Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di kediaman keluarga Seo, Haechan sudah berdiri rapi dan cantik sejak pagi. Seragamnya tersetrika licin, rambutnya ditata indah, wajahnya bersinar cerah seolah ada sinar bahagia yang memancar dari dirinya. Meski kemarin hatinya hancur mengetahui kenyataan tentang Mark dan Nana, tekadnya tetap bulat. Dia tidak akan menyerah. Dia akan tetap mendekati Mark, tetap berjuang, dan tetap berharap suatu saat cowok itu akan berbalik menatapnya.
Dengan langkah ringan dan hati yang penuh harap, Haechan berjalan menyeberang jalan, menuju kediaman megah keluarga Jung yang tepat berada di seberang rumahnya. Dia sudah berniat dari kemarin: pagi ini dia harus berangkat bareng Mark. Dia ingin duduk di samping cowok itu, berbagi perjalanan, dan setidaknya merasa sedikit dekat dengannya.
Sesampainya di depan gerbang rumah Jung yang besar dan indah, Haechan tidak langsung masuk. Dia berdiri di sana, menunggu sebentar sambil membenahi sedikit bajunya, memastikan dia terlihat paling cantik di mata Mark. Tak lama kemudian, gerbang terbuka perlahan. Terlihat sosok Mark keluar dari pintu utama rumahnya dengan langkah tegap, tampan sekali dengan seragam sekolah yang pas di badan. Di belakangnya, seorang pengawal membawa kunci mobil, dan tak lama kemudian muncullah mobil mewah berwarna hitam pekat, mengkilap, dan sangat elegan—mobil kesayangan Mark yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Mobil itu berharga mahal, mewah, dan selalu terlihat bersih sempurna, sama seperti pemiliknya yang selalu tertib dan rapi.
Wajah Mark terlihat dingin, datar, dan kaku seperti biasa. Dia berjalan menuju mobilnya dengan tatapan lurus ke depan, seolah tidak peduli dengan sekitarnya. Namun, senyum Haechan langsung merekah lebar begitu melihat sosok yang ditunggunya itu. Dia segera bergegas mendekat, suaranya terdengar ceria dan antusias.
"Mark! Pagi, Mark!" sapa Haechan riang sambil melambaikan tangan kecilnya, langkah kakinya dipercepat agar segera sampai di dekat cowok itu. "Kebetulan banget ya aku datang pas kamu mau berangkat. Wah, mobilnya bagus banget kayak biasa deh, selalu mengkilap gini. Kamu siap-siapnya cepet banget ya pagi ini."
Haechan berhenti tepat di samping mobil mewah itu, dia menatap Mark dengan pandangan penuh kekaguman dan harap. Dia tersenyum manis, berusaha selembut mungkin agar Mark tidak marah.
"Mark, aku mau bilang sesuatu nih," ucap Haechan pelan tapi jelas, nadanya sedikit malu-malu namun penuh harap. "Aku belum berangkat lho dari tadi, sengaja nungguin kamu keluar. Jadi... boleh ya hari ini aku berangkat bareng kamu? Boleh aku ikut naik mobil kamu? Kan searah juga ke sekolah, lumayan kan sekalian aja, dan aman juga kalau berdua. Lagian aku juga pengen banget ngobrol dikit sama kamu di jalan, udah lama kan kita gak berangkat bareng."
Haechan menatap Mark berharap-harap cemas, hatinya berdebar kencang menunggu jawaban. Dia berharap kali ini Mark mau sedikit luluh, mau sedikit berbaik hati, apalagi dia sudah datang sendiri ke sini.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya jauh dari harapan Haechan. Mark bahkan tidak tersenyum sedikit pun. Dia menatap Haechan sekilas dengan tatapan dingin, datar, dan sedikit ketus, lalu segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah pintu mobilnya yang akan dibukakan oleh pengawal. Mark sama sekali tidak terlihat terharu atau senang, malah terlihat terganggu dengan kehadiran Haechan di sana.
"Gak usah," jawab Mark singkat, padat, dan ketus. Suaranya dingin sekali, seolah menolak hal yang paling menjengkelkan di dunia. "lo berangkat aja sendiri atau sama orang lain. gue mau berangkat sendiri. gue gak mau ada orang di mobil aku, gue lebih suka tenang dan sendirian. Ribet tau kalau bawa orang, harus nungguin, harus pelan-pelan, gue gak suka. lo cari kendaraan lain aja ya, sana pergi."
Mark sudah memegang gagang pintu mobil, siap masuk dan menutup pintu itu rapat-rapat, memisahkan dirinya dari Haechan.
Hati Haechan langsung seperti ditusuk ribuan jarum yang tajam. Senyum manisnya perlahan hilang, diganti dengan raut wajah yang sedih dan kecewa. Matanya mulai berkaca-kaca, menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang lagi. Dia tidak menyangka penolakan itu akan secepat dan sedingin itu. Padahal dia sudah berusaha sebaik mungkin, sudah menahan diri agar tidak berisik, sudah berusaha manis.
