Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 — Orang yang Selalu Bilang Tidak Apa-Apa
Bab 34 — Orang yang Selalu Bilang Tidak Apa-Apa
Hari itu dimulai biasa.
Terlalu biasa.
Pagi datang tanpa suara ribut dari dapur.
Tanpa Matteo yang mengeluh kopi.
Tanpa Marco yang mondar-mandir membawa dokumen.
Bahkan Lorenzo sudah pergi sebelum Amelia turun.
Aneh.
Entah kenapa mansion terasa lebih sepi.
Amelia turun ke ruang makan.
Clara sedang menyiapkan sarapan.
Amelia melihat sekitar.
Lalu bertanya pelan,
“Yang lain?”
Clara menjawab sambil tersenyum.
“Tuan Matteo keluar pagi.”
Amelia mengangguk.
“Lorenzo?”
Clara diam sebentar.
Lalu menjawab,
“Tuan pergi urusan kerja.”
Amelia hanya mengangguk.
Tidak bertanya lagi.
Tapi entah kenapa—
dia sedikit kecewa.
Dia sendiri tidak tahu kenapa.
—
Siang.
Amelia sedang membaca di taman.
Namun hari ini dia sulit fokus.
Dia membuka halaman.
Menutup lagi.
Membuka lagi.
Lalu menyerah.
Dia berdiri.
Berjalan pelan.
Sampai akhirnya berhenti di koridor.
Sunyi.
Aneh.
Dia baru sadar.
Beberapa hari ini…
dia terbiasa ada orang.
Matteo.
Marco.
Atau…
Lorenzo.
Dan sekarang saat semuanya pergi—
mansion terasa terlalu besar.
—
Sore.
Langit mulai gelap.
Angin mulai dingin.
Matteo belum pulang.
Lorenzo juga belum.
Amelia duduk di ruang tengah.
Clara membawa teh.
“Nona menunggu seseorang?”
Amelia langsung menoleh.
“…tidak.”
Clara tersenyum kecil.
Amelia langsung pura-pura minum.
Namun beberapa menit kemudian—
suara mobil terdengar.
Amelia refleks menoleh.
Clara juga.
Pintu depan terbuka.
Langkah terdengar.
Marco masuk duluan.
Ekspresinya tidak seperti biasa.
Dan beberapa detik kemudian—
Lorenzo masuk.
Amelia langsung berdiri.
Karena—
jas hitamnya rusak.
Dan ada darah.
Tidak banyak.
Tapi cukup terlihat.
Amelia membeku.
Marco langsung bicara.
“Tidak serius.”
Lorenzo berjalan masuk.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Cuma goresan.”
Amelia diam.
Tatapannya tidak lepas.
Karena meskipun Lorenzo berjalan biasa—
langkahnya sedikit lebih lambat.
Lorenzo melihat Amelia.
Lalu berkata datar.
“Aku tidak apa-apa.”
Dan entah kenapa—
kalimat itu membuat Amelia kesal.
Dia langsung berkata—
“Duduk.”
Semua diam.
Marco berkedip.
Lorenzo diam.
Amelia menatapnya.
“Duduk.”
Sunyi.
Marco pelan mundur.
Clara ikut menghilang.
Tinggal mereka.
Lorenzo tetap berdiri.
Amelia menghela napas.
Lalu mendekat.
Dia melihat darah di sisi pinggang.
Dan wajahnya langsung berubah.
“Kamu bilang ini tidak apa-apa?”
Lorenzo menjawab tenang.
“Tidak dalam.”
Amelia menatap.
Lalu berkata—
“Kalau tidak dalam kenapa masih berdarah?”
Sunyi.
Lorenzo diam.
Dan itu pertama kalinya—
dia tidak langsung pergi.
—
Beberapa menit kemudian.
Di ruang kecil dekat ruang kerja.
Kotak obat terbuka.
Lorenzo duduk.
Amelia berdiri di depannya.
Suasananya aneh.
Lorenzo diam.
Amelia juga diam.
Sampai akhirnya—
Amelia membuka jasnya.
Lorenzo menoleh.
Amelia langsung berkata,
“Jangan bergerak.”
Lorenzo diam lagi.
Amelia melihat luka di sisi tubuh.
Bukan luka kecil.
Tidak parah.
Tapi jelas bukan sekadar goresan.
Dia langsung mengerut.
“Kamu bohong.”
Lorenzo melihatnya.
Amelia membuka obat.
Tangannya mulai membersihkan luka.
Awalnya biasa.
Lalu saat kapas menyentuh—
Lorenzo sedikit menegang.
Amelia berhenti.
“…sakit?”
