SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. DIOMELI
Lampu-lampu di ruang Ketua IT masih menyala terang ketika waktu di luar perlahan tenggelam ke dalam malam Los Angeles.
Di balik dinding kaca, gedung Morelli Corporation berdiri seperti raksasa yang enggan tidur, namun di lantai Divisi IT itu, hanya satu ruangan yang masih hidup.
Ruang Cedric Sanders. Sang Ketua Divisi IT yang perfeksionis.
Udara di dalamnya terasa hangat oleh mesin yang terus bekerja, AC yang mendinginkan ruangan, monitor yang tak pernah benar-benar padam, dan dua pikiran yang sedang berlari lebih cepat daripada waktu.
Celina duduk tegak di depan layar besar, matanya tak berkedip. Barisan kode panjang mengalir seperti sungai tak berujung, tetapi baginya, itu bukan kekacauan, melainkan pola.
Cedric berdiri di sampingnya, jari-jarinya menari di keyboard.
"Kau yakin ini anomali?" tanya Cedric untuk kesekian kalinya, meski ia tahu jawabannya.
Celina mengangguk pelan. "Iya. Struktur ini terlalu ... penuh cela untuk jadi kesalahan sebuah AI."
Cedric mengernyit, memperbesar bagian yang Celina tunjuk. "Sial. Ini disisipkan dengan sangat presisi."
Cedric segera menghapus beberapa baris, lalu menggantinya dengan versi asli yang sebelumnya sudah ia simpan.
Satu anomali hilang.
Namun sepuluh lainnya menunggu.
Mereka bekerja dalam diam yang hampir sakral.
Celina menunjuk.
Cedric memerbaiki.
Celina menghela napas pendek.
Cedric menahan makian.
Semakin lama, semakin jelas bahwa penyusup ini bukan amatir. Anomali tersebar seperti benih, tidak terkonsentrasi di satu titik, melainkan menyebar di core code neural mapping, seolah sengaja dirancang agar mustahil dilacak secara konvensional.
"Orang ini tahu apa yang dia lakukan," gumam Cedric. "Dan tahu persis bagaimana cara membunuh AI ini ... perlahan."
Celina tidak menjawab. Matanya bergerak cepat, menyerap perbedaan sekecil apa pun, jarak antar struktur, urutan fungsi, bahkan pemilihan variabel yang nyaris identik. Hingga sekedar titik dan koma yang berbeda mampu ia temukan.
Waktu berjalan tanpa mereka sadari.
Hingga ....
Klik.
Pintu ruangan terbuka tiba-tiba.
Celina dan Cedric refleks menoleh bersamaan.
Di ambang pintu berdiri Theo.
Kedua tangannya terlipat di dada, jasnya masih rapi, tetapi wajahnya sama sekali tidak menyembunyikan kekesalan.
"Jadi, kau bersembunyi di sini, Celina Lorenzo," kata Theo datar, namun tajam
Celina membeku.
Cedric mengangkat alis.
Theo melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan satu tangan.
"Pantas saja aku tidak bisa menemukanmu di mana-mana," lanjut Theo. "Kalau bukan karena rekan kerjamu Rina yang bilang kau dipanggil Cedric ke sini, aku mungkin sudah berpikir kau pulang duluan."
Celina bersandar pada punggung kursinya. "Aku sedang membantu Cedric."
Theo menyipitkan mata.
"Sampai malam seperti ini?" tanya Theo. "Rina sampai khawatir. Dia bilang kau tidak kembali sejak siang tadi."
Cedric dan Celina spontan menoleh ke jam digital di pojok layar.
21.17.
Celina terdiam.
Cedric mengumpat pelan. Tak sadar kalau waktu sudah selarut ini.
Theo mengalihkan pandangannya ke Cedric dengan tatapan tajam, dingin.
"Dan kau," Theo menunjuk Cedric. "Lain kali kalau mau 'meminjam' Celina, lapor padaku."
Cedric mendengus. "Sejak kapan kau jadi overprotective, huh?" Ia menyeringai. "Tenang saja. Aku tidak akan mengambil Celina darimu. Lagipula aku lebih suka perempuan berdada besar."
Belum sempat Cedric tertawa lebih jauh ....
Duk!
Theo menendang kaki Cedric dengan sepatu pantofelnya. "Kusumpahi, kau jatuh cinta dengan gadis pendek dan dada rata," kata Theo dengan nada dingin.
"Hei!" Cedric protes, meloncat sedikit.
Celina menghela napas panjang. "Ingin aku lempar kursi atau meja untuk kalian berdua?" katanya datar,
Seketika.
Sunyi.
Theo berdeham.
Cedric tersenyum kikuk.
Lalu Theo kembali serius. Ia menatap Cedric tanpa humor sedikit pun.
"Katakan padaku," ujar Theo pelan, "kenapa kau memanggil Celina ke ruanganmu. Berdua saja. Dari siang sampai malam."
Cedric mengangkat kedua tangan. "Berhenti menatapku seolah ingin menelanku. Aku tidak akan menyentuh gadismu ini,"
Celina melirik Cedric tajam.
