NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Arena Puncak Darah

​Keesokan malamnya, Kota Perbatasan Batu Darah diguyur hujan deras yang tiba-tiba, namun hal itu tidak menyurutkan antusiasme para penghuni kegelapan kota. Malam ini adalah pembukaan Turnamen Puncak Darah —sebuah acara klandestin tiga tahunan yang diorganisir oleh kongsi tiga faksi terbesar di pasar gelap kota: Asosiasi Tentara Bayaran, Paviliun Obat Racun, dan Geng Kapak Hitam.

​Arena kali ini tidak diadakan di bawah tanah asosiasi yang sempit, melainkan di Reruntuhan Kuil Bulan Mati yang terletak lima mil di luar perbatasan kota. Tempat ini merupakan area netral, terlindungi dari mata-mata sekte luar berkat formasi kabut penyesat.

​Hujan membasahi reruntuhan pilar-pilar batu kuil, membersihkan noda darah lama dan menyiapkannya untuk genangan darah baru. Ratusan obor anti-air menyala redup, menerangi sebuah arena raksasa berbentuk segi delapan yang dipagari oleh dinding paku setinggi sepuluh meter.

​Di tribun penonton yang berada di atas reruntuhan kuil, duduk para pemimpin faksi, pejudi kelas kakap, serta beberapa Tetua sekte lokal yang datang secara diam-diam untuk mencari bibit petarung kejam.

​Lin Tian berdiri di ruang tunggu yang lembap dan dingin di bawah arena. Ia mengenakan jubah hitam kasar yang diberikan oleh Tuan Hei untuk menyembunyikan pakaian abu-abunya yang khas, namun ia tetap mempertahankan topeng kayu abu-abunya. Di sampingnya, beberapa petarung bayaran memamerkan otot dan memoles senjata spiritual mereka, sesekali melirik sinis ke arah Lin Tian yang terlihat terlalu tenang dan tidak memancarkan hawa spiritual sedikit pun.

​"Kau pasti si 'Mo' yang dibicarakan Tuan Hei," sebuah suara serak terdengar dari belakang.

​Lin Tian tidak menoleh. Seorang pria botak dengan tato tengkorak melilit di seluruh lehernya mendekat. Di pundaknya, bertengger seekor Gagak Roh berbulu merah. Pria ini adalah delegasi dari Geng Kapak Hitam. Kultivasinya menyentuh batas Pembangunan Pondasi Menengah.

​"Aku dengar kau menghabisi sepuluh Anjing Darah dalam tiga puluh detik," kekeh pria bertato itu. "Hebat, sungguh. Tapi di Puncak Darah, kau tidak akan melawan boneka tanpa otak. Kau akan melawan monster-monster sepertiku. Jika kau bertemu denganku di arena nanti, aku janji akan menguliti lengan yang diperban itu dengan sangat perlahan."

​Lin Tian hanya melirik pria itu dari balik topengnya. "Banyak yang berjanji akan mengulitiku. Mereka semua sekarang menjadi tanah."

​Pria bertato itu mendengus marah, berniat mencabut kapak kecil di pinggangnya, namun suara gong perunggu besar tiba-tiba bergema, menggetarkan lantai ruang tunggu.

​"Perhatian semua peserta sampah!" Suara pembawa acara, yang diperkuat dengan sihir pengeras suara, bergema dari atas arena. "Selamat datang di Turnamen Puncak Darah! Malam ini, kita tidak menggunakan sistem turnamen pengecut dengan babak kualifikasi."

​Di tribun, para penonton mulai bersorak gila.

​"Aturannya sederhana! Satu Arena. Seratus Petarung. Bertahan Hidup. Lima orang terakhir yang berdiri akan melanjutkan ke duel final! Boleh menggunakan segala macam senjata, formasi, racun, dan sihir gelap! Bunuh sesuka kalian! Yang mati hartanya menjadi milik yang hidup!"

​Mendengar aturan tanpa batasan dan sistem gugur brutal itu, beberapa petarung di ruang tunggu menelan ludah. Ini murni penggilingan daging.

​Gerbang besi ruang tunggu berderit terbuka secara otomatis. Seratus petarung dari berbagai pintu masuk perlahan melangkah naik ke atas arena berpasir yang mulai becek oleh hujan.

​Lin Tian melangkah santai. Air hujan menetes dari topeng kayunya. Ia langsung berjalan menuju bagian tengah arena—area yang paling terekspos—dan berhenti di sana. Tangannya tetap berada di balik jubahnya, tidak menghunus senjata apa pun.

​Seratus petarung itu saling mengukur kekuatan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka yang pintar untuk membentuk aliansi sementara.

​"Mulai!!!" teriak wasit.

​DDUUAAR! ZRAASH!

​Seketika, arena berubah menjadi kekacauan maut. Cahaya pedang spiritual berseliweran menembus derasnya hujan. Bola api dan bilah angin meledak ke berbagai arah. Suara jeritan, putusnya anggota tubuh, dan umpatan memenuhi udara.

​Beberapa aliansi sementara langsung mengkhianati rekan mereka dalam lima detik pertama. Darah mulai mengalir deras, bercampur dengan lumpur hujan, meresap ke dalam pori-pori arena kuno tersebut.

​Lin Tian yang berdiri di tengah arena seperti patung, awalnya diabaikan karena tidak memancarkan fluktuasi Qi berbahaya. Namun, kesunyian dan ketenangannya di tengah badai pembunuhan justru menarik perhatian sekutu Geng Kapak Hitam.

