Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: KABAR DUKA DI PAGI HARI
Bab 27: Kabar Duka di Pagi Hari
Sinar matahari pagi yang cerah perlahan menerobos masuk melalui celah-celah gorden ruang tamu rumah keluarga Dirgantara. Burung-burung gereja mulai berkicau di dahan pohon mangga depan rumah, menyambut pagi yang seharusnya terasa hangat dan normal bagi siapa saja. Namun, di dalam dapur, Ibu duduk tercengang menatap meja makan. Hidangan semur daging dan sebakul nasi hangat yang ia siapkan sejak subuh tadi masih utuh, tidak tersentuh sama sekali.
Ponsel jadul di genggaman Ibu sejak tadi hanya menampilkan status panggilan dialihkan setiap kali ia mencoba menghubungi nomor Ayah. Perasaan cemas yang tak kasat mata mulai merayap, mencengkeram dada Ibu dengan sangat erat.
Kringgg! Kringgg!
Suara dering telepon rumah yang melengking nyaring tiba-tiba memecah keheningan, membuat Ibu tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan ponsel di tangannya. Dengan langkah kaki yang bergeser cepat dan tidak sabar, Ibu bergegas menuju ruang tengah, mengangkat gagang telepon kabel yang menempel di dinding.
"Halo, Assalamu'alaikum, Ayah? Ayah kok belum pulang—"
"Halo, benar ini dengan Ibu Rahma, istri dari Bapak Dirgantara?" Suara di seberang telepon terdengar asing, berat, dan dipenuhi nada bergetar yang sarat akan rasa panik sekaligus duka yang mendalam.
Jantung Ibu mendadak melewatkan satu detakan. "I-iya, benar, saya istrinya. Ini siapa, ya? Ada apa dengan suami saya?"
"Saya Pak Bambang, Bu... Rekan kerja satu divisi Pak Dirga di kantor pusat. Ibu... Ibu yang tabah ya, Bu... Pagi ini, pas petugas kebersihan mau beresin ruangan lantai dua... kami... kami nemuin Pak Dirga sudah gak sadarkan diri di meja kerjanya..." Suara pria di seberang sana sempat terputus oleh isakan kecil. "...Dokter tim medis darurat yang baru dateng mastiin... kalau Pak Dirga sudah meninggal dunia sejak jam dua subuh tadi karena serangan jantung akibat kelelahan akut, Bu. Sekarang jenazah sedang diurus untuk dibawa pulang ambulans ke rumah..."
DEG.
Dunia di sekitar Ibu seolah-olah runtuh seketika. Seluruh pasokan oksigen di ruangan itu mendadak menguap habis. Gagang telepon yang tadinya ia genggam erat perlahan terlepas dari jemarinya yang seketika menjadi sangat kaku dan dingin, jatuh bergelantungan di dinding, menimbulkan bunyi bising yang memantul di koridor sepi.
"Nggak... Nggak mungkin..." gumam Ibu dengan pandangan mata yang mendadak kosong.
Kedua lutut Ibu langsung lemas seperti jeli, tidak lagi mampu menopang berat tubuhnya yang kian kurus kering. Wanita paruh baya itu ambruk ke atas lantai ubin yang dingin, sebelum akhirnya kesadarannya terenggut total menjadi kegelapan yang pekat. Ibu pingsan dengan air mata yang sempat meluncur melewati pipinya yang tirus.
Gubrak!
Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih sembari memegangi pinggang belakangnya langsung terlonjak kaget mendengar suara benturan keras dari ruang tengah. Dengan sisa-sisa tenaga dari fisiknya yang sedang hancur digerogoti racun ginjal, Arka memaksakan dirinya berlari kecil menghampiri sumber suara.
"Ibu?!" Pekik Arka histeris saat melihat tubuh Ibunya sudah terkapar tak berdaya di lantai dekat meja telepon.
Arka langsung berlutut di samping Ibu, menggoyang-goyangkan bahu Ibunya dengan tangan yang gemetar hebat. "Ibu! Bangun, Bu! Ibu kenapa?! Ibu jangan bikin Arka takut!" Rintih Arka dengan air mata yang mulai merebak di pelupuk matanya yang cekung.
Saat itulah, suara parau dari gagang telepon yang bergelantungan masih terdengar samar-samar memanggil nama Ibunya. Arka dengan cepat meraih gagang telepon tersebut, menempelkannya ke telinga dengan napas yang memburu sesak.
"Halo! Ini siapa?! Ibu saya pingsan! Ada apa sama Ayah?!" Teriak Arka dengan suara yang melengking panik.
Setelah mendengar penjelasan ulang yang terbata-bata dari rekan kerja Ayah di seberang telepon, seluruh tubuh Arka seketika membeku. Selimut dingin yang tak kasat mata seolah menyelimuti jiwanya. Gagang telepon itu perlahan turun dari telinganya.
