Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Bima dan Kenanga keluar dari ruang persidangan dengan wajah sama-sama kesal. Kenanga kesal karena Bima masih saja berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya. Padahal sudah jelas pria itu sudah berkhianat padanya. Mereka juga seting bertemu dibelakangnya.
Sementara itu, Bima kesal karena Kenanga begitu teguh pada pendiriannya untuk bercerai dengan dirinya. Kalau sudah seperti ini dia tidak akan bisa membujuk istrinya itu. Namun, Bima tidak akan menyerah. Dia akan berusaha untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Bima juga tidak akan membiarkan perusahaan yang saat ini dia pimpin hancur begitu saja karena cerobohannya.
"Kenanga, tunggu aku ingin bicara sesuatu denganmu," ujar Bima saat Kenanga ingin pergi meninggalkan tempat persidangan.
"Bicara apa lagi, Mas? Sudah tidak ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Untuk kali ini saja, hanya sebentar. Aku tidak akan menyulitkanmu, tenang saja."
Kenanga pun terpaksa mengikuti Bima. Dia meminta pengacara untuk pulang terlebih dahulu, dirinya nanti akan pulang sendiri. Kalau nanti ada sesuatu Kenanga akan menghubunginya lagi.
Bima mengajak Kenanga untuk duduk di kafe yang berada di sebelah pengadilan. Tempatnya masih begitu sepi karena saat ini belum terlalu siang juga, hanya ada anak-anak muda yang mungkin masih kuliah, jadi Bima tidak perlu khawatir jika akan ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Ada apa, Mas? Katanya mau bicara, langsung saja katakan aku tidak ingin basa-basi aku akan menyetujui perceraian ini, tapi ada syaratnya."
Kenanga mengerutkan keningnya ke arah sang suami. Sebenarnya dia sangat malas berbicara seperti ini dengan calon mantan suaminya. Lagipula tanpa bernegosiasi dengan Bima pun dirinya sangat yakin jika perceraian ini pasti akan terjadi meskipun jalannya akan sulit. Apalagi mengingat bukti-bukti yang sudah dikumpulkan sangat bisa dibuktikan kebenarannya.
Bima juga tidak akan bisa menyanggah, sudah pasti hakim akan mengabulkan keinginannya, tapi Kenanga juga penasaran apa yang sebenarnya diinginkan oleh calon mantan suaminya itu.
"Syarat? Syarat apa, Mas?" tanya Kenanga yang berpura-pura penasaran.
"Aku akan menyetujui perceraian ini asalkan kamu mengatakan pada papamu untuk melupakan perjanjian yang pernah kami buat. Jangan lupa juga bujuk papamu agar mau membantu dana untuk perusahaanku."
Kenanga tertawa sumbang, dia tidak terlalu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Bima. Hari ini dia sudah banyak mengetahui sifat Bima sebenarnya. Meskipun sejak dulu memang dirinya tahu, hanya saja dia yang berusaha tutup mata dan percaya jika Bima orang baik. Anggap saja saat itu sedang khilaf saja. Sekarang tatapannya berbeda karena memang inilah wajah asli dari sang suami yang bener-bener dia lihat dengan kesadaran penuh.
"Sudah selesai bicaranya, Mas? Kalau sudah selesai, aku pulang dulu," ucap Kenanga dengan santai tanpa menanggapi perkataan Bima.
"Kenanga, kamu mengerti 'kan apa yang aku katakan tadi?"
"Mas, asal kamu tahu, tanpa negosiasi dengan kamu pun aku sudah pasti bisa memenangkan perceraian ini. Pasti hakim juga akan mendukungku dengan bukti-bukti yang aku miliki. Kamu juga berhenti memanfaatkan keluargaku terus-menerus. Sudah cukup selama ini papa membantu dan sudah seharusnya menjadi hak papa untuk memiliki dua puluh persen saham di perusahaanmu itu. Anggap saja Papa mengambil kembali uang yang pernah dia berikan."
"Tapi saham itu tidak sebanding dengan uang yang papamu berikan," sahut Bima dengan geram.
"Oh ya! Bagaimana kalau kita hitung dengan seksama, apakah benar apa yang kamu katakan tadi? Uang yang selama ini papa kirimkan padamu jumlahnya sangat besar, sedangkan perusahaanmu itu hanya perusahaan kecil, bagaimana bisa pemberian papa selama ini dianggap kecil olehmu? Sudahlah, Mas. Jangan banyak berulah. Jika tidak, maka kamu akan kehilangan lebih banyak lagi. Lebih baik menerima apa yang terjadi saat ini. Aku juga berharap ke depannya kamu tidak lagi mempermainkan hatimu. Mudah-mudahan saja cintamu pada mantan istrimu itu benar-benar kuat agar nanti tidak akan ada wanita yang akan tersakiti oleh sikapmu lagi."
"Kamu berbicara seolah semua ini salahku. Tidaklah kamu berpikir jika kamu juga turut andil atas apa yang terjadi saat ini?"
"Aku? Kenapa denganku?"
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu