendiri. Namun, bagi Layla, tenaga kerja tidak boleh habis. Saat matahari terbit, Delta kembali dari ekspedisi luar perbatasan dengan membawa ratusan budak baru yang dirantai.

"Pasangkan rantai permanen di kaki mereka!" perintah Layla kepada Minotaur.

Kini, tidak ada lagi waktu istirahat. Siang dan malam, di bawah penerangan sihir dan obor, para budak dan penduduk yang tersisa dipaksa bekerja tanpa henti. Suara rantai yang beradu dengan batu granit menjadi musik latar bagi Kerajaan Atlas selama dua bulan penuh. Ribuan nyawa melayang, namun monumen raksasa itu akhirnya berdiri tegak, menjulang tinggi menantang langit dengan kemegahan yang dibangun dari air mata dan darah.

Setelah monumen selesai, Layla tidak lagi membutuhkan tenaga mereka untuk sementara waktu. Namun, ia tidak melepaskan mereka. Ia memerintahkan pasukan Minotaur dan Centaur untuk menggiring seluruh budak dan penduduk yang masih hidup masuk ke dalam gudang-gudang besar di bawah tanah istana.

Pintu-pintu besi yang tebal dikunci rapat dan diperkuat dengan segel sihir Penyihir Petir. Di dalam kegelapan yang pengap, mereka berhimpit-himpitan dalam ketakutan. Tidak ada lagi cahaya matahari bagi mereka. Setiap pagi, sebagai bentuk "belas kasihan" sang Ratu, para Centaur akan naik ke atap gudang dan melemparkan ber ember-ember makanan basi dan sisa-sisa pembuangan istana melalui pintu kecil di langit-langit. Suara teriakan mereka yang berebut makanan basi itu menjadi hiburan rutin bagi Layla saat ia berjalan-jalan di taman istananya yang kini telah kembali sempurna.

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!