Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Teratai Di Atas Abu
Bab 13 — Malam Pencurian Batu Roh
Musim dingin kedua selama Lian Hua berada di Sekte Gunung Awan Putih pun tiba. Salju turun lebat menyelimuti seluruh puncak gunung, angin utara bertiup menderu kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Di malam yang sunyi dan gelap itu, saat seluruh penghuni sekte sedang terlelap, terjadi peristiwa yang mengguncang seluruh penjuru: Gudang Batu Roh, tempat penyimpanan benda berharga sekte yang digunakan untuk ujian dan keperluan kultivasi, dibobol dan dirampok. Puluhan batu roh berkualitas tinggi lenyap tanpa jejak, hanya menyisakan pintu yang terbuka paksa dan bekas jejak langkah yang samar tertutup salju.
Keesokan paginya, seluruh sekte dikepung ketat. Tetua utama dan para penguji berkumpul di halaman utama, wajah mereka penuh kemarahan dan kekecewaan. Batu roh bukan sekadar benda biasa, nilainya sangat tinggi dan sulit dicari di luar. Pencurian ini dianggap penghinaan besar terhadap kehormatan dan keamanan sekte.
Zhao Feng berdiri di barisan depan, wajahnya tampak serius namun di balik matanya terselip senyum licik yang sulit diamati. Semalam, dialah beserta beberapa pengikutnya yang diam-diam membobol gudang itu, lalu menyembunyikan batu-batu roh itu di tempat tersembunyi di pinggir hutan. Ia sudah lama mendendam pada Lian Hua, terutama setelah kejadian di lapangan latihan di mana pemuda itu tetap berdiri tegak meski pedangnya patah, dan juga karena ia melihat Gu Qing Cheng makin sering memperhatikan murid rendahan itu. Ia mencari cara untuk menyingkirkan Lian Hua selamanya, dan peristiwa ini adalah kesempatan emas yang tak akan dilewatkannya.
"Tetua, Penguji!" seru Zhao Feng lantang, maju selangkah seolah memiliki bukti penting. "Saya tahu siapa pelaku pencurian keji ini!"
Segala mata tertuju padanya. Tetua Bai yang turut hadir mengerutkan kening, bertanya dengan suara berat, "Kau tahu siapa? Katakanlah."
"Semuanya mengingat, bukan? Bahwa ada seorang murid yang sangat tertarik dengan batu roh, bahkan saat ujian Tangga Seribu Anak dulu, ia memaksakan diri membawa batu itu sampai ke puncak meski hampir mati," kata Zhao Feng sambil menoleh ke arah Lian Hua yang berdiri diam di ujung barisan murid luar. "Dan bukankah orang itu yang paling sering dikucilkan, yang selalu mendendam pada sekte karena dianggap rendah? Siapa lagi kalau bukan Lian Hua!"
"Tidak mungkin!" seru seseorang dari kerumunan. "Meski ia murid rendahan, ia bukan orang yang berhati busuk!"
Namun Zhao Feng tak peduli. Ia memberi isyarat pada dua temannya, yang lalu berlari keluar dan kembali membawa sebongkah batu roh besar yang masih memiliki tanda khas milik sekte. "Lihatlah! Pagi tadi, kami berpatroli di dekat gubuk tempat tinggal Lian Hua, dan menemukan benda ini tersembunyi di bawah tumpukan kayu di halaman belakangnya. Ini adalah bukti nyata!"
Lian Hua terbelalak kaget. Ia tak pernah menyentuh gudang itu, apalagi mencuri. Ia tahu persis benda itu baru saja diletakkan di sana malam tadi saat ia sedang berlatih di celah tebing belakang, tempat yang biasa ia kunjungi sendirian. Ia tahu betul siapa dalang di balik semua ini.
"Itu jebakan!" ucap Lian Hua tenang namun tegas, suaranya jernih terdengar ke segenap penjuru. "Saya tidak pernah mengambil barang sekte. Batu itu diletakkan di sana oleh orang yang ingin menjatuhkan saya."
"Jebakan?" Zhao Feng tertawa sinis. "Bukti sudah ada di depan mata, tapi kau masih berani membela diri? Dasar pencuri yang tak tahu malu! Siapa lagi yang punya alasan selain kau? Kau yang tak punya bakat, tak punya harta, dan pasti iri melihat kemewahan sekte ini!"
Para tetua saling pandang. Bagi mereka, bukti sudah tampak nyata, dan latar belakang Lian Hua yang dianggap lemah serta rendah memang menjadi alasan yang masuk akal bagi banyak orang. Tetua Bai menatap Lian Hua lekat-lekat, ia ingin sekali percaya pada pemuda yang ia terima itu, namun bukti fisik ada di hadapannya, dan ia pun tak bisa berbuat banyak di hadapan aturan sekte.
