Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali, Ayah! 20
"Mau kemana pagi bener?" tanya Ramon kepada Aruna yang sudah bersiap pergi ke sekolah. Mulai hari ini dia sudah tinggal di markas bersama dengan Edwin, Ramon dan yang lainnya. Walai sesekali mereka akan pulang ke rumahnya.
"Berangkat sekolah lah bang! Emang mau kemana?" jawab Aruna.
"Nggak kamu tutupin lu-ka di wajah kamu itu? Pake make up kek atau apa gitu?" tanya Ramon.
"Tak perlu! Lagi pula buat apaan di tutupin juga!" jawab Aruna santai.
"eeeehhh mau kemana kamu? Sarapan dulu!" Ramon menarik tas punggung Aruna.
"Aku bawa buat di jalan aja seperti biasa! Nanti aku telat!" jawab Aruna.
"Nggak akan telat di jamin! Cepat duduk dan sarapan dulu!" Ramon menarik Aruna dan memintanya duduk di kursi.
"Mana Bang Edwin?" tanya Aruna celingukan mencari Edwin yang tak ada di sana.
"Masih ngorok. Semalaman kemaren dia tidak tidur nungguin kamu!" jawab Ramon membuat Aruna mendelik.
"Makan yang banyak! Kau masih dalam proses pertumbuhan," kembali Ramon menjejali Aruna dengan banyak makanan yang sudah dia masak.
"Terima kasih bang! Tapi kalau aku kekenyangan nantinya malah membuat aku ngantuk di kelas!" jawab Aruna tetap makan tapi tak banyak apalagi dia juga takut terlambat pergi ke sekolah.
"Nih!" Edwin melemparkan kunci kepada Aruna. Ternyata pria itu baru bangun bahkan rambutnya masih acak-acakan.
"Astaga! Keluar kamar itu minimal cuci muka Bang!" protes Aruna.
"Gak cuci muka gue tetep ganteng!" jawab Edwin menyeruput susu yang dia ambil dari kulkas.
"Minimal belek Lo bersihin dulu Bang!" celetuk Ramon.
"Biar indah! " jawab Edwin membuat Aruna terkekeh. Mereka bisa bercanda juga ternyata, padahal wajah mereka semuanya serius.
"Ini kunci apaan?" tanya Aruna.
"Motormu! Bukannya kamu minta motor kemaren sama Tuan Bima? Dan ini kartumu ada lima juta di dalam sini! Jangan boros-boros! PINnya tgl lahir kamu!" kembali Edwin memberikan kartu ATM kepada Aruna.
"Ini beneran? Dia tak menolak permintaan aku?" tanya Aruna tak percaya.
"Kemarin dia sudah tanda tangan kan?" jawab Edwin. Aruna berhambur memeluk Edwin bahagia. Ramon ikut berpelukan dengan mereka bertiga membuat Edwin hanya bisa pasrah dengan kelakuan dia orang itu.
"Ayo kita liat motor kamu! Kamu pasti suka! Dia keren seperti kamu!" Ramon menarik tangan Aruna ikut bahagia. Sedangkan Edwin geleng kepala dan mengikuti mereka dari belakang.
"Taraaaaaaaa ... " teriak Edwin memperlihatkan motor sport yang di belikan Edwin sesuai perintah Bima.
Walau bukan motor sport keluaran terbaru, tapi motor itu lumayan harganya. Aruna tak memperdulikan harganya. Dia hanya Memang ingin kendaraan agar tak harus berlari ke sekolah. Motor berwarna hitam itu tampak sangat gagah dan keren.
"Kamu suka?" suara bariton Edwin membuat Aruna mengangguk dan tersenyum lebar.
Gadis kecil itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya bisa menunggangi motor besar. Aruna di usia yang tiga belas tahun sudah tinggi dan badannya juga sangat proporsional. sehingga menggunakan motor besar itu tak masalah baginya.
"Tapi memangnya kamu bisa bawa motor begini?" tanya Ramon sedikit ragu.
"Bisa! Kita mau balapan juga aku bisa kok!" jawab Aruna membuat Ramon mencebikkan bibirnya.
"Sombong mamat!" jawab Ramon membuat Aruna terkekeh.
Gadis itu merasa mulai nyaman berada bersama dengan kedua pria dewasa itu. Aruna merasa keduanya begitu melindungi dan perhatian padanya. Yang selama ini tak pernah dia dapatkan dari ayahnya. mereka sudah pergi kakaknya sendiri.
"Tapi dia baru berusia tiga belas tahun kalau di tangkap polisi gimana?" tanya Ramon kemudian.
"Abang yang urus!" jawab Aruna santai dan menggeber motornya pergi dari sana setelah berpamitan kepada Edwin.
"Apaan tu bocah? Enak aja giliran urusan sama polisi masa harus aku yang ngurus? Ya bapaknya lah yang ngurus masa aku!" omel Ramon setelah Aruna menjauh.
Sedangkan Edwin memilih pergi tak menanggapi Omelan Ramon dan lebih memilih melanjutkan untuk tidur lagi. Sedangkan Aruna terlihat sangat bahagia. Dia tak mengira jika akhirnya bisa mendapatkan keinginannya. walau keinginan sederhana seperti ini, tapi menurutnya ini adalah sesuatu yang tak perhan dia dapatkan. karena pada akhirnya dia memang harus tetap berjuang untuk bisa bebas sepenuhnya.
"Siapa tuh? Keren banget gila!" seru Aldo yang berada di parkiran bersama dengan yang lainnya.
"Itu cewek kayaknya yang pake motor!" ucap Rexa seteleh memperhatikan.
"Coba kita tebak siapa dia! Aku penasaran ada cewek di sekolah kita yang bisa bawa motor besar seperti itu. Kebanyakan anak-anak cewek di sini pada bawa mobil kan? Mereka pada gengsi kalau harus naik motor. Apalagi motor matic," jawab Gani.
Mereka berempat memperhatikan sampai pemilik motor itu memarkirkan motor dan membuka helm full face yang dia gunakan. Semuanya di buat tak percaya saat melihat gadis yang membawa motor besar itu adalah Aruna. Rambut panjangnya di kibaskan membuat Aruna semakin terlihat keren.
"Anjriiiiit ... itu bidadari gue!" teriak Rexa menepuk bahu Aldo dan Gani kemudian segera berlari menghampiri Aruna.
Sedangkan Xavier hanya melihat saja tanpa mengatakan apa-apa. Tatapannya terkunci kepada Aruna yang sedang membuka jaket kulit yang dia kenakan tadi. Setiap gerakan Aruna memang terlihat sekeren itu. Bukan hanya mereka berempat yang menatap tak percaya jika yang turun dari motor besar itu adalah seorang wanita. Tapi beberapa siswa di sana termasuk Rendra yang menatap penuh amarah ke arah Aruna. Aldo menarik Xavier untuk ikut bersama dengan mereka mendekat ke arah Aruna.
"Wah aku kira bukan kamu yang bawa motor sekeren ini. Gokil banget kamu Aruna! Bisa dong kita balapan?" tanya Rexa.
"Aku baru belajar! Tapi boleh juga balapan kalau ada uangnya," jawab Aruna membuat mereka saling tatap.
"Dasar matre!" celetuk Xavier.
"Zaman sekarang perlu banyak uang untuk hidup dan untuk di hargai orang lain. Karena orang akan di hargai dan di hormati dengan uang," jawab Aruna santai.
Xavier menatap tajam ke arah Aruna yang sedang menguncir rambutnya asal. Sialnya malah membuat Aruna semakin cantik. Tapi, ada apa dengan wajahnya? Kenapa banyak luka lebam dan lu-ka so-bek di sudut bibirnya. Apa yang terjadi kepada gadis di depannya itu.
"Ada apa dengan wajahmu? Kamu habis di pu-kuli? Siapa yang melakukan itu padamu Runa?" tanya Rexa saat melihat wajah Aruna, sama seperti Xavier yang terlihat kaget dengan wajah Aruna.
"Tidak apa-apa, hanya sedang mencoba ilmu saja! Ternyata aku masih belum kenal kena pukul, Duluan ke kelas ya Kak!" jawab Aruna pergi dari sana malas menjawab pertanyaan dari mereka.
"Apaan katanya coba ilmu? Emang dia punya ilmu apa? Apa sedang mencoba ilmu bela diri baru?" tanya Aldo bingung.
"Ntahlah dia itu banyak menyimpan rahasia! Malah membuat aku semakin penasaran dengan gadis itu! Oh Arunanya Babang Rexa ..." ucap Rexa yang akhirnya di tampol oleh Xavier kesal dengan ucapan Rexa.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/