Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Tidak Pernah Hilang
Kota Jakarta tampak seperti lautan cahaya, yang dingin, indah, tapi mati.
Alessandro Valerio berdiri diam di depan jendela, dengan tangan masuk ke saku celana hitamnya. Tatapannya kosong menembus gemerlap malam Jakarta.
Sudah tiga hari sejak surat berdarah itu datang, dan sejak saat itu hidupnya mulai berubah.
Nama Valerio yang selama ini dikubur rapat, perlahan mulai bangkit dari kubur.
"Aku tahu siapa dirimu."
Kalimat dalam surat itu terus terngiang di kepalanya seperti racun.
Hingga suara ketukan pintu membuat Alessandro menoleh pelan.
"Masuk."
Pintu terbuka, dan Rafael masuk dengan wajah tegang.
"Ada yang aneh lagi."
Alessandro tidak menjawab, ia hanya menatap tajam, memberi isyarat agar Rafael melanjutkan.
"Dua orang mengikuti mobil anda tadi siang," lanjutnya.
"Apa mereka polisi? Atau media?"
"Bukan, karena mereka terlalu rapi untuk menjadi wartawan."
Alessandro berjalan pelan menuju meja kerjanya, lampu redup membuat bayangan wajahnya terlihat lebih tajam dan dingin.
Sangat mirip dengan seorang Leonardo Valerio.
Pria yang bahkan sudah mati, tapi bayangannya belum benar-benar hilang.
"Apa ada foto mereka?" tanya Alessandro datar.
Rafael menyerahkan tablet, dan Alessandro melihat gambar CCTV parkiran.
Tatapan Alessandro berubah dingin, tajam, dan mematikan. Ia mengenali cara berdiri mereka, cara mengawasi, dan cara menjaga jarak seperti bukan orang biasa.
"Mereka organisasi lama," gumamnya pelan.
Rafael membeku, "Apa anda yakin?"
Alessandro mengembalikan tablet itu tanpa ekspresi apa pun. "Aku yakin, karena Leonardo pernah mengajarkan aku satu hal."
"Hal apa?"
"Orang yang pernah hidup di dunia gelap, nggak akan pernah benar-benar keluar."
Ruangan kembali sunyi, hujan di luar semakin deras. Dan untuk pertama kalinya, setelah beberapa tahun, Alessandro merasakan sesuatu yang dulu selalu ia benci. Yaitu insting seorang predator.
Di tempat lain, seseorang sedang mengawasi layar monitor besar, dalam ruangan gelap. Puluhan data bergerak cepat, rekaman CCTV, transaksi bank, lokasi GPS, foto Alessandro, dan di tengah ruangan itu duduk seorang pria bermata abu-abu dingin.
Viktor Karev.
Ia menatap foto Alessandro cukup lama, sebelum akhirnya ia tersenyum tipis.
"Tatapan itu..." gumamnya pelan. "Benar-benar tatapan Leonardo."
Seorang pria lain berdiri di belakangnya, "Apa kita mulai sekarang?"
Viktor menyandarkan tubuhnya, "Belum saatnya."
"Tapi kenapa?"
"Anak itu belum sadar siapa dirinya yang sebenarnya."
Lalu Viktor tersenyum samar, "Tapi pada akhirnya, darah Valerio selalu bangun dalam diri Alessandro."
Pukul dua dini hari, Alessandro belum tidur. Ia duduk sendiri di ruang kerja, dengan segelas whiskey yang belum disentuh.
Matanya fokus pada sebuah folder lama di laptopnya, nama file itu membuat rahangnya mengeras.
LEONARDO_ARCHIVE.
File transaksi. Warisan terakhir ayahnya. Sudah bertahun-tahun ia mencoba mengabaikan semuanya, ia membangun hidup baru, nama baru, dan dunia baru.
Tapi sekarang, masa lalu mulai mengetuk pintunya satu per satu. Alessandro membuka laci meja, di dalamnya ada pistol hitam yang sudah lama tidak ia sentuh.
Tangannya berhenti sesaat, lalu perlahan mengambil senjata itu. Dan anehnya, tangannya tidak gemetar sedikit pun.
Ia memeriksa peluru dengan gerakan tenang, seolah tubuhnya memang dilahirkan untuk ini. Tatapan Alessandro berubah gelap, ingatan lama tiba-tiba muncul begitu saja.
Suara Leonardo, dingin, berat, dan mengintimidasi.
"Kalau suatu hari mereka datang mencarimu, kamu punya dua pilihan. Lari, atau buat mereka takut padamu."
BRAK!
Alessandro menutup magazine pistol dengan keras, napasnya mulai berat.
"Tidak. Aku bukan dia," gumamnya pelan.
Tapi jauh di dalam hatinya, ia merasa tidak yakin.
