Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06# Rahasia Penyakit Alena
“Apa? Pertanyaan apa itu?” jawab Alena dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
“Selama ini aku perhatikan, Ayla selalu bersikap tidak baik padamu. Dia sering marah, dan seolah selalu berniat membuatmu terluka. Tapi anehnya, setiap kali kami memarahinya atau menegurnya karena sikapnya itu, kaulah yang justru berdiri paling depan untuk membelanya. Kenapa? Padahal jelas-jelas dia sangat membencimu,” tanya Reyhan, rasa penasaran yang sudah lama ia simpan akhirnya terlontar juga.
“Tentu saja karena dia adikku... Aku tumbuh besar bersama Ayla sejak kecil. Aku sangat menyayanginya. Apalagi semenjak aku mendengar cerita kalau dia diramalkan memiliki aura hitam pembawa sial... Sejak saat itu rasa sayangku padanya makin bertambah besar. Semua orang di rumah percaya penuh pada ramalan itu, tapi aku... aku sama sekali tidak percaya, dan tak mau percaya hal buruk seperti itu,” jelas Alena, sambil mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya, seolah ia adalah sosok kakak yang paling tulus di dunia.
“Apa?! Jadi Ayla itu memang pernah diramalkan begitu... dan dia dianggap pembawa nasib buruk di keluargamu? Jangan-jangan... kematian ibumu pun dulu terjadi karena pengaruh aura buruk Ayla itu, bukan?” seru Reyhan, terkejut sekaligus semakin yakin bahwa menjauhi Ayla adalah keputusan yang paling benar.
“Iya... tapi aku benar-benar tak percaya hal itu. Kematian ibuku sudah menjadi takdirnya. Sudahlah, jangan dibahas lagi ya... aku tak ingin hal ini merusak hubungan kalian berdua,” ucap Alena, lalu menepuk pelan bahu Reyhan seolah sedang menenangkan pemuda itu.
“Alena... kau benar-benar gadis yang baik. Terbuat dari apa hatimu itu? Bahkan saat kau dirugikan dan disakiti, kau masih saja menyayangi dan membela Ayla,” gumam Reyhan, bercampur rasa kagum dan kesal pada Ayla.
“Jangan memujiku berlebihan. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang kakak,” jawab Alena dengan rendah hati.
Mendengar jawaban itu, kekaguman Reyhan pada Alena semakin bertambah besar. Lama-kelamaan, ia semakin jatuh hati pada kelembutan gadis itu, dan perlahan mulai melupakan hubungan dua tahun yang telah ia bangun bersama Ayla.
“Ah ya, Alena... soal apa yang dikatakan Papa dan Kak Adnan tadi...” Reyhan menggantung kalimatnya, menunggu respon dari Alena.
“Maksudmu ucapan Papa dan Kak Adnan yang menyuruh kita bersama? Sudahlah, jangan dipikirkan. Mereka hanya bercanda, kan?” jawab Alena singkat dan santai.
“Alena... aku rasa anak kecil pun pasti tahu kalau mereka tidak sedang bercanda. Mereka berdua sangat menginginkan kau dan aku... bersama,” Reyhan kembali berhenti bicara, menatap tajam ke arah gadis itu.
“Bersama? Itu mustahil, Reyhan. Kau itu kekasihnya Ayla. Aku tak mungkin mengambilmu darinya. Itu sama saja aku merebut kebahagiaan Ayla. Dia sangat mencintaimu, Reyhan,” ucap Alena, memasang wajah sedih dan tertekan seolah ia adalah orang yang paling berhati mulia.
“Tapi bagaimana kalau aku justru menyukaimu? Apakah itu masih dianggap merebut? Jujur saja... sebenarnya aku sudah lama memperhatikanmu. Kau jauh lebih baik, lebih lembut, dan jauh lebih mengerti perasaan orang lain dibandingkan Ayla yang keras, kasar, dan tak tahu sopan santun itu. Aku sudah lama kehilangan rasa sayang dan cintaku padanya,” ungkap Reyhan, tak sanggup lagi menahan perasaannya.
“Reyhan... kau benar-benar mengatakan hal itu padaku?” tanya Alena, berakting seolah ia sangat terkejut dan tak menyangka sama sekali. Padahal jauh di dalam hatinya, ia sedang bersorak penuh kemenangan karena berhasil menarik satu lagi orang penting ke sisinya.
