NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Sore itu suasana kantor mulai sepi. Satu per satu pegawai pulang sambil bercanda di lorong kantor pemasaran. Lampu beberapa ruangan bahkan sudah dimatikan. Namun berbeda dengan Andika yang langsung berjalan keluar tanpa banyak bicara pada siapa pun. Wajahnya datar seperti biasa, sementara langkahnya terlihat terburu-buru seolah ingin segera meninggalkan tempat itu. Manusia memang luar biasa. Bertengkar sampai hubungan dingin seperti kutub utara, lalu tetap dipaksa duduk satu meja demi “memperbaiki keadaan”. Seolah kopi bisa menyelesaikan masalah emosional bertahun-tahun.

Shinta yang baru keluar dari ruangannya melihat punggung Andika dari kejauhan. Gadis itu menghela napas pelan. Sejujurnya dia tidak masalah datang sendiri ke kafe Vivi untuk menemui Aqila. Namun sepupunya Andika itu malah menyuruhnya datang bersama mantan pacarnya.

Yang lebih membuat Shinta bingung, Andika justru setuju.

Padahal sejak pertengkaran terakhir mereka, hubungan keduanya benar-benar canggung. Mereka hanya berbicara seperlunya tentang pekerjaan. Tidak ada candaan. Tidak ada obrolan santai. Bahkan kontak mata saja terasa berat.

Shinta masih tidak mengerti kenapa Andika mau ikut.

Saat dia sedang berpikir, suara Andika terdengar dari dekat parkiran.

“Shinta.”

Shinta menoleh pelan.

Andika sudah duduk di atas motornya sambil memakai helm hitam miliknya. Tatapannya terlihat biasa saja, seolah tidak ada apa-apa di antara mereka.

“Mau berangkat atau tidak?” tanya Andika datar.

Shinta sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berjalan mendekat.

“Berangkat,” jawabnya pelan.

Andika tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya menyerahkan satu helm untuk Shinta.

Keduanya sama-sama diam saat perjalanan dimulai.

Suasana jalan sore cukup ramai. Lampu kendaraan mulai memenuhi jalanan kota. Angin sore menerpa wajah Shinta yang duduk di belakang Andika. Gadis itu beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi urung.

Dia bingung harus memulai dari mana.

Apalagi Andika tampak sama sekali tidak tertarik bicara.

Namun jauh di dalam hati, Shinta sebenarnya berharap hubungan mereka bisa sedikit membaik. Setidaknya tidak secanggung sekarang. Karena bagaimanapun juga, mereka pernah saling mencintai cukup lama.

Sementara Andika hanya fokus menatap jalan di depannya.

Wajahnya tetap tenang, tetapi pikirannya sebenarnya kacau sejak menerima pesan dari Aqila beberapa menit lalu.

Kalau sampai dia berani pergi sebelum Aqila datang, gadis itu mengancam akan membongkar rahasia mereka yang ternyata sepupu kepada semua orang kantor.

Andika benar-benar kesal.

Aqila memang selalu bertindak sesuka hati.

Namun dia tahu sepupunya itu cukup nekat untuk melakukan ancamannya.

Akhirnya Andika tidak punya pilihan selain menurut.

Tak lama kemudian mereka sampai di kafe Vivi.

Kafe itu terlihat hangat dengan lampu kuning redup dan aroma kopi yang langsung terasa begitu pintu dibuka. Musik pelan terdengar dari speaker. Beberapa pengunjung tampak sibuk mengobrol sementara yang lain fokus dengan laptop masing-masing.

Begitu melihat mereka datang, Vivi langsung tersenyum lebar dari balik meja kasir.

“Andika?” ucap Vivi cukup terkejut.

Andika mengangguk kecil.

“Sudah lama sekali tidak datang.”

“Lumayan,” jawab Andika singkat.

Vivi segera menghampiri mereka dengan senyum penuh arti. Tatapannya bergantian melihat Andika dan Shinta seperti seseorang yang sedang menonton drama favoritnya sendiri.

