Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam dari Balik Jeruji
Meskipun kehangatan dan kedamaian mulai merayap di paviliun belakang mansion Arkan, atmosfer di tempat lain justru terasa mendingin. Di dalam ruang tahanan Polda yang lembap dan berbau apak, Taufik duduk meringkuk di sudut ruangan. Pakaian usangnya kini telah berganti dengan seragam tahanan berwarna oranye mencolok. Wajahnya yang dulu licik kini tampak kuyu, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya akibat frustrasi dan kurang tidur.
Sipir penjara datang dan mengetuk jeruji besi dengan keras. "Taufik! Ada kunjungan untukmu."
Taufik tersentak, lalu buru-buru berdiri. Harapannya membubung tinggi, mengira ibunya, Ratna, atau mungkin pengacara murah yang ia sewa berhasil menemukan celah untuk mengeluarkannya. Namun, saat ia melangkah ke ruang kunjungan yang dibatasi kaca tebal, sosok yang duduk di seberangnya justru membuat nyalinya menciut sekaligus memicu kilat kebencian yang mendalam.
Itu adalah Hendra, kepala pengawal Adrian, yang datang bersama seorang pria bermata tajam dengan setelan jas rapi—salah satu pengacara terbaik dari firma hukum Arkan Group.
Taufik duduk dan mengangkat gagang telepon interkom dengan tangan gemetar. "Mau apa lagi kalian ke sini?! Kalian sudah menjebloskan ku ke neraka ini! Belum cukupkah?!"
Hendra tidak membalas dengan amarah. Ia hanya menatap Taufik datar, seolah melihat seekor serangga yang mengganggu. Pengacara di sampingnya kemudian menggeser beberapa lembar dokumen ke arah kaca.
"Dengar, Taufik," suara sang pengacara terdengar dingin melalui interkom. "Kami ke sini bukan untuk bernegosiasi. Kami hanya ingin menyampaikan bahwa tim hukum Arkan Group telah menutup semua celah banding mu. Bukti perdagangan anak, pemalsuan dokumen medis kematian bayi, dan keterlibatan mu dalam jaringan judi online sudah mutlak. Tuntutan hukumanmu dinaikkan menjadi lima belas tahun penjara tanpa remisi."
"Lima belas tahun?!" Taufik berteriak histeris, memukul kaca tebal itu dengan tinjunya hingga menimbulkan bunyi berdentang yang keras.
"Bajingan! Ini pasti karena Adrian Arkan! Dia sengaja ingin mengurungku agar bisa menguasai Aisha dan uangnya, kan?!"
Hendra mendekatkan wajahnya ke arah interkom, matanya memancarkan kilat intimidasi yang membuat Taufik bungkam seketika. "Jaga bicaramu, Taufik. Tuan Adrian tidak perlu merebut apa pun. Aisha berada di sana karena pilihan hidupnya yang jauh lebih baik daripada saat bersamamu. Ini adalah peringatan terakhir: jika kamu atau ibumu mencoba menghubungi pihak luar untuk mengusik Aisha lagi, kami pastikan kehidupanmu di dalam penjara ini akan menjadi jauh lebih menderita."
Gagang telepon ditutup sepihak oleh Hendra. Kedua pria itu berdiri dan melangkah pergi, meninggalkan Taufik yang napasnya memburu cepat karena amarah dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu.
"Aisha... Adrian Arkan..." desis Taufik dengan rahang yang mengeras hingga giginya bergemeletuk. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia di atas penderitaanku!"
Sementara itu, di mansion Arkan, malam telah larut. Adrian baru saja menyelesaikan sisa pekerjaan kantornya di ruang kerja lantai dua. Pria itu mematikan laptopnya, lalu berjalan menuju balkon luar. Pandangannya langsung tertuju pada paviliun belakang yang lampu ruang tamunya masih menyala temaram.
Ada dorongan yang tak bisa ia bendung lagi. Adrian melangkah turun, menyusuri koridor kaca yang kini terasa begitu bersahabat baginya.
Saat ia membuka pintu paviliun dengan pelan, ia mendapati Aisha sedang duduk di dekat boks bayi. Wanita itu tampak kelelahan; kepalanya bersandar pada tepian boks dengan mata yang terpejam, sementara jemarinya masih menggenggam selimut kecil yang menutupi tubuh Fatih dan Kael. Kedua bayi itu telah tertidur pulas dalam posisi saling berhadapan.
Adrian melangkah mendekat tanpa suara. Ia berlutut di samping Aisha, menatap wajah polos wanita itu saat tertidur. Sisa-sisa kesedihan masa lalu seolah telah memudar dari wajah Aisha, digantikan oleh aura keibuan yang begitu teduh.
Adrian mengulurkan tangannya, menyelipkan beberapa helai rambut Aisha yang menutupi pipinya ke belakang telinga. Sentuhan lembut itu membuat Aisha terbangun. Ia mengerjapkan matanya perlahan, terkejut saat melihat wajah Adrian berada begitu dekat dengannya di bawah temaram lampu tidur.
"Adrian...?" bisik Aisha, suaranya parau khas orang yang baru terbangun. Ia mengingat permintaan Adrian tadi pagi untuk tidak memanggilnya 'Tuan' lagi saat mereka berdua.
"Maaf, aku membangunkanmu," ucap Adrian lembut, suaranya bariton rendah yang menenangkan. "Kenapa tidak tidur di ranjang? Kamu bisa sakit jika tidur dengan posisi seperti ini."
Aisha tersenyum tipis, mencoba menegakkan duduknya yang terasa sedikit kaku. "Saya hanya ingin memastikan anak-anak tidak terbangun, Adrian. Melihat mereka tidur dengan tenang seperti ini... membuat seluruh lelah saya hilang."
Adrian menatap lekat-lekat manik mata bulat jernih milik Aisha. Keheningan malam di paviliun itu mendadak terasa begitu intim, mengabaikan seluruh konflik kasta dan dunia luar yang penuh tipu daya.
"Aisha," panggil Adrian, memajukan wajahnya satu senti lebih dekat.
"Iya?"
"Terima kasih karena tidak memilih untuk pergi semalam," ucap Adrian dengan ketulusan yang murni terpancar dari matanya. "Aku berjanji, apa pun yang terjadi di masa depan, aku tidak akan membiarkan siapa pun menarikmu kembali ke masa lalumu yang kelam. Kamu dan Fatih adalah bagian dari hidupku sekarang."
Sebelum Aisha sempat menjawab, Adrian perlahan mengikis jarak di antara mereka. Ia mengecup kening Aisha dengan lembut dan lama—sebuah kecupan yang sarat akan rasa hormat, perlindungan, dan perasaan baru yang kini telah tumbuh subur di dalam dada sang CEO dingin.
Aisha memejamkan matanya, merasakan kehangatan murni yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hidup dalam penderitaan, Aisha merasa bahwa ia akhirnya telah menemukan pelabuhan terakhir tempat jiwanya bisa bersandar dengan aman.
Namun, di luar gerbang mansion yang sunyi, seorang pria misterius yang mengenakan jaket hitam tampak sedang mengawasi paviliun dari kejauhan melalui lensa kamera panjang. Pria itu adalah orang suruhan yang berhasil dihubungi oleh Taufik melalui jaringan lamanya sebelum ia dipindahkan ke sel isolasi. Dendam dari balik jeruji besi telah resmi mengirimkan ancaman baru yang bergerak dalam senyap.
---
Bersambung~