Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.
Di dalam ruang UKS SMA Taruna.
"Kenapa rasanya punggungku sakit sekali? Dan kenapa kepalaku terasa sangat pusing?" gumam Maura dalam hatinya, sambil mencoba merasakan kondisinya saat ini dengan mata yang terpejam.
Namun Maura merasa aneh ketika ia mencoba membuka kedua kelopak matanya. Ada hembusan nafas yang seolah membelai wajahnya. Takut dan penasaran, ia perlahan membuka matanya dan menemukan kejutan di hadapannya. Ia menemukan wajah si guru aneh, Vince, yang begitu dekat dengan wajahnya, bahkan hanya berjarak sekitar 3 cm saja. Seolah-olah ia melihat jiwanya sejauh itu.
Astaga! Apa yang sedang terjadi? Pikir Maura, panik. "Kenapa Pak Vince melihat wajah saya sembari mendekat seperti itu?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa menyadari keadaannya. Dengan reaksi yang spontan, ia mendorong tubuh Vince sekeras mungkin, mencoba menciptakan jarak yang aman antara mereka berdua.
Maura tidak bisa memahami perasaannya saat ini, antara ingin menjauh dari Pak Vince karena perasaan aneh yang dirasakannya, namun juga ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya.
Karena seingat Maura sendiri, ia tadi berjalan di koridor kelasnya.
Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran Maura, namun untuk saat ini, mungkin menjauhkan tubuhnya dari Vince adalah pilihan yang lebih bijaksana.
Karena sungguh tidak etis jika jarak dirinya dan juga Vince begitu dekat.
Brak!
Tubuh Vince terjatuh dengan keras, menciptakan suara gemuruh yang cukup keras.
"Astaga, tubuhku ini rasanya sakit sekali!" keluhnya lirih. "Padahal anak itu baru saja pingsan, kenapa tenaganya bisa sebanyak itu?" gumam Vince sembari berusaha bangkit berdiri.
"Dasar guru aneh! Berani-beraninya Anda menempelkan wajah Anda pada wajah saya!" bentak Maura dengan geram.
Deg
Jantung Vince terasa berhenti berdetak sejenak. Kala melihat Maura yang membentaknya.
Tiba-tiba, memorinya membawanya kembali ke masa SMA-nya, tepatnya 16 tahun yang lalu. Ia teringat saat Naura, wanita yang menjadi cinta pertamanya dan sulit dilupakan, marah kepadanya. Suara dan ekspresi wajah gadis yang ada di depannya sekarang begitu mirip dengan Naura di masa lalu.
"Tidak mungkin, apakah kamu itu anak Cherly?" gumam Vince dalam hatinya, kemudian ia bergumam lagi, "Atau, apakah kamu itu titisan Naura?"
Vince mulai merasa bingung dan ingin mencari jawaban. Namun, ia tahu belum ada informasi yang cukup untuk membuktikan hal itu, karena berkas berkas yang dia butuhkan untuk melengkapi masuk sekolah anak tersebut belum sepenuhnya diserahkan oleh Cherly, ibu angkatnya.
Melihat guru di hadapannya hanya diam mematung, perasaan kesal Maura semakin meningkat.
"Dasar guru aneh!" umpatnya dalam hati. Dengan tekad yang kuat, Maura berusaha memaksa tubuhnya untuk bangkit dan berdiri. Ia ingin segera meninggalkan Unit Kesehatan Sekolah untuk segera kembali belajar dan tidak melewatkan pelajaran sedikit pun.
"Aku tak bisa membiarkan diriku tertinggal hanya karena ini," batinnya.
Maura tahu MOS di SMA Taruna hanya diadakan di hari pertama sekolah saja dan hari ini sudah berjalan seperti biasa. Namun, begitu berdiri, ia merasa luka cambuk di sepanjang punggungnya menempel pada seragamnya. Rasa sakit menyiksa membuatnya meringis.
"Astaga, kenapa ini rasanya begitu sakit?" gumamnya lirih, penuh kesakitan. Dengan hati-hati, ia mencoba menarik bagian seragam belakangnya yang menempel di luka cambuk yang ada di punggung nya, berusaha agar tidak menambah rasa sakit yang sudah ada.
Sementara itu, Vince yang menyadari keadaan Maura, tidak tega melihatnya kesakitan. Sebagai guru, ia memiliki rasa empati terhadap muridnya, meskipun murid tersebut bersikap galak kepadanya.
