Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Melihat orang aneh tersebut sudah pergi, Tara pun keluar dari persembunyiannya, dia bergegas menghampiri security tersebut setelah memastikan kalau orang itu sudah benar-benar menghilang dari kawasan mereka.
"Hey kau," pangil Tara yang memang tidak pernah bersikap sopan kepada siapapun.
"Iya nona," jawab secirity tersebut yang kemudian bergegas menghampiri Tara.
"Siapa orang yang berpakaian serba hitam tadi?" tanya Tara yang begitu penasaran.
"Ah itu, katanya saudara nya Luvi, mantan asisten nona muda Sofia, dia datang untuk mencari Luvi, namun saya mengatakan yang sebenarnya, kalau pelayanan Luvi memang sudah berhenti bekerja di sini," kata secirity itu menjelaskan kepada Tara.
"Saudara nya Luvi? Apakah kau tidak berbohong? Jika dia benar saudara nya Luvi, bagaimana mungkin dia datang dengan pakaian seperti itu?" tanya Tara merasa ragu.
"Saya juga tidak tau nona," kata secirity itu lagi.
"Ah bodoh, sama sekali tidak penting, aku hampir melupakan hal yang lebih penting dari ini, sekarang cepat buka gerbang nya, aku mau keluar," ucap Tara yang kemudian melupakan masalah tersebut dan kemudian berjalan masuk ke dalam mobil nya setelah memerintahkan secirity untuk membuka gerbang mansion untuk nya.
Sang secirity sudah terbiasa di perlakukan kasar oleh Tara dan Rusita, terkadang dia menyesal dan merasa ingin berhenti bekerja karena dulu Sofia dan papa nya tidak pernah bersikap kasar kepada para pekerja, namun ia masih memikirkan ekonomi nya yang sangat tidak cukup untuk anak dan istri hal ini membuat seluruh pelayan dan secirity masih bertahan di sana.
Sementara itu di sisi lain.
Sofia yang merasa bosan di kamar memilih untuk berjalan ke luar setelah beristirahat beberapa puluh menit.
"Baru satu hari aku tinggal di sini, rasanya sudah sangat membosankan," kata Sofia dalam hatinya sambil ia melangkah kan kaki keluar dari kamar.
Terlihat seorang pelayan yang berjalan membawa nampan yang berisikan makanan.
"Nona, anda mau ke mana?" tanya pelayan tersebut.
"Aku ingin menghirup udara segar, aku sangat bosan di kamar, dan ini apakah kau akan ke kamar kakek untuk mengantarkan makanan?" tanya Sofia penasaran.
"Iya nona, benar, sudah waktunya kakek minum sup untuk menjaga kesehatan nya, ini bukan sup sembarangan," jelas pelayan tersebut dengan ramah.
"Ouh tapi itu ada apa dengan kaki mu? Sedari tadi aku perhatikan kau berjalan sedikit terseok-seok," kata Sofia sambil menujuk kaki sang pelayan yang terlihat agak sedikit bengkak.
"Anu nona, aku baik-baik saja, ini jatuh di kamar mandi saat aku sedang bekerja," kata pelayan itu menjelaskan.
"Astaga, lain kali bekerja lah dengan hati-hati oh ya, sebaiknya kau obati saja kaki mu dulu, biar aku yang membawa makanan ini ke tempat kakek," kata Sofia sambil tersenyum.
"Jangan nona, ini tugas pelayan, nanti tuan muda atau kakek bisa marah dan menghukum kami," jelas pelayan tersebut terlihat kaget.
"Tidak akan, aku bisa mengatakan nya kalau aku lah yang meminta, aku juga ingin bicara banyak dengan kakek, dia ada di kamar nya kan?" kata Sofia yang kemudian mengambil alih memegang nampan tersebut.
"Iya nona, tapi apakah ini benar-benar tidak apa-apa? Ini tugas kami," kata pelayan itu masih ragu.
"Tidak masalah, kau boleh Istirahat sekarang," kata Sofia yang kemudian berjalan menuju kamar sang kakek sambil membawa nampan tersebut.
