Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Rusun Bobby
Maya menghela napas kasar. “Gue Priska.”
“Dan gue Iron Man,” balas Bobby spontan.
“Gue serius!”
Bobby malah mundur setengah langkah. “Nggak, bentar. Jadi lu bilang... jiwa lu pindah ke tubuh orang lain?”
“Iya.”
“Dan tubuh ini namanya Maya?”
“Iya.”
“Tapi lu bukan Maya?”
“Bukan.”
Bobby langsung mengusap wajah kasar. “Gila... otak gue belum sarapan tapi udah disuruh mikir beginian.”
Maya memijat pelipisnya jengah. Dia lupa kalau semua ini memang terdengar mustahil. Bobby kembali menatapnya penuh curiga.
Maya mendecakkan lidah. “Oke. Tahun lalu di pelabuhan tua, lu pernah hampir mati gara-gara salah ngirim paket sabu ke geng Serigala Merah.”
Wajah Bobby langsung berubah.
Maya melanjutkan santai.
“Terus gue yang nolongin lu kabur lewat kontainer ikan bau sambil nembak ban mobil mereka.”
Bobby mulai melongo.
“Abis itu lu muntah tiga kali gara-gara bau ikan busuk.”
“Eh!” Bobby langsung panik. “Jangan keras-keras ngomong sabu, goblok! Ada CCTV!”
Maya menyeringai tipis.
Bobby makin pucat. “Itu... itu rahasia,” gumamnya.
“Masih kurang?”
Maya melangkah mendekat lalu menunjuk bekas luka kecil di dekat dagu Bobby.
“Lu dapet luka itu gara-gara jatuh dari motor waktu kabur sambil nangis karena dikejar debt collector.”
Bobby refleks menutup dagunya. “Astaga...”
Maya terkekeh kecil. “Nah loh.”
Bobby mulai menelan ludah. Sekarang bulu kuduknya benar-benar berdiri. Karena memang cuma Priska yang tahu detail memalukan itu.
“Tapi...” Bobby masih berusaha mencari logika. “Ini nggak masuk akal.”
“Memang.”
“Orang mati pindah ke tubuh orang lain itu cuma ada di sinetron azab.”
Maya mengangkat bahu. “Ya berarti hidup gue sekarang sinetron.”
Bobby mondar-mandir sambil garuk kepala. “Otak gue ngebul.”
“Makanya jangan kebanyakan ngelawak.”
“Ini bukan waktu bercanda!”
“Gue juga serius.”
Bobby berhenti lalu menatap Maya lekat-lekat. “Jadi... Priska yang asli mati?”
Mata Maya sedikit meredup sesaat.
“Ya.”
Bobby terdiam. Walau Priska mantan anggota mafia berbahaya, wanita itu pernah menyelamatkan hidupnya berkali-kali.
Mendengar dia mati tetap membuat dadanya sesak. Namun detik berikutnya Bobby kembali menggeleng keras.
“Nggak! Gue masih nggak percaya.”
Maya langsung kesal. “Astaga...”
“Mana mungkin jiwa bisa pindah tubuh!”
“Terus tadi lu pikir Maya bisa mukulin tiga preman kayak Jackie Chan?”
“...itu juga gue bingung sih.”
Maya mendekat sambil menyipitkan mata. “Masih nggak percaya?”
Bobby menunjuk dirinya sendiri. “Gue orang beriman.”
“Lu mantan bandar narkoba kecil-kecilan.”
“Itu masa lalu.”
“Lu masih jual rokok ilegal.”
“Itu UMKM!”
Maya menutup wajahnya frustrasi.
Bobby malah nyengir. “Aduh, sumpah. Kalau bener lu Priska...” Bobby memandangi Maya dari atas sampai bawah. “...reinkarnasi lu downgrade banget.”
BUGH!
Tinju Maya langsung mendarat di pundaknya.
“AW! SAKIT WOY!”
“Mulut lu emang perlu disemen.”
Bobby mengaduh sambil mengusap pundaknya. Namun detik berikutnya Maya mendadak mengambil posisi bertarung.
Tatapannya tajam. “Oke,” katanya dingin. “Kalau masih nggak percaya, lawan gue!"
Bobby langsung bengong. “Hah?”
“Bertarung.”
“Lu ngajak gue gelut?”
Maya mengangguk santai. Bobby menelan ludah. Ingatan tentang tiga preman yang babak belur tadi langsung muncul di kepalanya. Dia memang pernah melihat Priska bertarung dulu. Gaya Maya sekarang sama persis.
“Eh bentar...” Bobby mulai mundur pelan. “Sebenernya percaya itu nggak penting ya.”
“Takut?”
“Bukan takut.”
“Terus?”
“Gue cinta damai.”
Maya mendengus. “Pengecut.”
“Namanya strategi bertahan hidup.”
Maya memutar mata malas. “Jadi gue boleh nginep?”
Bobby menghela napas panjang seperti orang menyerah pada nasib. “Yaudah ikut gue.”