“Tempatnya sudah aku siapkan,” katanya semangat.

Vivi membawa mereka ke meja paling ujung dekat jendela. Tempat itu cukup jauh dari pengunjung lain sehingga suasananya lebih tenang.

Shinta langsung menyadari tujuan sahabatnya itu.

Vivi jelas sengaja memberi mereka ruang untuk bicara berdua.

Begitu duduk, Shinta mulai melihat sekeliling.

“Aqila mana?” tanyanya bingung.

“Katanya masih di jalan,” jawab Vivi santai.

Shinta mengangguk pelan meski sedikit curiga.

Sementara itu Andika duduk diam sambil membuka ponselnya. Tepat di layar terlihat pesan terakhir dari Aqila.

Awas saja kalau pulang sebelum aku datang. Rahasia kalian langsung aku bongkar.

Andika menahan napas panjang.

“Menyebalkan,” gumamnya pelan.

“Hm?” Shinta menoleh.

“Tidak ada.”

Vivi yang berdiri di dekat meja kemudian tersenyum kecil.

“Kalian masih ingat pesan favorit masing-masing?”

Shinta dan Andika sama-sama menoleh.

Tanpa menunggu jawaban, Vivi langsung melanjutkan dengan bangga.

“Espreso tanpa gula untuk Andika. Vanila latte untuk Shinta.”

Shinta sedikit terkejut.

“Kamu masih ingat?”

“Jelas ingat,” jawab Vivi sambil tertawa kecil. “Dulu kalian sering sekali datang ke sini waktu kafe ini masih sepi.”

Andika hanya diam.

Kalimat itu justru membuat suasana semakin canggung.

Shinta dapat merasakan jarak besar di antara mereka sekarang. Dulu mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di tempat ini sambil tertawa bersama. Namun sekarang duduk berhadapan saja terasa seperti hukuman sosial.

Vivi meletakkan minuman mereka di atas meja.

“Semoga betah,” katanya penuh arti.

“Vi,” panggil Shinta cepat.

“Hm?”

“Tolong tinggalin kami sebentar.”

Vivi menatap keduanya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

“Oke. Jangan saling lempar gelas saja.”

Shinta memijat pelipisnya pelan.

“Pergi sana.”

Vivi tertawa kecil lalu berjalan menjauh.

Begitu Vivi pergi, suasana langsung sunyi.

Andika sibuk memainkan ponselnya sambil sesekali meminum espresonya. Wajahnya tetap datar.

Sementara Shinta terus melirik pintu masuk berharap Aqila segera datang dan memecah kesunyian menyiksa itu.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Tidak ada yang bicara.

Shinta akhirnya menyerah dan mengambil vanila latte miliknya.

Dia melirik Andika pelan.

“Kamu masih sering ke sini?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Andika mengangkat bahu kecil.

“Tidak sempat.”

Padahal alasan sebenarnya jauh lebih sederhana.

Karena tempat ini terlalu banyak menyimpan kenangan tentang mereka.

Dan Andika tidak suka mengingat masa lalu.

Shinta menggigit bibir bawahnya pelan.

“Kerjaan akhir-akhir ini sibuk?”

“Biasa.”

Jawaban singkat lagi.

Shinta mulai kesal.

“Kalau memang malas bicara, bilang saja.”

Andika akhirnya mengangkat pandangan.

“Kamu yang mulai bicara.”

“Iya, tapi jawaban kamu seperti robot rusak.”

“Memangnya harus bagaimana?”

“Minimal jangan seperti sedang wawancara kerja.”

Andika menghela napas pendek.

“Kita juga sudah lama tidak ngobrol santai.”

Kalimat itu membuat Shinta terdiam.

Benar juga.

Mereka bahkan tidak tahu lagi bagaimana cara berbicara normal satu sama lain.

Sementara itu, di balik area khusus karyawan kafe, Aqila sedang mengintip dengan penuh semangat.

