Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Sugar Daddy KR
Hari-hari pertama Ayu sebagai Asisten Khusus Proyek di Mahardika Group adalah sebuah ujian mental dan fisik. Banyak karyawan yang heran dengan keberadaannya di sana, karena masih sangat muda dan juga berijazah SMA, ditempatkan langsung di bawah pimpinan seperfeksionis Lingga.
Lingga adalah bos yang kejam dan perfeksionis. Koreksinya selalu tajam, menjatuhkan mental, dan tanpa tedeng aling-aling. Namun, Ayu, didorong oleh gaji besar dan ancaman kegagalan yang terasa nyata, menunjukkan daya tahan dan kegigihan yang mengesankan.
Dalam waktu seminggu, ia sudah menguasai sistem arsip Mahardika yang rumit, yang bahkan butuh waktu berbulan-bulan bagi staf berpengalaman.
Keistimewaan Ayu yang memang luar biasa dan menjadi alasan utama Lingga mempertahankannya—dan bahkan mulai menyukainya—adalah kecepatan berpikir dan kemampuan analisisnya yang hampir menyerupai fotografi.
Ayu memiliki Memori Eidetic (memori visual yang sangat tajam). Ia bisa memproses halaman laporan setebal buku, mengingat setiap angka, klausa, dan diagram hanya dalam hitungan menit, dan kemudian segera menemukan poin kritis yang tersembunyi.
Lingga, yang terbiasa bekerja dengan orang-orang bergelar tinggi namun lambat, sangat terpesona. Ayu tidak hanya menguasai sistem arsip, tapi ia juga bisa melihat pola ketidakberesan pada data keuangan yang tersembunyi di tumpukan dokumen.
Saat Lingga melemparinya setumpuk berkas proyek bermasalah, Ayu dapat merangkumkan akar masalah dan solusi terukur dengan bahasa yang sederhana dan lugas dalam waktu satu jam, jauh lebih cepat daripada tim konsultan yang disewa Mahardika.
Lingga tidak peduli dengan ijazah SMA atau bisik-bisik karyawan. Yang ia lihat hanyalah aset intelektual yang tak ternilai; kecantikan Ayu hanyalah bonus, tetapi ketajaman otaknya adalah yang membuat Lingga yakin bahwa Ayu adalah satu-satunya orang yang bisa bertahan dan membantunya mengendalikan kekaisaran Mahardika.
Pagi itu, Ayu sedang menyelesaikan laporan keuangan triwulan.
"Ayu," suara Lingga terdengar dari mejanya.
"Buatkan aku kopi."
Ayu mengerutkan dahi. "Kopi, Tuan? Tugas saya adalah analisis proyek, bukan menyeduh minuman."
"Tambahan pekerjaan. Kau harus multifungsi," jawab Lingga dingin. "Kopi pahit. Tanpa gula, tanpa krim, suhu 85°C. Cepat."
Ayu mendengus dan pergi ke dapur eksekutif.
Saat ia sedang berkutat dengan mesin kopi canggih, Ken masuk. Ken, Kepala Keamanan dan bodyguard Lingga, adalah sosok yang dingin dan loyal seperti batu. Ia sudah melayani Lingga sejak masa kuliah, dan kesetiaannya tak perlu diragukan.
"Selamat pagi, Nona Ayu," sapa Ken datar.
"Pagi, Tuan Ken. Bisa bantu saya? Saya tidak yakin bagaimana cara mendapatkan suhu 85°C di mesin ini," tanya Ayu.
Ken meletakkan ponselnya. Meskipun ia jarang menunjukkan emosi, ia mengakui kecanggungan Ayu di lingkungan baru ini. "Tentu. Anda harus menekan tombol 'Manual' dua kali, lalu tahan tombol Temp saat lampu indikator berwarna hijau. Tuan Lingga sangat spesifik soal suhu kopinya."
Ken menunjukkan cara kerjanya, berdiri sangat dekat dengan Ayu untuk menjelaskan tombol-tombol mesin.
"Dia memang aneh dengan kopi," bisik Ken, sedikit tersenyum—senyum yang sangat jarang terlihat. "Dulu dia tidak pernah minum kopi. Sama sekali. Sejak..." Ken menghentikan kalimatnya.
"Sejak Aleya?" tanya Ayu, menyambung.
Ken terdiam, matanya melebar karena terkejut. "Anda... tahu?"
"Kontrak kerahasiaan," jawab Ayu datar. "Saya tahu banyak hal yang seharusnya tidak saya ketahui. Dia melanggar prinsipnya karena patah hati."
Ken menghela napas lega. "Syukurlah. Saya senang Tuan Lingga akhirnya jujur pada seseorang. Sudah lama saya ingin dia terlepas dari bayangan Nyonya Aleya." Ken menatap Ayu.
"Anda orang yang kuat, Nona Ayu. Tidak banyak orang yang bisa bertahan seminggu di bawah pengawasan ketat Tuan Lingga setelah melihatnya di titik terlemahnya."
Ken merasakan sesuatu yang berbeda pada Lingga sejak Ayu datang. Tuan Lingga tampak lebih hidup, lebih tertekan, dan jauh lebih terganggu daripada biasanya. Keputusannya untuk mempekerjakan Ayu, membiayai sekolahnya, dan menyuruhnya tinggal di apartemen bawah penthouse—semua itu bukanlah tindakan bisnis biasa.
