Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 7: Pertanyaan Tanpa Jawaban
Tiga hari kemudian, Bapak pulang.
Aku dorong kursi roda Bapak keluar dari RS. Prosesnya ribet—harus tanda tangan ini-itu, nerima resep obat yang panjangnya kayak daftar belanjaan, dengerin instruksi suster yang ngomongnya cepet banget sampe aku minta dia ulang tiga kali. Tapi akhirnya... akhirnya Bapak boleh pulang.
"Zahra, pelan-pelan... Bapak pusing..."
"Iya Pak, maaf..." Aku dorong kursi roda lebih pelan. Jalanan depan RS rusak—berlubang sana-sini. Kursi rodanya goyang-goyang. Bapak meringis tiap kena lubang.
"Pak, bentar lagi sampe taksi online kok. Sabar ya..."
Aku udah pesen taksi online pake HP—untung sisa pulsa masih ada. Taksinya... mungkin lima menit lagi.
Sambil nunggu, aku duduk di pinggir trotoar. Bapak di kursi roda sebelah ku. Panas. Terik banget. Keringet ngucur dari jidat. Hijab ku lengket di leher. Tapi aku nggak peduli.
Yang penting Bapak pulang.
HP ku bunyi. Notifikasi pesan.
**Arkan Alexander:**
*"Zahra, Bapak kamu udah pulang belum? Aku mau antar kalian kalau butuh. Nggak enak naik taksi online, nanti jalannya nggak enak."*
Jantung ku berdegup.
Dia... dia masih inget hari ini Bapak pulang.
Padahal aku cuma bilang sekali. Lewat chat. Tiga hari lalu.
"Zahra, kamu lagi chat siapa? Senyam-senyum sendiri..."
Aku kaget. Langsung tutup HP. "Nggak... nggak ada apa-apa, Pak. Cuma... cuma liat meme lucu."
Bohong. Lagi. Entah udah yang keberapa kalinya minggu ini.
Bapak natap aku curiga. Tapi nggak bilang apa-apa.
"...dia kan? Arkan."
Aku diem.
"Zahra, Bapak bilang apa kemarin?"
"Bapak bilang... Zahra nggak boleh ketemu dia lagi."
"Terus kenapa kamu masih kontak sama dia?"
"Zahra... Zahra nggak ketemu kok, Pak. Cuma chat. Cuma... cuma bilang terima kasih aja."
"Chat juga nggak boleh!"
Suara Bapak naik. Keras. Beberapa orang yang lewat nengok. Aku nunduk. Malu.
"Zahra, kamu pikir Bapak nggak tau? Bapak liat cara kamu liat HP. Cara kamu senyum tiap ada notifikasi. Kamu... kamu udah suka sama dia kan?"
Aku nggak jawab.
Karena... karena aku sendiri nggak tau jawaban aku apa.
"ZAHRA!"
"Zahra nggak tau, Pak! Zahra nggak tau apa yang Zahra rasain! Oke?!" Suara ku keluar. Keras. Emosi. Nggak terkontrol. "Zahra bingung! Zahra... Zahra nggak ngerti kenapa jantung Zahra deg-degan tiap liat nama dia! Kenapa Zahra senyum sendiri tiap baca chat dia! Kenapa Zahra ngerasa... ngerasa hidupnya lebih berwarna sejak ketemu dia! Zahra nggak ngerti Pak! Zahra nggak ngerti!"
Hening.
Orang-orang pada ngeliatin. Bisik-bisik. Aku nggak peduli.
Bapak natap aku. Sedih. Sedih banget.
"...Zahra, kamu... kamu udah jatuh cinta sama dia..."
"ZAHRA NGGAK TAU PAK! ZAHRA NGGAK TAU!"
Air mata keluar. Deras. Kayak bendungan jebol.
"Zahra nggak mau kayak gini... Zahra nggak mau suka sama dia... tapi... tapi Zahra nggak bisa bohongin hati Zahra sendiri..."