"Ya Tuhan, dari mana tuan muda mendapatkan istri seperti nona Sofia?" batin pelayan tersebut yang memegang dadanya karena mendapat perlakuan baik dari majikan nya.
Sementara itu Sofia dengan senang hati berjalan masuk ke dalam kamar kakek Wiliam.
Setibanya di kamar kakek, dia melihat sang kakek yang sedang bersandar di kursi nya sambil memejamkan mata.
"Kakek, maaf menganggu," ujar Sofia dengan suara khas nya yang lembut.
Kakek Wiliam yang mendengar itu segera membuka mata nya dan melihat ke arah Sofia, sedari tadi dia sudah menunggu sup tersebut.
"Sofia, kenapa kau yang membawa nya? Di mana pelayan?" tanya sang Kakek sedikit terkejut.
"Aku mengambil ini dari pelayan kek, karena dia sedang sakit, kaki nya terkilir, apakah Kakek akan marah jika aku yang membantu membawa nya?" tanya Sofia masih berdiri di hadapan kakek Wiliam.
"Astaga, aku tidak marah namun ini bukan lah tugas mu, masih banyak pelayan lain kan," kata Kakek lagi.
"Tidak masalah, aku malah sangat bosan tidak melakukan pekerjaan apapun di sini, oh ya apakah aku boleh membantu kakek untuk minum sup?" Tanya Sofia dengan sopan.
Kakek Wiliam pun tersenyum mendengar ucapan Sofia, dia tidak menyangka kalau Zavier cucu nya yang dingin seperti es itu bisa mendapatkan istri sehangat Sofia.
"Boleh sekali, kemari lah," kata sang kakek sambil tersenyum penuh kebahagiaan melihat perilaku Sofia yang sangat baik.
Sofia pun membantu sang kakek minum sup sampai habis, sambil mereka mengobrol, rasanya tidak sulit bagi Sofia untuk dekat dengan Kakek Wiliam yang ternyata juga sangat baik dan ramah.
"Aku memang ingin mengobrol banyak dengan mu, kau benar-benar anak yang baik Sofia aku bahagia untuk pernikahan mu dan cucu ku Zavier," sudah entah berapa kali sang kakek memuji dan mengatakan kalau dia benar-benar bahagia Sofia menjadi cucu mantu nya.
"Aku juga senang bisa bicara banyak dengan kakek, rasanya aku mendapat peran Kakek yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya," ujar Sofia lagi.
Mereka pun terus mengobrol dan tertawa satu sama lain, hal ini tak sengaja di perhatikan oleh Zavier yang beberapa menit lalu sudah tiba di mansion dan ingin melihat keadaan sang kakek, namun tidak jadi karena melihat Sofia di kamar tersebut.
"Dia sangat mudah membuat kakek tertawa bahagia dan berbincang akrab dengan nya," batin Zavier.
Sangking fokus nya Zavier memeprhatikan Sofia dan kakek Wiliam, dia sampai tidak menyadari kalau di belakang nya ada Glen yang juga memperhatikan apa yang dia perhatikan.
"Sangat bagus kan tuan muda?" ucap Glen.
Seketika Zavier teridam dan menoleh ke arah belakang, ia menatap Glen dengan tatapan kesal karena sudah membuat nya kaget.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apakah tugas yang aku berikan sudah kau selesaikan? Dan di mana pelayan itu?" tanya Zavier bertubi-tubi.
"Ada yang ingin aku bicarakan tuan muda, sebaiknya kita ke tempat yang lebih tenang dulu, aku khawatir kalau-kalau, nona muda akan tiba-tiba keluar dan mendengarkan pembicaraan kita," ungkap Glen.
Tidak banyak bicara, Zavier pun kemudian melangkah kan kaki nya untuk menjauh dari kamar tersebut.
Tak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di bagian mansion yang terlihat sepi dan tidak ada yang akan mendengar perbincangan mereka itu.
Bersambung ....