Lorenzo menjawab cepat.
“Tidak.”
Amelia diam.
Lalu melanjutkan.
Beberapa detik kemudian—
Lorenzo kembali sedikit menegang.
Amelia langsung menatap.
Lalu berkata pelan—
“Kalau sakit bilang.”
Lorenzo diam.
Amelia kembali membersihkan.
Lalu berkata tanpa sadar—
“Kenapa selalu bilang tidak apa-apa?”
Sunyi.
Lorenzo tidak jawab.
Amelia tetap fokus.
Tapi dia lanjut bicara.
“Kalau terluka ya terluka.”
Diam.
“Kalau capek ya capek.”
Sunyi.
Tangannya berhenti sebentar.
Lalu dia berkata pelan—
“Tidak harus selalu kuat.”
Ruangan langsung diam.
Lorenzo melihat Amelia.
Cukup lama.
Sampai Amelia sadar dia bicara terlalu banyak.
Dia langsung menunduk.
“…maaf.”
Sunyi.
Lalu suara Lorenzo terdengar.
Rendah.
“…tidak ada yang pernah bilang begitu.”
Amelia berhenti.
Perlahan mengangkat kepala.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya—
Amelia tidak tahu harus jawab apa.
Dia hanya kembali membersihkan luka.
Lebih pelan.
—
Di luar ruangan.
Marco berdiri.
Matteo baru pulang.
Dia melihat Marco.
Lalu bertanya,
“Dia kenapa?”
Marco diam sebentar.
Lalu menunjuk pintu.
Matteo mengintip sedikit.
Diam.
Lalu menutup lagi.
Dia menoleh ke Marco.
“…dia diam saja?”
Marco mengangguk.
Matteo tertawa pelan.
“Luka itu tidak sakit.”
Marco melirik.
Matteo memasukkan tangan ke saku.
Tatapannya ke pintu.
Lalu berkata pelan—
“Yang bikin dia diam bukan lukanya.”
—
Di dalam.
Amelia selesai memasang perban.
Dia mundur sedikit.
Lalu berkata,
“Sudah.”
Lorenzo melihat perban.
Diam.
Lalu berdiri.
Namun sebelum pergi—
dia berhenti.
Menoleh sedikit.
Dan berkata singkat—
“…terima kasih.”
Lalu pergi.
Amelia berdiri sendiri.
Menatap pintu.
Dan entah kenapa—
dadanya terasa aneh.
Sementara di koridor—
Matteo melihat Lorenzo keluar.
Lalu berkata santai—
“Masih hidup?”
Lorenzo berjalan lewat.
Lalu berkata datar—
“Besok kau pulang.”
Matteo langsung tertawa.
Mansion kembali tenang.
Tapi malam itu—
ada sesuatu yang berubah sedikit.
Dan tidak ada yang menyadarinya.
Malam semakin larut.
Tapi suasana mansion belum benar-benar tenang.
Amelia masih di ruang kecil itu.
Kotak obat belum dibereskan.
Kapas bekas masih di meja.
Dia duduk diam beberapa saat.
Pikirannya kosong.
Lalu pelan dia menghela napas.
Aneh.
Padahal yang terluka bukan dia.
Tapi kenapa dia yang ikut capek?
Dia melihat lagi perban yang tadi dipasang.
Lalu tanpa sadar bergumam—
“Kalau sakit ya bilang…”
Namun beberapa detik kemudian—
dia sadar.
Dia sedang mengeluh sendirian.
Amelia langsung berdiri.
Dan saat keluar—
dia menemukan seseorang bersandar di lorong.
Matteo.
Begitu melihat Amelia—
dia berdiri tegak.
“Sudah selesai?”
Amelia mengangguk.
Matteo memperhatikan beberapa detik.
Lalu bertanya santai,
“Kau marah?”
Amelia bingung.
“Marah?”
Matteo mengangkat bahu.
“Tadi suaramu lumayan galak.”
Amelia langsung menunduk.
“…aku cuma…”
Dia berhenti.
Lalu pelan berkata—
“Dia bohong.”
Matteo diam.
Amelia lanjut.
“Lukanya tidak kecil.”
Sunyi.
Matteo menatap Amelia sebentar.
Lalu tertawa kecil.
“Kalau begitu kau sudah resmi masuk.”
Amelia bingung.
“Hah?”
Matteo mulai berjalan pelan di lorong.
Amelia ikut.
Matteo bicara tanpa melihatnya.
“Kalau orang baru lihat Lorenzo terluka…”
Dia berpikir.
“…biasanya mereka takut.”
Dia melihat langit malam dari jendela.
“Kalau orang yang sudah kenal…”
Dia berhenti sebentar.