***
Keesokan paginya, Nadira sedang memasak di dapur ketika Alessandro turun.
Wanita itu langsung berhenti saat melihat wajah anaknya. Mata itu, tatapan dingin itu, sudah lama Nadira tidak melihatnya. Dan itu membuat jantungnya menciut.
"Kamu belum tidur?" tanyanya pelan.
Alessandro duduk tanpa menjawab, Nadira mencoba tersenyum tipis.
"Apa ada masalah tentang bisnis?"
"Bukan," jawabnya singkat.
Nadira tahu, ada sesuatu yang sudah terjadi. Dan firasat seorang ibu tidak pernah salah.
"Aless."
"Nama Valerio muncul lagi."
Kalimat itu membuat tangan Nadira gemetar, sendok jatuh ke lantai. Wajah Nadira langsung memucat.
"Siapa yang sudah mengetahuinya?"
"Aku juga belum tahu pasti siapa orangnya."
Nadira menggeleng cepat, "Tidak. Kamu harus pergi sekarang."
"Lari lagi? Sampai kapan aku harus lari dari kenyataan ini?" jawab Alessandro dengan menatap wajah ibunya.
"Ini bukan soal harga diri! Kamu nggak tahu, seberapa kejam dunia itu."
"Aku tahu, Ma."
"Kamu tidak tahu, Ale!" ucapnya Nadira yang menatapnya dengan mata penuh ketakutan.
"Leonardo bilang dia bisa melindungi kita."
"Tapi semua orang yang berada di sekitarnya, meraka mati."
"Ayah bukan monster seperti yang mama pikir."
"Jangan mulai membelanya, Ale," ucapnya dengan mata yang mulai basah. "Mama sudah melihatnya sendiri, bagaimana dunia itu mengubah dirinya."
Kalimat itu menghantam Alessandro lebih keras dati yang ia kira, karena jauh di dalam hatinya, ia mulai takut hal yang sama sedang terjadi.
Malam harinya, Alessandro memutuskan untuk pergi keluar sendiri. Tanpa pengawal, tanpa Rafael.
Ia mengendarai mobil hitam, melewati jalanan kota yang basah oleh hujan. Pikirannya kacau, tentang Leonardo, tentang surat itu, dan tentang dirinya sendiri.
Lampu merah menyala, mobil berhenti, dan saat itulah, sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di samping mobilnya.
Pria berhelm mengetuk kaca.
Tok.
Tok.
Alessandro menoleh pelan, pria itu mengangkat sebuah ponsel. Di layar ponsel hanya ada satu tulisan.
"HELL SIGMA KNOWS YOU."
Mata Alessandro langsung berubah tajam, dan dalan beberapa detik...
BRAK!
Pria itu mengeluarkan pistol, dan Alessandro langsung bergerak lebih cepat. Ia membanting setir, dan suara tembakan memecahkan keheningan malam.
DUARR!
Kaca mobil pecah, orang-orang mulai berteriak. Motor itu kabur, tapi sesuatu dalam diri Alessandro perlahan mulai bangkit, bukan takut atau panik. Melainkan amarah yang dingin.
Mobil Alessandro melesat mengejar motor itu, kecepatan naik brutal membelah jalanan kota yang hujan.
Pria bermotor itu berusaha kabur melalui gang sempit, namun Alessandro terus mengejar tanpa ragu.
Tatapannya berubah liar, adrenalin memenuhi tubuhnya. Dan anehnya, ia malah menikmati semua itu.
Motor itu akhirnya tergelincir, pria bertopeng jatuh dan menghantam aspal.
Alessandro keluar dari mobil, hujan membasahi jas hitamnya. Pria itu bangkit, tapi Alessandro langsung menghantam wajahnya tanpa ampun.
BUGH!
Darah keluar dari hidung pria itu.
"Siapa lo?!" ucap Alessandro dengan mencengkram kerahnya keras. "Siapa yang udah nyuruh lo?"
Pria itu tertawa kecil, "Jadi benar, kamu memang anak dari Leonardo."
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Alessandro retak.
BUGH!
Ia menghantam pria itu lagi, lebih keras, lebih brutal, dan saat pria itu tersungkur, Alessandro langsung membeku. Napasnya berat, dan tangannya penuh dengan darah.
Matanya menatap pantulan dirinya d genangan air, tatapannya kosong dan menyeramkan. Persis seperti Leonardo Valerio.
Untuk pertama kalinya, Alessandro benar-benar ketakutan pada dirinya sendiri.
Lalu suara sirine polisi mulai terdengar dari kejauhan, namun Alessandro tidak bergerak. Ia hanya menatap tangannya yang berlumur darah, sambil menyadari satu hal yang mengerikan.
Darah itu tidak pernah hilang.