Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Nafkah Lain
Masuk--jangan--masuk--jangan. Lova mau tak mau melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, candaan Afif itu sungguh tak lucu, "mas Afif ngga lucu ihh!"
Dan ya! Wajahnya mendadak kembali diserang hangat mengingat taruhan mereka, apakah Afif akan meminta haknya sekarang? Garis dua?
Huffft! Lova mengipasi wajahnya yang semakin panas. AC nyala ngga sih?! Ah tentu saja. Lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut depan yang basah terlihat sangat segar, Lova terpaku...selalu saja begini jika dihadapkan dengan pesona sang suami, mendadak patung.
"Mau pake kamar mandi?"
"Iya." Ia bergegas setengah berlari masuk dan menutup pintu kamar mandi melewati Afif, tak lupa menguncinya dari dalam. Sadar dengan tingkah random Lova setelah keusilannya tadi, Afif tertawa kecil sambil menggeleng lalu membongkar koper di samping ranjang.
/
Tidak ada agenda untuk sisa sore ini selain dari istirahat dan mengeksplore area hotel. Ah sampai lupa...sore ini mereka janji bertemu mas Erdi, karyawan jasa travel yang merangkap sekaligus tour guide mereka. Afif sudah bertukar pesan untuk bertemu di cafetaria hotel.
"Mau ikut ke cafetaria apa engga? Ketemu mas Erdi.."
Lova yang baru keluar dari kamar mandi tentu saja mengangguk, "ikut."
Keputusannya untuk ikut ternyata tak salah, karena cafetaria hotel tak kalah menyenangkan untuk badan lelah mereka selepas menempuh perjalanan.
Ada suasana semi outdoor dengan kolam air mancur dan beberapa pepohonan yang sengaja ditanam disekitaran kolam, di balik pintu kaca.
Aktivitas cafetaria hotel tak kalah ramai dari jalanan Malioboro, ada dentingan bunyi alat makan beradu, langkah cepat petugas dapur dan pramusaji, meja-meja kayu bulat yang ada disana setengah terisi penuh bersama tawa dan canda, dengan nuansa coklat dan krem ukiran wayang tak pernah ketinggalan.
"Aku masih kenyang, mas."
"Disana kayanya ngga cuma makanan berat, Va. Mau coba?" tunjuknya ke arah sudut paling kanan, dimana meja dengan display macam-macam menu minuman tersedia. Aroma yang menguar tak kalah wangi. Seperti ada rempah-rempahan dan segar.
Benar, lucu dan unik...Ada kendil-kendil tanah liat dengan isian wedang uwuh, wedang ronde, es semlo, wedang tahu, bir Jawa dan terakhir...seorang pramusaji ber-apron tengah mengaduk kopi dengan air panas yang kemudian ia memasukan arang menyala ke dalamnya, hingga jrejesss! Suara mendesis timbul dari sana.
"Itu apa, hahaha...kopi?" tanya nya menatap takjub.
Afif mengangguk, "dipakein arang. Kopi Joss namanya..."
Mengadaptasi dari jajanan tradisional ciri khas kaki lima di jalanan kota ini, pihak hotel menawarkan pengalaman tanpa harus keluar dari area hotel.
"Pait dong?" Lova sudah meringis sekaligus menggidikan bahunya.
"Lebih khas aja, ada bau-bau smoke nya." Hingga akhirnya keduanya memilih untuk memesan kudapan saja disana bersama dengan minuman.
Lova mendaratkan pilihannya pada wedang ronde dan wedang tahu, berteman jadah tempe. Sementara Afif memilih bir Jawa dan sate klatak.
Sambil menunggu mas Erdi, keduanya makan diantara ramainya pengunjung, "ih, enak. Coba deh mas..." Lova menyodorkan sendok yang terisi wedang tahu miliknya ke depan mulut Afif, "kaya apa ya---rasanya tuh, kaya..."
Hap! Tanpa menolak Afif melahapnya dari sendok yang disuapkan Lova, "kaya tahu." Jawabnya santai, membuat Lova mencebik ketus, "ya iya tahu, masa tempe."
Kini giliran Afif yang menyuapkan sate klatak dari piringnya ke depan mulut Lova, "emhh enak." Seru Lova membeliakan matanya excited.
"Mas Afif."
Keduanya menoleh ketika seorang berkemeja abu dengan tulisan travel menemui mereka, "saya Erdi, mas."
"Oh, mas Erdi...silahkan."
Lova turut menegakan badannya.
Dan sejumlah agenda esok hari dijabarkan termasuk dirinya yang akan menemani keduanya selama disini bersama pasangan lain yang juga memakai jasa travel mereka.
