NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Aurora Quinn benar-benar ingin menghilang dari muka bumi hari itu juga.

Begitu ia menginjakkan kakinya melewati gerbang utama kampus Hudson University, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah drastis. Hampir semua sepasang mata yang berpapasan dengannya langsung tertuju padanya. Beberapa mahasiswa tampak berbisik-bisik, beberapa lagi terang-terangan memandangnya dari atas ke bawah, bahkan ada yang diam-diam mengangkat ponsel untuk mengambil fotonya.

Aurora yang merasa sangat risih langsung menarik tepi topi hoodie-nya lebih rendah, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Ini benar-benar mimpi buruk..." gumam Aurora frustrasi dengan suara lirih.

Lily Parker yang berjalan di sampingnya justru tertawa renyah melihat kepanikan itu. "Kamu ini terlalu berlebihan dan dramatis, Aurora," komentar Lily menganggap lucu situasi tersebut.

Aurora menoleh cepat, menatap sahabatnya dengan pandangan tidak percaya. "Dramatis bagaimana? Semua orang melihatku hari ini seolah-olah aku adalah seorang selebriti yang sedang tersandung skandal!" seru Aurora kesal.

"Ya, tentu saja. Karena pacar barumu itu memang selebriti nomor satu di kampus ini," sahut Lily santai sembari mengedikkan bahu.

Aurora langsung menghela napas panjang. Ia sempat melupakan satu fakta penting; bahwa seorang Alexander Kingsley bukanlah mahasiswa biasa. Pria itu terlalu mencolok—terkenal, kaya raya, tampan, pintar, dan merupakan pewaris tunggal dari dinasti keluarga Kingsley. Maka sangat wajar jika hubungan asmara mereka yang baru berjalan sehari langsung menjadi topik paling panas di seluruh penjuru kampus.

---

Saat Aurora sedang berjalan menyusuri koridor menuju ke ruang kelasnya, dua orang mahasiswi yang sedang berdiri di dekat loker tiba-tiba berbicara dengan nada suara yang sengaja dikeraskan saat ia lewat.

"Eh, lihat deh. Itu dia gadisnya," bisik mahasiswi pertama sambil menunjuk dengan lirikan mata.

"Gadis miskin yang mendadak resmi pacaran dengan Alexander Kingsley?" sahut mahasiswi kedua dengan nada mencibir.

Aurora menarik napas dalam-dalam dan berpura-pura tidak mendengar sindiran tersebut. Namun, kalimat berikutnya yang terlontar sukses membuat langkah kakinya melambat secara otomatis.

"Iya, benar. Jujur saja, aku sama sekali nggak mengerti apa yang dilihat Alexander dari cewek kelas bawah seperti dia," cibir mahasiswi pertama lagi.

"Sama. Penampilannya biasa banget, sama sekali nggak ada spesial-spesialnya. Entah ramuan apa yang dia pakai untuk memikat Alexander," timpal temannya meremehkan.

Aurora menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas tali tas ranselnya dengan erat. Meskipun selama hidupnya ia sudah cukup terbiasa diremehkan karena status sosialnya, tetap saja rasanya sangat menyakitkan ketika hal itu dikaitkan dengan hubungannya bersama Alexander.

---

Saat jam istirahat makan siang tiba, Aurora memutuskan untuk melarikan diri dan bersembunyi di dalam perpustakaan pusat kampus. Setidaknya, di ruangan yang dipenuhi aturan dilarang berisik ini, ia bisa mendapatkan sedikit ketenangan dari tatapan menghakimi orang-orang.

Atau, setidaknya begitulah yang sempat ia harapkan.

Sebab, baru beberapa menit ia membuka buku kuliahnya, kursi kayu di hadapannya mendadak ditarik oleh seseorang. Aurora bahkan tidak perlu mendongakkan kepalanya untuk tahu siapa sosok yang nekat melanggar ketenangannya itu. Aroma dari parfum maskulin yang familier ini sudah sangat ia hafal di luar kepala.

"Alexander," panggil Aurora pelan sambil mendongak pasrah.

Alexander tersenyum hangat, menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja. "Halo, Pacar," sapa Alexander jenaka.

