Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Urusan anak-anak yang ember Kara tangani dengan cara bersih, aman, dan tanpa kekerasan. Tidak keterlaluan, hanya mengatur waktu agar hukuman mereka dikerjakan orang-orang itu.
Narisa yang terima beres bahkan tidak mau tahu lagi. Bukan karena tidak peduli, tapi karena PTS sudah di depan mata. Meski suka bolos, Narisa dan Kara tetap serius tiap kali musim ujian datang.
Malam itu keduanya makan seadanya di meja dapur. Nugget gosong sedikit, telur dadar miring, dan mie înstan yang kuahnya terlalu banyak karena Narisa salah takaran. Kara menatap mangkuknya lama.
"Ini mie apa bubur?"
"Kalau gak mau makan, sini gw abisin."
"Najis. Rakus."
Narisa menjulurkan lidah sebelum lanjut makan santai. Beberapa menit kemudian dia tiba-tiba bicara.
"Gimana kalau selama ujian kita tinggal di rumah masing-masing aja?"
Kara yang sedang minum langsung melirik.
"Oh, kalau di sini gak ada yang ngajarin lo belajar ya?"
Narisa mendecih. "Ya bukan gitu juga. Hidup mandiri gak cocok buat orang yang pengen fokus belajar."
"Mandiri mananya? Lo masak aja kalau lagi mood."
"Gw sibuk."
"Sibuk rebahan? Lagian kayak lo bakal belajar aja."
"Seenggaknya niat." Narisa mendelik. "Lo tinggal jawab aja ngapa harus ngehina gw dulu?"
"Alasan lo bikin merinding."
Narisa menghela napas malas.
"Maksud gw, kalau di rumah kan tinggal makan. Gak usah mikirin nyapu, nyuci piring, masak-"
"Oke,"
Narisa langsung berhenti. "Lah, langsung oke?"
"Ya emang masuk akal,"
"Kalo gitu tadi gak usah ngajak debat, bego,"
Narisa menyipit curiga. "Duit lo juga udah seret kan?"
Kara langsung menunjuk wajah sendiri.
"Muka gw semiskin itu?"
"Iya."
"Anjir."
Narisa terkekeh puas.
"Tadi gw minta duit ke nyokap," kata Kara akhirnya.
"Dikasih?"
Kara langsung menirukan suara Eka dengan wajah datar.
"Lo udah punya bini. Nafkahin, goblok. Bukan malah minta ke gw."
Narisa langsung ngakak sampai hampir tersedak.
"Tapi akhirnya dikasih juga?"
"Dua ratus,"
"WkWkWk. Sedekah banget."
"Ya lumayan daripada nol."
"Nasib amat ya." Narisa bangkit hendak membuat minuman, "Lo mau minum apaan?"
Kara mengernyit kecil. Tumben nawarin, batinnya.
"Kopi."
Narisa membuka lemari sebentar, lalu menutupnya lagi.
"Kopi abis."
"Kenapa gak bilang? Kan bisa beli."
"Dih, yang minum kopi lo doang, peak."
Kara mendecih pelan, "Yaudah teh."
Narisa membuka kulkas. "Pake susu gak?"
Kara refleks melirik ke arah dada Narisa.
Narisa ikut menunduk. Lalu-
Plak!
Lap tangan langsung mendarat di kepala Kara.
"Lo ada masalah apa sih sama tete gw?!"
Kara langsung ketawa sambil nutup kepala.
"Refleks, anjir!"
"Refleks pala lo."
Narisa masih ngomel sambil menuang minum, sementara Kara memperhatikan dari kursinya sambil nyengir kecil.
Rumah itu memang masih sering berisik. Tapi entah sejak kapan, rasanya mulai nyaman.
**
*
PTS akhirnya datang juga. Minggu paling membosankan dalam hidup para murid.
Sekolah mendadak berubah jadi tempat sunyi penuh muka kurang tidur, meja penuh coretan rumus, dan manusia-manusia yang baru ingat cara belajar semalam sebelum ujian.
