NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:562
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^04

Bukan tokoh utama maupun pemilik peran penting dalam kehidupan seseorang. Hanya makhluk hidup yang senang melangkah tanpa tahu arah jalan dari semesta. Membiarkan pendengaran di penuhi oleh bisikan angin. Mengabaikan masalah dalam hidup yang sungguh membuat tidur tidak nyenyak. Walaupun, itu tidak serumit kalimat yang baru saja kalian baca.

Dia juga bukan primadona ataupun perundung di sekolah. Dia hanya murid biasa yang  memiliki segudang prestasi. Dia hanya murid biasa yang mendapat julukan, 'sang pemberani'. Karena tidak ada satu pun orang yang sanggup membuat mulut gadis itu diam. Saat beradu argumen. Akan tetapi, serangga kecil yang baru saja keluar dari sarangnya sangat berani masuk ke dalam labyrinth milik gadis itu.

Sampai, rasa ingin menerkam memenuhi jiwa raganya. Tapi diri harus tetap menjaga harga diri dan nama baik, hanya tidak ingin menghancurkan reputasi yang selama ini ia susun dengan baik.

Sejenak berhenti saat berada di akhir anak tangga untuk mengedarkan pandangan, yang tidak menemukan siapapun. Tidak membuat gadis itu mengurungkan niatnya, kembali melangkah ke arah pintu utama. Akan tetapi, kaki jenjang itu terhenti saat suara familiar memenuhi pendengarannya.

"Mau kemana kau?"

Perlahan menoleh ke belakang, di mana tepat seorang pria dewasa berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang melekat pada tubuh pria itu.

"Aku akan makan nanti." Cepat gadis itu, yang sesegera mungkin memutar tumit untuk melangkah keluar rumah, tanpa menunggu tanggapan dari sang pria.

Pintu putih yang terbuka membuat mata gadis itu langsung tertuju pada sosok familiar yang mungkin baru saja tiba di depan pagar rumahnya. Siapa dia? Pengantar bunga. Anna.

"Seharusnya bukan dia yang datang kesini." Gumamnya, sebelum melangkah mendekat dengan raut wajah yang sulit diartikan, tanpa adanya lengkungan sempurna menghiasi wajah cantiknya itu.

"Kau yang mengantarkannya?" Cetus Yuna saat tiba di hadapan Anna, sembari membuka pintu pagar.

"Selamat atas kemenangan mu." Alih Anna seraya menyodorkan bunga itu pada Yuna, tak lupa dengan struk yang kini di terima oleh Anna.

"Ucapan mu terdengar tidak tulus sekali. Apa kau menyesal, jika kemenangan itu ku dapatkan?" Balas Yuna selaku tuan rumah. Sekilas menaikan alis, tanpa lupa lengkungan tidak sempurna itu perlahan terlihat dan sangat meremehkan Anna.

"Itu hanya sebuah perlombaan, menang kalah sudah hal biasa. Bukankah seperti itu?" Tidak begitu cepat Anna memberi tanggapan.

"Emm.." kepala Yuna mengangguk kecil. "Memang harus seperti itu. Karena, aku akan menghalangi siapapun yang berniat menggeser namaku di posisi pertama."

"Dan, jika aku kalah, tidak ada satu pun lawan yang meraih kemenangan itu." Imbuh Yuna yang sangat rendah tapi begitu tajam di pendengaran Anna.

"Terserah apa yang kau katakan." Akhir Anna, kini memilih memutar tumit untuk melangkah pergi tanpa mengucapkan kata pamit kepada sang tuan rumah. Karena, berteman baik tidak ada dalam kamus mereka berdua. Tapi bukan berarti Anna dan Yuna saling membenci. Hanya saja, mereka tidak menyukai sikap satu sama lain.

"Yuna__"

Panggilan yang membuat kepala sang empu menoleh ke sumber suara, di mana seorang wanita setengah paruh baya berjalan mendekat dengan napas sabar.

"Tidak bisakan kau makan lebih dulu sebelum keluar rumah?" Tanya sang ibunda yang baru saja tiba di dekat Yuna.

"Bunga? Kau dapat dari mana?" Wanita itu mengimbuhkan perkataannya, saat kedua netra tidak sengaja melihat beberapa tangkai yang terikat menjadi satu dalam dekapan Yuna. Putri satu-satunya.

"Seseorang yang ingin ku jadikan teman." Jawab Yuna tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung seseorang Anna yang mulai lenyap di pupil matanya, membuat wanita itu mengikuti arah padang Yuna.

"Tessa?" Wanita itu diam sejenak, dengan kening mengerut samar. "Bukankah kau sudah berteman baik dengannya?"

"Aku sangat membencinya." Begitu santai Yuna melontarkan kalimat yang lagi dan lagi membuat sang wanita membuang napas sabar.

"Tanpa sadar kau selalu menolongnya." Rendah ibunda Yuna.

"Aku muak melihat wajahnya. Tapi aku harus menerimanya" Final Yuna, yang kini melangkah masuk tanpa menunggu tanggapan dari Diandra.