Plak! Aurora langsung menutup buku tebal di depannya dengan cepat demi menyembunyikan wajahnya yang mendadak memanas hebat. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Aurora setengah berbisik dengan nada panik.

Alexander tampak mengernyitkan dahi, berpura-pura bingung dengan sikap penolakan itu. "Memangnya salah ya, kalau aku ke mari karena sedang ingin bertemu dengan pacarku sendiri?" tanya Alexander balik.

"Alexander, tolong jangan mengatakannya keras-keras!" tegur Aurora ketakutan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, takut ada mahasiswa lain yang mendengar pembicaraan mereka.

Alexander tertawa pelan melihat reaksi menggemaskan itu. Baginya, melihat Aurora yang selalu dilanda gugup setiap kali membahas status hubungan mereka adalah hiburan yang paling menyenangkan saat ini.

---

Alexander terdiam sejenak, memperhatikan ekspresi lelah dan tertekan yang tersirat di wajah cantik Aurora. Perlahan, guratan jenaka di wajah tampannya berubah menjadi sedikit lebih serius dan penuh perhatian.

"Kamu kenapa, Aurora? Ada masalah?" tanya Alexander lembut, menatapnya lekat-lekat.

Aurora menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak ada apa-apa, kok. Aku cuma sedikit lelah," jawab Aurora berkilah.

"Kamu sedang berbohong kepadaku saat ini, Aurora," tebak Alexander langsung, menyipitkan mata abu-abunya dengan tajam.

Aurora menghela napas panjang, menyadari bahwa pria di depannya ini memang terlalu pintar untuk bisa dikelabui dengan alasan klise. "Orang-orang di kampus... mereka terus-menerus membicarakanku sejak pagi tadi," aku Aurora jujur dengan nada suara yang berangsur lirih.

Alexander terdiam, mendengarkan setiap keluhan gadis itu dengan saksama.

Aurora menatap lurus ke arah permukaan meja kayu, menghindari kontak mata. "Mereka semua bilang... kalau aku sama sekali nggak pantas dan nggak selevel untuk bersanding dengan pria sesempurna dirimu, Alex."

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam di antara mereka. Tidak ada jawaban instan yang keluar dari belahan bibir Alexander, membuat Aurora mendadak dirundung rasa penyesalan karena telah menyuarakan isi hatinya yang rapuh.

Namun, sebelum Aurora sempat menarik kembali ucapannya, Alexander tiba-tiba mengulurkan tangannya melewati meja, lalu menggenggam jemari tangan Aurora dengan teramat erat dan posesif.

Aurora seketika membeku di posisinya. "Alexander... lepas, ini di dalam perpustakaan," cicit Aurora mencoba menarik tangannya yang terkunci.

Namun, Alexander justru mempererat genggamannya dan menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat milik Aurora dengan tatapan yang teramat tegas dan menghanyutkan.

"Dengarkan aku baik-baik, Aurora Quinn. Aku tidak pernah memilihmu berdasarkan apa yang dipikirkan atau apa yang dikatakan oleh orang lain di luar sana," ucap Alexander dengan nada suara yang berat, dalam, dan penuh penekanan.

Aurora tertegun, menghentikan seluruh usahanya untuk melepaskan tangan mereka.

"Aku menjatuhkan pilihan dan berkomitmen denganmu karena aku memang tulus menyukaimu apa adanya," lanjut Alexander lagi, mengunci tatapan mereka agar Aurora bisa melihat keseriusannya.

Jantung Aurora berdegup dengan sangat kencang mendengar untaian kalimat pembelaan itu.

"Dan aku sama sekali tidak peduli, siapa pun di kampus ini yang setuju ataupun tidak dengan hubungan kita. Yang menjalani hubungan ini adalah aku dan kamu, bukan mereka," pungkas Alexander mengakhiri kalimatnya tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya.

Sudut mata Aurora perlahan-lahan terasa memanas dan berkaca-kaca menahan haru. Ketegasan serta keyakinan mutlak yang terpancar dari suara Alexander seolah berhasil meruntuhkan semua dinding rasa minder dan ketakutan yang sempat membayangi hatinya sejak pagi hari.

