NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:562
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^33

"Jangan jadikan alasan, hanya karena dia yang memintamu." ucapnya yang diam menatap lawan bicaranya, tanpa melepas cekalan itu. Ataupun sudut bibir yang tersungging sedikit saja.

"Seharusnya kau menolak perintah darinya. Karena tugas itu bukan hanya untukmu seorang." Imbuhnya, sekilas menaikkan kedua alisnya yang tidak begitu tebal itu.

Tidak langsung memberi tanggapan, gadis itu dengan pelan menyentak tangannya agar terlepas dari cekalan teman satu kelasnya. "Jika kalian melakukannya, itu sama saja kalian membuang waktu belajar kalian. Toh, kalian juga tidak punya__"

"Kau menggunakannya untuk membalas." Cepat Yuna yang memotong perkataan dari Anna.

"Apa?" Pelan Anna yang sangat spontan.

Tersenyum kecil penuh arti, Yuna kembali melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku akan menemui guru seni, dan mengatakan yang sebenarnya. jika diriku tidak ikut adil dalam tugas itu."

"Kau yakin?" Bukannya ragu, Anna hanya tidak ingin itu merugikan dirinya.

"Kau pernah melihat ku bermain-main dengan perkataan ku sendiri?"

Kepala Anna menggeleng pelan. Memang, Anna tidak pernah sekalipun meliha Yuna menelan perkataannya sendiri. Gadis satu itu sangatlah berbeda. Sekali bilang tidak, tetaplah tidak. Tanpa peduli jika penolakan itu menimbulkan luka batin.

"Jadi kau tidak perlu khawatir, nilai mu juga tidak akan hancur semudah itu. Karena aku bisa menjamin itu." Timpal Yuna yang kini melangkah pergi dari hadapan Anna, untuk kembali ke dalam ruang bimbingan belajar tambahan. Tetapi, suara Anna menghentikan kaki jenjang milik Yuna.

"Kau tidak perlu mengatakannya pada guru seni. Biarlah nilainya seperti itu. Aku melakukannya, karena aku tahu jika kalian sangat sibuk belajar." Diam menelan ludahnya lebih dulu. Pandangan Anna sebentar melihat ke arah sepatu yang melekat pada kedua kakinya itu. Sepatu putih yang terlihat sedikit lusuh.

Kembali melihat di mana Yuna berdiri yang telah membalikkan tubuhnya untuk berdiri berhadapan dengan Anna. Walau jarak di antara mereka itu ada. "Setelah pulang dari sekolah kalian harus ikut bimbingan belajar, dan malam kalian baru pulang dari tempat ini. Jadi aku membuat tugas itu bukan semata karena ingin mencari muka." Sambung Anna, kini menganguk kecil.

"Jika sampai kau memakan perkataan mu sendiri. Apa jaminannya, agar aku dapat menuntutmu?" Begitu rendah, Yuna mengatakannya. Tapi sangat terdengar jelas di pendengaran Anna.

"Aku akan melakukan apa yang kau mau." Tanpa berpikir panjang, Anna melontarkan satu kalimat yang langsung disetujui oleh Yuna.

"Oke, aku pegang perkataanmu." Senyum kecil begitu tulus terlukis di wajah Yuna.

Anna menganggukkan kepalanya, yang terlintas satu hal. Tudak begitu menarik. Apa Anna harus menanyakannya pada Yuna? Tapi, apa Yuna akan mendengarnya? Karena orang sepertinya sangatlah tidak pantas memberi saran.

Dan diamnya Anna pun dapat membuat kening Yuna mengerut samar dengan raut wajah yang kembali seperti semula. "Kau sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Apa yang ingi kau katakan?"

"Bukan apa-apa." Tidak begitu cepat, Anna membalas.

"Katakan, aku tidak ingin penasaran ku bertambah lebih besar." Pinta Yuna dengan cara paksa. Karena Yuna tidak suka orang yang menunda perkataannya karena merasa tidak enak.