Rusun tempat Bobby tinggal benar-benar mengenaskan. Cat dinding mengelupas. Lampu lorong berkedip-kedip seperti film horor. Bahkan lift tua di sudut bangunan sudah mati entah sejak kapan.
Beberapa penghuni duduk nongkrong sambil merokok di depan pintu kamar masing-masing. Tatapan mereka langsung mengikuti Maya.
“Buset, Bobby bawa cewek.”
“Tumben.”
“Pacarnya?”
“Mana mungkin muka kayak Bobby bisa dapet begituan.”
Bobby langsung sewot.
“WOI! Gue masih ganteng ya!”
“Ganteng apaan, muka lu kayak sandal bekas.”
Maya nyaris tertawa melihat Bobby berantem receh dengan tetangga rusun. Pria itu memang absurd. Namun anehnya cukup menyenangkan.
Saat mereka melewati lorong sempit, Maya bisa melihat kehidupan kaum bawah dengan jelas. Ada anak kecil tidur di lantai beralaskan kardus. Ibu-ibu sedang masak mie instan di depan kamar. Beberapa pria bertato duduk bermain kartu sambil mabuk. Bahkan Maya mengenali salah satu wajah kriminal kelas teri yang dulu pernah bekerja untuk mafia kecil.
“Tempat lu makin mirip sarang penjahat,” komentarnya.
Bobby membuka pintu kamarnya. “Murah soalnya.”
Kamar itu sempit sekali. Hanya ada satu ranjang kecil, kipas angin tua, televisi tabung rusak, dan sofa koyak yang tampak mengenaskan. Bahkan salah satu busanya mencuat keluar seperti isi perut korban kecelakaan.
Maya masuk santai lalu langsung menjatuhkan tubuh ke ranjang.
Bruk!
“Ahh... enak juga.”
Bobby melotot. "HEI!”
Maya sudah telentang sambil memejamkan mata.
“Itu ranjang gue.”
“Hm.”
“Hm apaan?!”
Maya menarik selimut tipis lalu memeluk bantal. “Gue tidur sini.”
“Terus gue?”
Maya membuka sebelah mata lalu menunjuk sofa koyak. “Itu.”
Bobby menatap sofa mengenaskan miliknya. “Itu sofa udah dikoyak kucing gue.”
“Ya tidur aja hati-hati.”
“Ini pegasnya nongol!”
“Anggap akupuntur gratis.”
“SETAN LU!”
Maya malah tertawa kecil. "Kayaknya gue emang setengah setan deh."
Sudah lama sekali dia tidak merasa sesantai ini. Bobby masih mengomel sambil menepuk-nepuk sofa.
“Ini rumah gue tapi kenapa gue yang sengsara...”
Tak ada jawaban. Bobby menoleh, dan mendapati Maya sudah tertidur lelap.
“Buset...” gumamnya tak percaya. “Cepet amat tidur.”
Dia menghela napas pasrah. Walau masih bingung dengan semua omongan tentang perpindahan jiwa itu, entah kenapa dia merasa gadis ini memang benar-benar Priska. Aura menyeramkannya terlalu mirip.
...***...
Pagi hari, sinar matahari masuk dari celah jendela kecil rusun. Maya perlahan membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah Bobby tidur meringkuk aneh di sofa koyak sambil mendengkur seperti knalpot bocor.
Maya langsung menyeringai. “Kasihan juga.”
Namun detik berikutnya, sofa tua itu mendadak ambruk.
KREK!
“AAAAAAK!”
Bobby jatuh ke lantai bersama busa sofa.
Maya langsung tertawa keras. “HAHAHAHA!”
Bobby bangun dengan rambut acak-acakan. “SIALAN! Pinggang gue!”
Maya masih ngakak sambil memegangi perut. “Lucu banget muka lu.”
“Gue bisa lumpuh!”
“Itu namanya karma.”
Bobby manyun. “Lu tamu paling nggak tahu diri yang pernah gue kenal.”
Maya turun dari ranjang lalu meregangkan tubuh. “Oke, sekarang cari uang.”
Bobby mengucek mata bingung. “Hah? Pagi-pagi?”
“Gue butuh tempat tinggal.”
“Kan bisa numpang sini.”
Maya menatap Bobby datar. “Lu mau tidur di lantai terus?”
Bobby langsung diam.
“Pokoknya,” lanjut Maya, “gue bakal pergi dari sini kalau uang gue udah cukup buat sewa tempat.”
Bobby menghela napas. “Dan cara nyari duitnya?”
Maya tersenyum tipis. Senyum yang langsung membuat Bobby merinding.
“Kita manfaatin kemampuan yang gue punya.”
Bobby langsung curiga.
“Jangan bilang mau balik jadi mafia.”
Maya berjalan menuju pintu sambil memasukkan tangan ke saku hoodie. “Tenang aja. Nggak bakalan!"
“Terus?”
Maya menoleh sambil menyeringai. “Ayo kita nyopet!"
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