"Mark... kok gitu sih?" tanya Haechan pelan, suaranya bergetar menahan tangis. "Aku kan cuma minta tumpangan doang, cuma sebentar sampai sekolah aja. Aku bakal diem kok, aku gak bakal ngomel, gak bakal ribut, aku bakal duduk manis aja. Kamu kok segitunya sih sama aku? Aku kan tetangga kamu, aku teman kamu, bahkan aku... aku kan sayang sama kamu, Kak. Kenapa kamu selalu aja nolak aku? Kenapa kamu selalu aja mau sendiri terus? Emang aku se-mengganggu itu ya buat kamu?"
Mark menghela napas kasar, terlihat kesal karena Haechan masih berdiri di situ dan tidak mau pergi. Dia menatap Haechan tajam, nada bicaranya makin ketus dan tajam.
"Udah dibilang enggak berarti enggak, Haechan! Apa sih susahnya ngertiin omongan orang?! gue suka sendiri, gue nyaman sendiri, gue gak butuh ditemenin siapa-siapa, apalagi sama lo yang kalau ada aja pasti ada aja ulahnya. Mobil gue ini gue yang punya, gue yang naikin, gue yang bayar, jadi gue atur siapa yang boleh masuk dan enggak. Minggir dulu , gue mau masuk, nanti telat kalau lama-lama ngomong sama lo di sini."
Haechan menundukkan wajahnya dalam-dalam, air matanya hampir jatuh membasahi pipi. Dia merasa sangat kecil, sangat tidak berharga di depan Mark. Dia ingin pergi, dia ingin lari pulang dan menangis sepuasnya, tapi kakinya seolah terpaku di tanah. Dia bingung, sedih, dan sakit hati luar biasa. Kenapa sama dia Mark sejahat ini? Padahal sama Nana... sama Nana dia selembut kapas, sebaik malaikat. Kenapa bedanya sejauh ini?
Belum sempat Mark masuk ke dalam mobil mewahnya, terdengar suara lembut namun tegas memanggil dari balik pintu rumah. Mommy Taeyeong baru saja keluar membawa tas kecilnya, hendak pergi ke suatu tempat, tapi dia mendengar dan melihat semuanya dari awal. Dia melihat Haechan yang sedih, dia melihat sikap dingin anak sulungnya itu, dan dia langsung tidak terima.
"Mark!" panggil Mommy Taeyeong dengan suara keras dan tegas, langkahnya diayunkan cepat mendekati mereka berdua. Wajahnya terlihat tidak senang sama sekali melihat kelakuan anaknya itu.
Mark yang mendengar suara ibunya langsung kaku seketika. Dia memutar badannya perlahan, menatap Mommy Taeyeong yang sudah berdiri tepat di depannya dengan tangan di pinggang.
"Mommy? Ada apa, Mom? Aku mau berangkat sekolah nih, nanti telat lho," kata Mark mencoba beralasan, berusaha terlihat biasa saja.
Mommy Taeyeong tidak menggubris alasan anaknya itu. Dia malah berjalan menghampiri Haechan yang masih menunduk sedih, dia mengelus lembut bahu gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Ya ampun, Nak ... kasihan banget sih kamu. Udah pagi-pagi rapi cantik-cantik ke sini, niatnya baik mau bareng, eh malah ditolak gitu aja kasar banget. Sakit hati ya? Maafin ya kelakuan anak Mommy yang satu ini, emang kadang-kadang mulutnya tajam banget gak pake saringan," ucap Mommy Taeyeong lembut menghibur Haechan, lalu berbalik menatap Mark dengan tatapan tajam dan memaksa.
"Dan kamu Mark... kamu ini gimana sih?! Kurang ajar banget omongan kamu sama Haechan! Dia cewek lho, dia tamu, dia anak sahabat mommy. Kamu punya mobil mewah gede gini, muat buat lima orang aja masih lega, masa cuma nganterin satu orang cewek aja gak mau?! Kamu bilang mau sendiri, mau tenang? Alasan aja kamu tuh! " seru Mommy Taeyeong dengan nada marah tapi tetap elegan.
Mark mengerutkan keningnya, dia berusaha membela diri. "Tapi Mom... kan aku emang lagi pengen sendiri aja hari ini. Aku gak ada mood ngobrol sama siapa-siapa, aku capek. Lagian dia kan bisa naik kendaraan lain, banyak kan opsi lain. Kenapa harus maksa-maksa ikut aku terus?"
"Alasan gak masuk akal!" potong Mommy Taeyeong cepat, suaranya makin tegas dan tidak mau dibantah. "Lagi pengen sendiri, lagi gak ada mood... terus kalau kamu lagi gak ada mood makan, apa kamu gak makan seharian? Gak bisa gitu aturannya! Dengerin ya Mark, Mommy bilangin sekali ini aja dan jangan bantah lagi. Hari ini kamu berangkatnya sama Haechan. Kamu bawa dia naik mobil kamu, kamu antar dia sampai gerbang sekolah dengan selamat, sopan, dan gak boleh ngomong kasar sedikit pun. Paham?!"
