Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kita Bersama
...୨ৎ R O W E N Aજ⁀➴...
SATU TAHUN KEMUDIAN.
Hari ini gila. Hari paling menyebalkan sepanjang hidup aku. Ini hari terakhir sesi terapi wajib dari pengadilan bareng Dr. Darcel.
Aku duduk di kursi empuk seberang dia, cemberut kesal seperti balita yang disuruh mandi. Mungkin aku enggak bakal pergi. Mungkin aku bakal lengket di kursi ini, enggak mau bangun.
Aku pikir, kalau aku enggak bergerak, kira-kira dia bakal coba angkat aku enggak ya?
Dan kalau dia menyentuhku, aku bakal meluk dia dan enggak akan aku lepas.
Sial.
Aku butuh rencana yang lebih smart.
Aku pandang Darcel. Dia cuma duduk terdiam, memperhatikanku yang gelisah dan manyun tanpa bicara apa-apa. Mata ungunya fokus ke tangan yang saling menggenggam.
Mungkin aku bisa bilang sesuatu yang bikin dia panik. Seperti tiba-tiba teriak, “Aku bakal bunuh diri.”
Tapi itu kelihatan bego.
Atau mungkin aku bisa bilang aku bakal bunuh orang lagi?
Atau … aku bilang saja aku cinta sama dia.
Enggak, tolol. Enggak bisa. Aku bukan tipe orang yang panikan, tapi sekarang dadaku sesak. Aku enggak bakal lihat Darcel lagi. Dan otak aku langsung dihantui mimpi gila. Mimpi aku duduk di mobilnya, dia peluk aku, cium leher aku, terus aku bilang ke dia betapa menggodanya dia. Betapa aku enggak mau ketinggalan sesi ini. Tanpa Darcel, aku bisa gila benaran.
“Aku punya kabar buruk, tapi aku harap kamu menerimanya dengan tenang,” katanya akhirnya. aku langsung mendongak, mata melebar, tanganku mencengkeram sandaran kursi sambil mau mencabut kainnya.
“Kita udah kenal setahun, dan selama itu …” Dia keluarkan napas panjang. Keningnya berkerut sedikit. Aku pun ikut berkerut ... apa maksudnya?
“Minggu lalu aku harus nyerahin evaluasiku ke pengadilan.”
“Oh,” jawabku asal, sambil celingak-celinguk.
“Seharusnya aku tanda tangan kalau terapimu berhasil … tapi ... aku enggak ngelakuin itu.”
“Kamu enggak … ngelakuin itu?” Aku terbengong. “Maksud aku … kamu enggak ngirim dokumennya?”
“Aku kirim. Tapi aku enggak setuju. Bahkan aku minta supaya kamu lanjut terapi satu tahun lagi.”
Dia menunggu responku. Aku mati-matian menyembunyikan ledakan kecil yang hampir meledak dari dadaku.
“Satu tahun lagi terapi … sama kamu?” tanyaku pelan.
“Ya,” katanya. “Aku tahu itu bukan hal yang pingin Kamu dengar, tapi, Rowena …”
Dia menyodorkan tangannya di atas meja, telapaknya terbuka. Aku lepas satu tangan dari sandaran kursi dan taruh tanganku di tangannya. Dia meremas sopan.
“Mhm?” Aku cuma bisa keluarkan suara itu. Kalau lebih dari itu, aku bakal teriak kegirangan seperti orang kesurupan.
“Aku bukan bilang kamu enggak ada kemajuan. Aku rasa kamu akan lebih baik … kalau aku ada di sini buat kamu. Kita perlu untuk terus ketemu,” katanya lembut. “Selama kamu butuh.”
“Satu tahun lagi,” ulangku, ingin dengar dia konfirmasi lagi.
“Atau mungkin lebih,” katanya. Ada kilatan kecil di matanya, bukan sedih sama sekali. Jujur saja, dia tampak senang. Sama sepertiku. Karena kita bisa sama-sama Lagi. Lebih lama.
“Aku ngerti,” jawabku datar, mencoba keras untuk menutupi betapa bahagianya aku.
“Aku harap kamu enggak kecewa karena kita harus sama-sama … jauh lebih lama lagi.”
Dia kasih aku senyum aneh.
“Aku bakal berusaha buat enggak banyak bolos lagi,” jawabku sambil meluapkan senyum yang enggak bisa aku tahan.
Dia meremas tanganku lagi, aku pun membalasnya.
Kalau senyum dia kelihatan aneh, senyum aku pasti dua kali lebih absurd.
Sekarang … enggak ada jalan buat kamu kabur dari aku, Dr. Darcel.