Narisa dan Kara nyaris tidak punya interaksi selama seminggu itu. Bukan karena berantem. Justru karena terlalu sibuk.
Narisa tinggal lagi di rumah orang tuanya selama masa ujian. Kara pun sama. Tidak ada drama rebutan kamar mandi, tidak ada omelan soal baju kotor, tidak ada suara mereka saling bacot dari pagi sampai malam.
Sapaan tiap bertemu paling cuma sesimpel ini:
Pagi itu Narisa dan Kara kebetulan naik tangga bersama ke lantai tiga.
"Woy, santen. Gimana ujian?" sapa Narisa sambil menepuk pundak Kara.
Dia menoleh datar. "Lancarnya keterlaluan."
Narisa langsung terkekeh.
"Gaya banget. Muka lo aja udah kayak orang stress."
"Mata lo siwer."
"Udah ah, minggir. Orang pinter mau lewat."
"Najis amat."
Ya, paling cuma begitu.
Tiap jam istirahat, Kara dan Harum selalu ke taman belakang buat mengulang pelajaran sambil makan seadanya. Dan di saat-saat seperti itu pula Cantika selalu muncul membawa bekal dan kalimat penyemangat.
Seperti hari ini.
"Kak, rajin amat," katanya sambil menyodorkan kotak makan. "Nih."
Kara bahkan belum sempat menolak, arum sudah lebih dulu mengambil.
"Wah, rezeki."
"Kak Harum semangat banget."
"Di rumah gw sarapannya kadang cuma emosi bapak."
Kara menoleh. "Gw aduin si kentos lo ngomong gitu."
"Lah, emang iya. Kentos kalo sehari gak melotot bisa hancur moodnya."
"Kentos siapa sih, kak?" tanya Cantika penasaran.
"Bapak gw. Santoso."
"Astaga, " Cantika terkekeh kecil lalu duduk di sebelah Kara.
"Kan udah dibilang gak usah repot-repot bikinin beginian," kata Kara.
"Gak apa-apa kok. Aku seneng."
"Mending waktunya dipake belajar."
"Aku tetap belajar, kak."
Harum membuka kotaknya dengan semangat.
"Wuih. Hari ini apa nih?"
"Roti isi."
"Bikin sendiri?"
Cantika mengangguk. "Aku emang suka masak."
Kara yang sedang baca buku malah bergumam tanpa sadar.
"Hobi masak... Si Bonar tiap masak mukanya malah kayak orang tersiksa,"
Cantika langsung menoleh. "Siapa kak?"
Padahal dia dengar.
Kara menggeleng. "Bukan siapa-siapa."
"Dia nyebut Bonar," Harum memperjelas entah sengaja atau memang mulutnya lagi gatal.
Cantika terdiam sebentar. Di sekolah ini siapa yang tidak tahu nama ejekan itu? Nama yang cuma Kara yang berani pakai buat Narisa.
"Maksudnya kak Risa?" tanyanya pelan, "Emang dia pernah masakin kakak?"
Kara cuma mengangkat bahu malas, jelas tidak berniat menjawab. Sikap itu malah bikin Cantika makin penasaran,
"Belakangan kak Ara sama kak Risa makin akrab ya." katanya sambil tersenyum kecil. "Tiap dihukum bareng terus"
"Lah, gw juga ikut kali," timpal Harum.
"Iya sih.." Cantika terkekeh kecil. "Cuma sekarang udah gak pernah ribut kayak dulu lagi."
Kara langsung mengernyit.
" Siapa bilang? Kemarin dia lempar buku ke kepala aku."
"Tapi si Narisa pernah nungguin lo sampe kelar basket." Harum sengaja memancing.
Cantika langsung teringat sesuatu. Dia memang pernah lihat Narisa duduk sendirian di tribun basket sambil main ponsel sampai latihan selesai.
"Rumah kalian deketan ya, kak?" tanyanya hati-hati.
"Udah ah," Kara membuka bukunya lagi. "Ngapain jadi ngomongin Bonar."
