Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 27: Pelukan Hangat yang Tak Kasat Mata
Deru mobil Katya yang menjauh perlahan mengembalikan keheningan di dalam Thalassa Coffee. Suasana bar sempat terasa kaku selama beberapa detik, sebelum akhirnya Arka memecah ketegangan dengan helaan napas yang sengaja dibuat super dramatis.
"Gila! Mas Farel tadi keren banget, asli!" seru Arka, bertepuk tangan heboh sambil melompat kecil. "Baru kali ini saya lihat barista kalem bisa bertaring begitu. Mbak-Mbak heboh tadi sampai langsung ciut!"
Sila ikut mendengus, namun sudut bibirnya terangkat tipis. "Lagian, dia pikir dia siapa bisa datang dan mengacaukan kedai kita? Tapi yang paling juara tetap Mika sih. Kalimatnya pelan, tapi langsung menusuk sampai ke ginjal."
Mika yang ditunjuk hanya mengedipkan matanya polos sambil menaruh wadah es batu. "Kan... memang betul. Mbak itu... auranya gelap sekali."
Melihat bagaimana para karyawannya berebut menghibur dan mengalihkan perhatiannya dari ketegangan tadi, sudut mata Savya mendadak terasa hangat. Rasa haru yang membuncah di dadanya seolah menjelma menjadi pelukan hangat yang tak kasat mata, melindunginya dari sisa-sisa perkatakan beracun Katya.
Savya tersenyum tulus, menatap mereka satu per satu dengan pandangan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, semuanya. Kalian benar-benar benteng terbaik yang dipunyai kedai ini. Sebagai gantinya, karena hari ini kalian sudah menghadapi pelanggan paling ajaib, malam ini setelah jam tutup kedai, saya traktir makan malam bersama di sini. Saya yang pesan makanannya."
"Asyik! Hidup Mbak Savya!" sorak Arka dan Sila kompak, seketika mengembalikan energi ceria di dalam kedai hingga jam operasional berakhir.
Jam dinding sudah menunjuk tepat pukul sembilan lewat sepuluh malam. Acara makan malam bersama yang riuh telah usai, dan anak-anak kedai pun sudah pamit pulang sejak sepuluh menit yang lalu. Kini, Savya tinggal sendirian di balik meja bar yang temaram, menyelesaikan rekapitulasi laporan kasir harian di bawah pendar lampu kuning yang hangat.
Di tengah keheningan malam yang mulai merayap, bayangan ancaman Katya tentang menggunakan segala cara lewat siapa pun sempat melintas kembali di kepala Savya. Ia menghentikan jemarinya di atas kalkulator, lalu menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa cemas yang mulai mengetuk hatinya.
Pandangan Savya kemudian bergulir, menatap sepasang celemek hitam polos yang tergantung rapi di loker staf dekat dapur. Seketika itu juga, bayangan Valerius dengan kemeja putih gulung siku yang kerepotan mengikat tali celemek kemarin kembali hadir di benaknya. Rasa cemas itu mendadak menguap tanpa sisa, digantikan oleh seulas senyuman tipis yang manis. Savya menggelengkan kepalanya heran; bagaimana bisa di hari seberat ini, memikirkan pria kaku itu tetap menjadi penenang terbaik bagi hatinya?
Tepat saat Savya hendak mematikan sakelar lampu utama bar, sebuah ketukan perlahan terdengar dari arah pintu depan.
Tok... Tok...
Savya menoleh kaget. Di balik kaca jendela depan yang mulai berembun karena hawa dingin malam hari, sosok tegap Valerius berdiri di sana. Pria itu masih mengenakan setelan kerjanya yang rapi, namun gurat lelah yang samar terlihat di wajahnya, menandakan dia baru saja menyelesaikan urusan berkas kantornya yang menumpuk.
Savya melangkah cepat, memutar kunci dan membuka pintu kedai sedikit. "Vale? Kamu baru pulang dari kantor jam segini? Tapi maaf, kedai sudah tutup sejak sepuluh menit yang lalu."
