NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Aku mendarat di Bandara Sheremetyevo saat badai salju menyapu landasan dengan kebengisan yang hanya dimiliki oleh Rusia. Angin utara menderu, memukul-mukul badan pesawat Boeing yang baru saja membawaku melintasi benua. Langit Moskow di luar jendela kecil itu berwarna abu-abu pekat, menyerupai timah cair yang membeku di atas cakrawala yang suram.

Aku melangkah keluar dari gerbang kedatangan, melewati sensor pemindai suhu dan petugas keamanan yang bermata tajam. Aku bukan lagi pria yang memakai kemeja rapi di Jakarta; aku adalah "Vadim," seorang teknisi instalasi jaringan dari wilayah sengketa yang datang dengan kontrak kerja murah. Jaket parkaku tebal dan kusam, sepatu bot industrimu penuh bekas lumpur kering, dan sebuah ransel besar yang tampak berat menggelayut di bahuku. Di mata petugas imigrasi, aku hanyalah angka, satu dari ribuan buruh migran yang mencari nafkah di bawah kerasnya rezim.

Namun, di balik lapisan ganda ranselku, tersimpan perangkat spionase tingkat militer yang kurakit sendiri. Sebuah mahakarya kecil yang disamarkan sebagai bagian dari laptop tua dan alat ukur listrik, itu adalah teknologi yang tidak akan pernah bisa dilacak oleh pemindai standar manapun di dunia.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dengan ketenangan seorang pria yang sudah menanggalkan rasa takutnya, aku tidak menuju pangkalan taksi resmi. Aku menumpang bus bandara yang penuh sesak oleh aroma asap rokok dan uap napas, menuju stasiun Metro Aeroexpress. Di sana, aku mulai melakukan ritual "pembersihan." Aku berpindah kereta tiga kali di jalur melingkar Koltsevaya, menembus stasiun-stasiun bawah tanah yang megah seperti istana bawah tanah namun terasa mencekam.

Aku berhenti di stasiun yang sibuk, berbaur dengan kerumunan, lalu melompat ke gerbong lain di detik-detik terakhir sebelum pintu tertutup. Aku harus memastikan tidak ada satu pun bayangan yang mengikutiku ke tempat persembunyianku.

Apartemen sewaan itu berada di distrik Khoroshyovo-Mnyovniki, lantai delapan sebuah bangunan Khrushchyovka tua yang dindingnya bopeng oleh bekas peluru sisa sejarah dan jelaga industri. Gedung ini adalah sisa-sisa kejayaan masa lalu yang kini meranggas, namun secara strategis, ia adalah titik sempurna. Jendela dapurnya yang berdebu menghadap langsung ke arah kompleks menara kaca Moscow City yang berkilauan di kejauhan—simbol kekayaan baru Rusia yang angkuh. Di lantai 22 salah satu menara itu, Dimitri Volkov duduk di tahtanya.

Begitu pintu apartemen terkunci, aku tidak langsung melepaskan lelah. Rasa kantuk setelah penerbangan 30 jam aku tekan jauh-jauh. Aku mengeluarkan RF Bug Detector dan mulai menyisir setiap inci ruangan dengan sangat teliti. Aku memeriksa bingkai foto tua yang miring, sela-sela lantai kayu yang berderit setiap kali aku melangkah, hingga ke dalam kotak sakelar listrik. Di Moskow, bahkan dinding pun memiliki telinga, dan kecerobohan sekecil apa pun berarti kematian. Setelah yakin ruangan itu "bersih," aku mulai membongkar isi ranselku.

Langkah pertama dalam spionase bukan tentang mencuri informasi, tapi tentang memastikan kau tidak menjadi informasi bagi orang lain. Apartemen ini sekarang adalah pusat semestaku, benteng pertahananku. Di luar sana, Dimitri memiliki pasukan paramiliter dan teknologi senilai jutaan dolar. Di sini, aku hanya punya kecerdikanku dan keheningan yang harus kujaga seperti nyawaku sendiri.

Aku mulai merakit senjata utamaku, Laser Mikrofon LST-4. Tripod kecil aku tempatkan di sudut dapur yang gelap, jauh dari pantulan lampu jalan yang remang. Dengan presisi seorang penembak jitu, aku mengarahkan sinar laser infra-merah yang tak terlihat itu tepat ke jendela kaca ruang kerja Dimitri yang berjarak hampir satu kilometer. Sinar itu akan menangkap getaran mikroskopis pada kaca jendela setiap kali Dimitri berbicara, memantulkannya kembali ke sensor penerimaku, dan mengubahnya menjadi suara manusia yang jernih.

Namun, Dimitri adalah rubah tua yang licin. Aku tahu dia pasti menggunakan white noise generator untuk mengacaukan penyadapan. Maka, aku butuh akses yang lebih dalam. Aku mengeluarkan antena Yagi berkekuatan tinggi yang kurakit dari kaleng bekas dan sirkuit penguat sinyal, lalu mengarahkannya ke menara seluler terdekat. Aku tidak akan menyerang Dimitri secara langsung; aku akan menyerang titik terlemahnya: kafe kopi di lantai dasar gedungnya, tempat setiap pagi stafnya menyambungkan ponsel ke jaringan WiFi publik. Aku akan menciptakan 'kembaran digital' dari sinyal itu, menjadi hantu yang menunggu di tengah frekuensi.

