"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: UNDANGAN MAKAN MALAM YANG TERLAMBAT
Bab 24: Undangan Makan Malam yang Terlambat
Pagi harinya, sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengkilap berhenti tepat di depan gerbang kediaman Aruna. Tidak ada sirene, tidak ada keributan. Hanya seorang pria paruh baya dengan setelan tuksedo abu-abu yang turun dan menyerahkan sebuah amplop berwarna gading dengan stempel lilin merah bergambar burung garuda emas—lambang Adhigana Nusantara.
"Undangan makan malam untuk Ms. Aruna Mahendra dari Tuan Besar," ucap pria itu datar sebelum berlalu pergi.
Aruna menatap amplop itu di ruang tengah. Tangannya masih dibalut perban tipis akibat luka bakar di gudang, namun ia tidak merasakan perihnya. Yang ia rasakan adalah amarah yang dingin.
"Mbak Bos, saya sudah cek amplopnya pake pemindai sinar-X," Bambang muncul dari balik tumpukan monitor dengan kabel melilit lehernya. "Nggak ada bom, nggak ada racun kontak. Tapi ada chip pelacak mikro di serat kertasnya. Kakek Mbak ini bener-bener *parno* level dewa."
"Adrian, menurutmu aku harus datang?" tanya Aruna tanpa mengalihkan pandangan dari amplop itu.
Adrian yang sedang membersihkan senjatanya berhenti sejenak. "Kalau kamu tidak datang, mereka akan terus mengirimkan 'ujian' lain ke rumah ini. Datang berarti kamu siap masuk ke medan perang mereka. Tapi ingat, kali ini kamu tidak punya keunggulan kejutan. Mereka tahu siapa kamu."
"Aku akan datang," ucap Aruna tegas. "Tapi aku tidak akan datang sebagai cucu yang rindu kakeknya. Aku akan datang sebagai eksekutor yang menuntut penjelasan."
Malam harinya, Aruna tiba di sebuah gedung pencakar langit di kawasan SCBD yang seluruh puncaknya adalah penthouse pribadi. Saat pintu lift terbuka, ia disambut oleh kemewahan yang terasa mencekik. Lantai marmer hitam, pilar-pilar emas, dan pelayan yang berbaris rapi seperti robot.
Di ujung meja makan yang panjangnya hampir sepuluh meter, duduklah pria tua itu. Prabawa Adhigana. Wajahnya tampak tangguh meski sudah dimakan usia. Ia sedang memotong daging steak dengan sangat tenang.
"Duduklah, Aruna. Kau terlambat lima menit," suara Prabawa berat dan berwibawa.
Aruna menarik kursi di ujung meja yang berlawanan, menciptakan jarak yang sangat jauh di antara mereka. "Lima menit tidak ada artinya dibandingkan tiga tahun yang kau biarkan aku habiskan di klinik jiwa, Kakek."
Prabawa meletakkan pisaunya. Ia menatap Aruna dengan mata elang yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. "Tiga tahun itu adalah filter. Jika kau tidak cukup kuat untuk keluar dari sana, maka kau tidak akan cukup kuat untuk memimpin Adhigana. Kenzo juga butuh ibu yang tangguh, bukan ibu yang lembek."
"Tangguh?" Aruna tertawa getir. "Kau membiarkan Bimo menyiksaku, menculik anakku, dan hampir membunuhku hanya untuk sebuah 'filter'? Kau bukan manusia, kau monster."
"Dunia ini dipenuhi monster, Aruna. Bimo hanya monster kecil yang aku gunakan untuk melatihmu," Prabawa menyeruput anggur merahnya. "Sekarang, ujianmu yang sebenarnya dimulai. Lawan kita yang sebenarnya, kelompok Nirwana, sudah mulai bergerak karena kau menghancurkan Bimo. Mereka mengira Adhigana sedang lemah."
"Aku tidak peduli dengan perang bisnismu!" Aruna menggebrak meja.
"Kau harus peduli," sela Prabawa dingin. "Karena saat ini, Bambang dan Adrian sedang dalam bahaya. Kau pikir aku tidak tahu kau membawa peretas dan mantan tentara ke rumahmu? Di saat kau makan di sini, orang-orang Nirwana sedang menuju rumahmu untuk mengambil Kenzo."
Darah Aruna seketika membeku. Ia langsung merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, namun Prabawa hanya tersenyum tipis.
"Sinyal di sini sudah diputus, Aruna. Jangan panik. Aku hanya ingin menunjukkan padamu betapa rapuhnya keamanan yang kau bangun sendiri. Jika kau ingin Kenzo selamat, kau harus menandatangani penyerahan seluruh aset Mahendra ke dalam perlindungan Adhigana malam ini juga."
Tiba-tiba, suara Bambang terdengar dari anting-anting yang dikenakan Aruna—rupanya Bambang sudah memasang alat komunikasi rahasia.
"Mbak Bos! Jangan dengerin kakek tua itu! Dia lagi bohong! Kita di rumah aman-aman aja, malah lagi asyik makan martabak telor yang tadi pagi baru sempet dipesen. Nggak ada Nirwana-Nirwanaan, yang ada cuma kurir paket nyasar tadi!"
Aruna tertegun, lalu menatap Prabawa yang wajahnya mendadak sedikit kaku. Aruna menyeringai kemenangan.
"Sepertinya informasimu sudah basi, Kakek," Aruna berdiri, menatap Prabawa dengan angkuh. "Bambang jauh lebih pintar dari sistem keamananmu. Dan Adrian sudah memindahkan Kenzo ke lokasi yang bahkan kau tidak akan bisa menemukannya."
Aruna berjalan mendekati kakeknya, membungkuk pelan dan berbisik. "Zamanmu sudah lewat. Sekarang, aku yang memegang kendali. Dan soal 'Nirwana'? Jika mereka datang, aku akan memastikan mereka berakhir seperti Bimo. Jangan pernah coba-coba mengancamku dengan nyawa anakku lagi, atau aku akan memastikan Adhigana runtuh di tanganku sendiri."
Aruna berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan kakeknya yang terdiam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Adhigana, Prabawa merasa benar-benar terancam oleh darah dagingnya sendiri.
Di dalam lift, Aruna menghela napas lega. "Bambang, martabaknya masih ada?"
"Masih, Mbak Bos! Tapi sisa yang pinggirannya doang ya!" jawab Bambang dengan nada ceria.
Aruna tersenyum. Perang besar baru saja dimulai, tapi setidaknya ia tahu siapa yang bisa ia percayai.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bab 25: Persekutuan yang Tak Terduga.
...**Author Note:**...
...Skak mat lagi! Aruna bener-bener nggak bisa digertak. Prabawa ternyata cuma mau manfaatin ketakutan Aruna buat ambil alih aset. Tapi sekarang muncul musuh baru: NIRWANA. Siapa sebenarnya mereka?...