Valerius tidak langsung menjawab. Ia menatap Savya dalam-dalam di bawah temaramnya lampu teras, lalu seulas senyum tipis yang teramat jarang ia perlihatkan perlahan muncul.
"Aku tahu, Savya," sahut Valerius, suaranya yang berat dan dalam terdengar begitu menenangkan di keheningan malam. "Aku ke sini bukan sebagai pelanggan yang terlambat. Tapi... aku ke sini untuk menagih janjimu kemarin. Secangkir kopi hitam di jam tutup kedai, ingat?"
Savya tertegun sesaat, sebelum akhirnya terkekeh pelan dan membuka pintu lebih lebar, mempersilakan pria itu masuk ke dalam kehangatan interior kedai. "Baiklah, berhubung kamu sudah banyak membantu kemarin, aturan kedai boleh dilanggar sedikit malam ini."
Valerius duduk di salah satu kursi bar, memperhatikan gerak-gerik Savya yang dengan telaten mulai meracik secangkir kopi hitam untuknya. Kedai yang sepi dan remang-remang ini mendadak terasa begitu intim, hanya menyisakan deru halus mesin espresso dan aroma pekat biji kopi yang menguar di antara mereka.
Beberapa menit kemudian, Savya menyodorkan secangkir kopi hitam hangat ke hadapan Valerius. "Ini kopi hitam pesananmu, Tuan Magang."
"Terima kasih, Owner," balas Valerius tenang. Ia menyesap kopi itu perlahan, menikmati kehangatan yang menjalar di tenggorokannya.
Namun, setelah meletakkan kembali cangkir porselen itu ke atas meja, pergerakan Valerius terhenti. Netra gelapnya bergerak lurus, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata Savya. Sebagai pria yang terbiasa meneliti detail, Valerius bisa menangkap sisa-sisa keletihan batin dan ketegangan yang berusaha disembunyikan oleh wanita di hadapannya.
Valerius memajukan sedikit tubuhnya, menopang lengannya di atas meja bar untuk mengikis jarak. "Matamu kelihatan tidak tenang, Savya. Katakan padaku... apakah sesuatu yang buruk telah terjadi hari ini?"
Savya sempat terdiam, menatap kepedulian yang begitu tulus di mata Valerius. Alih-alih menghindar, ia justru menarik napas lega dan menyandarkan kedua tangannya di meja bar, menatap balik Valerius dengan seulas senyum bangga yang menghiasi bibirnya.
"Tadi siang, seseorang dari masa laluku datang ke sini, Dia Katya," ujar Savya dengan nada suara yang terkontrol dan tenang. "Dia datang membawa kemarahan lama, berniat membuat keributan untuk menjatuhkan ku dan menghancurkan kedai ini."
Alis Valerius tampak sedikit bertaut, rahangnya mengetat mendengar hal itu. "Lalu?"
Savya terkekeh pelan, matanya berbinar mengingat aksi heroik para karyawannya. "Lalu, dia salah memilih lawan. Sebelum aku sempat bicara banyak, anak-anak kedai langsung pasang badan. Sila ketus sekali, Arka menceramahi dia dengan banyolan konyol, Farel yang biasanya kalem sampai membentaknya, dan Mika memberinya sindiran yang sangat telat sasaran. Kami semua bersatu dan berhasil memukul mundur Katya sampai dia pulang dengan wajah menahan malu."
Valerius tertegun mendengar cerita itu, namun perlahan rahangnya kembali rileks. Ia menatap Savya dengan binar mata yang melembut, menyadari bahwa wanita di hadapannya kini jauh lebih kuat dan dikelilingi oleh orang-orang yang tepat.
"Jadi, bentengmu sangat kokoh hari ini," sahut Valerius dengan suara rendah, mengapresiasi keberanian Savya dan timnya.
Savya mengangguk mantap, senyumnya melebar. "Ya, sangat kokoh. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak kenyamanan tempat ini lagi."