NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *5

Semua itu terlihat sangat wajar. Sangat pantas dilakukan. Dan Merlin sangat memahami itu semua. Lucas meninggal karena menyelamatkan nyawa Reyno. Kalau posisi mereka dibalik, Merlin tahu betul bahwa Reyno tidak akan pernah tinggal diam. Reyno adalah pria yang memegang teguh prinsip dan rasa berterima kasih. Baginya, nyawa Lucas harganya sama mahalnya dengan nyawanya sendiri.

Namun entah kenapa, di sudut hati Merlin yang paling dalam, ada sesuatu yang terasa asing, yang membuat dadanya sedikit sesak. Bukan rasa cemburu. Belum. Hanya ada perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Perasaan samar yang membuatnya merasa ada sesuatu yang perlahan berubah, meski ia belum tahu apa itu.

“Mer.” Suara berat dan serak Reyno terdengar tepat di sampingnya, menyadarkan Merlin dari lamunan panjangnya.

Merlin menoleh cepat. Ia melihat suaminya berdiri di sana, wajahnya penuh kelelahan dan kesedihan yang mendalam.

“Aku anter Yara pulang dulu ya?” kata Reyno pelan, suaranya terdengar meminta izin, seolah takut salah langkah.

Merlin mengangguk kecil, berusaha tersenyum wajar. “Iya. Kamu urus dia dulu.”

“Kayaknya dia gak bisa sendirian malam ini,” lanjut Reyno, matanya melirik ke arah Yara yang masih berdiri diam menatap makam kakaknya. “Dia sekarang gak punya siapa-siapa lagi selain kami.”

Merlin kembali mengangguk. Ia tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya, meski rasanya agak berat. “Temenin aja dulu sampai dia tenang. Jangan khawatirin aku.”

Wajah Reyno terlihat sedikit lebih lega mendengar jawaban itu. Ia mengulurkan tangan, mengusap pelan puncak kepala istrinya. Gerakan kecil yang selama ini selalu membuat hati Merlin terasa hangat dan aman. Namun kali ini, anehnya, sentuhan itu tidak lagi terasa sama. Rasa hangat itu tidak sampai ke hatinya.

“Makasih ya, Mer. Nanti aku pulang,” ucap Reyno sebelum berbalik berjalan menghampiri Yara, lalu perlahan membimbing gadis itu pergi menjauh dari area pemakaman.

Merlin berdiri sendirian di sana, menatap kepergian keduanya hingga hilang di balik deretan makam. Angin dingin bertiup lagi, membuatnya memeluk tubuhnya sendiri.

Malam itu, Reyno baru pulang ke rumah hampir pukul dua belas malam. Suara kunci pintu diputar terdengar jelas di ruang tengah yang hening. Merlin masih terjaga, duduk di sofa sambil menatap televisi yang menyala tanpa suara. Ia tidak bisa tidur. Hatinya gelisah entah karena apa.

Begitu pintu terbuka, Merlin langsung berdiri menyambutnya. “Kamu sudah makan, Rey?” tanyanya lembut, melihat wajah suaminya yang terlihat sangat lelah dan kusut.

Reyno menggeleng pelan sambil melepas jaket basahnya, lalu menggantungnya di gantungan dinding. “Belum sempat. Sibuk ngurusin Yara,” jawabnya lirih. Suaranya terdengar sangat lelah, hampir tak ada tenaganya.

“Aku angetin makanan sebentar ya. Kamu pasti lapar banget kan?”

“Gak usah repot-repot, Mer. Aku cuma mau tidur aja rasanya.”

“Cuma sebentar kok. Nggak lama.”

Merlin berjalan ke dapur tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut. Ia memanaskan sup ayam yang tadi ia siapkan, lalu membawa semangkuk makanan hangat itu ke ruang tengah, meletakkannya di atas meja kecil di hadapan Reyno.

Reyno duduk diam di sofa, kedua tangannya memijat pelipisnya yang pasti terasa berdenyut karena kelelahan fisik dan pikiran.

“Yara nangis terus dari tadi,” gumam Reyno pelan, matanya menatap kosong ke depan. “Dia gak mau makan, gak mau minum, cuma diam dan panggil nama Lucas terus. Dia hancur banget, Mer. Dia bener-bener gak punya siapa-siapa lagi sekarang.”