Walaupun dalam hatinya terdapat rasa takut, Vince memberanikan diri untuk mendekat ke Maura. Hatinya berkata, "Ini bukan saatnya memikirkan perasaan tersinggung, aku harus membantu Maura menghadapi kesulitannya." Walau terasa berat, Vince sadar bahwa sebagai seorang guru, ia harus mampu menghadapi berbagai situasi, termasuk saat-saat seperti ini.
Dan ada alasan lain yang membuat Vince tetap mau mendekat ke arah muridnya. Yaitu ntah kenapa hatinya merasa jika Maura adalah Naura, ia merasakan sebuah rasa nyaman saat dekat dengan gadis yang baru berumur 15 tahun itu. Sebuah perasaaan yang sama seperti dulu, saat dirinya itu dekat dengan Naura.
"Kenapa? Apa yang sakit?" tanya Vince dengan wajah bingung dan panik.
"Punggung saya Pak! Punggung saya sangatlah sakit!" Naura nampak berteriak dengan suara parau.
Bahkan air mata terlihat luruh dari ke dua pelupuk matanya, Vince benar benar bingung. Tidak mungkin juga ia itu membuka seragam milik muridnya.
"Terus saya harus apa?" beo Vince dengan wajah bingung.
"Ya Bapak panggil perawat UKS lah! Gitu saja kok bingung! Saya udah kesakitan nih! Masak kelakuan konyol seperti ini, anda bisa sih jadi seorang guru!" gerutu Maura dengan wajah kesal, walaupun sambil menahan sakit.
"Astaga nih bocah, kesakitan saja kok belagu! Kalau gitu saya gak mau bantu! Lebih baik saya itu pergi dari sini saja, membiarkan mu yang kesakitan!" ujar Vince kesal.
Maura memasang wajah kesal, kala mendengar umpatan yang baru saja keluar dari bibir gurunya itu.
"Ya udah pergi aja silahkan!" Maura benar benar terlihat sombong, walaupun air mata terus luruh dari ke dua pelupuk matanya.
Vince hanya bisa menghembuskan nafas kasar.
"Hadeh, kenapa keras kepala anak ini begitu mirip dengan Naura?" gumam Vince dalam hatinya. Lalu tiba tiba ia tersadar.
"Astaga, Naura Naura Naura terus yang ada di otakku. Kenapa aku terus memikirkan nya? Udahlah Vince, udah 16 tahun berlalu. Harusnya kamu itu sudah bisa melupakannya!"
Vince terlihat keluar meninggalkan ruang UKS itu.
Maura sendiri menatap guru itu dengan tatapan sedih.
"Hiks hiks, ternyata benar tidak ada yang peduli dengan ku!" Naura nampak terisak. Ia pun memilih untuk bersiap siap meninggalkan UKS dan tidak peduli lagi perihal rasa sakit yang sekarang ini menghampiri punggungnya.
Sementara Vince terus berjalan di koridor kelas, paras tampannya membuat para murid perempuan yang lalu lalang dan melewatinya tampak memasang wajah kagum.
"Uh, Pak Vince tampannya," ujar salah satu murid perempuan yang berpapasan dengan guru di SMA Taruna itu.
Namun, di balik ketampanannya itu, Vince yang berumur 32 tahun merasa kesal dan murung. Bukan kebahagiaan yang ia rasakan saat dipuji tampan, melainkan kesedihan karena di usia ini ia masih belum menemukan pasangan hidup.
"Apakah takdirku memang untuk terus hidup sendiri?" gumam Vince dalam hati. Terlebih lagi, menghapus bayang-bayang Naura, cinta lamanya, dari pikirannya terasa sangat sulit bahkan bagi seorang guru berpengalaman seperti Vince.
"Kenapa harus Naura yang menghiasi benakku, padahal sudah lama berlalu? Apakah memang tidak ada penggantinya?" bisik hatinya, mencari-cari jawaban yang tak kunjung datang.
Vince teringat, saat kuliah pun ia juga tidak pernah menjalin kasih dengan wanita mana pun. Di otak dan juga di hatinya hanya terngiang ngiang wajah cantik Naura saja.
Bahkan sekarang Naura masih ada di pikirannya.
Saat akan masuk ke dalam ruang kepala sekolah untuk menemui Daniel, Vince nampak menghembuskan nafas kasar.
Setelah sejenak berpikir, ia pun terlihat membalikkan badannya dan pergi ke arah kantin, dimana sang perawat yang berjaga di UKS tadi ijin untuk makan di sana.
"Ntah kenapa aku tidak bisa untuk tidak memperdulikan gadis kecil yang galak itu?"