Harum cekikikan kecil sambil melirik Cantika diam-diam.
Di sana ada senyum yang mulai kaku. Cantika merasa ada sesuatu yang berubah antara Kara dan Narisa. Sesuatu yang bahkan mungkin belum disadari dua orang itu sendiri.
**
*
PTS akhirnya selesai. Sore di hari Sabtu, Narisa sudah lebih dulu sampai di rumah mereka. Nuri yang mengantar ikut masuk sambil celingukan ke segala arah. Sementara Taslim berjalan ke dapur membawa dua kantong belanjaan,
"Ya ampun." gumam Nuri sambil memperhatikan ruang tengah. "Mama kira seminggu ditinggal bakal lebih bersih."
Narisa meletakkan tasnya sembarangan di sofa.
"Rumahnya kosong, ma. Emang sapunya bisa jalan sendiri?"
"Kali aja dibersihin penunggu rumah."
"Mama!"
Narisa langsung menoleh shock, sementara Nuri malah tertawa puas.
"Pokoknya mama sama papa temenin aku sampe si santen datang."
Nuri pura-pura menghela napas berat. "Abis masakin kamu mama mau pulang."
"Kok gitu?"
"Mama masih harus masakin papa."
"Yaudah makan di sini aja sekalian."
Nuri melirik Taslim yang sudah duduk santai di depan televisi dengan wajah pasrah. Kalau istri dan anaknya mulai berdebat receh begini, biasanya dia memilih menyerah pada nasib.
Narisa langsung pindah target.
"Papa nunggu sampe santen dateng kan?"
"Iya," jawab Taslim singkat. "Kalian masak aja. Papa nanti mau rapihin halaman."
Nuri langsung sibuk membongkar belanjaan dan memasang apron. Narisa ikut membantu, meski lebih sering mencicipi bahan masakan daripada benar-benar kerja.
-
Jam delapan malam Kara akhirnya datang. Dia turun dari mobil sambil meregangkan bahu pegal. Baru juga buka pintu rumah, Narisa sudah muncul mendadak di depannya.
Kara refleks mundur setengah langkah.
"Anjir. Lo kenapa hobi ngagetin orang sih?"
Narisa malah mendelik galak.
"Ini jam berapa? Lo kerja rodi dulu apa gimana?"
"Lah, gw udah bilang tadi pergi sama bokap."
"Sampe malam?"
"Main dulu sama Harum."
"Tuh kaaan..."
"Eh, eh." Nuri ikut menyusul. "Risa, jangan ngomel mulu. kamu itu galaknya nurun siapa sih?"
Taslim yang mendengar cuma bisa menghela napas panjang dari sofa. Jawabannya terlalu jelas. Dia akhirnya bangkit menghampiri mereka.
"Kara udah pulang. Jadi kami juga balik ya."
Narisa langsung menoleh cepat. "Gak nginep aja, pa?"
"Ngelunjak," semprot Nuri spontan. "Lagian tidur di mana?"
"Kan bisa bertiga di kamar aku."
"Kamu tidur di kolong kasur?"
Narisa langsung cemberut.
Aneh memang. Baru seminggu balik ke rumah orang tuanya, tapi sekarang dia malah malas rumah itu kembali sepi.
"Nginep dong," rengeknya sambil menarik lengan Nuri pelan. "Besok papa juga libur."
Nuri menghela napas panjang, lalu melirik Taslim. Suaminya hanya mengangkat bahu kecil. Mereka memang lemah kalau sudah urusan anak tunggal.
Padahal Bramantyo sudah berkali-kali mengingatkan soal aturan tinggal terpisah. Minggu ujian saja mereka sempat ditegur karena membiarkan anak-anak pulang ke rumah masing-masing.
"Yaudah," kata Nuri akhirnya kalah. "Satu malam aja."
"Yeee!" Narisa langsung tersenyum lebar penuh kemenangan.
Sementara Kara hanya memutar mata sebelum membawa tasnya masuk ke kamar.