---

Namun, kebahagiaan kecil di sudut perpustakaan itu rupanya tidak berlangsung tanpa adanya pengawasan dari pihak luar.

Dari balik celah rak buku yang tinggi di kejauhan, sepasang mata tajam tampak sedang memperhatikan setiap gerak-gerik kemesraan mereka dengan saksama. Sosok itu adalah Sophia Laurent.

Raut wajah cantik Sophia saat ini terlihat sangat dingin, sekaku bongkahan es di kutub. Teman perempuan yang berdiri setia di sampingnya bahkan sampai tampak berulang kali menelan ludah gugup melihat aura gelap yang dipancarkan oleh Sophia.

"Sophia... kamu baik-baik saja?" tanya temannya takut-takut dengan suara berbisik.

Sophia mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat menawan di bibirnya yang dilapisi lipstik merah murni. Namun, senyuman itu sama sekali tidak memancarkan kehangatan, melainkan sebuah kelicikan yang mematikan. "Tentu saja aku baik-baik saja," jawab Sophia terlampau tenang.

Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, badai amarah dan kecemburuan sedang bergejolak hebat hingga membakar dadanya menjadi abu. Semakin hari, hubungan antara Aurora dan Alexander justru terlihat semakin dekat, hangat, dan tak tersentuh oleh siapa pun. Dan kenyataan pahit itu perlahan-lahan mulai membuat seorang Sophia Laurent kehilangan batas kesabarannya yang terakhir.

---

Sore harinya, Aurora sudah kembali berada di kafe kampus untuk menjalani giliran kerjanya seperti biasa. Namun, tepat di saat suasana kafe sedang cukup senggang, bel di atas pintu mendadak berbunyi nyaring.

Ting!

Begitu sosok yang masuk melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, atmosfer di dalam kafe seketika berubah menjadi sunyi senyap. Beberapa mahasiswa yang sedang asyik mengobrol bahkan mendadak menghentikan pembicaraan mereka seketika. Semua orang di sana tahu persis siapa wanita berambut pirang berkilau yang baru saja datang dengan gaya glamor itu.

Dia adalah Sophia Laurent—mahasiswi paling populer, putri dari seorang konglomerat ternama, dan wanita yang selama ini dikenal publik memiliki hubungan paling dekat dengan Alexander Kingsley.

Sophia berjalan dengan langkah kaki yang anggun namun tegas, langsung menuju ke arah meja kasir tempat Aurora sedang berdiri merapikan struk belanja. Tatapan matanya yang tajam mengunci lurus pada wajah Aurora tanpa beralih sedikit pun.

"Kita perlu bicara berdua sekarang," cetus Sophia tanpa basa-basi dengan nada suara yang terlampau tenang namun mengintimidasi.

Aurora sedikit terkejut dengan kedatangan yang tiba-tiba ini, namun ia mencoba untuk tetap bersikap profesional sebagai seorang pelayan kafe. "Bicara denganku? Maaf, ada urusan apa ya, Sophia?" tanya Aurora mencoba tenang.

Sophia tersenyum tipis, namun binar di kedua matanya tetap terasa sedingin es yang siap menusuk kulit. "Iya, denganmu. Dan ini tentang hal yang sangat penting mengenai posisimu," jawab Sophia penuh penekanan di setiap katanya.

Detik itu juga, Aurora langsung merasakan sebuah firasat yang sangat buruk menjalar dengan cepat di dalam dadanya. Jantungnya berdegup cemas, karena ia tahu pasti bahwa percakapan yang akan terjadi sebentar lagi tidak akan berjalan dengan menyenangkan bagi dirinya.

Dan untuk pertama kalinya sejak resmi menjadi kekasih dari Alexander, Aurora akhirnya mulai merasakan hantaman tekanan yang nyata dari sisi dunia gelap milik Alexander Kingsley. Sebuah dunia elit yang penuh dengan persaingan kejam, penilaian status sosial yang menindas, dan dipenuhi oleh orang-orang berkuasa yang sama sekali tidak menginginkan kehadirannya di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!