"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Rona merah di wajah Amieyara Walker masih belum sepenuhnya memudar, bahkan setelah dia berhasil menciptakan jarak dua meter dari posisi berdiri Maximilian Valerio.
Sumpah serapah yang biasanya tersusun rapi di dalam otaknya mendadak berantakan hanya karena sebaris fakta yang berhasil dibongkar oleh pemuda di hadapannya itu.
Fakta bahwa Max adalah pria pertama yang menyentuh bibirnya telah menjadi sebuah kartu as yang kini dipegang teguh oleh sang pewaris Valerio.
Yara berdehem pelan, mencoba mengembalikan wibawanya sebagai seorang asisten dosen hukum yang disegani. Dia merapikan letak kacamatanya dengan gerakan tangan yang sedikit kaku, lalu menatap Max yang masih memasang seringai bangga di atas sofa kulitnya.
"Aku ke sini bukan untuk menjadi bahan leluconmu, Max," ucap Yara, suaranya diatur sedemikian rupa agar kembali terdengar sedingin es, meskipun getaran samar di ujung kalimatnya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. "Aku ke sini hanya untuk mengambil beberapa berkas dokumen yang tertinggal di mobilmu semalam, dan... untuk menegaskan satu hal."
Max menaikkan sebelah alisnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gestur santai yang terkesan sangat mengintimidasi. "Menegaskan apa, Baby? Bahwa kau merindukan ciuman pertamamu tadi?"
"Hentikan sebutan menjijikkan itu!" sentak Yara, matanya membelalak tajam. "Aku akan pindah sore ini juga. Aku sudah mengurus semuanya, dan aku sudah membeli sebuah unit apartemen baru di pusat kota yang dekat dengan gedung Universitas."
Mendengar kalimat itu, senyuman di bibir Max perlahan memudar, digantikan oleh binar mata yang mendadak meredup jengkel.
Ada perasaan tidak rela yang samar yang mendadak menyergap rongga dadanya—sebuah perasaan yang asing bagi seorang Maximilian yang biasanya tidak pernah memedulikan kepergian wanita mana pun dari hidupnya.
Max mengubah posisi duduknya, bersandar pada sandaran sofa sembari menatap Yara lekat-lekat. "Pindah? Secepat itu? Baiklah... aku pikir kau ingin tinggal di sini untuk beberapa waktu ke depan. Setidaknya sampai badai rumor di kampus itu sedikit mereda."
Yara mengeluarkan dengusan sinis yang sarat akan penolakan mutlak. "Kau gila? Tinggal di sini? Bersamamu di bawah satu atap yang sama dalam jangka waktu lama? Tidak akan pernah terjadi, Tuan Valerio! Tinggal semalam saja sudah membuatku nyaris kehilangan seluruh waras dan kehormatanku, apalagi jika harus menetap lebih lama."
Max tidak bisa menahan kekehan rendahnya yang seksi mendengarkan penolakan keras dari wanita itu.
Dia berdiri dari sofa, melangkah dengan ritme kaki yang santai namun penuh dominasi ke arah meja bar dapur, mengambil sebuah botol air mineral dan meneguknya sedikit.
"Kau terlalu dramatis, Yara," ucap Max setelah meletakkan kembali botol airnya. Dia membalikkan badan, menatap punggung Yara yang masih berdiri membelakanginya.
"Lagipula... kau tidak ingin mengatakan padaku kenapa kau memilih tinggal di apartemen barumu itu sendirian? Kenapa kau memilih melarikan diri dari mansion keluargamu yang megah semalam?"
Gerakan tangan Yara yang sedang merapikan tas kerjanya seketika terhenti. Keheningan mendadak merayap masuk, menjadi sekat tak kasat mata di antara mereka berdua.
Yara tidak mengatakan apa pun selama beberapa saat. Rahangnya mengancing rapat. Dia tidak mungkin menceritakan tentang kelicikan ayahnya, pengkhianatan David Joseph, ataupun skema menjijikkan yang dirancang oleh Caca dan ibunya. Itu adalah luka keluarga yang terlalu bernanah untuk ditunjukkan pada orang asing, terutama pada pemuda urakan seperti Max.
Yara menarik napas panjang, lalu berbalik menghadapi Max dengan sebuah senyuman tipis yang dipaksakan—sebuah senyuman yang sengaja dia gunakan untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Jangan terlalu penasaran pada masalah pribadiku, Max," ucap Yara dengan nada suara yang dibuat seolah-olah sedang bercanda, meskipun sepasang matanya tetap memancarkan ketegasan yang dingin.
