Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - SENDIRI DI KOTA MATI
Damar tidak ingat persis di detik keberapa cengkeraman tangannya pada Naya terlepas, atau kapan tepatnya bayangan punggung Rendi hilang ditelan lautan manusia.
Yang tersisa di kepalanya cuma potongan memori yang karut-marut: gema letusan senjata yang memekakkan telinga, dorongan brutal dari siku-siku asing yang kalap, dan dunia yang mendadak runtuh, membelah mereka bertiga ke arah yang berbeda.
Sekarang, yang tersisa di sini cuma dia. Sendirian.
Damar merosot, menyembunyikan sisa tubuhnya di balik reruntuhan beton bekas kios rokok di pinggir jalan. Dada aspal di bawahnya terasa dingin, sekaku tubuhnya yang belum bisa berhenti bergetar. Tangannya yang belepotan debu hitam menekan kuat-kuat bagian kiri dadanya, merasakan detak jantung yang berpacu gila—semata-mata hanya untuk meyakinkan diri sendiri kalau dia belum mati.
“Urang masih hidup… gue masih hidup…” gumamnya lirih, nyaris seperti bisikan gaib.
Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, parau dan kering akibat terlalu banyak menghirup jelaga. Di depannya, pemandangan kota sudah kehilangan seluruh fungsi kemanusiaannya. Kerangka mobil-mobil mewah terpanggang api di tengah persimpangan, mengirimkan gulungan asap hitam yang merayap pelan mengotori langit malam.
Dan yang paling menyiksa kewarasan adalah latar suaranya. Kota ini tidak pernah benar-benar hening. Selalu ada gesekan sol sepatu yang diseret kasar, jeritan melengking yang terputus di tengah jalan, atau keheningan mencekam yang tiba-tiba pecah oleh suara kaca ruko yang berantakan.
Sambil bertumpu pada dinding beton yang retak, Damar memaksa lututnya yang gemetar untuk berdiri. Kepalanya berputar pelan, memindai sekeliling. Sialan, dia sama sekali tidak tahu harus melangkah ke mana sekarang. Tidak ada kompas, tidak ada peta penunjuk jalan, apalagi tujuan akhir yang jelas.
Satu-satunya hal yang menuntun kakinya malam ini adalah insting hewani yang paling primitif: *tetap bergerak atau mati.*
Dia mulai melangkah ragu. Pelan, nyaris tanpa suara, menyusuri gang sempit di samping deretan ruko yang setengah terbakar. Setiap kali sepatunya menginjak kerikil atau pecahan kaca, jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Tiap embusan angin malam yang menerpa tengkuknya bikin dia refleks membeku, mengira ada sepasang tangan dingin yang siap menerkam.
Tepat di kelokan gang pertama, langkah Damar terkunci.
Di bawah remang-remang lampu jalan yang berkedip sekarat, sesosok tubuh berdiri membelakanginya. Diam, tidak bergerak sedikit pun, berjarak sekitar sepuluh meter di depan.
Damar langsung menahan napas, merapatkan punggungnya ke tembok. *“Tong, please jangan nengok…”* bisiknya merapal doa dalam hati.
Tapi sial, makhluk itu seolah punya radar sendiri. Kepalanya berputar. Gerakannya lambat, patah-patah, dan terdengar bunyi derak kaku yang mengerikan dari sendi lehernya. Begitu wajahnya tertangkap cahaya, Damar bisa melihat sepasang mata kelabu yang keruh tanpa pupil. Kosong, tapi sekaligus penuh nafsu membunuh.
Damar mundur satu langkah, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. “Gue… gue cuma mau lewat…” bisik bibirnya yang mendadak kelu, tahu betul kalau negosiasi adalah hal paling bodoh saat ini.
Makhluk itu mulai melangkah maju. Gerakannya kaku, tapi langkah kakinya lebar-lebar menuju ke arah Damar.
Panik mengambil alih akal sehatnya. Damar menoleh cepat ke sisi kanan, mendapati ada celah lorong tikus yang gelap di antara dua ruko. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung memutar tubuh dan mengambil langkah seribu.
*BRAK!*
Dalam kegelapan yang buta, tulang kering Damar menghantam tempat sampah seng hingga terguling dan menimbulkan suara hantaman logam yang nyaring di gang sempit itu.
Langkah kaki Damar langsung terhenti. Dia membeku di tempat, merutuki kebodohannya sendiri. Dari arah belakang, suara langkah kaku yang mengejarnya tadi mendadak hilang. Tapi keheningan itu justru berkali-kali lipat lebih meneror jiwanya.
“Dia kehilangan jejak aing nggak, ya…?” gumamnya, menyumbat mulutnya sendiri dengan telapak tangan, mencoba meredam suara napasnya yang memburu.
