"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTAHANAN YANG RUNTUH
"Arka, ini sarapannya sudah sia—"
Kalimat Alana terputus di udara. Langkah kakinya mendadak terkunci di ambang pintu. Tangannya yang memegang sepiring capcay bakso hangat yang masih mengepulkan asap tipis seketika bergetar hebat.
Di hadapannya, tepat di balik pagar halaman rumahnya yang terbuka, sosok Samudera sedang berlutut, menjabat tangan mungil putranya dengan senyuman yang begitu lembut. Pemandangan itu bagai petir di siang bolong bagi Alana. Rasa panik, takut, dan cemas bercampur aduk menjadi satu, membuat dadanya terasa begitu sesak.
"Ibu! Lihat, Arka punya teman baru! Namanya Om Samudera!" seru Arka riang tanpa dosa, menunjuk ke arah pria jangkung itu sembari memamerkan senyum lebarnya.
Mendengar suara Alana, Samudera perlahan menegakkan tubuhnya. Pria itu berdiri tegak, memutar tubuhnya menghadap Alana. Dalam setelan kasual kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, aura kepemimpinan dan kekuasaan tetap terpancar kuat dari dirinya. Namun, tatapan mata tajam yang kemarin malam terasa mengintimidasi, kini menatap Alana dengan pancaran emosi yang begitu kompleks: ada rasa bersalah, kerinduan, dan rasa terima kasih yang mendalam.
Alana menelan ludah dengan susah payah. Ia berusaha keras mengendalikan gemetar di tangannya agar piring kesukaan Arka tidak jatuh dan pecah. Dengan langkah yang dipaksakan untuk tegap, ia berjalan mendekati Arka, lalu segera menarik lembut tubuh kecil putranya ke belakang punggungnya—membentengi Arka dengan tubuhnya sendiri.
"Arka, masuk ke dalam rumah dulu ya, Sayang. Bawa piring ini dan makan di meja makan," ujar Alana, suaranya bergetar namun berusaha terdengar tegas di depan anaknya. Ia menyerahkan piring capcay bakso itu kepada Arka.
"Tapi Ibu, Om Samudera—"
"Masuk sekarang, Arkana," potong Alana, kali ini dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Melihat ibunya yang tampak begitu tegang, Arka menurut. Bocah kecil itu menerima piringnya, menatap bergantian ke arah Alana dan Samudera dengan bingung, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu geser kaca di belakangnya.
Setelah memastikan Arka aman di dalam, Alana membalikkan badannya. Ia mencengkeram erat ujung kemejanya, menatap lurus ke arah sepasang mata Samudera yang kini hanya berjarak beberapa langkah di depannya.
"Sudah 4 tahun tuan samudera,kau mencari kami untuk apa ? "
Samudera terpaku. Pertanyaan yang keluar dari bibir Alana tidak berapi-api, namun getaran dingin di dalamnya justru menghujam langsung ke ulu hati Samudera. Rasa bersalah yang sejak kemarin ia tahan kini membuncah, membuat pria yang biasanya selalu punya jawaban di ruang rapat itu mendadak kelu.
Ia menatap Alana yang berdiri dengan tubuh menegang, siap menerkamnya kapan saja layaknya induk singa yang melindungi anaknya.
"Alana..." Suara Samudera terdengar berat dan serak. Ia melangkah satu kali ke depan, namun langsung berhenti saat melihat Alana refleks mundur setengah langkah. Samudera menghela napas, berusaha menunjukkan bahwa ia datang tanpa niat buruk.
"Aku tidak baru mencarimu sekarang," ujar Samudera dengan nada setulus mungkin. "Aku mencarimu sejak pagi pertama kamu pergi dari kamar hotel itu, empat tahun sepuluh bulan yang lalu."
Alana terkekeh sumbang, air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang di sudut matanya, dipicu oleh rasa sakit hati atas perjuangan sendiriannya selama ini. "Mencari? Dengan segala kekuasaan yang Anda punya, butuh waktu hampir lima tahun hanya untuk menemukan seorang guru les privat?"
"Aku kehilangan ponsel lama tempat nomor yang aku tinggalkan untukmu malam itu," sela Samudera cepat, ingin meluruskan benang kusut yang ada. "Dan malam itu, data manifes hotel error, kamu juga tidak menggunakan nama aslimu saat masuk ke kelab. Kamu seolah menguap ditelan bumi, Alana. Aku menyewa detektif, melacak setiap sektor, tapi pencarianku selalu membentur dinding kosong karena kamu sengaja menutup diri dari dunia luar."
Samudera menatap pintu rumah yang tertutup, tempat Arkana berada.
"Aku baru tahu tentang kehadiran Arka kemarin sore di taman," lanjut Samudera, suaranya melembut, menyiratkan penyesalan yang mendalam. "Demi Tuhan, Alana... kalau sejak awal aku tahu malam itu meninggalkan benih kehidupan di rahimmu, aku tidak akan membiarkanmu menanggung semuanya sendirian. Aku tidak akan membiarkanmu diusir oleh keluargamu, mengajar siang malam dalam kondisi hamil, hingga bertaruh nyawa di ruang operasi tanpa ada aku di sampingmu."
Mendengar Samudera mengetahui sedetail itu tentang masa lalunya, pertahanan Alana runtuh sedikit. Air matanya luruh membasahi pipi. Rasa lelah, terhina, dan kesepian yang ia pendam selama empat tahun ini seperti diaduk kembali.
"Lalu sekarang setelah tahu, Anda mau apa?" tanya Alana dengan suara parau, menghapus air matanya dengan kasar. "Mau mengambil Arka dari saya? Setelah saya membangun semua ini dari nol dengan darah dan air mata, Anda mau datang dan merebutnya begitu saja?"