Malam berikutnya, suhu turun hingga minus lima belas derajat. Aku keluar dengan seragam teknis saluran pembuangan, membawa tas alat yang berat. Di bawah jalanan Moskow yang membeku, aku meraba gelang pemberian Ghea yang menghangatkan hatiku. Gelang itu masih di sini bersamaku, dan dia di sana dengan tatapan hangatnya.

Di dalam labirin gorong-gorong yang berbau oli dan uap panas, aku mencari jalur kabel serat optik utama. Dengan ketelitian seorang ahli bedah saraf, aku menemukan bundel kabel berkode warna kuning—jalur data pribadi milik perusahaan Dimitri.

Aku tidak memotongnya. Aku menggunakan Optical Clip-on Coupler. Alat ini membengkokkan kabel pada sudut yang sangat spesifik, memaksa sedikit cahaya data keluar tanpa merusak sinyal utamanya. Data yang "bocor" itu kemudian ditangkap oleh alat penerima kecil yang kutanam di dinding gorong-gorong, mengirimkan enkripsi data tersebut kembali ke apartemenku.

Darah Dimitri bukan lagi cairan merah di nadinya; darahnya adalah data. Ribuan bit transaksi, koordinat pengiriman, dan nama-nama informan kini mengalir lewat tanganku. Aku mulai meluncurkan serangan siber tahap dua, teknik Man-in-the-Middle. Saat stafnya masuk ke jaringan internal dari WiFi kafe yang telah kukloning, aku menyisipkan malware kecil yang tidak terdeteksi yaitu sebuah "Trojan" yang dirancang untuk mencari kata kunci spesifik: "Project Phoenix" dan "Buku Hitam".

Di layar monitor di apartemen, barisan kode hijau terus bergulir, merekam pergerakan Dimitri secara real-time. Aku memantaunya seperti Tuhan yang melihat setiap langkah hambanya. Aku tahu kapan dia meminum wiskinya, kapan dia menelepon istrinya, dan kapan dia mulai membicarakan transaksi gelap.

Hingga akhirnya, telingaku menangkap suara Dimitri melalui laser mikrofon. Suaranya berat dan penuh wibawa, namun mengandung keletihan yang tidak pernah kusangka.

"Kirim lebih banyak dana ke perbatasan Polandia," desis Dimitri di earpiece-ku. "Marko tidak boleh tahu. Jika dia tahu uang ini digunakan untuk mengeluarkan orang-orang itu dari jalur peredaran darahnya, dia akan membakar tempat ini."

Aku terpaku. Jemariku yang sedang mengetik perintah enkripsi berhenti di udara. Aku menatap layar yang menampilkan grafik aliran dana Dimitri dan melakukan audit silang dengan data yang kucuri dari server internal. Hatiku mencelos. Marko mengatakan Dimitri mencuri untuk membangun tentara bayaran, tapi angka-angka di depan mataku bicara lain.

Uang itu mengalir ke panti asuhan, rumah sakit darurat, dan organisasi yang membantu korban perdagangan manusia di Meksiko—orang-orang yang dunianya dihancurkan oleh Marko. Dimitri tidak sedang membangun kekuatan; dia sedang menebus dosa. Dia menggunakan harta Marko untuk menyelamatkan nyawa-nyawa yang dikorbankan oleh Marko.

Aku datang ke sini sebagai algojo. Aku merakit semua teknologi ini untuk memastikan kematian seorang pria yang menurut Marko adalah iblis. Tapi di dalam kegelapan apartemen tua ini, di tengah suara desis laser dan kode-kode digital, aku menyadari satu hal yang menghancurkan batinku. Dia mungkin iblis untuk masa lalunya, tapi sekarang dia adalah savior, penyelamat untuk ratusan orang.

Jika aku melanjutkan misiku, jika aku membunuh pria ini, maka aku bukan lagi seorang agen yang menjalankan tugas suci. Aku adalah tangan kanan iblis yang sesungguhnya. Aku sedang membunuh satu-satunya orang yang mencoba melawan kegelapan yang sama yang telah merenggut orang tuaku.

Aku berdiri, menatap pendar lampu Moscow City dari balik jendela yang buram oleh es. Napasku terasa berat, seberat pilihan yang kini ada di depanku. Marko memegang leher Ghea di Jakarta, sementara Dimitri kini memegang sisa-sisa nurani yang masih kumiliki. Untuk menyelamatkan cintaku, haruskah aku membunuh kebenaran?

Malam itu, di tengah badai salju Moskow yang kian menggila, Samuel sang instrumen Marko benar-benar mati. Dan Ghani, pria yang mencintai Ghea, harus mulai merancang permainan yang jauh lebih berbahaya, sebuah permainan di mana aku harus menjadi lebih licin dari Marko dan lebih berani dari Dimitri.

1
Suris
hehehe.. ketemu ghea dong...
Iris Aiza: ikuti terus Kak 😍
total 1 replies
Wawan
Taburan mawar dan iklan buat Ghea 💪✍️
Iris Aiza: Terima kasih Kak 🙏🙏😇😇
total 1 replies
Suris
Novel spionase dan petualangan yg palung bagus yg pernah sy baca di NT.
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/
Iris Aiza: Semoga Kakak suka dengan perjalanan Ghani dan Ghea sampai akhir 🙏🙏🙏😊😇
total 2 replies
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!