Taksi dateng. Klakson bunyi. Aku lap air mata kasar. Angkat kursi roda Bapak ke bagasi—dibantu supir yang mukanya bingung. Masukin Bapak ke kursi belakang. Aku duduk di samping Bapak.
Selama perjalanan pulang, nggak ada yang ngomong.
Cuma suara mesin mobil. Suara klakson kendaraan lain. Dan suara tangisan ku yang aku coba tahan sekuat tenaga.
---
Sampe kontrakan, Bu Ria udah nunggu di depan pintu. Dia bantuin aku turunin Bapak dari taksi. Bantuin masuk ke kamar. Ngasih makan siang—nasi putih anget sama sayur bening.
"Zahra, kamu kurus banget. Makan yang banyak."
"Iya Bu... makasih..."
Aku makan di dapur—ruang sempit yang cuma ada kompor, panci, sama piring-piring retak. Nasinya... hambar. Sayurnya... hambar. Atau mungkin lidah ku aja yang udah nggak bisa ngerasain apa-apa.
HP ku bunyi lagi.
**Arkan Alexander:**
*"Zahra? Kamu kenapa nggak bales? Aku khawatir. Kamu baik-baik aja?"*
Aku baca. Tapi nggak bales.
Beberapa menit kemudian:
**Arkan Alexander:**
*"Kalau ada masalah, bilang ya. Aku siap bantuin."*
Bantuin.
Dia selalu bilang mau bantuin. Padahal dia... dia udah bantuin lebih dari cukup.
Aku ketik:
*"Mas, makasih banyak buat semuanya. Bapak udah pulang dengan selamat. Zahra... Zahra nggak bisa terus-terusan merepotkan Mas. Jadi... jadi mungkin kita nggak usah kontak-kontakan lagi. Sekali lagi, makasih banyak."*
Jempol ku di atas tombol send.
Tapi... tapi aku nggak bisa pencet.
"Zahra, kenapa nggak dikirim?"
Aku kaget. Bu Ria berdiri di belakang ku. Ngintip HP ku.
"Bu... ini... ini bukan apa-apa..."
"Kamu lagi galau ya?" Bu Ria duduk di sebelah ku. Senyum. Senyum yang hangat kayak Mama dulu. "Cerita sama Ibu. Ibu dengerin."
"Bu Ria nggak akan marah?"
"Marah kenapa? Kamu kan nggak salah apa-apa."
Aku ambil napas panjang. Terus... terus aku cerita. Semua. Dari awal ketemu Arkan, dia nolongin aku, dia bayarin Bapak, sampai perasaan aneh di dada yang aku sendiri nggak ngerti.
Bu Ria dengerin tanpa interupsi. Sesekali ngangguk. Sesekali senyum. Sesekali... sedih.
"...terus Bapak marah. Bapak bilang Zahra nggak boleh kontak sama dia lagi. Karena... karena dia Kristen." Aku nunduk. "Bu Ria... Zahra salah nggak?"
Bu Ria diam lama. "Zahra, Ibu nggak bisa bilang kamu salah atau bener. Karena ini soal hati. Hati nggak bisa dikontrol pake logika."
"Tapi... tapi Bapak bilang ini salah..."
"Bapak kamu khawatir. Itu wajar. Dia sayang sama kamu. Dia nggak mau kamu sengsara nantinya."
"Tapi kenapa... kenapa cinta harus dibatesin agama? Kenapa nggak bisa... nggak bisa kita saling menghormati aja? Kenapa harus sama agamanya baru boleh nikah?"
Bu Ria senyum pahit. "Karena nikah itu nggak cuma soal cinta. Nikah itu soal iman, soal prinsip, soal masa depan anak-anak kalian. Bayangin, kalau kamu nikah sama dia, anak kalian mau diajarin agama apa? Islam atau Kristen? Atau dua-duanya? Nanti anaknya bingung. Nanti keluarga kalian berantem terus soal ini."
Aku nggak pernah mikir sejauh itu.
"...terus... terus aku harus gimana, Bu?"