​Empat orang kultivator bertubuh besar dengan kapak bersinar merah (Pembangunan Pondasi Awal) saling bertukar pandang dan perlahan mengepung Lin Tian.

​"Hei, si bisu dari asosiasi! Tuan Botak meminta kepalamu!" seringai salah satu pemegang kapak.

​Lin Tian menoleh ke arah mereka berempat. Ia bisa merasakan sisa-sisa Inti Teratai Pedang-nya yang sedikit memberontak. Berdiri di tengah medan perang penuh darah dan Niat Membunuh membuat naluri Seni Pedang Sembilan Kematian-nya mendidih. Ia lapar.

​"Kalian menghalangi pandanganku," ucap Lin Tian datar.

​"Sombong!" Empat kapak raksasa diayunkan dari empat penjuru sekaligus, membentuk formasi penjara silang yang tak bisa dihindari, membawa energi tebasan yang cukup kuat untuk membelah rumah batu.

​Lin Tian tidak menghindar, tidak melompat.

​Ia membiarkan keempat kapak itu menebas. Tepat sebelum bilah senjata menyentuh kulitnya, ia menyentakkan kakinya dan memutar pinggangnya dalam satu putaran penuh secara eksploitasi kinetik

​Kedua lengannya merentang. Lengan kirinya yang biasa, dan lengan kanannya yang berlapis baja perak di balik perban.

​TRANG! TRANG! TRANG! TRANG!

​Bukan tubuh Lin Tian yang terbelah. Keempat kapak spiritual itu membentur kedua lengan Lin Tian layaknya menebas pilar berlian. Gaya pantul yang mengerikan mengalir kembali ke lengan keempat penyerang, membuat tulang telapak tangan mereka retak seketika!

​"A-Apa?!" keempat pria itu terbelalak syok, kapak mereka nyaris terlepas. "Fisik macam apa ini?!"

​"Fisik yang akan mengubur kalian."

​Lin Tian menghentikan putarannya seketika—melawan momentum sentrifugal dengan kendali otot ekstrem. Ia melesat ke depan, menggunakan bahunya untuk menghantam dada pria di depannya.

​BAM! Dada pria itu amblas, tubuhnya terpental menabrak temannya di belakang hingga keduanya tewas.

​Tanpa jeda, Lin Tian memutar lututnya, menyapu kaki pria ketiga hingga terjatuh, dan di saat yang sama tangan kirinya menyambar tenggorokan pria keempat. Dengan satu remasan ringan berbunyi krek, leher pria keempat patah layaknya ranting kering. Pria ketiga yang terjatuh baru saja mengangkat kepalanya ketika telapak sepatu Lin Tian menghancurkan wajahnya.

​Lima detik. Empat ahli Pembangunan Pondasi Awal tewas diubah menjadi daging cincang.

​Pertunjukan kecil itu menarik perhatian arena yang lebih besar. Beberapa petarung yang sedang berduel berhenti bertarung dan menatap sosok bertopeng kayu itu dengan kengerian. Membunuh empat Pembangunan Pondasi dengan tangan kosong tanpa Qi? Itu adalah kekuatan seorang ahli fisik langka yang sangat menakutkan!

​"Jangan biarkan dia! Jika dia tidak mati, kita semua yang akan tersingkir!" teriak seorang kultivator berjubah hijau, menyadari ancaman sebenarnya. "Serang dia bersama-sama!"

​Insting bertahan hidup membuat musuh-musuh yang tadinya saling serang kini berbalik bersatu. Sekitar dua puluh kultivator dari berbagai fraksi, dengan jenjang Pengumpulan Qi Puncak hingga Pembangunan Pondasi Menengah, memompa Qi mereka hingga batas maksimal.

​Berbagai macam sihir elemen—tombak es, ular api, pisau angin ganda, dan pedang terbang—menghujani posisi Lin Tian dari segala arah.

​Lin Tian mendongak ke arah hujan sihir yang menyilaukan mata itu. Ia perlahan menghela napas.

​"Kalian terlalu banyak bergantung pada energi luar," gumam Lin Tian.

​Ia tidak meraba Gagang Pemutus Langit. Melawan sekelompok semut tidak membutuhkan senjata Kaisar.

​Lin Tian mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Urat-urat perak metalik di bawah perbannya menyala redup. Inti Teratai Pedang di perutnya berputar satu kali putaran penuh, menyalurkan esensi Ketiadaan ke kepalan tangannya.

​Lin Tian meninju ruang di hadapannya, ke arah hujan sihir yang datang.

​BOMMMMMMM!

​Bukan tinju angin biasa. Tinju itu merobek ruang hampa udara dan melepaskan Domain Ketiadaan Pasif sejauh sepuluh meter.

​Seluruh sihir—api, es, angin, pedang terbang—yang memasuki area sepuluh meter dari tubuh Lin Tian tiba-tiba kehilangan pendaran cahaya spiritual mereka. Sihir itu terurai, terpotong-potong, dan dilahap habis oleh energi Ketiadaan yang memancar dari kekuatan fisiknya. Tombak es berubah menjadi air hujan biasa, api menjadi asap, dan pedang terbang jatuh berdebam ke tanah menjadi besi rongsokan.

​Dua puluh kultivator itu membeku ngeri. Sihir mereka ditelan.

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!