"Aku hanya khawatir... jika kau terus-menerus mencari tahu tentang hidupku, kau akan berakhir jatuh cinta padaku nanti. Dan percayalah, jatuh cinta pada seorang wanita seperti aku adalah hal paling rumit yang tidak akan pernah bisa kau tangani."
Yara bermaksud mengatakannya hanya sebagai sebuah tameng gurauan untuk menghentikan investigasi Max. Namun, respons yang keluar dari belahan bibir Maximilian justru di luar dugaan.
Pria itu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma sabun apartemen yang maskulin dari tubuh Max kembali menginvasi indra penciuman Yara.
Wajah Max mendadak berubah menjadi sangat serius, kehilangan seluruh binar keisengan yang dia tunjukkan sejak tadi. Sepasang mata gelapnya mengunci manik mata Yara dengan intensitas yang begitu pekat.
"Kenapa tidak, Yara?" tanya Maximilian, suaranya bergetar rendah di dalam rongga dada bidangnya. "Kenapa aku tidak boleh jatuh cinta padamu? Kurasa... tidak akan ada ruginya sama sekali jika aku memutuskan untuk memacarimu secara resmi."
Deg.
Yara tertegun untuk yang kedua kalinya sore itu. Kalimat serius yang meluncur tanpa ragu dari mulut Max membuat detak jantungnya kembali berdegup tak beraturan.
Dia bisa melihat ketulusan yang aneh di dalam mata pemuda itu—sebuah binar yang sangat berbeda dengan tatapan penuh nafsu atau manipulasi yang biasa dia terima dari pria-pria di sekitarnya.
Namun, ego dan rasionalitas seorang wanita berusia matang segera mengambil alih kesadaran Yara. Dia melangkah mundur satu tapak, menyilangkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk pertahanan diri.
"Kau mulai mesum dan melantur, Tuan Valerio yang terhormat," jawab Yara, mencoba mengembalikan suasana ke dalam koridor permusuhan mereka yang aman.
"Ingat posisimu di kampus. Dan yang paling penting... ingat fakta bahwa aku berusia beberapa tahun lebih tua darimu. Aku bukan gadis-gadis remaja labil yang bisa kau luluhkan dengan kalimat manis semacam itu."
Max tidak mundur. Dia justru menyunggingkan sebuah seringai nakal yang teramat sangat menawan, menatap Yara dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang sarat akan gairah kelelakian yang matang.
"Umur?" Max terkekeh geli, melangkah maju lagi hingga ujung sepatu mereka nyaris bersentuhan. "Itu hanya angka, Yara. Kau tidak perlu mencemaskan perbedaan usia yang tidak seberapa itu. Lagipula... aku sudah sangat cukup umur dan memiliki pengalaman fisik yang lebih dari cukup untuk memuaskanmu di malam pertama kita nanti."
Mendengar kalimat vulgar yang begitu blak-blakan dilontarkan dengan wajah tanpa dosa oleh pemuda itu, pertahanan harga diri Yara meledak seketika.
"MAXIMILIAN VALERIO!!!" teriak Yara dengan wajah yang kini sepenuhnya memerah sempurna laksana kepiting rebus, matanya membelalak lebar karena syok dan amarah yang bercampur menjadi satu gumpalan emosi yang gila.
Tawa Maximilian pecah seketika, menggema renyah memenuhi seluruh sudut penthouse mewah tersebut.
Dia merasa sangat puas bisa menghancurkan topeng ketenangan sang asisten dosen hukum untuk kesekian kalinya, menyadari bahwa di balik dinding es pertahanan Amieyara, ada sebuah kepolosan yang begitu indah yang kini menjadi candu baru dalam hidupnya yang semula hambar.
Ditambah lagi, kenyataan bahwa dialah pria pertama yang telah menyentuh bibir suci wanita itu membuat insting protektif dan rasa kepemilikan di dalam dada sang Valerio telah resmi terbangun dan tidak akan pernah bisa ditidurkan kembali.
Badai di kampus mungkin sedang mengintai mereka, namun di dalam ruangan sunyi ini, sebuah ikatan baru yang jauh lebih kuat dan berbahaya telah resmi terjalin di antara dua predator yang sama-sama memiliki luka di masa lalu.