Dunia Doni runtuh saat istri tercintanya meninggal dunia sesaat setelah melahirkan putri mereka, Maudi. Di masa rentan itu, masuklah Seina, seorang wanita licik yang ambisius. Demi menguasai harta Doni, Seina melakukan aksi nekat,ia menukar Maudi dengan putri kandungnya sendiri, Eliza.
Sejak saat itu, nasib kedua bocah tersebut berubah 180 derajat. Eliza tumbuh sebagai gadis yang sangat dimanja dan bergelimang kemewahan. Sebaliknya, Maudi yang merupakan anak kandung Doni, justru dianggap sebagai pembawa sial oleh Seina. Selama tujuh tahun, Maudi kecil hidup dalam penderitaan, disiksa secara fisik dan mental oleh Seina tanpa sepengetahuan Doni.
Penderitaan Maudi berakhir ketika sebuah insiden membuatnya terbuang dan akhirnya tumbuh di lingkungan pesantren. Di sinilah mutiara yang terpendam itu mulai bersinar. Maudi ternyata adalah seorang anak yang sangat jenius.
Assalamualaikum...
yuk, ikuti kelanjutan kisahnya ....
semoga suka.... jangan lupa dukungannya ya🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suasana di Pelabuhan Utara berubah menjadi palagan yang mengerikan. Suara tembakan menyalak di antara deru ombak dan pekikan besi kontainer. Di bawah sorot lampu helikopter yang berputar-putar, pasukan gabungan mulai merangsek masuk.
Maudi mendarat dengan sempurna di atas kontainer-kontainer...ia berlari mengejar Hans yang tadi bersembunyi di balik kontainer...
Sementara Rasya yang dari tadi tidak bernafas karena melihat bakterinya terjun bebas tanpa bantuan alat apapun kini bisa bernapas dengan lega.
"Kamu benar-benar nakal Maudi, awas saja, kalau kau sudah menjadi milikku, aku akan mengurungmu di laboratorium milikku" gumamnya dengan pelan...
"Turunkan heli nya ke tempat yang sudah bebas dari kuman" perintah Rasya menunjuk tempat yang sudah di sterilkan oleh Kevin yang sudah lebih dulu berada di tempat.
"Baik Tuan".
___
Anak buah Kakek Harison yang bersenjata lengkap bergerak dengan taktis, disokong oleh tim tentara bayaran Rasya yang menggunakan teknologi sensor panas. Tak ketinggalan, dua bayangan hitam muncul dari kegelapan, rekan agen Maudi dari Sektor 7 yang bergerak sunyi, melumpuhkan penjaga luar Hans hanya dengan satu serangan di titik saraf.
"Bersihkan area! Jangan biarkan satu pun kuman gangster itu lolos!" seru Kevin melalui radio, sementara ia sendiri sibuk mengarahkan drone yang menembakkan gas pelumpuh saraf.
Di dalam gudang, Seina yang panik mencoba menyeret Eliza menuju dermaga belakang. Namun, langkahnya terhenti saat pintu besi di depannya meledak akibat tembakan sonic pulse.
Sesosok pria dengan jubah pelindung putih mengkilap dan masker premium melangkah masuk. Rasya melepas masker oksigennya, memperlihatkan wajah yang terpahat sempurna dengan rahang tegas dan mata yang berkilat tajam di bawah cahaya darurat.
"Lepaskan dia, wanita kotor," ucap Rasya dingin... Ia mengganti maskernya dengan yang baru, yang sudah di siapkan khusus di kantong bajunya.
Seina tertegun, namun Eliza lebih terkejut lagi. Di tengah rasa takut dan tangisnya, Eliza menatap Rasya yang berdiri bagai dewa penyelamat. Ketampanan Rasya yang luar biasa, yang selama ini hanya ia lihat di majalah bisnis kini berada tepat di depannya. Meski hanya sebentar ... Jantung Eliza berdegup kencang, ia merasa seolah diselamatkan oleh pangeran dari negeri dongeng.
Namun, Rasya bahkan tidak melirik Eliza. Matanya hanya tertuju pada posisi Maudi di atap gudang yang sedang berlari mengejar Hans.
"Jangan mendekat, atau dia akan mati..." seru Seina dengan wajah takut... Namun Eliza bukannya takut, ia masih berusaha menormalkan detak jantungnya yang tidak teratur....Rasya bukannya merasa terancam, ia malah tidak perduli, Dengan gerakan cepat, Rasya menembakkan alat pelumpuh ke arah Seina, membuat wanita itu jatuh pingsan. Rasya menarik Eliza berdiri, namun segera melepaskan tangannya setelah Eliza tegak.
"Cepat lari dari sini....di sini sangat kotor" ucap Rasya datar tanpa ekspresi, lalu ia kembali fokus memantau Maudi. Eliza terpaku, hatinya bergetar antara kagum dan perih karena diabaikan.
"Terimakasih... terimakasih tuan, Anda telah menyelamatkan nyawa Saya" ucap Eliza dengan terbata... matanya melirik ke arah ibunya yang pingsan...
Sebelum pergi,ia mendekat "Maafin El mah, El tidak bisa menjadi apa yang mama inginkan ... Eliza melihat dua orang dengan seragam petugas kepolisian mendekat dan membawa Seina pergi.
Eliza menoleh ke arah Rasya lagi,namun Rasya sudah tidak ada di sana, Eliza di tuntun menunju ke tempat yang aman oleh orang-orang Harison..."Ayo nona, ikut kami".
Eliza mengangguk namun ia masih memikirkan laki-laki tadi yang menolongnya.
___
Di puncak tumpukan kontainer tertinggi, Maudi berdiri berhadapan dengan Hans. Angin laut yang kencang membuat jilbab hitam Maudi yang sudah terpasang kembali berkibar liar. Ia sudah melepas cadarnya dan menyisakan masker medis pemberian Rasya... mengikat ujung gamisnya ke perut.
"Kau menghancurkan hidupku, Midi!" raung Hans sambil menghunuskan pedang yang sangat tajam dan ujungnya begitu runcing.
"Kau yang menghancurkan dirimu sendiri dengan racun yang kau jual, Hans!" sahut Maudi.
Hans menerjang dengan membabi buta. Maudi menghindar dengan gerakan matrix, meliuk di bawah sabetan pedang Hans. Maudi menggunakan pisaunya untuk menangkis. Bunyi dentingan logam yang beradu menciptakan percikan api di tengah kegelapan.
Maudi menatap tajam saat Rasya akan mendekat, seolah-olah ia mengatakan jangan campuri urusanku, karena fokusnya terbagi, tiba-tiba....
Srak!
Hans berhasil menggores bahu Maudi, namun dengan kesadaran Maudi, Maudi kembali membalas dengan tendangan berputar tepat di ulu hati Hans. Hans terhuyung, namun ia tertawa gila. Ia menarik sebuah pemantik dari saku celananya.
"Jika aku mati, pelabuhan ini akan menjadi kuburan kita semua!" Hans menunjuk ke arah tumpukan barel kimia di bawah mereka yang sudah disabotase.
Maudi menyadari Hans sudah kehilangan akal sehatnya. "Hans, jangan!"
Namun Hans menyulut pemantik itu. Maudi melompat ke arah Hans untuk merebutnya, terjadi pergulatan hebat di pinggir kontainer. Di saat yang sama, sebuah tembakan dari anak buah Hans yang masih tersisa menyasar ke arah Maudi.
Dor!
Peluru itu mengenai Hans yang menjadi tameng Maudi saat mereka berguling. Maudi sengaja menutupi tubuhnya dengan tubuh Hans...., Maudi tersenyum karena anak buah Hans salah sasaran.... Hans terbelalak, darah segar muncrat ke wajah Maudi. Di saat yang kritis itu, barel di bawah mereka mulai meledak satu per satu.
Duar .
Duar...
"MAUDIIIII!" teriak Rasya dari bawah, wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi ketakutan yang luar biasa. Ia mengabaikan semua protokol sterilisasinya, Rasya berlari menembus asap dan api menuju tumpukan kontainer yang mulai runtuh.
Maudi mencoba meraih tangan Hans yang nyaris jatuh ke kobaran api, namun Hans tersenyum pahit. "Kau menang, Midi... tapi kau akan selamanya dihantui oleh darah ini."
"tidak Hans, jangan lepaskan, hukuman ini terlalu mudah untuk ku " teriak Maudi namun Hans malah tertawa , Hans melepaskan pegangannya dan jatuh ke dalam ledakan api yang membumbung tinggi. Kontainer tempat Maudi berdiri mulai miring. Maudi terjatuh,
Brakkkkk ....
tubuhnya menghantam besi panas sebelum ia terlempar ke arah tumpukan jerami di bawah.
Suasana di dermaga pasca-ledakan itu benar-benar kacau. Asap hitam membumbung tinggi ke langit malam, menelan sisa-sisa kejayaan Hans yang kini hancur lebur dengan hancur nya tubuh Hans.
Rasya bergerak lebih cepat dari siapa pun. Sebelum Eliza, Doni, atau Kakek Harison mencapai titik jatuhnya Maudi, Rasya sudah lebih dulu menyelimuti tubuh Maudi dengan jubah pelindung putihnya yang lebar. Ia menggendong Maudi dengan protektif, menyembunyikan wajah dan tubuh Maudi yang terluka dari penglihatan orang lain.
"Kevin! Blokade area ini! Jangan biarkan siapa pun mendekat, termasuk keluarga Daneswara!" perintah Rasya dengan nada otoriter yang tak terbantahkan.
Rasya tidak menghiraukan kuman-kuman yang mungkin sudah melekat di pakaian Maudi....baginya keselamatan Maudi kini yang utama, ia segera membawa Maudi masuk ke dalam ambulans khusus miliknya yang sudah disterilisasi. Di dalam sana, Maudi masih tak sadarkan diri, sementara Rasya terus memegang tangannya yang dingin, mengabaikan noda oli dan darah yang kini mengotori setelan mewahnya.
Next Acara Pernikahan Rasya dan Maudi baiknya wajah Maudi bebas terekspos bebas, biarkan mereka yg mengira Maudi siburuk rupa menjadi Ratu yg sesungguhnya dihari besar itu tiba, dan kemunculan yg sesungguhnya itu akan menjadi guncangan terdahsyat bagi 2 keluarga tersebut 😏