/
Dimanapun berada, Afif tak pernah lupa mengingatkan Lova membawa Al Qur'an. Wajahnya masam, "liburan juga di trabas ya mas? Kupikir liburan, ngajinya juga libur."
Afif tersenyum menyugar rambutnya membawa dan membuka itu di depan Lova, tepatnya...lelaki itu membawa Lova untuk mengaji di ruang tamu kecil kamar mereka.
"Suasana baru, ngajinya sambil liburan di tempat baru." Ucap Afif, Lova menghela nafasnya lelah, tak urung mulai fokus pada bacaan terakhir mereka kemarin.
"Yang ikhlas." Pinta Afif melirik, lagi-lagi Lova membuang nafasnya dan memaksa senyumnya selebar mungkin memantik tawa kecil Afif, "yok bismillah."
Lova mulai mengaji. Memang lain daripada yang lain, jika kamar-kamar suite dengan penghuni sepasang kekasih atau suami--istri diisi dengan suara berga irah, kamar Afif dan Lova justru diawali dengan lantunan syahdu Lova dan Afif yang mengisi setiap sudut kamar, meski kemudian----
"Sadaqallahul adzim." Lova menutup kitab bersampul merah itu, selalu....ia melihatnya sebagai hadiah terindah dari orang tersayang sampai detik ini, dan mungkin seterusnya.
Suara binatang malam bertrakea mengisi sepi setelahnya, di bawah siraman lampu putih yang mendadak hangat itu Afif menatap istri kecilnya, masih dalam balutan mukena travel, Lova masih mengoceh tentang rencana besok, "jadi jam 9 itu ke keraton kan, tamansari...abis itu masjid agung Kauman sambil Dzuhur."
"Terus kita ke Prambanannya kapan? Liat pementasan Ramayana, ke kawasan Watugupit?" ia begitu cerewet.
"Besoknya."
Lova mengangguk hendak beranjak untuk menaruh Al Qur'an miliknya, tapi Afif justru menahan tangannya dari balik mukena, "kemana?" kursi kayu bahkan sudah berderit kecil saat Lova beranjak dan Afif yang bergerak.
"Naro Al Qur'an sekalian lipet mukena, kenapa? Mau ngajak jalan?" Lova duduk kembali.
Lelaki itu terkekeh, "tadi sempet nanya kan, mas mau apa?" wajahnya itu, sudah tersenyum tipis dengan mata yang menyergap.
Sementara Lova, ia melihat sinyal-sinyal hangat di wajahnya, "oh itu. Ya, apa?" ia berdehem demi mengusir rasa tak nyaman di tenggorokan.Ia berusaha setenang mungkin meski untuk itu sangat sulit nyatanya.
Afif tak melepas tangan Lova justru-----Lova melirik sebentar ke arah genggaman Afif di balik kain tipis yang tetap bisa menularkan rasa hangatnya. Tangan Afif sudah mengelus-elus lembut tangannya disana.
"Kita bicara serius sekarang, Va..." wajahnya itu, memang sedang tidak bercanda, dan Lova paham itu.
"Oke." Angguk Lova, diantara mukena tipis ungu dengan motif bunga di sekitaran garis dagu sampai ujung bawahnya, Lova nampak cantik sederhana, pipinya kemerahan tanpa riasan.
"Pertama.." tembak Lova.
"Mas ada rencana mau ambil KPR. Bukan tidak mempersiapkan dana untuk membeli cash, tapi kedepannya...mas harus pikirin juga biaya kuliah kamu, kamu yang ingin jadi dokter hewan. Akan butuh biaya besar."
Lova mengangguk, sedikit dibuat terharu, "jadi..."
Afif menunduk menatap tangannya yang masih mengelus-elus tangan Lova berbatas kain, "kamu bersedia untuk mulai belajar mandiri? Kita sama-sama, mas bantu kamu, kita bangun rumah tangga yang isinya hanya ada kamu, dan mas, juga----" ia menggantungkan ucapannya di udara. Namun kini Afif telah meraih ujung mukena Lova, menarik ke atas membuka itu melewati kepala Lova hingga kini hanya ada Lova tanpa mukena ungunya, dengan rambut yang sedikit berantakan, tapi ia begitu manis.
Lova hanya diam memperhatikan apa yang Afif lakukan padanya, seolah terbius ...
Bukan lagi menatap, bahkan Afif sudah memperpendek jaraknya dan Lova, "yang kedua, mas mau minta ijin sama kamu...memberikan nafkah lain untuk kamu." Dalam gerakan kilat Afif telah membenamkan wajah keduanya.
.
.
.
tp teh aku masih penasaran sama isi ceramah yg dilihat lova lho teh 😀