*SHHHK… SHHHK…*
Suara gesekan kain flanel dan sol sepatu yang terseret terdengar dari arah depan. Damar refleks menoleh ke ujung lorong di hadapannya. Terlalu cepat, dan dia langsung mengutuk matanya sendiri atas apa yang dia lihat.
Di ujung jalan keluar lorong, dua sosok manusia sudah berdiri di sana. Bentuk tubuh mereka sudah tidak lagi proporsional; yang satu berdiri dengan bahu miring sebelah seolah tulang selangkangnya sudah patah, sementara yang satu lagi mengambil posisi setengah berjongkok dengan leher mendongak ganjil.
Dan sepasang mata mati milik keduanya tepat terkunci pada sosok Damar.
Damar melangkah mundur perlahan, menggelengkan kepalanya dengan ngeri. “Tong… jangan sekarang… enggak…”
Kedua makhluk itu mengeluarkan erangan parau dari tenggorokan mereka yang rusak, lalu mulai bergerak maju bersamaan. Agak lambat, tapi pasti, menutup satu-satunya jalan keluar di depan Damar.
Damar berbalik arah, memilih kembali menghambur ke dalam kegelapan lorong yang baru saja dia lalui. Lari seadanya, mengabaikan rasa perih di kakinya.
Lorong tikus itu mendadak terasa jauh lebih panjang dan menyesatkan. Setiap tikungan yang dia ambil terasa sama buruknya, dan ketakutan terbesar Damar malam ini adalah terjebak di ujung jalan buntu yang akan menjadi tempat penjagalannya.
Dan ketakutan itu terwujud. Di ujung gang, sebuah pagar besi pembatas wilayah pemukiman berdiri kokoh menghalangi jalannya. Pintu gerbang kecilnya dirantai mati dari luar.
“Bangsat!” umpat Damar, memukul besi pagar dengan frustrasi.
Dia menoleh ke belakang. Dua sosok yang mengejarnya tadi sudah muncul di kelokan, diikuti oleh satu sosok lain yang ikut bergabung akibat suara bising tempat sampah tadi. Mereka makin dekat.
Tidak ada pilihan lain. Damar mencengkeram bilah-bilah besi pagar, lalu memanjatnya dengan sisa tenaga yang dia punya. Ujung besi yang tajam menggores telapak tangannya hingga perih, kakinya beberapa kali tergelincir dari pijakan karena gemetar. Tapi dorongan adrenalin memaksanya untuk terus merayap naik ke puncak pagar setinggi dua meter itu.
Dia melompati bagian atas pagar dan mendarat asal-asalan di sisi lain.
*“UGHH!”* Damar mengerang tertahan ketika lututnya menghantam semen dengan keras. Rasa nyeri langsung menjalar hingga ke pinggang.
Tapi rasa sakit itu langsung dia kesampingkan. Dia buru-buru bangkit berdiri lagi sambil tertatih, karena di seberang pagar, jari-jari kaku makhluk-makhluk itu sudah mencengkeram jeruji besi, mencoba meraih pakaiannya dengan erangan frustrasi yang kelaparan.
Damar terus menyeret kakinya, berlari tanpa arah di jalanan pemukiman yang sepi sampai matanya menangkap sebuah gedung tua dengan pintu roling yang setengah terbuka. Bekas gerai minimarket yang sudah dijarah habis. Dia merosot masuk ke dalam, lalu buru-buru menarik turun pintu seng itu hingga menyentuh lantai, menyisakan kegelapan total dan sunyi yang pekat di dalam ruangan.
Damar bersandar pada pintu roling yang dingin, mencoba menstabilkan pasokan oksigen ke paru-parunya.
“Tempat ini… jauh lebih parah dari desa,” bisiknya pada kegelapan. Di desa, ruang geraknya luas. Di kota mati ini, setiap sudut gang terasa seperti peti mati yang siap dikunci dari luar.
Dia membiarkan tubuhnya ambruk, duduk selonjoran di atas lantai minimarket yang kotor dan penuh sampah plastik berserakan. Untuk pertama kalinya sejak dunia berubah menjadi neraka, Damar benar-benar merasai apa itu arti kesepian yang absolut.
Di luar sana, suara kekacauan dunia luar masih terdengar lamat-lamat. Tapi di dalam ruangan gelap ini, hanya ada deru napasnya sendiri yang bersahutan dengan isi kepalanya yang kalut.
“Rendi… Naya…”
Damar menatap tangannya yang gemetar di kegelapan. Dia tidak tahu apakah kedua orang itu masih bernapas di luar sana, atau justru sudah berbaris bersama makhluk-makhluk kaku yang memburu daging manusia.
Dan ketidaktahuan itulah, dari semua kengerian malam ini, yang paling berhasil mencabik-cabik kewarasannya.