Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bergabung dengan Tim Penyelidikan Khusus
Selama tiga hari berikutnya, Rey dan Sylfia memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. Mereka meluangkan waktu lebih banyak untuk berlatih mengasah kemampuan dan menyempurnakan kerja sama tim agar semakin kompak. Rey mengajari Sylfia cara memadukan sihir cahaya dan anginnya agar lebih stabil dan tidak membuang tenaga, sementara Sylfia mengajarkan Rey cara menyembunyikan aliran energinya hingga hampir tidak terdeteksi sekalipun oleh orang yang memiliki kepekaan tinggi. Selain itu, mereka juga melengkapi perlengkapan dengan membeli ramuan penyembuh tingkat lanjut, kompas khusus yang tahan terhadap gangguan energi, serta jubah pelindung yang lebih kuat namun tetap ringan dibawa.
Hari pendaftaran tiba. Pagi itu, Rey dan Sylfia sudah menuju Balai Persekutuan Petualang lebih awal dari biasanya. Begitu masuk, mereka mendapati ruangan utama terasa lebih ramai dan sedikit berbeda dari hari-hari biasa. Banyak petualang yang datang dengan perlengkapan lengkap, wajah mereka menunjukkan rasa penasaran, semangat, namun ada juga yang terlihat waspada dan penuh pertimbangan. Berita tentang pembentukan tim penyelidikan khusus ke daerah sekitar Hutan Terlarang sudah menyebar luas, sehingga menarik perhatian banyak petualang yang ingin mendapatkan pengalaman dan reputasi lebih baik.
Di bagian depan ruangan, sudah disiapkan meja khusus yang dijaga oleh dua orang petugas berpangkat lebih tinggi. Di samping meja itu berdiri seorang pria paruh baya dengan postur tubuh tegap, bahu lebar, dan wajah yang terukir garis-garis pengalaman. Ia mengenakan baju zirah ringan yang sudah terlihat usang namun tetap terawat baik, serta membawa sebilah pedang panjang yang tergantung di pinggangnya—senjata yang memancarkan aura tenang namun kuat. Lina berdiri di sampingnya, seolah memperkenalkan tamu istimewa itu kepada semua orang.
“Perhatian semuanya,” suara Lina terdengar jelas memecah keributan. “Ini adalah Kapten Valerius, petualang peringkat B dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun menjelajahi berbagai wilayah berbahaya. Beliau akan memimpin tim penyelidikan khusus kali ini. Semua yang ingin mendaftar silakan mendekat dan ikuti prosedur penilaian yang ditetapkan.”
Mendengar nama dan pangkatnya, suasana menjadi lebih hening seketika. Banyak yang menatap Kapten Valerius dengan rasa hormat dan kekaguman, mengetahui bahwa menjadi anak buah orang seberpengalaman itu adalah kesempatan langka sekaligus tantangan berat.
Rey dan Sylfia maju ke barisan pendaftar. Saat giliran mereka tiba, Kapten Valerius menatap mereka dengan pandangan tajam namun tidak kasar, seolah mengamati setiap gerak dan aura yang terpancar dari tubuh mereka.
“Nama, peringkat, dan alasan ingin bergabung?” tanyanya dengan suara rendah namun berwibawa.
“Saya Rey, baru naik ke peringkat C. Ini rekan saya Sylfia, baru naik ke peringkat D. Kami ingin bergabung karena sudah melakukan pengamatan awal di wilayah itu dan ingin membantu mengumpulkan informasi lebih rinci untuk keamanan bersama,” jawab Rey dengan nada tenang dan jelas, tanpa berlebihan atau merendah.
Mendengar jawaban itu, Kapten Valerius melirik ke arah Lina untuk memastikan, lalu Lina mengangguk dan berbisik singkat bahwa keduanya telah menyerahkan laporan yang sangat rinci dan akurat beberapa hari sebelumnya.
“Baik. Kalian berdua akan mengikuti tes kemampuan singkat untuk melihat apakah kalian bisa mengikuti kecepatan dan keamanan perjalanan ini,” ujar Valerius sambil memberi isyarat ke lapangan latihan yang ada di belakang gedung.
Tes yang diberikan tidak berupa pertarungan habis-habisan, melainkan ujian ketahanan, kecepatan reaksi, dan kemampuan mengendalikan kekuatan tanpa merusak lingkungan. Pertama, mereka diminta berlari menanjak di jalur berbatu yang terjal sambil menghindari rintangan yang digerakkan secara mekanis. Rey melaju dengan tenang, menggunakan sedikit energi angin untuk membuat langkahnya lebih ringan namun terlihat seperti kekuatan fisik biasa. Sementara Sylfia memanfaatkan kelincahan rasnya dan sihir angin tingkat rendah untuk melompati rintangan dengan anggun dan cepat.
Setelah itu, mereka diminta melumpuhkan boneka latihan yang bergerak otomatis tanpa merusak struktur di sekitarnya. Rey menggunakan gagang pedangnya untuk memukul titik kritis boneka dengan tenaga yang terukur, membuatnya berhenti bergerak dalam satu pukulan. Sylfia menggunakan panah yang ujungnya tumpul dan sihir cahaya untuk membutakan sensor boneka sesaat, lalu mengikatnya dengan tali sihir yang ringan namun kuat.