Mark melotot kaget, dia benar-benar tidak suka dipaksa seperti ini. "Mommy! Kan aku udah bilang aku gak mau! Kenapa sih Mommy selalu belain dia terus?! Dia itu gangguin aku tau, dia berisik, dia gak ada berhentinya nempel, aku gak nyaman sama dia di mobil!"
Mommy Taeyeong malah makin mendekat, dia menatap mata anaknya lekat-lekat, nada bicaranya makin memaksa dan tak bisa ditawar.
"Justru karena dia selalu baik sama kamu, selalu sabar sama kamu, selalu nungguin kamu, makanya Mommy suruh kamu baik balik! Mark, inget ya apa kata Mommy. Kalau kamu berani berangkat sendiri ninggalin Haechan di sini, kalau kamu berani gak mau bawa dia... jangan harap kamu bisa pake mobil mewah ini lagi mulai besok. Mommy bakal sita kuncinya, Mommy bakal jual mobil ini, dan kamu berangkat sekolahnya jalan kaki atau naik angkutan umum kayak anak orang lain. Mommy serius lho sama omongan Mommy ini. Kamu pilih sekarang: mau bawa Haechan dengan sopan, atau mobil kamu hilang selamanya?"
Mark ternganga mendengar ancaman ibunya itu. Dia tau ibunya bukan main-main. Mommy Taeyeong orangnya tegas dan kalau sudah bicara, dia pasti menepatinya. Mobil mewah ini adalah harta kesayangan Mark, benda yang paling dia banggakan dan selalu dia rawat sepenuh hati. Dia tidak rela kalau mobil ini harus diambil atau dijual hanya gara-gara masalah sepele begini.
Mark menghela napas panjang dan kasar, dadanya naik turun menahan kekesalan yang luar biasa. Dia menatap Haechan yang masih diam tertunduk, lalu menatap ibunya yang masih menatap tajam menunggu jawaban. Dia kalah. Dia terpaksa harus menurut.
"Ya ampun... iya! IYA! Aku bawa dia! Aku berangkat bareng dia! Senang kan sekarang?!" jawab Mark dengan nada kesal, ketus, dan pasrah sekali. Dia memutar tubuhnya dengan kasar, lalu menatap Haechan dengan tatapan membunuh.
"Udah denger kan perintah Mommy? Sana masuk! Cepet masuk ke dalam, jangan bikin nambah telat gara-gara lo melamun di situ! Tapi inget ya satu hal: di dalam mobil aku mau tenang. Gak ada ngomong-ngomong, gak ada tanya-tanya, gak ada sentuh-sentuhan apa pun. lo duduk, diam, sampai tempat tujuan. Kalau lo berani buka mulut atau berisik sedikit aja, awas ya konsekuensinya!" ancam Mark dengan suara rendah dan marah.
Haechan yang mendengar itu langsung mengangkat wajahnya, matanya kembali berbinar meski masih ada sisa sedih di sana. Dia sangat bahagia, meski Mark memaksa dan marah-marah, setidaknya dia berhasil berangkat bareng dia. Dia berhasil masuk ke mobil mewah kesayangan Mark, dia berhasil dapatkan apa yang dia inginkan.
Haechan langsung tersenyum lebar ke arah Mommy Taeyeong sambil mencium tangan wanita itu dengan penuh rasa terima kasih.
"Makasih banyak ya Mommy Taeyeong! Makasih udah belain aku, udah bantu aku. Aku janji kok aku bakal dengerin kata Kak Mark, aku bakal diem aja, aku bakal jadi anak baik di dalam mobil. Aku janji gak bakal ganggu dia sama sekali," ucap Haechan riang banget, hatinya kembali penuh harapan dan kebahagiaan.
Mommy Taeyeong tersenyum puas, dia mengangguk. "Nah gitu dong. Sana masuk sekarang. Mark, hati-hati di jalan ya, nyetirnya jangan ngebut-ngebut, dan inget apa yang Mommy bilang tadi. Jaga Haechan baik-baik."
Tanpa mau buang waktu lagi, Mark membuka pintu depan sebelah kanan dengan kasar, lalu masuk ke kursi pengemudi dengan wajah masam sekali. Haechan dengan senyum yang tak luntur sama sekali, berjalan kecil menuju pintu belakang? Tidak... dia sengaja membuka pintu sebelah kiri depan, duduk persis di samping Mark. Dia tidak mau duduk di belakang seperti penumpang biasa, dia ingin duduk di sebelah, tempat terdekat di hati Mark walau Mark belum mau menerimanya.
Begitu pintu tertutup rapat, suasana di dalam mobil mewah yang dingin dan wangi itu hening seketika. Mark menyalakan mesin dengan kasar, matanya menatap lurus ke depan jalanan, wajahnya kaku dan marah. Sementara di sebelahnya, Haechan duduk dengan manis, tangannya diletakkan rapi di atas pangkuan, matanya tidak lepas menatap profil samping wajah Mark yang begitu dia cintai. Meski Mark marah, meski Mark diam, meski Mark ketus... bagi Haechan, momen berangkat bareng begini adalah kebahagiaan terbesarnya hari ini.