Lingga mengawasi gadis itu. Bukan karena takut rahasia bocor, tetapi karena ingin mengawasi. Ken senang, karena Tuan Lingga terlihat seperti manusia lagi, bukan robot bisnis yang dicintai Aleya.
Tiba-tiba, suara Lingga terdengar keras dan dingin dari interkom dapur, memotong percakapan mereka.
"Ken! Bawa berkas klien Jepang ke sini sekarang! Jangan buang waktu di dapur!"
Ken dan Ayu saling pandang, terkejut. Lingga tidak pernah menggunakan interkom untuk hal sekecil itu. Wajah Lingga di monitor interkom terlihat tegang dan sedikit memerah.
Dia mendengar kami, batin Ken. Dan bukan karena dia khawatir dengan berkas Jepang.
Ken mengambil berkas dan melangkah pergi, menyembunyikan senyum kecil.
Ayu menyelesaikan kopinya dan membawanya ke meja Lingga.
"Tuan," kata Ayu. "Kopi Anda. Tepat 85°C."
Lingga mengambil cangkir itu. Ia mencium aromanya, menyesapnya, dan wajahnya tidak menunjukkan apa pun.
"Lain kali, jangan berlama-lama di dapur," kata Lingga, menatap Ayu tajam. "Aku tidak mempekerjakan mu untuk mengobrol dengan pegawaiku."
Ayu merasa kesal. "Saya hanya bertanya tentang suhu kopi Anda, Tuan. Itu bagian dari pekerjaan saya."
"Aku melarangmu. Terutama dengan Ken," Lingga meletakkan cangkir itu dengan sedikit keras. "Dia adalah Kepala Keamanan. Dia punya akses ke banyak informasi sensitif. Kau adalah bom waktu berjalan, Ayu. Aku ingin kau fokus pada pekerjaanmu, bukan meracuni Ken dengan kisah The Abyss."
Lingga tidak mengakui bahwa ada rasa cemburu aneh yang mengganggu saat melihat kedekatan santai Ayu dan Ken. Ia menolak perasaan itu, menyebutnya sebagai Protokol Anti-Cemburu—aturan tak tertulis yang ia ciptakan untuk menjaga jarak dan fokus.
"Sekarang," kata Lingga, meraih berkas baru. "Tugas Keenam: Aku butuh kau menyusun daftar 50 wanita lajang paling berpengaruh di kota ini. Prioritaskan mereka yang tidak berhubungan dengan Mahardika Group. Jam makan siang, laporannya harus sudah ada."
Ayu menatapnya, bingung. "Untuk apa, Tuan? Ini tidak ada hubungannya dengan Proyek Khusus."
"Tugas Asisten Khusus Proyek. Mungkin aku akan mencari mitra bisnis baru. Atau mungkin... aku sedang mencari pacar baru. Itu bukan urusanmu. Gunakan laptopku. Tapi jangan sentuh folder yang tidak ada namanya, dan jangan berani-berani masuk ke browser history-ku."
Ayu mengangguk. Ia harus mencari laptop perusahaan.
"Di mana saya bisa mendapatkan laptop, Tuan?" tanya Ayu.
"Gunakan laptopku," jawab Lingga.
"Anda percaya pada saya?" tanya Ayu, terkejut.
Lingga menyesap kopinya, kembali ke ekspresi CEO-nya yang dingin.
"Tidak," jawab Lingga tegas. "Aku tidak percaya padamu. Tapi aku tahu kau tidak akan merusak properti mahal. Kau tahu apa yang terjadi jika kau melanggar kontrak kerahasiaan yang sudah kau tandatangani, Ayu. Sekarang, bergerak. Waktu berjalan."
Ayu mencebikkan bibirnya kesal dan Lingga melihat itu. Dadanya tiba-tiba berdebar tak karuan.
Bibir itu kenapa begitu menggoda? Sial!
"Hati-hati dengan bibirmu!" ucap Lingga seraya menyesap kopinya, kembali ke ekspresi CEO-nya yang dingin.
Ayu buru-buru menetralkan ekspresinya. Ia tahu betapa menakutkannya tatapan mata Lingga saat sudah mengeluarkan perintah. Namun, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak membalas.
"Bibirku imut, memang. Kenapa, tuan Lingga terganggu?" tantang Ayu dengan nada yang dibuat-buat polos, namun matanya memancarkan kenakalan. Ia hanya punya ijazah SMA, tetapi nyali dan kepercayaan dirinya setara dengan CEO dari perusahaan kompetitor.
Lingga meletakkan cangkir kopinya di meja kaca dengan bunyi yang nyaris tidak terdengar, namun dampaknya terasa seperti petir.
"Jangan bermain-main, Ayu," suaranya mendesis rendah, lebih berbahaya daripada berteriak. "Aku terganggu karena... kau membuang waktu kerjaku dengan ekspresi tidak perlu itu. Fokus pada pekerjaan. Atau kau lebih suka kuberi briefing di kantor cabang yang pegawainya penuh kutu busuk?"
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....