Ayah... meninggal? Pria tegap yang semalam tersenyum getir dan berjanji akan mengambil lembur gila-gilaan demi membayar biaya cuci darahnya... kini telah pulang dalam kondisi menjadi mayat kaku.
"Nggak... Ayah... Nggak mungkin Ayah tinggalin Arka..." Isak Arka pecah.
Dada Arka terasa sangat sesak, seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk langsung ke paru-parunya. Rasa nyeri gagal ginjal di perutnya mendadak berlipat ganda akibat guncangan batin yang teramat dahsyat, membuat Arka terbatuk-batuk hebat sembari memegangi dadanya yang bergemuruh kencang. Ia menatap Ibunya yang masih pingsan, lalu menyadari satu hal dengan sangat jelas: rumah ini runtuh. Tiang penyangga mereka sudah roboh. Dan di saat seperti ini, ia tidak bisa menanggung badai ini sendirian dengan tubuhnya yang ringkih.
Dengan tangan yang gemetar di ambang batas kesadarannya, Arka merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya sendiri. Ia mencari satu nama kontak yang selama ini selalu ia rindukan namun takut untuk ia hubungi.
Bukan nomor Revan, karena ia tahu nomor adiknya sudah diganti. Arka menekan nomor Miko.
Sementara itu, di teras rumah Miko, Revan sedang asyik mencuci motor matic miliknya yang kini sudah terpasang satu set rantai dan gir baru yang berkilau. Cowok itu bersiul kecil, sesekali menyemprotkan air sabun ke arah bodi motor dengan binar kebanggaan yang sangat aktif di wajahnya yang tampan.
"Mik! Ambilin kanebo dong di dalem! Udah kelar nih!" Seru Revan ke arah dalam rumah.
Di dalam kamar, Miko baru saja hendak melangkah keluar membawa lap kanebo saat ponsel di atas kasurnya bergetar hebat, menampilkan nama 'Arka (Kakak Revan)' di layar digitalnya.
Jantung Miko seketika mencelos. Firasat buruk dari sapu tangan berdarah yang ia lihat di halte bus semalam langsung mencuat kembali, membuat bulu kuduknya berdiri ngeri. Miko menelan ludah, lalu menggeser tombol hijau dengan tangan yang mendadak dingin.
"H-halo, Kak Arka? Ada apa—"
"Miko... Uhuk! Uhuk... Miko, gue mohon..." Suara Arka di seberang telepon terdengar sangat hancur, tersedat oleh tangisan histeris yang sangat memilukan dan deru napas yang megap-megap seperti orang kehabisan udara. "...Gue mohon, suruh... suruh Revan pulang sekarang, Mik... Seret dia pulang ke rumah sekarang juga..."
Miko melangkah mundur hingga punggungnya membentur lemari pakaian. "Kak? Kenapa, Kak? Lo sakit lagi? Revan gak bakal mau kalau—"
"Bukan gue, Mik! Bukan gue! Uhuk... Ayah, Mik... Ayah..." Suara Arka meninggi secara dramatis, pecah menjadi raungan duka yang teramat sangat menyakitkan hingga mampu menembus speaker ponsel Miko dengan sangat nyata. "...Ayah sudah gak ada, Mik! Ayah meninggal subuh tadi di kantornya! Ibu pingsan... Gue gak kuat... Gue mohon suruh Revan pulang... Ayah udah gak ada, Miko!!!"
BIP.
Panggilan terputus sepihak karena Arka tampaknya sudah tidak mampu lagi menahan bobot tubuhnya di seberang sana.
Miko berdiri mematung di tengah kamar dengan mata yang melebar sempurna dan mulut yang setengah terbuka. Ponsel di genggamannya perlahan merosot, jatuh ke atas kasur busa. Seluruh persendian tubuh Miko mendadak kaku, dan wajahnya seketika berubah menjadi seputih kertas.
Tebakan dan ketakutannya semalam terbukti dengan cara yang paling kejam. Ayah Revan... pria paruh baya yang menyerahkan uang lecek sambil menangis di depan pagarnya dua malam lalu... kini benar-benar telah tiada. Gugur dalam keheningan akibat kelelahan gila-gilaan demi menghidupi ego dan kebutuhan anak-anaknya.
Dari arah luar jendela teras, suara tawa renyah Revan yang sedang bersenda gurau dengan tetangga sebelah rumah terdengar sangat kontras dan memotong keheningan kamar Miko yang mendadak mencekam.
Miko menatap punggung sahabatnya dari balik kaca jendela dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba sekaligus ketakutan yang teramat sangat luar biasa pekat. Ia tahu, begitu ia melangkah keluar dan mengucapkan satu kalimat berita duka ini, maka seluruh tawa, kemandirian palsu, dan ego tinggi yang selama ini dibanggakan oleh Revanza Dirgantara akan hancur lebur menjadi abu penyesalan yang paling berdarah seumur hidupnya.
Bersambung....
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...