-
Malam itu rumah mereka mendadak hidup. Narisa dan Kara keluar membeli martabak, lalu pulang membawa tambahan camilan yang jumlahnya lebih cocok buat buka stand minimarket daripada ngemil berempat.
Semua gara-gara Narisa.
"Yang rasa coklat kacang juga."
"Keripik pedes sekalian."
"Eh, beli es krim,"
"Lo abis dikasih duit?" tanya Kara heran sambil melirik.
"Iya dong." Narisa menjawab enteng. "Tapi lo tetep
harus bayarin setengahnya."
"Najis."
Akhirnya tetap dibeli. Untungnya Kara juga sempat diberi uang oleh Irwan.
Mereka menghabiskan malam di depan televisi sambil makan dan ngobrol ngalor-ngidul. Sesekali Nuri dan Taslim menertawakan pertengkaran receh Narisa - Kara yang tidak ada habisnya. Dan selama tinggal di rumah itu, baru kali ini suasananya terasa benar-benar ramai.
Masalah baru muncul menjelang tidur.
Narisa baru selesai dari kamar mandi, lalu terdiam mendadak. Di atas kasur, Nuri dan Taslim sudah berbaring nyaman mengambil hampir seluruh tempat tidur.
"Ma, geser dikit," protes Narisa sambil mendorong pelan kaki mamanya. "Kalau segini aku bisa jatoh."
Nuri membuka mata sebentar.
"Kamu tidur di kamar Kara aja."
"Lah, kok gitu?"
"Mama bilang apa tadi? Resiko nyuruh nginep."
"Males tidur di kamar dia."
Kesabaran Nuri mulai menipis karena kantuk.
"Emang kenapa sih? Sama- sama perempuan ini. Atau mama aja yang tidur sama dia?"
Narisa langsung membelalak. Mana enak kalau mamanya sampai tidur sekamar sama Kara.
Dengan wajah manyun setengah mati, akhirnya dia menyeret langkah keluar kamar.
Ceklek.
Narisa membuka kamar Kara tanpa mengetuk.
"Santen,"
Kara yang sudah rebahan langsung menoleh. Lampu kamar bahkan sudah dimatikan sejak tadi. Dia mengernyit saat Narisa masuk begitu saja lalu membuka selimut seenaknya.
"Lo mau ngapain?" tanyanya heran, meski tubuhnya tetap bergeser memberi tempat.
"Kasur gw gak muat. Di sana ada dua raksasa."
"Raksasa pala lo," Kara mendecih pelan. "Lo yang maksa mereka nginep, terus gw yang jadi korban."
"Buset." Narisa melotot. "Lebay banget timbang tidur doang. Jangan sampe gw aduin ya."
"Aduin apa? Gw gak ngusir lo kan?"
Narisa langsung menyipit tajam.
"Aduin soal lo cium gw. Dasar bibir murahan."
Kara mendelik tidak percaya.
"Mulut lo emang bikin orang greget dah. Lagian itu cuma nempel bentar. Gak ada rasanya."
"Nempel jigong lo busuk. Tetep aja bibir lo gak pada tempatnya, "
"Jadi tempatnya di mana?"
"Di..." Narisa mendadak mikir serius.
Kara memperhatikan wajahnya yang benar-benar sibuk mencari jawaban. Sampai akhirnya, saat Narisa masih bengong sendiri, Kara tiba-tiba mendekat.
Cup.
Bibirnya menempel cepat di telinga Narisa.
"WOY!"
Narisa langsung bergeser menjauh sambil menutup telinga.
Kara malah nyengir bajingan, "Di situ juga salah?"
"YA SALAH LAH!" Narisa mengsap telinganya kasar. "Geli banget, anjir!"
Lucunya, semakin Narisa heboh, muka Kara malah makin puas.
"Kenapa demen banget nyosor sih?" omel Narisa sambil melotot.
Kara rebahan santai lagi. "Bini model apaan kayak gini? Jual mahal amat"
Narisa mendelik. "Dih. Napsu lo?"