"Bisakah kau tidak mengikuti apa yang Austyn inginkan? Karena gadis itu terlihat aneh belakangan ini." Sangat ragu, Anna membuka suaranya kembali.

Merasa gelisah, karena Yuna tak kunjung memberinya balasan. Dan Anna juga tidak mendapati senyum sekecil pun yang menghiasi wajah cantik milik Yuna. Kecuali, kerutan di kening Yuna semakin terlihat jelas di mata Anna.

"Bukankah Austyn memang aneh orangnya?" Merubah posisi tangannya, yang kini berkacak pinggang.

"Dia akan menjadi baik dan jahat di waktu yang sama. Dia akan tersenyum seperti orang gila dan berwajah muram di saat suasana hatinya buruk. Apa kau baru menyadarinya?" Tambah Yuna yang malah tidak mengerti dengan Anna.

"Bukan itu yang ku maksud."

"Seharusnya kau memanfaatkannya dengan baik, di saat Austyn ingin mengalahkan ku. Bukankah ini kesempatan mu juga untuk menyingkirkan ku?" Timpal Yuna. Menutup rapat mulut Anna.

Tanpa menunggu tanggapan dari Anna, Yuna memutar tumit dan melangkah pergi dari hadapan Anna dengan kedua tangan yang tidak lagi berada di pinggang.

Bersikap cuek dan tidak peduli, bukan berarti Yuna tidak terpengaruh dengan sikap janggal Austyn maupun perkataan ambigu dari Anna.

Yuna bertingkah seperti itu, karena Yuna tidak ingin siapapun melihat jika dirinya itu benar-benar lemah. Yuna hanya ingin mempertahankan posisinya, apapun itu caranya.

Dan Yuna pun sangat yakin, jika Austyn tidak pernah bisa menyingkirkan namanya begitu saja. Kecuali, gadis itu mencuri lembar ujiannya. Tapi Yuna sangat yakin, jika Austyn tidak akan melakukan hal seperti itu. Walaupun Austyn gadis yang begitu nekat.

...ʚɞ...

Waktu yang di nanti para murid penerima jam tambahan, kini telah membubarkan mereka dari dalam ruangan yang telah disediakan. Jika pun hanya ada 20 murid pilihan di sana. Tapi entah kenapa terlihat ramai, walau tidak seramai waktu sore hari saat pulang sekolah.

Berjalan sendiri di atas trotoar, dengan isi kepala yang terus saja beradu dengan benaknya. Yuna berusaha membuang rasa curiganya terhadap Austyn. Karena gadis itu terus saja menggerakkan bibirnya tanpa suara. Seperti tengah menghafalkan sesuatu.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Aldi yang entah datang dari mana, kini berjalan beriringan dengan Yuna.

Sekilas melihat Aldi, sebelum bertanya. Pandangannya kembali mengarah pada punggung gadis di depan sana. "Apa yang dia hafalkan?"

Tidak langsung mengerti, kening Aldi mengernyit. Perlahan mengikuti arah pandang Yuna yang menatap lurus, di mana Austyn yang berjalan sendiri. "Aku tidak tahu apa yang dia hafalkan. Yang jelas, dia ingin mengalahkan mu."

"Tidak bisakah kau mengalah dengannya sekali saja? Agar dia__" bukannya Aldi tidak ingin menuntaskan kalimat yang keluar dari mulutnya. Hanya saja Yuna begitu cekatan memotong perkataannya, yang ampuh membuat bibir Aldi terkatup rapat.

"Jika aku melakukannya, aku akan memberikan kemenangan itu seutuhnya pada Austyn. Karena sekali mengalah akan tetap terus mengalah. Dan aku tidak ingin mendapat kekalahan itu. Kemenangan harus kumiliki." Cetus Yuna. Tersenyum kecil penuh arti.

"Walaupun hal itu tidak akan mempengaruhi masa depanku," diam sejenak, menoleh ke samping untuk melihat wajah lelah milik Aldi. "Aku tidak akan pernah rela jika posisiku direbut oleh orang lain. Apalagi, cara yang di gunakan itu sangat kotor sekali."

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!