"Ibu nggak bisa jawab. Karena keputusannya ada di kamu. Tapi Ibu mau ngingetin satu hal." Bu Ria pegang tangan ku. "Jangan sampai kamu nyesel. Baik kamu pilih dia atau nggak. Pastiin kamu nggak nyesel."
Nggak nyesel.
Gimana caranya aku nggak nyesel kalau apapun pilihannya... pasti ada yang sakit?
---
Malem itu, setelah Bapak tidur, aku keluar kamar. Duduk di emperan kontrakan. Langit gelap. Nggak ada bintang. Cuma bulan sabit yang redup.
HP ku masih nge-draft pesan buat Arkan. Belum dikirim.
"Zahra?"
Siti. Sahabat ku. Dia jalan dari arah gang, bawa plastik gorengan.
"Siti... kamu ngapain kesini?"
"Bu Ria ngabarin aku kamu lagi galau. Jadi aku dateng." Dia duduk di sebelah ku. Nyodorin gorengan. "Nih. Makan. Sisa jualan tadi. Lumayan buat nemenin kamu."
Aku ambil satu gorengan pisang. Gigit. Manis. Tapi rasanya... hambar di lidah.
"Siti, aku... aku bingung."
"Aku tau. Bu Ria udah cerita dikit. Soal cowok Kristen yang nolongin kamu kan?"
Aku ngangguk.
"Zahra, aku nggak mau sok tau. Tapi sebagai sahabat, aku harus jujur." Siti natap aku serius. "Kamu suka sama dia?"
"...aku nggak tau."
"Bohong. Kamu tau. Cuma kamu takut ngakuin."
Aku diem.
"Zahra, dengerin aku. Aku ngerti dia orang baik. Aku ngerti dia udah nolongin kamu banyak. Tapi... tapi kamu harus realistis. Dia Kristen. Kamu Muslim. Perbedaan ini... nggak gampang."
"Aku tau..."
"Kamu tau tapi kamu tetep lanjutin? Zahra, kamu pikir cinta bisa ngalahin semua? Nggak bisa. Cinta itu nggak cukup. Apalagi kalau beda agama. Keluarga dia pasti nggak setuju. Keluarga kamu—Bapak kamu—jelas nggak setuju. Terus gimana? Kalian kabur? Nikah siri? Terus hidup penuh konflik?"
"Tapi... tapi dia bilang dia respect agama ku..."
"Sekarang dia bilang gitu. Tapi nanti? Pas udah nikah? Pas punya anak? Kamu yakin dia nggak bakal maksa anak kalian jadi Kristen? Kamu yakin kamu nggak bakal dipaksa ikut ke gereja?"
Aku nggak bisa jawab.
"Zahra, aku sayang sama kamu. Makanya aku bilang ini. Putus sekarang sebelum terlambat. Sebelum kamu kedalem. Sebelum kamu... sebelum kamu kehilangan iman kamu."
Kehilangan iman.
Kata-kata yang paling aku takutin.
"...Siti, aku nggak mau kehilangan iman aku. Tapi... tapi aku juga nggak mau kehilangan dia..."
"Kamu harus pilih satu, Zahra. Kamu nggak bisa dapet keduanya."
Dan saat itu... saat itu aku nangis lagi.
Di pelukan Siti. Di emperan kontrakan yang dingin. Di bawah bulan sabit yang redup.
"...kenapa hidup aku susah banget, Sit? Kenapa aku nggak bisa bahagia kayak orang lain?"
"Karena hidup emang nggak adil, Zah. Tapi kamu harus tetep kuat. Kamu harus tetep percaya sama Allah. Dia pasti punya rencana yang lebih baik."
Tapi... tapi kenapa rasanya... rencana Allah terlalu berat buat aku tanggung?
---
Tengah malem. Aku bangun. Ambil wudhu. Gelar sajadah lusuh di pojokan kamar—biar nggak ganggu Bapak yang tidur.
Sholat tahajjud.
Dua rakaat. Empat rakaat. Enam rakaat.
Tiap sujud, aku nangis.