"Hm," Kara melirik sekilas. "Gw kan belok,"
Hening dua detik. Lalu Narisa malah berubah penasaran.
"Eh, serius nanya."
"Kaget gw kalo lo tiba-tiba serius."
"Beneran, peak. Kalo sama-sama cewek tuh gimana sih mainnya?"
Kara langsung menoleh cepat. "Lah?"
"Ya penasaran aja. Kan gak ada yang buat dimasukin."
Kara sampai ketawa pendek karena pertanyaannya terlalu polos.
"Mau gw praktekin? Biar otak lo gak lemot amat."
"Anjir," Narisa malah ngakak.
Kara geleng-geleng sendiri. Mood anak ini memang aneh. Barusan teriak-teriak, sekarang ketawa.
Akhirnya Kara memiringkan badan. Tangannya bergerak santai menarik pinggang Narisa mendekat. Dan ternyata...
"YAKK!"
Narisa langsung melenting sambil ketawa geli. Kara sampai kaget.
"Apaan sih? Baru pinggang doang."
"Gw geli, goblok!" Narisa menepis tangannya brutal.
"Jangan pegang di situ!"
Kara sengaja nyolek lagi sedikit. Narisa langsung menggeliat sambil nahan suara.
"WOI! Stop!"
Semakin panik Narisa, semakin keliatan Kara sengaja cari perkara.
Tok. Tok. Tok.
Keduanya langsung diam.
"Risa? Kara? Kalian ngapain sih?"
Suara Nuri terdengar dari balik pintu. Narisa buru-buru bangun lalu membuka pintu sedikit.
"Maap, ma. Berisik ya?"
"Kamu teriak tengah malam," omel Nuri sambil menyipit curiga. "Ngapain sih?"
"Ya... ngobrol."
"Ngobrol apaan pake jerit-jerit?"
Di belakang sana, Kara sudah pura-pura rebahan normal dengan muka paling tidak berdosa sedunia.
"Maap, Tan," katanya santai. "Risa lebay orangnya."
"Lo jangan fitnah gw!"
"Jangan teriak!" sembur Nuri.
Narisa langsung mingkem. Nuri memijat pelipis sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Udah tidur. Besok aja ributnya."
"Iya, ma."
Setelah pintu ditutup lagi, Narisa langsung putar badan ke arah Kara.
"Gara-gara lo."
"Lah, yang teriak kan lo sendiri."
"Lo sengaja bikin gw geli."
Narisa melempar bantal ke muka Kara, tapi ditangkap santai.
"Pokoknya jangan pegang pinggang gw lagi."
Kara mengangguk pura-pura paham, "Oke."
Dua detik hening. Lalu jemarinya malah nyolek leher Narisa pelan. Narisa langsung membekap mulut sendiri sambil menggeliat nahan suara.
" Santen anjing."
Kara ngakak pelan. " Dih, kasar. Durhaka lo."
"Dibilangin jangan!" bisik Narisa emosi. "Ntar gw kelepasan lagi."
"Gw kan penasaran,"
"Bodo."
Narisa akhirnya mendorong bahu kara sebelum mendekat dan memeluknya erat, mungkin supaya tangan manusia satu itu tidak keluyuran lagi.
"Coba lo diem aja dari tadi, pasti gw udah tidur."
Kara melirik tangan Narisa yang melingkar di badannya.
"Ini tidurnya mau begini?"
"Biar lo gak iseng lagi."
Narisa langsung memejamkan mata. Anehnya.. nyaman. Badan Kara hangat, parfumnya samar masih kecium, dan entah kenapa dia tidak merasa risih sedekat ini.
Sementara Kara..
Dia sendiri sudah memikirkan cara aman buat melepaskan diri tanpa ngajak Narisa debat lagi. Masalahnya, tiap dia geser sedikit, Narisa malah makin nempel sambil meluk seenaknya.
Kara menatap langit-langit kamar lama. Tangannya akhirnya diam di tempat. Bukan karena alim. Dia cuma lagi berusaha bedain mana Narisa, mana godaan.
.