Diam, sebentar melihat punggung Yuna. Sebelum beralih pada sosok yang sudah tidak lagi dapat wanita itu lihat saat ini. Anna.

...ʚɞ...

Berjalan ringan dengan senyum kecil terukir menghiasi wajah lesunya dengan kaki yang terus melangkah ke arah jalan pulang, mengabaikan kegelisahan dalam benak yang menyelinap masuk memenuhi ruang sukma. Dan Anna berusaha untuk mengatasi secara perlahan, agar ketidaksukaan reda menghasut pikirannya tuk tidak berbuat jahat pada siapapun. Terutama pada gadis itu.

"Berhentilah berlarut-larut dalam kesedihan, Anna. Itu akan merusak kesehatan mu. Kau harus bisa mengikhlaskan apa yang telah terjadi pada hidup mu." Gumam Anna yang memberi semangat untuk dirinya sendiri, agar tidak merasa putus asa. Apalagi saat hati dan pikiran hampir saja ingin menyerah akan keadaan. Lebih tepatnya, Anna merasa, jika hadirnya di dunia ini memang tidak memiliki restu oleh alam semesta. Karena, wanita yang melahirkannya pun berani membuangnya tanpa mencari keberadaannya sampai detik ini.

"Jika benar ibu membawaku dari rumah sakit, tidak menutup kemungkinan ibu tahu siapa yang melahirkan ku. Tapi kenapa ibu selalu diam dan tidak mengatakan apa yang telah terjadi? Apa ada hal yang membuat ibu takut, sampai dia memilih diam?" Ucap Anna dalam hati.

Sebelum kepala kecil itu mengangguk sekilas dengan senyum simpul, saat mata tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang juga melempar senyum tulus pada alin.

"Nenek? Apa yang nenek lakukan disini?" Tanya Tessa pada wanita tua yang sering sekali Anna temui di depan toko buku, di mana tempat yang menjadi penitipan sepeda Anna.

"Aku harus pulang ke rumah." Jawab sang nenek dengan tenang.

"Rumah?" Perlahan Anna melihat sekitar, di mana banyak bangunan besar di sekelilingnya. "Nenek tinggal di daerah sini?"

Kepala wanita itu mengangguk sebagai tanggapan.

"Tapi kenapa nenek selalu bilang, jika nenek tidak punya rumah? Bukankah itu sama saja termasuk penipuan?" Bukannya kesal, Anna hanya masih tidak percaya.

"Nenek memang tidak punya rumah, nenek numpang di rumah saudara nenek." Jelas wanita itu.

"Itu sama saja." Pelan Anna. Entah kenapa merasa lega mendengar jika wanita di hadapannya saat ini ternyata memiliki tempat tinggal. Karena setahu Anna, wanita itu sering sekali berada di depan toko. Dan banyak yang bilang juga, jika wanita itu tidak memiliki keluarga. Tapi nyatanya, tidak seperti itu. Dia punya kelugar, dan kerabat yang baik hati.

"Kau ingin mampir di rumah saudaraku?" Tawar sang nenek.

"Terima kasih sudah menawari ku nek, sepertinya itu tidak perlu. Karena aku harus kembali ke rumah untuk membantu ibu." Balas Anna yang tidak begitu cepat.

"Benar, kau harus membantu ibumu. Karena jika bukan dirimu, siapa lagi yang akan membantunya." Rendah wanita itu dengan kepala mengangguk kecil.

"Aku permisi nek. Nenek hati-hati di jalan." Senyum tulus menjadi akhir dari obrolan kecil Anna bersama wanita itu.

"Kau juga hati-hati di jalan."

Kembali melangkah tanpa mempedulikan sorot mata dari sang nenek yang melihat kepergian Anna penuh arti. Tapi tidak lama, wanita tua itu memperlihatkan kembali senyuman tulusnya.

"Kau akan bertemu dengan ibu kandung mu suatu hari nanti, Anna. Waktu itu akan tiba. Semoga saja rasa kecewamu tidak semakin besar." Gumam sang nenek. Kini memutar tumit tuk melangkah di mana rumah yang begitu senang menampungnya.

Sedangkan Anna yang kini tidak sengaja melihat sosok familiar berjalan ringan. Dari arah yang berlawanan, membuat Anna merasa gugup. Entah apa alasannya. Setiap kali bertemu dengan sosok itu, Anna ingin sekali lenyap, tapi Anna juga ingin berada di dekatnya.

Terus melangkah tanpa menyapa, hingga berpapasan dengan ekor mata yang sesekali melirik ke arah sosok itu. Benar-benar menenangkan.

Spontan Anna membalikkan tubuhnya tanpa menghentikan langkah kaki. Dan kini Anna berjalan mundur, hanya untuk melihat sosok itu dari belakang.

Jika pun rasa kagum terus menghantui jiwa Anna, tapi kesadaran akan menjadi benteng tinggi untuk diri Anna untuk tidak melewati batas.

Dia, Anrey Kalandra

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!