Gu Qing Cheng berdiri di samping, wajahnya pucat pasi. Ia tahu Lian Hua bukan orang seperti itu, ia tahu ada yang tak beres, namun sebagai murid baru, suaranya takkan didengar oleh siapa pun. Ia hanya bisa menggenggam tangannya erat, menahan kecemasan yang meluap-luap.
"Karena bukti sudah jelas, dan pelaku mengakui kejahatannya dengan diam," ucap Tetua utama dengan suara berat dan dingin, "Maka sesuai aturan Sekte Gunung Awan Putih, pencuri barang berharga akan dihukum berat. Lian Hua, kau akan dihukum berlutut di Halaman Angin Utara, di tengah badai salju, selama tiga hari tiga malam. Tak boleh makan, tak boleh minum, tak boleh bergerak sedikit pun. Jika kau bertahan hingga akhir, kau boleh tetap tinggal. Jika kau menyerah atau mati... itu adalah hukuman yang pantas untukmu."
"Dan jika kau berani melarikan diri," tambahnya tajam, "seluruh sekte akan memburumu sampai ke ujung dunia."
Beberapa murid menghela napas, ada yang merasa iba, namun lebih banyak yang merasa puas—terutama pengikut Zhao Feng. Bagi mereka, hukuman ini sama saja dengan menjatuhkan vonis mati. Suhu di Halaman Angin Utara sedemikian dingin, mampu membekukan darah pendekar biasa dalam waktu sehari saja, apalagi bagi Lian Hua yang dianggap tak punya kekuatan.
Lian Hua diam saja. Ia menatap Zhao Feng yang tersenyum kemenangan, menatap para tetua yang percaya pada bukti palsu itu, lalu menatap Gu Qing Cheng yang menatapnya dengan pandangan sedih dan khawatir. Ia tak membela diri lagi. Ia tahu kata-katanya takkan ada gunanya saat kebenaran ditutupi kebohongan dan kebencian.
Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik melangkah pergi menuju tempat hukuman.
Halaman Angin Utara terletak di sisi paling terasing gunung, tempat angin kencang dari utara bertiup tanpa penghalang. Tanah di sana keras dan tertutup lapisan es tebal. Di tengah lapangan luas itu, Lian Hua berlutut diam di atas salju yang setebal betis orang dewasa. Jubahnya yang tipis dan robek sama sekali tak mampu menahan hawa dingin yang menyayat hati.
Badai salju makin mengamuk di sekelilingnya. Butiran salju tajam menghantam wajah dan tubuhnya, angin menderu seolah ingin merobek raga dan jiwanya. Dalam sekejap, seluruh tubuhnya tertutup lapisan salju tebal, membuatnya tampak seperti patung es yang diam membatu.
Darah di dalam tubuhnya perlahan mulai mendingin, ujung jari dan kakinya sudah hilang rasa. Namun di dalam dada yang tertutup lapisan es itu, api dendam dan tekad masih menyala terang. Lian Hua memejamkan mata, mengatur napasnya pelan-pelan, lalu diam-diam menjalankan Seni Teratai Langit. Ia membiarkan hawa dingin yang mematikan itu masuk ke dalam tubuhnya, membiarkannya menembus daging dan tulang, lalu perlahan memurnikannya, mengubahnya menjadi tenaga murni yang akan membuatnya makin kokoh dan kuat.
Di kejauhan, di balik dinding batu yang tak terlihat, Gu Qing Cheng berdiri diam memeluk tubuhnya sendiri karena dingin, air mata menetes membasahi pipinya yang merah membeku. Ia menatap sosok diam yang terbungkus salju itu, hatinya sakit teriris-iris.
Zhao Feng dan kawan-kawannya tertawa puas saat melihat dari jauh. "Lihatlah dia. Besok pagi pasti sudah jadi mayat beku. Akhirnya, gangguan kecil ini hilang dari hadapan kita selamanya."
Namun mereka tak tahu, bahwa di tengah badai salju yang paling ganas, di tengah hukuman yang seharusnya mematikan itu, benih teratai itu sedang menempa diri lebih dalam lagi, menyerap dingin dan penderitaan itu sebagai makanan pertumbuhannya.
Di tengah angin menderu dan salju yang turun makin lebat, Lian Hua tetap berlutut diam, tegak dan tak bergeming, bagai sebatang pohon bambu yang takkan pernah patah diterpa badai sekeras apa pun.