“…mereka marah.”
Amelia diam.
Matteo tersenyum kecil.
“Karena dia memang begitu.”
Amelia menoleh.
Matteo memasukkan tangan ke saku.
“Dia tidak suka merepotkan orang.”
Dia diam sebentar.
Lalu tertawa kecil.
“Padahal sering bikin orang repot.”
Amelia diam.
Lalu bertanya pelan—
“Dia sering terluka?”
Matteo diam beberapa detik.
Lalu menjawab—
“Lebih sering dari yang kau kira.”
Amelia langsung diam.
Matteo melihat ke depan.
Suaranya lebih pelan sekarang.
“Waktu umur tujuh belas…”
Dia berhenti.
“…dia pernah demam tinggi tiga hari dan tetap ikut rapat keluarga.”
Amelia mengernyit.
Matteo lanjut.
“Waktu umur dua puluh…”
Dia tersenyum kecil.
“…tulang tangannya retak dan dia bilang cuma pegal.”
Amelia langsung tidak percaya.
Matteo tertawa.
“Aku juga dulu marah.”
Sunyi.
Lalu Matteo berkata pelan—
“Kadang orang yang terlalu lama sendirian…”
Tatapannya lurus.
“…jadi lupa kalau dia boleh bergantung.”
Amelia diam.
Tidak menjawab.
—
Di sisi lain.
Lorenzo masuk ke ruang kerja.
Lampu masih mati.
Dia tidak menyalakan.
Dia duduk.
Melepas jam tangan.
Lalu diam.
Tatapannya jatuh ke perban.
Beberapa detik.
Lalu suara ketukan terdengar.
Marco masuk.
Dia melihat Lorenzo.
Lalu melihat perban.
Diam.
Kemudian bertanya—
“Sakit?”
Lorenzo menjawab singkat.
“Tidak.”
Marco langsung mengangguk.
“Berarti lumayan sakit.”
Lorenzo diam.
Marco duduk.
Lalu berkata santai—
“Sudah lama tidak lihat orang marah karena kau terluka.”
Lorenzo tidak menoleh.
Marco melanjutkan.
“Biasanya orang cuma tanya laporan.”
Sunyi.
Lalu Marco tersenyum kecil.
“Dia beda.”
Lorenzo diam cukup lama.
Lalu berkata datar—
“Dia terlalu banyak pikir.”
Marco mengangguk.
“Kalau begitu jangan bikin dia kepikiran.”
Lorenzo tidak jawab.
—
Malam semakin larut.
Amelia kembali ke kamar.
Tapi tidak bisa tidur.
Dia duduk di tempat tidur.
Lalu teringat sesuatu.
Tadi—
saat membersihkan luka—
Lorenzo sempat diam.
Dan saat dia bilang:
Tidak harus selalu kuat.
Dia melihat ekspresi yang aneh.
Bukan sedih.
Bukan marah.
Seperti…
orang yang lupa bagaimana menjawab.
Amelia diam cukup lama.
Lalu akhirnya berdiri.
Dia membuka pintu.
Berjalan pelan.
Tidak tahu mau ke mana.
Namun tanpa sadar—
dia berhenti di depan ruang kerja.
Lampu masih menyala.
Pintu tidak tertutup rapat.
Amelia ragu.
Lalu mengetuk pelan.
Tidak ada jawaban.
Dia buka sedikit.
Dan berhenti.
Lorenzo tertidur.
Masih di sofa.
Dokumen masih di tangan.
Lampu masih menyala.
Amelia diam.
Lalu masuk pelan.
Dia berdiri beberapa detik.
Lalu melihat selimut di kursi.
Diam cukup lama.
Kemudian mengambilnya.
Dan menaruh di bahu Lorenzo.
Pelan.
Sangat pelan.
Lorenzo tidak bangun.
Amelia melihat sebentar.
Lalu mau pergi.
Namun saat berbalik—
suara rendah terdengar.
“…Amelia.”
Dia langsung berhenti.
Menoleh.
Lorenzo masih menutup mata.
Lalu pelan berkata—
“Terima kasih.”
Amelia diam.
Beberapa detik.
Lalu menjawab kecil—
“…tidur saja.”
Dia keluar.
Pintu tertutup pelan.
Dan untuk pertama kalinya—
malam di mansion terasa sedikit lebih hangat.
Sementara jauh di luar—
sebuah mobil berhenti sebentar.
Seseorang melihat foto di layar.
Foto Lorenzo hari ini.
Dan foto Amelia.
Lalu suara pelan terdengar—
“Mulai sekarang…”
Layar mati.
“…awasi mereka.”