Selama pengamatan, Kapten Valerius tidak berkomentar banyak, tapi matanya terus mengikuti setiap gerakan mereka dengan saksama. Setelah selesai, ia mengangguk pelan.
“Baik, kendali kekuatan dan kerja sama kalian cukup baik, bahkan melebihi harapan saya untuk peringkat kalian saat ini. Kalian diterima menjadi bagian dari tim,” ujarnya singkat.
Hasil akhirnya, tim penyelidikan yang terbentuk beranggotakan tujuh orang: dipimpin oleh Kapten Valerius, dua petualang peringkat C lainnya bernama Kaelan dan Rina, serta Rey, Sylfia, dan dua orang lagi peringkat D yang sudah teruji kemampuannya. Semua anggota tim berasal dari latar belakang berbeda, dengan keahlian masing-masing—ada yang ahli dalam bertarung jarak dekat, ahli melacak jejak, ahli ramuan, dan ahli sihir pendukung.
Setelah semua anggota berkumpul, Kapten Valerius segera mengumpulkan mereka untuk pengarahan akhir sebelum keberangkatan. Ia membentangkan peta wilayah yang sangat rinci, lengkap dengan tanda batas wilayah aman, jalur yang akan dilalui, serta zona berbahaya yang harus dihindari.
“Dengarkan baik-baik peraturan utama ini, jangan sampai ada yang melanggarnya,” ujar Valerius dengan nada tegas dan serius. “Tujuan kita bukan untuk bertarung atau menjelajahi bagian dalam Hutan Terlarang. Kita hanya akan mendirikan pos pengamatan sementara sejauh 2 kilometer di dalam batas aman, mengumpulkan data kondisi energi, perilaku makhluk, dan perubahan lingkungan. Jika ada bahaya yang melampaui kemampuan kita, kita mundur dan melapor. Jangan menjadi pahlawan sendirian dan membahayakan seluruh tim. Keselamatan adalah prioritas utama.”
Ia juga menjelaskan pembagian tugas: Rey dan Sylfia akan bertugas sebagai pengamat utama karena sudah memiliki pengalaman sebelumnya dan kepekaan yang baik; Kaelan dan Rina akan menjadi penjaga barisan depan dan belakang; sedangkan anggota lainnya bertugas mencatat data dan menjaga peralatan.
Malam itu, Rey dan Sylfia beristirahat dengan tenang namun pikiran mereka tetap waspada. “Kita sudah melangkah lebih dekat lagi ke tempat itu,” kata Rey sambil memoles sedikit gagang pedangnya. “Kali ini kita tidak sendirian, tapi kita juga harus lebih berhati-hati menyembunyikan kekuatan asli kita agar tidak menimbulkan kecurigaan di antara anggota tim lain.”
Sylfia mengangguk sambil memeriksa busur dan anak panahnya. “Aku mengerti. Kita akan bertindak sesuai kemampuan yang terlihat, tapi siap mengerahkan kekuatan lebih jika situasi benar-benar mendesak. Kita akan mengikuti arahan pemimpin tim, tapi tetap menjaga kesadaran sendiri.”
Keesokan paginya, saat cahaya matahari baru saja memecah kabut pagi, tim penyelidikan berangkat dari gerbang utara kota. Langkah mereka teratur dan terlatih, membagi posisi sesuai pembagian tugas. Suasana perjalanan awalnya masih tenang, melintasi padang rumput dan perbukitan yang sudah sering dilewati, namun semakin mendekati tujuan, suasana perlahan berubah seperti yang mereka rasakan sebelumnya. Udara terasa semakin dingin dan berat, pohon-pohon di sepanjang jalan mulai terlihat lebih gelap, dan suara alam perlahan menghilang digantikan oleh keheningan yang terasa menekan.
Setelah perjalanan sekitar empat jam, mereka tiba di lokasi yang ditentukan—sebuah dataran tinggi yang cukup luas namun masih berada di luar zona kabut tebal, menawarkan pandangan yang jelas ke arah hutan di depan. Kapten Valerius memberi isyarat untuk berhenti dan mulai mendirikan pos pengamatan.
“Ini tempat yang cukup aman untuk sementara. Kita akan menetap di sini selama tiga hari untuk mengumpulkan data selengkap mungkin,” katanya sambil mengamati sekeliling dengan pandangan tajam. “Siapkan peralatan, bagi jadwal penjagaan, dan tetap waspada setiap saat. Kita sudah berada di tempat yang batasnya antara aman dan berbahaya.”
Saat mereka mulai bekerja, Rey dan Sylfia berdiri di ujung dataran itu, menatap ke arah hutan yang diselimuti kabut kelabu yang tidak bergerak. Di dalam hatinya, Rey bisa merasakan denyutan energi yang semakin jelas dan kuat, seolah ada jantung raksasa yang berdetak tidak teratur jauh di dalam sana. Ia tahu, apa pun yang ada di balik kabut itu adalah kunci dari semua kejadian aneh ini, dan tugas mereka baru saja benar-benar dimulai.