"aku hanya meminta bantuan," lanjut Cedric cepat.
Theo tidak puas. "Bantuan apa?"
Cedric menghela napas, lalu akhirnya menjelaskan semuanya, tentang core code yang disusupi, neural mapping AI yang dirusak secara halus, anomali-anomali yang hampir tak terdeteksi, dan tentang bagaimana hanya seseorang dengan photographic memory seperti Celina yang bisa membedakan mana struktur asli dan mana yang telah diselipkan.
Wajah Theo berubah.
Dahi mengernyit. Rahang mengeras.
"Apa kau sudah menemukan pelakunya?" tanya Theo tajam.
Cedric menggeleng. "Belum. Tidak ada jejak. Saat ini yang paling penting adalah menyelamatkan AI ini. Kalau tidak, dua tahun kerja keras semua orang akan jadi sia-sia."
Theo terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. Ia mengerti.
Ia menoleh ke Celina.
"Kau tidak melewatkan makan karena membantu Cedric, kan?" tanya Theo pada sang gadis.
Sebelum Celina sempat membuka mulut ...
"Melewati makan?" Cedric menyela. "Percayalah, mulut Celina tidak berhenti mengunyah sejak siang tadi. Lihat tempat sampahku. Juga meja di belakangnya."
Theo menoleh.
Tempat sampah penuh dengan bungkus makanan.
Meja belakang masih menyisakan beberapa kotak dessert yang belum disentuh.
Theo melongo. "Kau makan sebanyak itu?!" serunya.
Celina mengangguk polos.
Cedric tertawa kecil. "Kemampuan photographic memory menguras tenaga kalau dipakai lama. Dia butuh asupan. Terutama manis. Otaknya bekerja seperti mesin."
Theo tertegun. "Jadi ... snack dan makanan manis yang jadi stok di rumah sekarang itu karena ulahmu?"
Celina tersenyum tanpa rasa bersalah.
Theo tertawa kecil, menggeleng tak percaya. "Aku tidak menyangka akan melihat sisi ini dari seorang Tuan Putri Lorenzo."
Celina hanya mendengus.
Theo lalu kembali serius. "Jadi, sudah selesai atau masih banyak yang perlu diperbaiki?"
"Masih banyak," jawab Cedric. "Tapi setengahnya sudah bersih. Semua berkat dia."
Theo menghela napas panjang. "Lanjutkan besok saja. Sekarang sudah malam. Ayah dan ibuku akan menghajarku kalau membiarkan Celina bekerja sekeras ini."
Cedric menyeringai jahil. "Ah ... jadi Celina sudah jadi anak kesayangan orang tuamu?"
Theo menatap Cedric tajam ketika tahu isi pikiran Cedric saat ini. "Diam. Jangan katakan apa pun yang bisa menimbulkan salah paham."
Cedric tersenyum lebih lebar. "Salah paham yang kau suka, aku yakin."
"Diam," kata Theo datar. "Atau kupotong gajimu."
Cedric langsung mengeluh. "Tidak seru. Mainnya potong gaji."
Celina akhirnya angkat suara. "Kurasa aku harus berhenti di sini dulu."
"Memang seharusnya begitu, Princess," kata Theo.
Celina memegang bahunya lalu berkata, "Bahuku ... sakit."
Sekejap.
Hening.
Lalu ....
Panik.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?!" Cedric berseru berdiri mendekati Celina dengan wajah panik.
"Kita ke rumah sakit sekarang," Theo langsung berkata tegas.
Celina memukul lengan Theo. "Aku baik-baik saja. Hanya lelah."
"No, no, no, hospital, right now!" ujar Theo seolah tidak ingin didebat.
"Aku tidak mau ke rumah sakit," potong Celina. "Aku hanya butuh istirahat. Aku bisa mengompres bahuku nanti."
Theo menatap Celina lama.
Cedric sudah memegang kunci mobil, siap berlari jika perlu ternyata sejak tadi.
Akhirnya Theo menghela napas. "Baik. Kita pulang sekarang. Istirahat. Jangan melakukan apa pun selain tidur."
Cedric menimpali, "Lanjutkan bantu aku lusa saja. Besok aku masih bisa berjuang sendirian."
Celina mengangguk, pasrah. Rasanya ia benar-benar dikelilingi keluarga yang sama-sama overprotective.
Cedric mengambil tablet dari tangannya dan menyimpannya.
Theo berkata singkat, "Pulang."
"Makananku jangan ditinggal," ujar Celina cepat.
Theo menepuk dahi. "Astaga. Masih sempat memikirkan makanan."
Namun Theo tetap mengambil paper bag berisi berbagai makanan itu dari tangan Celina.
Saat mereka bertiga keluar, lorong kantor sudah gelap.
Kosong.
Theo menoleh sambil berjalan. "Masih bertanya kenapa aku mengoceh?"
Cedric dan Celina saling pandang, lalu pura-pura tidak bersalah.
Mereka menuju parkiran.
Tidak satu pun dari mereka menyadari ...
Di sudut bayangan, sepasang mata mengawasi sejak tadi.
Diam.
Menunggu.
Dan tersenyum.
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️