Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa di Atas Bara
Langkah kaki Xavier dan Eli yang seirama menuruni anak tangga marmer terdengar begitu anggun namun sarat akan penekanan dominasi yang nyata. Ratusan pasang mata yang memadati ruang dansa mewah itu seolah tak mampu berkedip. Keangkuhan para sosialita konglomerat yang beberapa menit lalu merendahkan latar belakang Eli, seketika luluh lantak digantikan oleh rasa takjub yang berbaur dengan ketakutan.
Mereka semua tahu betul, kalung berlian marquise yang melingkar di leher Eli bukan sekadar perhiasan, melainkan simbol takhta tertinggi wanita Arisatya yang tak tergoyahkan.
Xavier menuntun Eli membelah lautan manusia yang langsung mundur teratur, memberikan jalan yang luas bagi sang penguasa. Beberapa kolega bisnis internasional dan petinggi pemerintahan segera mendekat, membungkuk takzim demi mencari muka di hadapan Xavier.
"Selamat atas pernikahan Anda yang luar biasa, Tuan Arisatya. Nyonya Eli benar-benar permata yang paling berkilau malam ini," puji seorang menteri senior dengan senyuman lebar yang dipaksakan sopan.
Xavier hanya mengangguk tipis, ekspresi wajahnya kembali sedingin es, tipikal seorang CEO berdarah dingin yang tidak tersentuh. Namun, satu tangan kekarnya tidak pernah lepas dari pinggang mungil Eli, mendekapnya posesif seolah ingin menegaskan kepada dunia bahwa wanita ini adalah wilayah teritorialnya yang mutlak.
"Terima kasih atas kehadirannya," sahut Xavier pendek, suaranya yang bariton dan berat terdengar begitu berwibawa.
Di tengah percakapan formal itu, Eli bisa merasakan sepasang tatapan mata yang sangat tajam dan penuh kebencian menusuk ke arahnya dari sudut ruangan. Eli melirik samar dan mendapati seorang wanita paruh baya bergaun zamrud dengan tiara kecil di rambutnya sedang menatapnya dengan pandangan membunuh.
Wanita itu adalah Nyonya besar dari keluarga Wijaya, salah satu rival bisnis terkuat Arisatya yang putrinya gagal dijodohkan dengan Xavier beberapa bulan lalu.
Nyonya Wijaya melangkah mendekat dengan segelas sampanye di tangannya, memotong pembicaraan para petinggi dengan keangkuhan yang dipaksakan.
"Ah, jadi ini Nyonya Arisatya yang baru yang mendadak menghebohkan publik?" ujar Nyonya Wijaya, suaranya sengaja ditinggikan agar terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka. Senyuman di wajah keriputnya tampak begitu sinis. "Luar biasa sekali. Sangat pandai menyembunyikan diri selama enam tahun. Saya penasaran, di mana kiranya Tuan Xavier menemukan permata tersembunyi yang... memiliki masa lalu yang cukup 'ramai' ini?"
Atmosfer di sekitar mereka seketika menegang. Beberapa tamu undangan menahan napas, tahu betul bahwa Nyonya Wijaya sedang sengaja menaburkan garam di atas rumor masa lalu Eli yang sempat beredar.
Eli merasakan tubuhnya sedikit kaku, memori tentang tuduhan-tuduhan keji di masa lalu sempat melintas di benaknya. Namun, sebelum dia sempat membuka mulut, cengkeraman tangan Xavier di pinggangnya mengencang, menyalurkan kehangatan dan kekuatan yang mutlak.
Xavier membalikkan tubuhnya perlahan, sepasang mata elangnya menyipit tajam, memancarkan kilatan es yang begitu mematikan hingga membuat Nyonya Wijaya mundur satu langkah secara refleks karena terintimidasi.
"Di mana aku menemukannya bukan urusanmu, Nyonya Wijaya," jawab Xavier, suaranya sangat rendah, pelan, namun sarat akan nada mengancam yang mampu menghentikan detak jantung. "Namun, satu hal yang harus kamu ketahui... masa lalu istriku adalah milikku. Dan siapa pun yang mencoba mengusiknya, artinya mereka sedang menantang seluruh kekuatan Arisatya Group.
Aku dengar, proyek pembangunan pelabuhan baru milik keluarga Wijaya sedang menunggu persetujuan dari bank naunganku? Daniel, ingatkan aku untuk membatalkan seluruh investasinya besok pagi."
Wajah Nyonya Wijaya seketika berubah pucat pasi, persis seperti warna kertas. Gelas sampanye di tangannya bergetar hebat. "T-Tuan Arisatya... saya tidak bermaksud..."
"Pergi dari hadapanku sebelum aku membuat keluargamu kehilangan segalanya malam ini juga," potong Xavier dingin tanpa belas kasihan sedikit pun.
Tanpa menunggu sepatah kata lagi, Nyonya Wijaya segera berbalik dan pergi dengan langkah terburu-buru dan kepala menunduk malu, menjadi tontonan memalukan bagi seluruh tamu undangan. Hukuman instan dari Xavier menjadi peringatan keras yang tak terbantahkan bagi siapa pun di ruangan itu: mengusik Eli sama dengan mengundang maut bagi bisnis mereka.
Alunan musik orkestra kembali berubah, kali ini memainkan irama waltz yang lembut dan romantis. Xavier mengabaikan sisa-sisa ketegangan di sekitarnya. Dia membalikkan tubuh Eli agar menghadapnya sepenuhnya, menatap lekat-lekat mata cantik istrinya yang kini berkilat penuh rasa kagum dan haru.
"Maukah kamu berdansa denganku, Nyonya Arisatya?" tanya Xavier lembut, mengulurkan tangan kanannya dengan sikap seorang pria sejati yang sedang memuja ratunya.
Eli tersenyum tulus, meletakkan telapak tangan mungilnya di atas tangan kekar Xavier. "Dengan senang hati, Suamiku."
Xavier menuntun Eli menuju ke tengah lantai dansa yang luas. Di bawah sorotan lampu gantung kristal yang berkilauan, Xavier melingkarkan tangannya di pinggang Eli, sementara tangan Eli bertumpu di bahu kokoh sang suami. Mereka mulai bergerak mengikuti ritme musik, berputar dengan sangat serasi bak sepasang angsa putih di atas air.
Di dalam dekapan Xavier, di tengah kepungan pasang mata yang kini menatap mereka dengan rasa hormat yang mutlak, Eli menyandarkan kepalanya di dada bidang Xavier. Bara intimidasi dan intrik pesta ini tidak lagi bisa menyentuhnya. Di atas lantai dansa ini, di balik dinding emas kekuasaan suaminya, Eli tahu dia telah benar-benar menang atas masa lalunya yang kelam.