“Aku tidak sedang bercanda,” ucap Reyhan tegas. Ia memegang kedua bahu Alena dan menatapnya dalam dengan pandangan penuh makna.
“Reyhan... maaf, aku belum bisa menerima semua pengakuanmu ini. Saat ini kau masih pacarnya Ayla. Aku tak mau jadi orang ketiga. Aku tak bisa...” ucap Alena, memalingkan wajah dan melepaskan tangan Reyhan dari bahunya.
“Tenang saja, aku akan memberimu kepastian resmi tepat di hari ulang tahunmu nanti. Kau tunggu saja buktinya,” janji Reyhan dengan wajah penuh semangat dan tak sabar.
“Tapi...” Alena sengaja mengulur waktu.
“Sudahlah, jangan pikirkan hal-hal yang tak seharusnya kau pikirkan. Aku hampir lupa, kau kan belum sarapan. Tunggu di sini ya, aku akan keluar sebentar membelikanmu buah-buahan dan makanan ringan,” ucap Reyhan, menepuk pelan bahu Alena lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan.
“Baiklah... hati-hati di jalan ya,” jawab Alena sambil melambaikan tangan, tersenyum manis.
Sepeninggal Reyhan, kini hanya tinggal Alena sendirian di ruang rawat yang sepi itu. Tak lama kemudian, pintu terbuka kembali. Seorang dokter laki-laki berjalan masuk dengan langkah tenang.
“Alena...” panggilnya sambil berjalan mendekati ranjang gadis itu.
“Kau lagi... Kenapa kau masuk ke sini?” tanya Alena, raut wajahnya berubah drastis menjadi datar dan dingin, hilang sudah senyum manisnya.
“Aku cuma penasaran dan ingin mengobrol sebentar denganmu,” jawab dokter itu santai.
Dia adalah Liam, dokter yang selalu menangani Alena, atau lebih tepatnya... dokter pribadi yang dipercaya penuh oleh keluarga Gunawan. Alena menolak diperiksa atau dirawat oleh dokter lain selain Liam, dengan alasan bahwa dokter Liam adalah teman baik mendiang ibunya, sosok yang sudah dianggapnya sebagai paman sendiri.
“Kau itu sebenarnya sudah sembuh total dari segala penyakitmu, Alena. Sampai kapan kau akan terus-menerus membohongi keluarga angkatmu seperti ini? Mereka begitu baik dan menyayangimu,” ucap Liam dengan nada menasihati.
Memang kenyataannya begitu. Alena sama sekali tidak selemah yang terlihat oleh semua orang. Kondisi kesehatannya justru sangat baik. Segala penyakit yang ia sebut-sebutkan—mulai dari trauma, sesak napas, hingga kelemahan fisik—semuanya hanyalah rekayasa belaka. Dan satu-satunya orang yang tahu kebenaran itu adalah Liam.
“Paman Liam, sebaiknya kau tak perlu ikut campur urusanku. Jika kau terus saja berbicara seperti itu, kau tak akan pernah lagi menerima bantuan uang dariku. Ingatlah, biaya pengobatan putrimu yang sedang bergantung nyawanya di luar negeri sana, semuanya berasal dariku,” ucap Alena dengan nada dingin yang penuh ancaman.
“Aku tahu... Aku hanya berusaha menasihatimu agar tak terlalu jauh melangkah dan berbuat kejahatan,” jawab Liam lirih.
Liam memang tahu banyak sekali hal mengenai kehidupan dan kelakuan Alena. Namun, ia tak berani membuka mulut atau membocorkan rahasia itu kepada siapa pun. Alasannya sederhana: ia masih sangat membutuhkan bantuan dana dari Alena untuk merawat putrinya yang menderita penyakit kronis dan harus dirawat di rumah sakit luar negeri dengan biaya yang sangat besar.
“Kau ini tahu apa? Sebaiknya kau cukup fokus saja pada tugas yang kuberikan, Paman. Aku sangat paham apa yang harus kulakukan demi hidup dan kebahagiaanku sendiri. Jangan ikut campur. Urusi saja anakmu sendiri,” ketus Alena.
Saat berhadapan empat mata dengan Liam, sifat aslinya benar-benar terlihat jelas. Hilang sudah wajah polos, lembut, dan penuh kasih sayang yang biasa ia pertontonkan di depan keluarga Gunawan maupun Reyhan.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya