Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Fajar di Los Angeles baru saja pecah, menyisakan warna biru keabu-abuan yang dingin di cakrawala.
Jam menunjukkan pukul enam pagi saat Briella Zamora membuka matanya. Tidak ada binar cinta atau kehangatan pengantin baru di sana. Yang ada hanyalah tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi tajam dan kalkulatif.
Di sampingnya, Lexington Valerio masih tertidur nyenyak. Napas pria itu teratur, tangannya masih secara posesif melingkar di pinggang Briella, seolah takut wanita itu akan menguap menjadi asap jika dilepaskan. Wajah Lexington saat tidur terlihat sangat damai, jauh dari kesan angkuh yang selama ini ia pakai seperti zirah.
Briella menatap wajah itu cukup lama. Ia teringat kembali malam-malam panjang selama lima tahun terakhir, di mana ia menangis hingga tertidur karena pria ini memutuskannya hanya karena sebuah maket plastik yang pecah. Ia teringat bagaimana Lexington menghina harga dirinya dengan menyebutnya "beban" dan "ceroboh".
Luka itu tidak pernah sembuh. Luka itu hanya ditutup oleh dendam yang dipoles rapi dengan senyuman.
"Bukankah kita sudah menikah?" bisik Briella dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti desisan angin.
Sebuah senyum menawan, namun menyimpan racun, terukir di bibirnya. "Mari kita bercerai secara sah, Lexington."
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Briella mengangkat tangan Lexington dari pinggangnya. Setiap inci tubuhnya terasa remuk akibat gairah egois Lexington semalam, namun rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa puas yang kini merayapi hatinya. Ia turun dari ranjang, kakinya gemetar hebat saat menyentuh lantai marmer yang dingin.
Ia tidak langsung pergi. Briella berjalan menuju meja rias, mengambil secarik kertas dan pena. Dengan tangan yang stabil, ia menuliskan beberapa baris kalimat yang akan menjadi belati paling tajam untuk ego seorang Valerio.
"Terima kasih atas pelayanan malam pertama yang luar biasa, Lexington Valerio. Setidaknya sekarang aku tahu, mesin milikmu memang tidak macet, tapi hatimu tetaplah rongsokan yang tidak berguna. Kita impas. Aku mengambil kembali harga diriku yang kau injak lima tahun lalu. Selamat menikmati status dudamu."
Briella meletakkan kertas itu tepat di atas nakas, di samping ponsel Lexington.
Dengan langkah kaki yang luar biasa tidak nyaman—rasa sakit yang menjadi pengingat betapa dominannya Lexington semalam—ia keluar dari kamar itu tanpa menoleh sedikit pun.
Ia tidak membawa koper. Ia tidak membawa kenangan. Ia hanya membawa dirinya sendiri yang kini merasa utuh kembali karena telah berhasil menjadikan pernikahan ini sebagai lelucon paling megah di Los Angeles.
Waktu terus bergulir hingga matahari mulai meninggi, menembus kaca jendela kamar utama dan menyinari ranjang yang kini hanya menyisakan satu penghuni.
Lexington menggeliat, tangannya secara refleks meraba sisi ranjang di sampingnya, mencari kehangatan yang ia dekap sepanjang malam.
Kosong. Hanya ada sprei yang sudah dingin.
"Honey..." gumam Lexington dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Kau mau sarapan apa hari ini? Aku akan membuatkanmu omelet tanpa bawang, seperti yang kau suka..."
Keheningan menyambutnya. Lexington membuka matanya perlahan, mengharapkan melihat wajah cantik Briella yang berantakan karena lelah. Namun, yang ia lihat hanyalah bantal yang tidak lagi berpenghuni.
"Honey?" panggilnya lagi, kali ini lebih keras.
Ia bangkit dari posisi tidurnya, menoleh ke arah kamar mandi. Tidak ada suara gemercik air. Tidak ada uap panas yang keluar dari celah pintu. Kamar mandi itu terlihat persis seperti saat mereka meninggalkannya di jam empat subuh tadi setelah sesi terakhir mereka yang melelahkan.
"Sayang... Jangan bercanda, Bri..." Lexington mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Jantungnya berdebar kencang, sebuah firasat buruk mulai merayapi punggungnya.
Ia turun dari ranjang, berdiri di tengah ruangan yang terasa mendadak sangat luas dan sunyi. Ia memeriksa ruang ganti, namun tidak ada tanda-tanda Briella di sana. Ia kembali ke sisi ranjang, terduduk lemas dengan pandangan yang kosong. Matanya kemudian tertuju pada secarik kertas di atas nakas.
Lexington meraih kertas itu. Saat ia membaca setiap kata yang tertulis di sana, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Napasnya menjadi pendek dan tajam.
"Jadi... kau merasa pernikahan ini hanya lelucon, Briella Zamora?" ucapnya lirih, suaranya mengandung kemarahan yang tertahan sekaligus rasa sakit yang luar biasa.
Kertas itu bergetar di tangannya. Lexington, sang dosen muda yang selalu diagungkan karena logika dan presisinya, kini merasa dunianya hancur berkeping-keping.
Selama dua minggu ini, ia mengira Briella benar-benar kembali padanya. Ia mengira Malam gairah panas semalam adalah tanda bahwa mereka telah memulai lembaran baru.
Ternyata, itu hanyalah panggung sandiwara yang disiapkan Briella untuk menghancurkannya tepat di saat ia merasa paling bahagia.
"Aku bahkan tidak sadar..." Lexington tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyedihkan di dalam kamar yang sunyi itu. "Kau menggunakan tubuhmu, kau menggunakan janji suci itu, hanya untuk memberiku tamparan ini?"
Ia meremas kertas itu hingga menjadi bola kecil dan melemparnya ke dinding. Sisi gelap Lexington mulai mengambil alih. Jika Briella berpikir ini adalah akhir dari permainan, maka wanita itu salah besar. Lexington bukan pria yang akan membiarkan propertinya pergi begitu saja setelah memberinya luka seperti ini.
"Kau ingin bercerai secara sah, Bri?" gumam Lexington, matanya kini berkilat penuh obsesi. "Aku akan memberikanmu pengadilan yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku tidak akan membiarkanmu menang kali ini. Jika kau ingin menjadikan pernikahan ini lelucon, maka aku akan menjadikannya tragedi yang tidak akan pernah bisa kau lupakan."
Lexington berdiri, meraih ponselnya, dan menekan satu nomor.
"Hadiyan? Cari posisi Briella Zamora sekarang. Pastikan dia tidak bisa meninggalkan kota ini. Istriku ingin bermain kucing-kucingan, dan aku sedang dalam suasana hati yang sangat buruk untuk bermain lembut."
Pagi itu, di mansion megah Valerio, cinta yang baru saja mekar dalam semalam, resmi berubah menjadi perang ego yang akan menghanguskan segalanya. Briella mungkin telah pergi dengan kepala tegak, namun ia lupa bahwa ia baru saja membangunkan monster yang selama lima tahun ini tertidur di dalam diri Lexington.
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya
emosinya kaya nyata dapet banget.
sehat selalu yaaa, semoga hari kamu baik terus
Tuhan memberkati 😇😇😇