Merlin duduk di sebelahnya, mendengarkan dengan seksama. “Aku ngerti. Kehilangan keluarga satu-satunya pasti rasanya hancur banget,” jawab Merlin lembut.

“Aku kasihan banget sama dia,” lanjut Reyno, suaranya bergetar sedikit. “Lucas ninggalin dia sendirian, di kota ini, jauh dari kerabat lain. Dia masih kuliah, masih banyak kebutuhan, tapi sekarang gak ada yang jagain dia.”

Merlin mengangguk pelan. “Aku ngerti kok, Rey. Kamu merasa berhutang sama Lucas, kan?”

Reyno menoleh, menatap istrinya dengan pandangan penuh rasa terima kasih.

“Iya. Aku merasa kalau aku gak jagain dia, Lucas pasti kecewa banget, kalau masih hidup. Aku kepikiran … buat bantu dia sementara waktu.”

“Bantu gimana?” tanya Merlin hati-hati.

“Apartemennya dia kan agak jauh dari kampus. Dia juga sering sendirian di rumah, panik, atau sakit-sakitan kalau lagi stres gini,” Reyno menghela napas panjang. “Mungkin … aku bakal sering nemenin dia dulu. Bantu urus administrasi kampus, urusin berkas peninggalan Lucas, atau sekadar nemenin dia makan biar dia gak lupa diri.”

Hening menyelimuti ruangan itu sejenak.

Merlin menunduk, meremas ujung gaun tidurnya sendiri. Ada rasa berat di dadanya, tapi ia mencoba mengusirnya. Ia tahu suaminya pria baik. Ia tahu suaminya cuma ingin bertanggung jawab.

Lalu Merlin kembali mengangkat wajah, tersenyum kecil. “Kalau itu bikin kamu lebih tenang dan bikin kamu merasa udah balas budi sama Lucas, ya udah, gak apa-apa kok. Lakuin aja apa yang menurut kamu benar.”

Reyno langsung menatapnya lekat-lekat, matanya terlihat sangat lega. Sangat-sangat lega. “Aku takut kamu salah paham, Mer. Aku takut kamu nggak terima aku sibuk sama dia terus.”

Merlin menggeleng pelan, menyentuh pipi suaminya dengan lembut. “Aku bukan orang jahat, Rey. Aku ngerti posisi kamu. Aku ngerti rasa bersalah kamu. Jangan khawatirin aku.”

Pria itu langsung menggenggam tangan Merlin erat sekali, seolah menemukan pelampiasan rasa bersalahnya. “Makasih. Makasih banget udah ngerti aku. Kamu emang yang paling ngerti aku,” ucapnya tulus.

Merlin membalas genggaman itu pelan. Namun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak tahu kenapa dadanya terasa semakin sesak. Ada rasa takut samar yang mulai tumbuh perlahan.

...

Hari-hari setelah pemakaman itu, kehidupan Merlin mulai berubah. Perlahan. Hampir tidak terasa perubahannya, tapi tetap terasa ada yang berbeda.

Awalnya, Reyno hanya sesekali pergi menemui Yara. Sekadar membantu mengurus berkas kampus, membereskan apartemen peninggalan Lucas, atau sekadar menemani gadis itu makan siang karena Yara sering lupa makan.

Namun perlahan-lahan, intensitas pertemuan itu semakin bertambah. Pulang malam menjadi hal yang biasa bagi Reyno.

Telepon mendadak saat makan malam mulai sering terjadi. Bahkan beberapa kali, Reyno pergi begitu saja di tengah malam hanya karena mendapat telepon dari Yara yang menangis ketakutan sendirian di apartemennya, atau panik karena mendengar suara bising, atau sekadar minta ditemani.

Dan setiap kali itu terjadi, setiap kali Reyno menatapnya ragu dan minta izin, Merlin selalu berkata hal yang sama, dengan nada yang sama tenangnya.

“Pergi aja, Rey. Yara lebih butuh kamu sekarang. Aku di sini aman kok.”

Ia mengatakannya dengan tulus. Setidaknya di awal-awal. Ia benar-benar berusaha untuk mengerti, berusaha menjadi istri yang pengertian, berusaha menghargai rasa tanggung jawab suaminya.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!