"Ya Allah... hamba bingung... hamba nggak tau harus gimana... hamba suka sama dia... tapi dia beda agama... apa... apa ini ujian dari-Mu? Apa ini cara-Mu ngajarin hamba tentang sabar? Tentang ikhlas?"
Air mata netes ke sajadah. Basah. Kotor. Kayak hati ku yang berantakan.
"Ya Allah... kalau dia jodoh hamba... tolong bukalin jalan... kalau dia bukan... tolong kuatkan hati hamba buat ngelepas dia... hamba nggak kuat sendiri... hamba butuh petunjuk-Mu..."
Aku sujud lama. Lama banget. Sampe lutut ku kebas. Sampe punggung ku pegal. Tapi aku nggak mau bangun.
Karena di sujud ini... aku ngerasa deket sama Allah.
Karena di sujud ini... aku ngerasa... ngerasa ada yang dengerin tangisan ku.
"Ya Allah... tolong hamba... tolong..."
---
Besok paginya, aku bangun dengan mata sembab. Bapak udah bangun. Lagi duduk di kasur sambil minum obat.
"Zahra, kamu sholat subuh belum?"
"Udah Pak. Tadi di musholla." Bohong. Aku sholat di kamar tadi malem sekalian sama tahajjud. Tapi aku nggak mau Bapak tau aku begadang.
"...Zahra, soal kemarin... Bapak minta maaf kalau Bapak ketus."
Aku duduk di samping Bapak. "Nggak apa-apa, Pak. Bapak nggak salah. Bapak cuma... cuma sayang sama Zahra."
"Iya. Bapak sayang banget sama kamu. Makanya Bapak nggak mau kamu salah jalan."
"...Zahra ngerti, Pak."
"Kamu udah hapus kontak dia?"
Aku diem.
"Zahra?"
"...belum, Pak. Tapi... tapi Zahra janji nggak bakal kontak dia lagi. Zahra... Zahra cuma butuh waktu buat... buat ngucapin selamat tinggal yang bener."
Bapak natap aku lama. "...oke. Tapi jangan lama-lama. Secepatnya. Oke?"
"Oke, Pak."
Aku keluar kamar. Buka HP.
Draft pesan buat Arkan masih ada.
Aku baca lagi.
*"Mas, makasih banyak buat semuanya. Bapak udah pulang dengan selamat. Zahra... Zahra nggak bisa terus-terusan merepotkan Mas. Jadi... jadi mungkin kita nggak usah kontak-kontakan lagi. Sekali lagi, makasih banyak."*
Jempol ku di atas tombol send.
Kali ini... kali ini aku harus kirim.
Tapi...
Tapi kenapa rasanya... kayak ngiris hati ku sendiri?
"Ya Allah... kuatkan hamba..."
Dan akhirnya...
Aku pencet send.
SEND.
Pesan terkirim.
Dan aku... aku nangis lagi.
Karena aku tau...
Ini... ini mungkin akhir dari segalanya.
---
Beberapa menit kemudian, HP ku bunyi.
Telpon masuk.
**Arkan Alexander**
Aku nggak angkat.
Bunyi lagi.
Nggak angkat.
Bunyi lagi. Lagi. Lagi.
Sampai akhirnya berhenti.
Pesan masuk:
**Arkan Alexander:**
*"Zahra, please. Aku nggak ngerti. Kenapa tiba-tiba kayak gini? Aku salah apa? Aku... aku nggak mau kehilangan kamu. Please. Jawab aku."*
Tangan ku gemetar.
Aku pengen jawab. Pengen bilang ini bukan salah dia. Pengen bilang aku... aku juga nggak mau kehilangan dia.
Tapi...
Tapi aku nggak bisa.
Karena kalau aku jawab...
Aku takut aku nggak kuat buat ngelepas dia.
Jadi aku... aku matiin HP.
Dan aku nangis.
Sendirian.
Di kamar sempit yang berjamur.
Di tengah kehidupan yang nggak pernah adil buat aku.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 8...**