Di sampingnya Vivi ikut memperhatikan keadaan.

“Kaku sekali,” bisik Vivi.

“Aku tahu,” jawab Aqila frustrasi.

“Kamu yakin rencana ini berhasil?”

“Harus berhasil.”

Aqila menyilangkan tangan sambil terus mengawasi keduanya.

“Aku tidak suka lihat mereka begini.”

Vivi tertawa kecil.

“Kamu ini seperti ibu-ibu sinetron.”

“Mereka cocok.”

“Mantan.”

“Masih cocok.”

Vivi menggeleng heran.

Manusia memang unik. Putus tapi masih saling memperhatikan. Saling marah tapi tetap peduli. Evolusi miliaran tahun menghasilkan spesies yang suka menyiksa perasaannya sendiri.

Di meja mereka, suasana kembali hening.

Shinta meminum latte miliknya pelan.

“Aqila lama sekali.”

“Mungkin sengaja,” jawab Andika.

“Maksudnya?”

Andika menatap Shinta beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan lagi.

“Dia memang suka ikut campur.”

Shinta terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak datang, mereka berbicara sedikit lebih normal.

Namun tetap saja suasana terasa aneh.

Tiba-tiba musik di dalam kafe berubah.

Lagu baru mulai diputar pelan.

Liriknya tentang seseorang yang masih merindukan mantannya meski mencoba melupakan.

Shinta langsung menegang.

Dia mengenal lagu itu.

Dulu Andika sering memutarnya saat mereka sedang bersama.

Andika yang mendengar lagu itu juga tampak tidak nyaman. Tangannya berhenti memainkan ponsel.

Keduanya sama-sama diam.

Namun lagu itu justru terasa seperti suara hati mereka sendiri.

Tentang rindu yang masih tersisa.

Tentang hubungan yang belum benar-benar selesai.

Tentang dua orang yang masih saling peduli tetapi terlalu keras kepala untuk mengakuinya.

Shinta menatap gelasnya pelan.

“Vivi sengaja ya?” gumamnya.

“Pasti.”

“Ganggu sekali.”

“Tapi cocok dengan suasana.”

Shinta menatap Andika cukup lama.

“Aku kira kamu bakal langsung pulang tadi.”

“Aku juga.”

“Terus kenapa tetap datang?”

Andika terdiam sejenak.

Karena ancaman Aqila tentu tidak mungkin dia katakan.

“Aku sudah janji,” jawabnya akhirnya.

Shinta tersenyum tipis.

“Jarang lihat kamu mau menepati janji seperti ini.”

Andika menatapnya datar.

“Aku tidak seburuk itu.”

“Aku tidak bilang buruk.”

“Hm.”

Lagi-lagi suasana hening.

Namun kali ini tidak terlalu sesak seperti sebelumnya.

Di balik dinding dekat dapur, Aqila tersenyum lebar melihat perubahan kecil itu.

“Nah kan,” katanya pelan.

Vivi meliriknya.

“Kamu terlalu serius mengurus hubungan orang.”

“Ada kepuasan tersendiri.”

“Kamu aneh.”

“Aku peduli.”

Beberapa detik kemudian Aqila kembali melihat ke arah meja mereka.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Andika dan Shinta terlihat mulai berbicara tanpa saling menghindari pandangan.

Meski masih canggung.

Meski masih hati-hati.

Namun setidaknya tidak lagi sedingin sebelumnya.

Kadang hubungan memang tidak langsung membaik begitu saja. Tidak ada keajaiban mendadak seperti di drama murahan televisi. Hanya ada dua orang keras kepala yang perlahan mencoba menurunkan gengsi masing-masing sambil ditemani kopi, lagu galau, dan dua pengacau bernama Vivi dan Aqila yang terlalu ikut campur urusan orang lain.

1
Erni Purwaningsih
mantap Thor filosofi nya
onimaru rascall: perasaan itu perdebatan dua bocah puber donk kak🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!